Jangan langsung panik ketika anak mengalami diare ya, Bunda. Ada beberapa langkah sigap yang bisa dilakukan untuk bantu mengatasi diare pada anak di rumah.
Sebelum itu, kenali terlebih dulu tentang diare dan seperti apa gejalanya pada anak-anak.
Dikutip dari Cleveland Clinic, anak dikatakan mengalami diare ketika feses yang keluar saat buang air besar mempunyai tekstur lebih encer dari biasanya. Kondisi ini juga sering disertai rasa tidak nyaman, termasuk nyeri alias sakit perut.
Pada umumnya, diare berkarakter ringan dan dapat membaik sendiri dalam beberapa hari. Namun, pada kondisi tertentu, diare juga bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang lebih serius.
Jika tidak ditangani dengan tepat, diare dapat membikin tubuh anak kehilangan terlalu banyak cairan hingga menyebabkan dehidrasi. Bahkan diare juga rentan membikin kebutuhan nutrisi Si Kecil tidak terpenuhi dengan baik.
Penyebab diare pada anak
Diare dan muntah pada anak dapat terjadi secara bersamaan. Ada beragam kondisi yang bisa menjadi pemicunya, mulai dari makanan yang terkontaminasi hingga jangkitan virus dan bakteri:
1. Keracunan makanan
Keracunan makanan paling sering disebabkan oleh bakteri, tetapi kondisi ini juga bisa terjadi akibat parasit alias virus.
Anak termasuk golongan yang cukup rentan mengalami keracunan makanan lantaran lebih mungkin mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi. Misalnya lantaran makanan tidak diolah dengan bersih alias kurang matang.
Beberapa kuman yang dapat menyebabkan keracunan makanan antara lain E. coli, Listeria monocytogenes, dan Salmonella.
Ketika mengalami diare dan muntah akibat keracunan makanan, anak dapat menunjukkan beberapa indikasi seperti sakit perut, mual, demam, hingga buang air besar yang disertai darah.
2. Infeksi virus
Diare juga bisa disebabkan oleh virus, ialah disebut sebagai viral gastroenteritis. Kondisi jangkitan ini terjadi pada lambung dan usus.
Beberapa virus yang paling sering menjadi penyebabnya adalah rotavirus, adenovirus, dan astrovirus.
Menurut National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases, ketiga virus tersebut termasuk penyebab umum gangguan pencernaan pada bayi dan balita.
Selain diare dan muntah, anak yang mengalami gangguan pencernaan akibat jangkitan virus juga dapat merasakan sakit perut, mual, dan terkadang disertai demam.
3. Infeksi bakteri
Selain virus, jangkitan kuman juga dapat menyebabkan anak mengalami diare dan muntah. Sebagian besar kasus diare akibat kuman dapat sembuh sendiri, tapi pada kondisi tertentu juga bisa berkembang menjadi masalah lanjutan pada usus besar.
"Usus besar dirancang untuk menyerap air. Tapi terkadang, feses menyerap terlalu banyak air sehingga mengakibatkan diare," ungkap master ahli gastroenterologi anak, Lauren Lazar, MD.
Menurutnya, anak kemungkinan mengalami diare jika fesesnya mempunyai tekstur encer alias berair dan terjadi setidaknya tiga kali alias lebih dalam sehari.
Gejala diare pada anak
Feses yang encer memang menjadi tanda utama diare. Namun, kondisi ini juga dapat disertai sejumlah indikasi lainnya seperti:
- Demam
- Menggigil
- Feses mengandung darah
- Sakit alias nyeri pada perut
- Mual alias muntah
- Buang air besar yang tidak dapat dikontrol
- Perut terasa kembung
- Dehidrasi akibat kehilangan cairan tubuh
Jika diare alias mencret pada anak tampak semakin mengganggu alias justru bertambah parah, sebaiknya segera konsultasikan kondisinya kepada dokter.
Jenis diare pada anak
Jika dilihat dari berapa lama kondisi tersebut berlangsung, diare pada anak secara umum dapat dibedakan menjadi dua jenis yakni:
1. Diare akut
Diare akut biasanya berjalan selama 1-2 hari dan kemudian dapat membaik dengan sendirinya.
Kondisi ini dapat terjadi setelah anak mengonsumsi makanan alias minuman yang terkontaminasi bakteri, maupun saat anak mengalami jangkitan virus.
2. Diare kronis
Berbeda dengan diare akut, diare kronis dapat berjalan selama beberapa minggu. Kondisi ini dapat berangkaian dengan masalah kesehatan tertentu, seperti sindrom iritasi usus besar, penyakit Crohn, penyakit celiac, alias gangguan usus lainnya.
Cara mengatasi diare pada anak di rumah
Ilustrasi/Foto: Getty Images/Panadda Phiakhamen
Penanganan diare pada anak perlu disesuaikan dengan gejala, kondisi kesehatan secara umum, serta tingkat keparahan diare yang dialami.
Berikut beberapa langkah yang dapat Bunda lakukan untuk membantu mengatasi diare pada anak:
1. Berikan larutan elektrolit-glukosa
Dikutip dari laman Kemenkes RI, saat anak diare sebaiknya orang tua jangan hanya mengandalkan air mineral untuk menggantikan cairan yang hilang.
Bunda juga dapat memberikan larutan elektrolit-glukosa yang mengandung air, garam, dan gula dalam komposisi seimbang, seperti oralit. Selain itu, air kelapa juga dapat menjadi pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan.
Dehidrasi merupakan salah satu masalah utama yang perlu diwaspadai ketika anak mengalami diare. Pemberian larutan elektrolit-glukosa dapat membantu menggantikan cairan yang lenyap dan mengatasi dehidrasi.
2. Berikan ASI untuk bayi di bawah 6 bulan
Jika Si Kecil tetap berumur di bawah 6 bulan, tetap berikan ASI alias susu formula untuk membantu memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisinya ketika mengalami diare maupun muntah.
3. Atur pola makan
Pastikan anak tetap mendapatkan makanan yang sehat dan bergizi seimbang.
Dalam kondisi tertentu, master mungkin menyarankan pemberian makanan bebas susu alias rendah gula untuk sementara waktu. Tapi jika sudah demikian diare terus berlangsung, Bunda dapat mencoba membikin catatan harian mengenai makanan yang dikonsumsi Si Kecil.
Sebab pada sebagian anak, makanan tertentu dapat memicu diare alias membikin kondisinya menjadi lebih parah. Konsumsi gluten alias produk susu juga dapat menjadi pemicu diare.
4. Berikan camilan yogurt
Yogurt bisa menjadi salah satu pilihan camilan untuk mendukung kesehatan sistem pencernaan. Asupan ini mempunyai kandungan yang dapat membantu melapisi usus, sekaligus memberikan perlindungan dari kuman jahat.
Selain itu, yogurt juga dapat membantu menghasilkan masam laktat di dalam usus. Asam laktat ini dapat membantu membunuh kuman dan meredakan gangguan pencernaan, termasuk diare pada anak.
5. Berikan buah-buahan segar
Memberikan buah sebagai camilan juga dapat menjadi salah satu langkah untuk membantu mengatasi diare, terutama pada anak usia 1 tahun.
Selain semangka yang kaya kandungan air, Bunda juga dapat memberikan pisang saat anak sedang diare. Buah ini mengandung kalium yang dapat membantu menyeimbangkan elektrolit di dalam tubuh.
Lalu kapan perlu ke dokter?
Dikutip dari Mayo Clinic, diare yang tergolong berat, seperti buang air besar lebih dari 10 kali sehari alias ketika cairan yang lenyap jauh lebih banyak daripada jumlah cairan yang masuk, dapat meningkatkan akibat dehidrasi.
Oleh lantaran itu, segera cari pertolongan medis jika Si Kecil mempunyai tanda-tanda berikut ini:
- Diare tidak membaik setelah 24 jam.
- Tidak ada popok basah selama 3 jam alias lebih.
- Demam lebih dari 39 derajat celcius.
- Feses mengandung darah alias berwarna kehitaman.
- Mulut alias lidah tampak kering alias anak menangis tanpa mengeluarkan air mata.
- Anak terlihat sangat mengantuk, lesu, tidak responsif, alias menjadi lebih mudah marah.
- Perut, mata, alias pipi tampak cekung.
- Kulit tidak segera kembali seperti semula setelah dicubit dan dilepaskan.
Itulah beragam langkah yang dapat dilakukan untuk membantu mengatasi diare dan muntah pada anak di rumah, sekaligus tanda-tanda yang perlu Bunda waspadai.
Jika kondisi anak justru semakin memburuk alias muncul tanda dehidrasi, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan dokter.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)