5 Sikap Orang Tua Yang Diam-diam Rusak Mental Anak Menurut Psikolog

May 16, 2026 08:50 PM - 14 jam yang lalu 709

Jakarta -

Orang tua tentu mau memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, ada beberapa kebiasaan dalam pengasuhan yang rupanya meninggalkan pengaruh pada kondisi emosional anak.

Di tengah kesibukan sehari-hari, Bunda sering dihadapkan pada beragam tantangan dalam mendidik anak. Mulai dari membagi waktu hingga memahami kebutuhan emosional Si Kecil yang terus berubah.

Psikolog klinis asal Iran, Dr. Shahrzad Jalali, mengatakan bahwa pembentukan mental dan kepribadian anak bukan hanya dipengaruhi oleh satu kesalahan saja dalam pengasuhan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


"Yang paling membentuk kepribadian anak saat dewasa bukanlah satu kesalahan pengasuhan, melainkan pola emosional yang berulang. 'Siapa saya kudu menjadi agar tetap dicintai di sini?'" kata Jalali, dikutip dari laman New York Post.

Meski tantangan menjadi orang tua saat ini tidak selalu mudah, bukan berfaedah semuanya terlambat untuk diperbaiki ya, Bunda. Dalam perihal ini, Jalali membagikan sikap orang tua yang diam-diam dapat merusak kondisi mental anak.

Sikap orang tua yang diam-diam merusak mental anak

Ternyata, ada beberapa sikap orang tua yang dapat memengaruhi mental anak secara perlahan. Untuk memandang penjelasannya lebih lanjut, berikut ini ulasan selengkapnya yang dilansir dari laman New York Post.

Menurut Jalali, sikap orang tua yang membikin anak merasa kudu memenuhi angan agar dicintai bisa memengaruhi kondisi mentalnya. Ia menjelaskan bahwa anak yang merasakan kasih sayang tulus dari orang tua tumbuh dengan kondisi emosional yang baik.

"Ketika seorang anak mengalami cinta sebagai sesuatu yang stabil dan bukan sesuatu yang kudu diperoleh, perihal itu menjadi dasar bagi kejujuran emosional, batas yang sehat, ketahanan, dan keahlian untuk kandas tanpa runtuh secara psikologis," katanya.

Menurut Jalali, orang tua perlu menunjukkan kedekatan dan kasih sayang kepada anak meski anak melakukan kesalahan alias membikin kecewa. Dengan begitu, mereka bakal merasa dirinya tetap dicintai dalam kondisi apa pun.

"Pesan yang mau disampaikan adalah, 'Kamu bisa mengecewakanku, membuatku frustrasi, alias melakukan kesalahan, dan saya bakal tetap terhubung denganmu,'" ujarnya.

2. Mengabaikan emosi anak

Salah satu sikap orang tua yang dapat memengaruhi mental anak adalah kurang memberikan pengesahan terhadap perasaannya. Anak yang merasa emosinya diabaikan bisa kesulitan mengekspresikan apa yang dirasakannya.

"Validasi sangat krusial lantaran mengajarkan anak, 'Dunia jiwa saya masuk logika dan dapat ditangani,'" kata Jalali.

Ia menjelaskan bahwa pengesahan bukan berfaedah orang tua kudu selalu membenarkan semua emosi anak alias menuruti semua keinginannya. Namun, anak tetap perlu merasa didengar tanpa dibuat malu dengan emosinya sendiri.

"Artinya membantu anak menyebut apa yang terjadi di dalam dirinya tanpa rasa malu. Ketika emosi tidak divalidasi, anak-anak sering kali terpisah dari diri mereka sendiri. Mereka berakhir bertanya, 'Apa yang saya rasakan?' dan mulai bertanya, 'Apa yang boleh saya rasakan?'" ungkap psikolog Jalali.

Menurutnya, anak yang terbiasa menahan alias menolak emosinya dapat membawa akibat tersebut hingga dewasa, Bunda. Mereka bisa tumbuh dengan rasa ragu terhadap dirinya sendiri.

3. Membebani anak dengan masalah orang tua

Selanjutnya, mengajarkan empati kepada anak memang bagus untuk perkembangan emosionalnya. Namun, perihal itu tidak semestinya membikin anak memikul peran seperti orang dewasa.

"Seorang anak semestinya belajar mengenali emosi orang lain, bukan menjadi bertanggung jawab untuk menstabilkan kehidupan emosional orang dewasa di sekitarnya," ujar Jalali.

Bicara soal ini, dia menjelaskan ada kondisi ketika anak terlalu dibebani untuk menjaga emosi orang tuanya. Lambat laun, anak jadi lebih konsentrasi memikirkan keadaan orang lain dibandingkan kebutuhan dirinya sendiri.

"Mereka adalah orang dewasa yang bisa membaca pikiran semua orang di ruangan itu tetapi tidak bisa mengenali diri mereka sendiri," jelasnya.

Akibatnya, anak bisa mudah merasa capek secara emosional, susah menetapkan pemisah dalam hubungan, dan sering merasa bersalah ketika tidak bisa memenuhi kemauan orang lain.

4. Terlalu sering menyelesaikan masalah anak

Banyak orang tua sebenarnya mempunyai niat baik ketika membantu menyelesaikan masalah anak. Namun, jika dilakukan terlalu sering, anak menjadi kurang belajar dalam menghadapi tantangannya, Bunda.

"Ketika orang tua terlalu banyak menyelesaikan segala hal, anak-anak mungkin memasuki masa dewasa dengan meragukan keahlian mereka, menghindari tantangan, alias kewalahan oleh frustrasi biasa," kata Jalali.

Ia menyampaikan ada beberapa masalah yang sebenarnya bisa dipelajari anak sesuai usianya, seperti membantu pekerjaan rumah, menyelesaikan bentrok dengan teman, hingga menyiapkan tas sekolah sendiri.

"Daripada langsung menyelamatkan alias menuntut kemandirian terlalu dini, orang tua dapat berkata, 'Mari kita pikirkan bersama. Menurutmu apa saja pilihanmu?' Tanggapan seperti itu mengkomunikasikan kepercayaan dan rasa aman," ungkapnya.

Jalali menjelaskan bahwa orang dewasa yang sejak mini sering dibantu oleh orang tuanya bisa tumbuh dengan rasa kurang percaya pada keahlian dirinya sendiri, Bunda.

5. Membiasakan anak untuk menahan emosi sulit

Menurut Jalali, kalimat motivasi seperti "berpikir positif saja" alias "kamu luar biasa" belum tentu membantu anak menghadapi masalahnya. Jika digunakan tanpa mengenal emosi anak, ini justru bisa bikin mereka kesulitan menerima emosinya sendiri.

"Anak tersebut mungkin bakal belajar bahwa emosi yang susah dianggap sebagai kegagalan, bukan pengalaman yang kudu diatasi," ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa anak yang tidak dibiasakan mempunyai langkah berpikir yang baik terhadap dirinya sendiri bisa tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyalahkan diri.

Lebih dari itu, mereka condong mudah berpikir negatif dan kesulitan menenangkan diri saat sedang menghadapi tekanan.

Itulah penjelasan mengenai sikap orang tua yang diam-diam dapat memengaruhi mental anak menurut psikolog.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya