3 Cerita Dongeng Kelinci yang Baik Hati, Penuh Pesan Moral untuk Anak

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 9 menit 512x dilihat
3 Cerita Dongeng Kelinci yang Baik Hati, Penuh Pesan Moral untuk Anak

Bagikan Postingan

Kelinci seringkali kita temukan pada beberapa fabel dan cerita dongeng anak. Dosen sastra anak di University of Cambridge, Dr. Zoe Jaques  mengatakan bahwa tokoh kelinci cukup terkenal di cerita anak-anak lantaran ada sesuatu yang memikat dari sosok kelinci.

Namun perihal ini bukanlah kejadian yang hanya ada di bumi Barat saja, cerita rakyat Tiongkok, Jepang, dan Korea memuat kisah tentang Kelinci Bulan, begitu pula dengan tradisi Buddha.

Secara moral dan simbolik, kelinci dapat melambangkan kenakalan, kebaikan, keberuntungan, alias kecerdikan, Bunda.


"Hal yang membuatnya sangat menarik adalah adanya kontradiksi: dalam cerita seperti The Tale of Peter Rabbit, pembaca diajak untuk bersimpati kepada Peter seolah-olah dia adalah seorang anak manusia, padahal dalam cerita yang sama, dia juga merupakan hewan yang mungkin diburu alias disantap oleh manusia," ungkap Jaques, dikutip dari laman University of Cambridge.

Ia juga beranggapan bahwa kelinci merupakan karakter yang sangat efektif bagi anak-anak lantaran anak-anak dianggap mempunyai kedekatan spesial dengan hewan.

Jika Si Kecil menyukai karakter kelinci, ada tiga cerita dongeng pilihan tentang kelinci yang penuh pesan moral. Apa saja ceritanya?

3 Cerita dongeng kelinci yang baik hati, penuh pesan moral untuk anak

Simak yuk, cerita dongeng kelinci yang penuh pesan moral berikut ini! Cerita-cerita ini dipilih dari kitab Dongeng Pembangun Literasi Tema Buah, Bunga, Binatang, dan Sayur Oleh 9 Mahasiswa Berkarya, kemudian dari cerita anak-anak klasik karya Beatrix Potter, dan laman Bedtime dari karya Francis Allgood.

Wajah Indah Kelinci Putih

Pada pagi hari itu, terdapat seekor kelinci putih sedang duduk di depan rumah. Ia senang sekali memandang pemandangan di luar yang bagus dan sejuk. Sambil meminum secangkir teh hangat dengan biskuit. Sambil meminum secangkir teh hangat dengan biskuit yang ada
di tangan.

"Hmmm ... bagus sekali pemandangan hari ini, cuacanya pun sejuk," Ujar kelinci putih.

Beberapa menit kemudian, seekor tikus mendatangi rumah kelinci putih. Ia telah mendengar bahwa terdapat seekor kelinci putih yang elok jelita kemauan semua hewan. Berita ini sudah menyebar kemana-mana. Tikus pun merasa penasaran seperti apa wajah kelinci putih, dia pun memberanikan diri untuk berjumpa dan menyapanya.

"Halo kelinci putih," Sapa tikus dengan ramah.

"Halo tikus, ada apa?" Tanya kelinci putih.

"Tidak ada apa-apa, saya hanya mau berkenalan denganmu. Aku mendengar berita ada kelinci putih yang sangat elok di kaki bukit ini. Aku merasa penasaran dan langsung datang ke sini untuk menemuimu. Dan rupanya betul apa kata mereka, wajahmu emang sangat elok dan baik hati," puji tikus kepada kelinci.

"Baiklah. Aku berterima kasih lantaran Anda sudah memujiku, tetapi saya hanya kelinci biasa, sama seperti hewan-hewan yang lain, mereka juga elok dan sangat baik hati terhadapku. Kamu pun tikus yang sangat cantik, lucu, dan menggemaskan," Kelinci juga memuji tikus.

"Terima kasih kelinci putih. Meskipun wajahmu sangat elok dan anggun, namun Anda tetap rendah hati dan tidak menyombongkan diri dengan kelebihanmu. Aku minta kita dapat berkawan baik selamanya," ujar tikus.

"Ya, lantaran apa yang kita punya hanya titipan dari Tuhan, jadi kita tidak boleh merasa sombong," ujar kelinci putih.

Mereka pun terus saling mengenal satu sama lain hingga akhirnya menjadi kawan baik. Sikap kelinci putih memberi pelajaran bahwa kita sebagai makhluk buatan Tuhan tidak boleh merasa sombong dengan segala kelebihan yang kita punya, lantaran kelebihan itu bisa saja diambil kembali oleh Yang Maha Kuasa. Tetaplah kita sebagai makhluk-Nya menjadi sosok yang rendah hati dan selalu bersikap baik terhadap sesama.

Kisah Benjamin Si Kelinci

Pagi itu cerah dan indah, dan Benjamin Si Kelinci sedang duduk di tepian berumput. Telinganya tegak saat mendengar bunyi kuda yang menarik kereta mendekat. Kereta itu dikemudikan oleh seorang laki-laki bertopi, dan di sampingnya duduk seorang wanita yang berpakaian rapi.

Begitu mereka berlalu, Benjamin pun beranjak pergi dengan aktivitas melompat-lompat riang. Ia hendak mengunjungi kerabatnya yang tinggal di rimba tak jauh dari situ...

Hutan itu penuh dengan lubang kelinci, dan di lubang yang paling rapi serta berpasir tinggallah tante Benjamin beserta sepupu-sepupunya, yakni Flopsy, Mopsy, Cotton-Tail, dan Peter Rabbit.

Benjamin merasa sangat antusias saat dia bergegas masuk, dia tak sabar mau berjumpa Peter... namun saat dia merangkak masuk ke dapur hangat yang langit-langitnya dipenuhi ikatan tanaman herbal, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya... di sana, tepat di tengah ruangan, berdirilah Peter, tanpa mengenakan sehelai busana pun!

"Peter!" seru Benjamin. "Apa yang terjadi dengan jaket dan sepatumu?"

Wajah Peter memerah padam. "Aku menyelinap ke kebun Tuan dan Nyonya McGregor untuk makan kubis, tapi saya ketahuan oleh Tuan McGregor, dan pakaianku terlepas saat saya berupaya kabur. Tuan McGregor memasangkannya pada orang-orangan sawah miliknya!"

"Jangan khawatir," kata Benjamin. "Aku baru saja memandang family McGregor pergi keluar. Ayo kita cari orang-orangan sawah itu!"

Kedua kelinci itu berlari melintasi rimba dan melompat ke atas tembok bata yang tinggi. Di kembali tembok itu terbentang kebun Tuan McGregor.

"Kita bisa menyelinap masuk lewat bawah gerbang," bisik Peter. "Tapi itu bakal merusak pakaianku," protes Benjamin. "Lebih baik kita turun lewat pohon pir itu saja."

"Wooooahhh!" Namun, baru saja Benjamin selesai bicara, Peter kehilangan keseimbangan dan terjatuh.

Untunglah ada hamparan selada yang lembek untuk menahan jatuhnya. "Ayo, lompatlah!" seru Peter. "Jatuhnya bakal terasa empuk!"

Kedua kelinci mini itu menghampiri orang-orangan sawah dan mengambil kembali busana Peter. "Ih, semuanya basah kuyup lantaran hujan," kata Peter.

Benjamin meraba saku mantel itu. "Di mana sapu tanganmu?" tanyanya. "Mumpung kita di sini, saya mau mengisinya dengan bawang untuk dibawa pulang sebagai bingkisan bagi Bibi."

Saat Benjamin sedang mencabut bawang, Peter memandang sekeliling dengan gelisah. "Suara apa itu?!" bisiknya.

"Tenang saja!" kata Benjamin. "Aku hafal betul kebun ini! Aku sering ke sini berbareng Papa untuk mengambil selada. Coba deh, rasanya enak!"

Tapi Peter tidak merasa lapar. "Aku mau pulang," rengeknya.

"Yah, jika kau memaksa," desah Benjamin. "Tapi kita tidak bisa memanjat kembali ke pohon pir sembari membawa semua bawang ini. Ikuti aku!"

Benjamin memandu Peter melangkah menyusuri papan kayu di bawah tembok bata merah yang bermandikan sinar matahari.

Tiba-tiba Peter berhenti. "Suara apa itu tadi!" bisiknya, matanya terbelalak lebar. "Suaranya datang dari kembali tikungan itu."

Benjamin menjulurkan hidungnya untuk mengintip. "Cepat sembunyi!" bisiknya sembari menyambar sebuah keranjang dan menariknya menutupi kepala mereka...

Apa yang dilihat Peter adalah seekor kucing besar berbulu lebat. Kucing itu melangkah mengendap-endap mendekati keranjang, meregangkan tubuh di atasnya, lampau tertidur pulas.

Peter dan Benjamin mengerjap-ngerjap di dalam kegelapan, aroma bawang membikin mata mereka berair. Mereka terus menunggu kucing itu bangun dan pergi, tapi sepertinya kucing itu sama sekali tidak beriktikad bangun...

Tiba-tiba, mereka mendengar bunyi keributan yang hebat. Kelinci-kelinci itu menahan napas. Apa yang sedang terjadi?

Lalu mereka mengerjap-ngerjap terkena sinar saat keranjang itu ditarik menjauh dari atas kepala mereka...

"Halo, kalian berdua!" sapa sebuah bunyi yang ramah.

"Papa!" seru Benjamin.

"Kucing itu tidak bakal mengganggu kalian lagi," ujar Papa sembari tersenyum. "Aku sudah mengurungnya di dalam rumah kaca. Ayo, kita pulang."

Ketika Tuan McGregor kembali tak lama kemudian, dia kebingungan memandang kebunnya dipenuhi jejak kaki kelinci kecil.

"Dan ini satu misteri lagi," katanya kepada istrinya. "Bagaimana caranya kucing itu mengurung diri di dalam rumah kaca, lampau mengunci pintunya dari luar?"

Saat Peter dan Benjamin tiba kembali di rumah, semua orang senang memandang mereka selamat tanpa kurang suatu apa pun. "Bukankah bawang-bawang ini tampak bagus?" kata tante Benjamin seraya menggantungnya di langit-langit berbareng tanaman herbal. "Tapi melihatmu sudah berpakaian kembali, Peter, rasanya jauh lebih melegakan!"

Pesan moral dari cerita ini adalah berani itu baik, tetapi keberanian kudu disertai kehati-hatian dan tanggung jawab. Selain itu, kita kudu menyayangi kawan dan family serta saling membantu ketika menghadapi kesulitan.

Puffer Bunny dan Pelarian ke Padang Rumput

Dahulu kala, ada seekor kelinci mini berjulukan Puffer Bunny. Bulunya sangat lebat dan lembut hingga semua orang mau memeluknya. Dia tinggal berbareng beberapa anak di sebuah rumah mini yang nyaman. Anak-anak itu berjulukan BoBo, Bobby, dan Kit. Bobby sangat menyayangi Puffer mini lantaran dia telah merawatnya sejak tetap bayi.

Suatu hari, saat mereka sedang bermain di laman belakang, Puffer Bunny tiba-tiba melompat dan berlarian dengan riang. Dia menyelinap di bawah pagar dan pergi melintasi padang rumput di belakang rumah. Begitu anak-anak itu sukses melewati pagar, Puffer sudah jauh menghilang.

Sementara itu, Puffer telah berlari masuk ke dalam sebuah lubang dan merangkak menyusuri terowongan yang panjang. Dia merasakan sesuatu yang basah dan dingin. Dia menahan napas lantaran takut, namun saat matanya mulai terbiasa dengan kegelapan, dia menyadari bahwa hidungnya sedang berhadapan dengan hidung kelinci mini lainnya! Dia menghela napas lega!

Kelinci mini yang baru ditemuinya itu berbisik, "Namaku Doodlebug."

Doodlebug memegang kaki depan Puffer dan menuntunnya melewati lebih banyak lorong hingga sampai ke sebuah liang mini yang nyaman. Saudara-saudara Doodlebug sedang berpelukan bersama, merasa hangat dan aman. Ada Dipsy, Dapper, dan Dolly, serta si kembar bayi, Digger dan Dodger. Puffer sangat senang memandang satu family kelinci yang utuh!

Namun, di luar liang mini itu, anak-anak tersebut sangat mencemaskan kelinci mini mereka. Mereka memandang seekor rubah mini berlari menuju rimba lebat. Mereka percaya bahwa rubah itulah yang telah membawa pergi Puffer mini mereka. Bobby menangis pelan sementara BoBo dan Kit berupaya memikirkan apa yang kudu dilakukan.

BoBo berkata, "Teman-teman, saatnya kita pulang."

Semua anak itu memanjat kembali pagar dan melangkah lesu menuju rumah. Malam itu terasa panjang lantaran rasa cemas.

Kembali di liang kelinci, Puffer sangat menikmati waktunya. Dia dan Doodlebug menyelinap keluar untuk sedikit bersenang-senang. Puffer memang selalu suka menjelajah, dan Doodlebug tidak pernah menolak rayuan berpetualang.

Kedua kelinci yang lincah itu bermain-main menuju hutan. Tepat saat mereka mendekati batang kayu lapuk, seekor ular derik muncul dengan aktivitas meliuk. Kedua kelinci itu mematung. Ular itu telah memojokkan mereka. Jantung mereka berdegup begitu kencang hingga bumi terasa bergetar.

Ular itu berkata, "Hmm, makan malam!" lampau tubuhnya melesat menerjang ke arah Doodlebug.

Dengan sigap, Puffer Bunny melompati ular itu, menyambar perangkat kerincingan, dan mengguncangnya sekuat tenaga! Bunyinya sungguh nyaring! Ular itu melonjak kaget, memberi kesempatan bagi kedua sahabat itu untuk segera melarikan diri dari sana.

Ibu Doodlebug membunyikan lonceng tanda makan malam tepat saat mereka kembali ke lubang kelinci. Ia memandang raut wajah mereka dan memeluk keduanya dengan hangat.

Ia telah menyiapkan makan malam berupa kubis dan wortel, dan mereka pun makan dengan lahap sampai kenyang. Setelah kelinci-kelinci mini yang berbulu lembut itu selesai makan, mereka membujuk Puffer untuk menginap. Ia pun sangat senang!

Keesokan paginya, Puffer melompat-lompat riang kembali ke rumah mungilnya. Anak-anak sangat ceria lantaran dia selamat!

Pesan moral dari cerita ini adalah bahwa rasa mau tahu dan berani merupakan perihal yang baik, tetapi jangan sampai membahayakan diri sendiri. Cerita dongeng ini juga mengajarkan pentingnya menyayangi keluarga, menghargai orang yang peduli kepada kita, serta selalu kembali kepada orang-orang yang menyayangi dan menjaga kita.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads