5 Fakta Siswi Berprestasi di Karo yang Diduga Hilang Ingatan usai Keracunan MBG

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 513x dilihat
5 Fakta Siswi Berprestasi di Karo yang Diduga Hilang Ingatan usai Keracunan MBG

Bagikan Postingan

Kasus siswa keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi, Bunda. Ratusan siswa dilaporkan keracunan diduga usai mengonsumsi MBG di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.

Seorang siswa berprestasi, Febiona Purba, menjadi salah satu dari sekian banyak siswa SMA yang keracunan MBG di Kabupaten Karo. Febiona bahkan dididuga mengalami lenyap ingatan usai keracunan.

Lantas, seperti apa kebenaran dari kasus dugaan keracunan MBG yang dialami Febiona? Simak penjelasannya berikut ini ya.


Fakta siswi di Karo keracunan MBG

Berikut beberapa kebenaran mengenai kasus siswi di Karo diduga lenyap ingatan usai keracunan MBG:

1. Diduga lenyap ingatan

Setelah menjalani perawatan lantaran keracunan MBG, Febiona mengalami masalah ingatan. Orang tuanya, Elvinus Lusiana Sitanggang mengatakan bahwa masalah ingatan yang dialami sang putri terjadi setelah dirawat tiga hari di rumah sakit. Sebelumnya, Febiona sempat mengalami kejang-kejang.

"Pas awal dirawat itu belum (ada gangguan ingatan). Selama pulang dari Rumah Sakit Umum tetap biasa, normal. Tapi setelah sampai di rumah, dia kejang, kami bawa ke RS Haji, di situlah dia mulai omongannya sudah kayak anak-anak," ujar Elvinus, Senin (7/9/2026), dilansir detikcom.

Menurut Elvinus, putrinya juga sempat tidak mengenali orang-orang terdekatnya, termasuk personil family dan kawan sekelas. Saat itu, Elvinus tidak mendapatkan penjelasan mengenai kondisi yang dialami sang putri.

"Cuma di Rumah Sakit Haji hari itu gini katanya kan pindah ruangan, dibilangnya otaknya itu memang ada (terkena) gara-gara racun itu, katanya. Jadi sebenarnya ini dari ruang PICU juga sudah ada, kenapa enggak dilaporkan sama kami. Jadi, ya kami mana tahu," ungkap Elvinus.

2. Merupakan siswa berprestasi

Febiona diketahui merupakan siswa berprestasi di sekolahnya, Bunda. Ia kerap mendapatkan ranking pertama di kelas dan menjabat sebagai Wakil Ketua OSIS.

Sejak menjalani perawatan, Febiona pernah mengungkap keinginannya untuk segera masuk sekolah. Namun, kondisi yang belum memungkinkan membuatnya kudu menunda perihal tersebut.

"Selama ini belajar dia juara satu. Mulai dari kelas satu dia semester awal, dia juara satu. Terus dia wakil ketua OSIS di sekolahnya. Makanya dia selalu bilang, 'Aku mau sekolah, saya mau sekolah', katanya. Ya tapi kayak mana kita ngasih dia mau sekolah?" ujar Elvinus.

3. Hasil pemeriksaan Febiona

Dari hasil penyelidikan, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi Sumatra Utara (Labkesda Sumut) menemukan tiga kuman dalam MBG yang menyebabkan ratusan siswa di Kabupaten Karo keracunan. Kepala UPT Labkesda Sumut, Pulo, mengatakan uji sampel MBG dilakukan atas permintaan Dinas Kesehatan Kabupaten Karo.

"Bakteri yang kami temukan itu, ya, ada beberapa jenis ialah Staphylococcus aureus, kemudian juga Bacillus cereus, dan juga Escherichia coli," kata Pulo, Rabu (9/9/26).

"Racun ini yang akhirnya juga berpotensi mengakibatkan orang mual, kemudian muntah, lemas dan lain sebagainya dengan beragam gejala," tambahnya.

Namun, mengenai adanya kasus siswi yang mengalami gangguan ingatan, Pulo mengaku pihaknya tidak dapat menjelaskan perihal tersebut. Menurutnya, penjelasan tersebut hanya bisa dilakukan oleh mahir di bagian terkait.

Pada kasus Febiona sendiri, pihak mengenai telah mendapatkan hasil pemeriksaan kesehatan. Menurut hasil pemeriksaan Electroencephalography alias EEG yang diungkap Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Karo, kegiatan listrik saraf otak Febiona dalam batal normal.

"Hasil pemeriksaan yang disampaikan tim yang menangani di rumah sakit bahwa untuk pemeriksaan Electroencephalography alias EEG dan dilakukan pemeriksaan sebanyak 2 kali di rumah sakit yang berbeda diperoleh hasil bahwa secara konsisten kegiatan listrik saraf otak pasien dalam pemisah normal," kata Sekretaris Dinkes Karo Mardin Purba.

"Kemudian lantaran tetap ada keluhan pada anak kita ini, maka tim memutuskan untuk terus melanjutkan alias belum menghentikan proses penanganan medis dan bakal terus mendalaminya secara cermat," sambungnya.

4. Kemenkes buka suara

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) buka bunyi soal kasus yang dialami Febiona. Kemenkes belum dapat memastikan adanya keterkaitan antara gangguan ingatan yang dialami seorang siswi di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dengan program MBG.

Menurut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Aji Muhawarman, kondisi Febiona saat ini sedang ditangani oleh spesialis. "Saat ini sedang ditangani di RS Adam Malik Medan oleh master ahli gastro anak dan master psikiatri," kata Aji, Rabu (9/9/26).

Sebelumnya, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Medan, Donal Simanjuntak, juga memberikan penjelasan soal kondisi Febiona. Pihaknya berjumpa dengan Febiona saat berada di RSUP Adam Malik Medan pada 8 September 2026. Saat itu, Febiona tetap dapat mengenali personil tim yang datang menjenguknya.

"Saat kami ketemu lagi tanggal 8 September di RS Adam Malik, yang berkepentingan tetap mengenal kami dan kami berbincang dengan baik," ujarnya.

Donal memastikan pihaknya terus memantau kondisi kesehatan Febiona. Pemantauan juga dilakukan oleh Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono.

"Pada prinsipnya kami terus memantau kondisi kesehatan yang bersangkutan, ketua kami Kepala BGN terus memperhatikan kondisi kesehatan korban siswa," ungkapnya.

5. Tanggapan personil DPR RI

Kasus yang dialami Febiona telah sampai ke Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI). Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Yahya Zaini, meminta pihak-pihak mengenai bisa memastikan kondisi Febiona membaik.

"Terkait kasus di Karo tentang adanya siswi yang lenyap ingatan 70 persen pasca perawatan setelah kasus keracunan, saya minta pihak rumah sakit dan master memastikan kondisi kesehatan yang berkepentingan baik bentuk maupun mental," katanya, Kamis (10/9/26).

Menurut Yahya, jika gangguan yang dialami Febiona memang berangkaian dengan trauma akibat keracunan makanan, kudu ada pihak yang perlu bertanggung jawab. "Kalau betul gangguan mental akibat keracunan makanan lantaran trauma kudu ada yang bertanggung jawab," ujarnya.

Dalam kesempatan ini, Yahya juga meminta BGN membantu biaya perawatan Febiona, Bunda. Menurutnya, biaya tersebut tidak semestinya dibebankan kepada orang tua, apalagi jika perihal itu terjadi akibat dampak penyelenggaraan MBG.

"Saya minta BGN untuk membantu biaya perawatan yang berkepentingan sampai betul-betul sembuh total. Biaya perawatan rumah sakit tidak semestinya ditanggung oleh orang tua siswa. Melainkan kudu menjadi tanggung jawab pemerintah, dalam perihal ini BGN," ujarnya.

Demikian kebenaran mengenai siswi di Karo yang diduga lenyap ingatan usai keracunan MBG.

(ank/som)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads