5 Warna Ini Sering Dipakai Orang Pemikir Tingkat Tinggi Menurut Psikologi

Portal Kesehatan Ibu dan Anak Ditulis oleh Diperbarui Waktu baca 4 menit 506x dilihat
5 Warna Ini Sering Dipakai Orang Pemikir Tingkat Tinggi Menurut Psikologi

Warna bukan sekadar soal selera, Bunda. Dalam psikologi, pilihan warna rupanya bisa berangkaian dengan karakter dan langkah seseorang berpikir.

Menariknya, ada beberapa warna yang sering dikaitkan dengan orang-orang yang mempunyai pola pikir tajam. Psikologi warna dan pendiri ColorAnalysis, Michelle Lewis, mengatakan bahwa memahami ilmu jiwa warna busana apalagi dapat memberi kita keuntungan, terutama di tempat kerja.

"Lingkungan kerja adalah salah satu 'lingkungan warna' dengan akibat tertinggi yang dihadapi seseorang setiap hari dan dapat memengaruhi banyak orang," kata Lewis, seorang mahir ilmu jiwa warna, analis warna bersertifikat, penulis, dan pendiri ColorAnalysis.com.


"Setiap interaksi, seperti pertemuan klien, presentasi, tinjauan kinerja, mempunyai bobot, dan warna sudah berkomunikasi apalagi sebelum percakapan dimulai," sambungnya, dilansir laman Parade.

Lewis mengatakan bahwa otak memproses warna sebelum bahasa. Oleh lantaran itu, warna busana sebenarnya dapat mengirimkan sinyal apalagi sebelum seseorang menjelaskan kualifikasi alias jabatannya ke orang lain.

Warna yang sering dipakai ahli filsafat tingkat tinggi

Ada beberapa warna yang sering dikenakan dalam berpakaian pada orang ahli filsafat tingkat tinggi. Berikut warna-warna yang dimaksud:

1. Biru

Penelitian secara konsisten mendokumentasikan bahwa warna biru melambangkan kepercayaan, kredibilitas, dan otoritas yang tenang. Studi tahun 2009 di jurnal Science menunjukkan adanya hubungan langsung antara warna biru dan keahlian kognitif yang kreatif, Bunda.

"Para pencinta warna biru secara alami mewujudkan orientasi yang sama," ujar Lewis.

"Mereka berpikir sebelum berbicara, memproses sebelum bertindak, dan menciptakan lingkungan internal yang tenang di mana ide-ide dapat berkembang. Dalam konteks profesional, warna biru menandakan pemikiran yang tenang dan cermat. Itu merupakan kualitas yang membangun kredibilitas secara instan."

2. Biru tua

Lewis mengatakan warna biru tua alias biru dongker juga sering dipakai oleh seseorang yang dikenal sebagai ahli filsafat tingkat tinggi. Warna biru tua membawa pengaruh warna biru, tetapi saturasi warnanya menambahkan sedikit kesan serius, yang menandakan bahwa seseorang dapat diandalkan dan kredibel.

"Biru dongker tua memperkuat otoritas warna biru," kata Lewis.

"Dalam pekerjaan saya yang mendandani para pelaksana dan tokoh publik di depan kamera, biru dongker tua secara konsisten membangun kepercayaan dan loyalitas audiens lebih sigap daripada nyaris semua warna lainnya."

3. Hijau tua

Lewis menggambarkan hijau tua sebagai salah satu warna yang paling jarang digunakan dalam style berpakaian seorang profesional. Padahal, warna ini dapat menggambarkan seseorang sebagai ahli filsafat tingkat tinggi.

Lewis merujuk pada penelitian yang menunjukkan bahwa warna ini dapat mengurangi debar jantung dan stres, sehingga menghasilkan pengaruh menenangkan pada orang-orang di sekitar.

"Dalam pekerjaan saya, warna hijau tua secara konsisten membangun kepercayaan audiens dengan langkah yang terasa sangat hangat dan autentik. Orang-orang yang tertarik pada warna hijau mempunyai kekuatan yang stabil di ruangan mana pun. Mereka dikenal baik hati, jernih, dan sangat peka terhadap orang-orang di sekitar," ungkapnya.

4. Abu-abu

Secara spesifik, Lewis mengatakan bahwa warna abu-abu hangat alias abu-abu menengah bagus untuk menghilangkan respons emosional pada pemakainya. Warna ini mungkin dibutuhkan oleh para ahli filsafat tingkat tinggi pada waktu-waktu tertentu.

"Misalnya, warna ini bisa diperlukan saat memutuskan PHK alias mencari langkah untuk beradaptasi dalam krisis pekerjaan," ujar Lewis.

"Warna ini tidak menimbulkan rangsangan warna, yang berfaedah tidak menciptakan gesekan persepsi sama sekali sembari mengkomunikasikan kesungguhan dan objektivitas. Ini adalah padanan visual dari pikiran yang terorganisir dengan baik," lanjutnya.

5. Hitam

Sebuah studi tahun 2004 yang diterbitkan di American Psychological Association menemukan bahwa warna akromatik, seperti hitam, secara konsisten tidak menimbulkan respons emosional. Lewis mencatat bahwa warna ini memisahkan dirinya dari warna yang dapat menghasilkan emosi positif alias negatif.

"Warna hitam memang menimbulkan persepsi tentang kecanggihan, keseriusan, dan efisiensi," katanya.

"Para ahli filsafat tingkat tinggi yang secara konsisten mengenakan busana hitam sering menggunakannya sebagai strategi kognitif. Mereka menghilangkan sepenuhnya keputusan pemilihan busana sehari-hari sehingga daya mental tetap terfokus pada perihal yang penting."

Demikian 5 warna yang sering dipakai oleh orang ahli filsafat tingkat tinggi. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak

Bagikan Postingan