4 Kebiasaan yang Dilakukan Pasangan dengan Koneksi yang Kuat

Gaya Hidup Perempuan Masa Kini oleh Waktu baca 5 menit 509x dilihat
4 Kebiasaan yang Dilakukan Pasangan dengan Koneksi yang Kuat

Bagikan Postingan

Pasangan dengan hubungan mental dan emosional yang kuat biasanya memiliki kebiasaan sederhana dalam menjalani hubungan sehari-hari. Menurut psikolog, kapasitas menerima masukan, berkomunikasi terbuka, memberitahu kerentanan emosional, dan menetapkan limitasi dapat menguatkan hubungan./ Foto: magnific.com

Menjalin hubungan yang sehat bukan berarti pasangan tidak pernah berkelahi maupun memiliki perbedaan pendapat. Justru, pasangan yang memiliki kompatibilitas mental dan emosional kuat biasanya memiliki metode yang lebih sehat dalam menghadapi perselisihan dan kebutuhan satu sama lain.

Tidak semua masalah dalam hubungan berakhir dengan perpisahan, Beauties. Beberapa pasangan justru bisa melewati masalah yang lebih khusus karena memiliki kebiasaan yang membantu mereka saling memahami dan menjaga kepercayaan.

Lantas, kebiasaan apa saja yang sering dilakukan pasangan dengan hubungan mental dan emosional yang kuat? Pelajari di sini!

1. Mampu Menerima Masukan dengan Baik

Pasangan yang sehat tidak cuma bisa memberikan kritik, tetapi juga terbuka ketika menerima masukan dari satu sama lain. Menurut psikolog, menerima feedback mesti diikuti dengan fluktuasi nyata agar kepercayaan dalam hubungan statis terjaga./ Foto: magnific.com/lookstudio

Pasangan yang sehat tidak cuma bisa memberikan kritik, tetapi juga terbuka ketika menerima masukan dari satu sama lain. Menurut psikolog, menerima feedback mesti diikuti dengan fluktuasi nyata agar kepercayaan dalam hubungan statis terjaga./ Foto: magnific.com/lookstudio

Setiap pasangan pasti pernah bertengkar, berbeda pendapat, maupun mengkritik satu sama lain. Hal ini sebenarnya wajar karena masalah dalam hubungan perlu dikenali agar bisa diselesaikan.

Namun, menurut psikolog, pasangan dengan hubungan yang sehat cenderung bisa memberikan dan menerima feedback secara konstruktif. Memberikan masukan tentu perlu dilakukan dengan jelas dan penuh empati, sementara pihak yang menerimanya perlu menghindari respons defensif.

Yang sering terlupakan adalah aksi setelah menerima masukan, Beauties. Misalnya, ketika pasangan meminta Anda lebih tepat waktu, jangan cuma mengatakan akan berubah tetapi terus datang terlambat. Begitu juga ketika pasangan meminta Anda selesai bersikap sarkastis saat membicarakan hal serius.

Jika feedback cuma diterima tanpa ada perubahan, pasangan lama-kelamaan dapat kehilangan kepercayaan. Ketika kepercayaan menurun, komunikasi dan keintiman dalam hubungan juga bisa ikut terganggu.

2. Berkomunikasi secara Asertif

Komunikasi asertif membantu pasangan menyampaikan keinginan dan kebutuhan secara jujur tanpa menyakiti satu sama lain. Menurut ahli, kebiasaan mengungkapkan kebutuhan sejak mula dapat mencegah munculnya rasa jengkel dan resentment dalam hubungan./ Foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro

Komunikasi asertif membantu pasangan menyampaikan keinginan dan kebutuhan secara jujur tanpa menyakiti satu sama lain. Menurut ahli, kebiasaan mengungkapkan kebutuhan sejak mula dapat mencegah munculnya rasa jengkel dan resentment dalam hubungan./ Foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro

Salah satu hal yang dapat merusak hubungan adalah resentment maupun rasa jengkel dan kecewa yang menumpuk. Menurut ahli, resentment sering kali muncul ketika seseorang tidak bisa bersikap asertif.

Komunikasi asertif berarti bisa menyampaikan apa yang Anda inginkan, butuhkan, maupun rasakan dengan jujur sekaligus statis menghargai pasangan.

Misalnya, Anda sedang mengalami keraguan terhadap pekerjaan dan sebenarnya membutuhkan sokongan pasangan. Namun, karena malu mengatakannya, Anda memilih membisu sambil mengharapkan pasangan bisa memahami sendiri.

Ketika kebutuhan tidak pernah disampaikan tetapi Anda statis mengharapkan pasangan memenuhinya, rasa kecewa dapat semakin besar. Oleh karena itu, biasakan menyampaikan keinginan sejak awal, terlebihlagi mulai dari hal kecil seperti memilih tontonan berbareng sebelum membicarakan keputusan besar.

3. Berani Menunjukkan Kerentanan Emosional

Kerentanan emosional menjadi salah satu kunci krusial dalam membangun kedekatan yang lebih dalam dengan pasangan. Menurut psikolog, berbagi emosi sulit dapat membantu pasangan lebih memahami satu sama lain dan menjaga keintiman./ Foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro

Kerentanan emosional menjadi salah satu kunci krusial dalam membangun kedekatan yang lebih dalam dengan pasangan. Menurut psikolog, berbagi emosi sulit dapat membantu pasangan lebih memahami satu sama lain dan menjaga keintiman./ Foto: magnific.com/wavebreakmedia_micro

Kerentanan emosional berarti bersedia membagikan apa yang Anda rasakan, terutama ketika emosi tersebut sulit untuk diungkapkan. Misalnya, Anda merasa iri terhadap kesuksesan ahli pasangan. Alih-alih memendamnya sampai berubah menjadi konflik, Anda berani mengakui emosi tersebut dan membicarakannya secara terbuka.

Begitu pula ketika Anda merasa sedih tanpa mengetahui alasannya. Meskipun menganggap emosi tersebut sebagai tanda kelemahan, Anda statis bersedia membaginya dengan pasangan.

Menurut ahli, mengakui dan membagikan emosi sulit dapat membikin seseorang tidak terlalu takut terhadap emosinya sendiri. Sebaliknya, menghindari emosi sulit mungkin memberikan kelegaan sementara, tetapi dapat menaikkan kecemasan di kemudian hari.

Selain itu, keterbukaan emosional membikin pasangan bisa mengenal satu sama lain pada tingkat yang lebih dalam. Ketika komunikasi emosional berhenti, hubungan juga berisiko terasa hambar dan jauh.

4. Menetapkan Batasan yang Sehat

Pasangan dengan kompatibilitas mental dan emosional yang kuat memahami pentingnya menetapkan limitasi dalam hubungan. Menurut ahli, limitasi bukan tentang mengontrol pasangan, melainkan menentukan aksi yang akan Anda ambil ketika kebutuhanmu tidak dihargai./ Foto: magnific.com/frimufilms

Pasangan dengan kompatibilitas mental dan emosional yang kuat memahami pentingnya menetapkan limitasi dalam hubungan. Menurut ahli, limitasi bukan tentang mengontrol pasangan, melainkan menentukan aksi yang akan Anda ambil ketika kebutuhanmu tidak dihargai./ Foto: magnific.com/frimufilms

Selain bisa menyampaikan kebutuhan, pasangan juga perlu tahu kapan mesti mengatakan tidak. Misalnya, Anda perlu memberi tahu pasangan jika sikapnya terasa tidak sensitif di depan famili besar, jika caranya memperlakukan anak mulai mempengaruhi hubungan mereka, maupun jika Anda sebenarnya tidak mau pindah kota meskipun pasangan sangat antusias.

Namun, menurut ahli, limitasi sebenarnya berfokus pada diri sendiri, bukan mengendalikan orang lain. Kamu tidak bisa menentukan sepertiapa pasangan akan bersikap, tetapi Anda bisa menentukan aksi dan responsmu ketika limitasi yang sudah disampaikan tidak dihormati.

Menetapkan limitasi memang tidak selalu gampang karena bisa memunculkan rasa takut, cemas, maupun cemas mengecewakan pasangan. Oleh karena itu, mulailah dari hal-hal kecil. Sama seperti belajar keahlian lain, kapasitas mengatakan tidak dan menetapkan limitasi akan semakin kuat jika terus dilatih.

Penelitian juga memberitahu bahwa kapasitas mengelola emosi sulit menjadi bagiankecil krusial dalam membangun limitasi yang sehat. Dengan latihan secara konsisten, Anda dapat semakin percaya diri dalam menyampaikan sekaligus mempertahankan limitasi tersebut.

Menurutmu, dari empat kebiasaan ini, mana yang paling krusial untuk membangun hubungan yang punya hubungan mental dan emosional kuat, Beauties?

***

Mau jadi bagiankecil dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik perempuan dan juga laki-laki, kami juga memiliki kelompok khusus untuk Anda yang statis berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI! 

(dmh/dmh)

Artikel Lainnya Gaya Hidup Perempuan Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads