Puisi kemerdekaan dapat menjadi pilihan untuk mengungkapkan rasa cinta Tanah Air sekaligus mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Ada beragam puisi bertema kemerdekaan yang dapat Bunda gunakan untuk dibacakan saat peringatan 17 Agustus, mulai dari puisi singkat 2–3 bait hingga puisi panjang 4–8 bait.
Mengutip dari beragam sumber, berikut kumpulan 55 puisi kemerdekaan Indonesia yang dapat menjadi referensi untuk dibacakan dalam beragam kegiatan HUT RI, termasuk sejumlah karya penyair terkenal seperti Chairil Anwar. Yuk, Bunda, simak kumpulan puisinya di bawah ini!
25 Puisi Kemerdekaan Indonesia untuk 17 Agustus singkat 2-3 bait
Berikut ini kumpulan puisi tentang kemerdekaan Indonesia yang bisa dibacakan untuk kegiatan 17 Agustus yang mempunyai 2-3 bait.
1. Satu Kata Merdeka - Ikbal Alimuddin
Kita semua adalah pejuang
Pejuang buat diri kita sendiri
Memperjuangkan masa depan
Layaknya para pahlawan kemerdekaan
Perjuangan memang tak semudah membalikkan telapak tangan
Karena di kembali perjuangan ada kemerdekaan yang menanti untuk diraih
Inilah yang juga dilakukan oleh para pahlawan
Mereka memperjuangkan kemerdekaan dengan berceceran keringat
Bertumpah darah
Mengerahkan seluruh jiwa dan raganya
Demi satu kata
"Merdeka"
Semangat perjuangan para pahlawan
Juga tertanam kuat di diri kita semua
Dalam meraih impian
Tidak semudah membalik telapak tangan
Butuh diterpa
Sampai titik darah penghabisan
Butuh berjuang
Demi satu kata
"Merdeka"
2. Terima Kasih Pahlawan
Karena jasamu kita merdeka
Hidup di ujung barat hingga timur
Tanpa takut dan gugup yang membara
Kau rela meninggal demi kami
Kau rela miskin demi kami
Kau rela menderita demi kami
Untuk kami kau rela hancur
Berkatmu Indonesia bisa merdeka
Mengepak sayap melesat langit
Berkatmu Indonesia bisa jaya
Menembus era hingga canggih
Tak terbayang jika keberanian itu tak tumbuh di hati kalian
Tak terbayang jika kesabaran itu tak menyertai derita kalian
Tak terbayang jika semangat itu tak membakar bara kalian
Kami anak muda kami bangsa Indonesia
Berterima kasih untuk jasa jasamu para pahlawan
Karena perjuangan yang luar biasa kalian
Indonesia bisa menikmati udara kemerdekaan.
3. Bela Negara - Dilla Hardina Agustiani
Kobar semangat terus membara
Menyulut asa tuk bela negara
Berkorban jiwa serta raga
Usir kolonialis dari tanah air kita
Ratusan nyawa pahlawan telah melayang
Mereka dengan gagah berani berperang
Menebas ketidakadilan meski penuh rintang
Agar tak ada lagi rakyat yang terkekang
17 Agustus kita telah merdeka
Perjuangan para pahlawan tak sia-sia
Terluka parah apalagi lenyap nyawa pun rela
Demi memandang generasinya hidup tenteram sentosa
4. Pahlawanku - Reza Hidayat
Pahlawanku .....
Bagaimana saya bisa membalas jasa-jasamu
Yang telah kau berikan untuk bumi pertiwi
Haruskah saya turun ke medan perang
Haruskah saya mandi bergelimang darah
Haruskah saya tertembak peluru penjajah
Aku tak tahu langkah untuk membalas jasamu
Engkau relakan nyawamu
Demi suatu kemerdekaan yang mungkin
Tak bisa kau raih dengan tanganmu sendiri
Pahlawanku ..... engkaulah kembang bangsa
5. Pahlawan Terdepan - Akbal Marfianda
Tidak seperti ini Negeri Indonesia dulu
Semua penuh darah dan duka
Dentuman senapan mengeluarkan peluru
Bambu runcing yang tak kunjung reda
Jeritan rakyat di pelosok Negeri
Tangisan rakyat di pelosok Negeri
Sungguh tak tega memandang itu semua
Jika kita berada di tempat itu
Para pahlawan bertumpah darah
Para pahlawan berjuang tanpa lelah
Bertahun-tahun berjuang demi rakyat
Hingga ada yang merelakan nyawanya
Hingga pada akhirnya kemerdekaan itu diraih
Sungguh tangis haru yang kita rasakan
Tanpa mereka kita tidak bisa seperti saat ini
Merdeka...
6. Kartini - Siti Isnatun M
Saat wanita ditabukan untuk belajar,
suaramu lembut menentang
batinmu lantang menerjang
Sekuat tenaga kau nyalakan harap,
bagai gemerisik angin dalam senyap
rabut kewenangan untuk kaum wanita
perjuangkan masa depan untuk kaum wanita
Kartini...
Saat sekarang jasamu tlah membahana...
namamu tak lagi lantang disebutkan
usahamu tak lagi ramai dibicarakan
Kau kian terlupakan...
bagai kota yang tlah lama ditinggalkan
7. Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan - Siti Isnatun M
Saat goresan hatimu mengenai jantung lawan
kau dibuang di pengasingan
Saat itulah, kau belajar tentang pendidikan
kau belajar tentang makna kebenaran
Kau belajar tentang gimana meraih harapan
untuk bangsamu tercinta, Indonesia...
Kau dirikan Taman Siswa, taman pendidikan
agar anak negeri dapat mengukir masa depan
Berlandaskan angan dan harapan
akan cerahnya kemerdekaan
Ki Hajar Dewantara... Bapak pendidikan...
Semboyanmu hingga sekarang tetap termakna dan terbaca
Ing ngarsa sung tuladha
ing madya mangun karsa
tut wuri handayani
di depan menjadi teladan
di tengah membangun semangat
di belakang menyokong dengan dukungan
8. Satu Kata “Merdeka” - Yamin
Hingga detik ini
Darah tertumpah membanjiri persada
Ribuan nyawa melayang
Tulang belulang berserakan
Sebuah pengorbanan yang kudu dibayar mahal
Demi terwujudnya kata
Merdeka
Jiwa gugur tak terhitung jumlahnya
Darah segar merasuk di sela-sela tanah air
Dengan bangga jasadmu tersenyum
Menyaksikan kemerdekaan negeri tercinta
9. Ilalang dan Seorang Ibu yang Mencari Uang - Raafina F
Ilalang dan seorang ibu yang mencari uang
Di tengah padang kepalang yang landai
Ibu tergores, luka mengoles
Bersembunyi di kembali baju pemberian partai
Awan biru mengudara syahdu
Pertanda hari segera hujan
Ibu bilang jangan dahulu
Menggerutu, meminta iba pada awan
Awan mengerti maksud ibu
Tapi hujan tak mau mengalah
Hujan tetap mau turun, badan ibu basah
Luka kian berdarah, mengalir di setiap celah
10. Kita Merdeka - Agil Ramadhan
Pandemi tetap membayangi tiap jiwa dan raga para pribumi
Walau riuh terdengar menggema di seluruh penjuru
Dan sang saka merah putih dengan gagahnya berkibar
Mengobarkan semangat para pemuda dan pemudi bangsa
Untuk tiap tetes keringat dan darah yang dikorbankan para pejuang bangsa
Menopang, hingga bumi pertiwi ini berdiri kokoh
Tak satupun yang berkuasa merampas semangat kemerdekaan ini
Walau pandemi yang perlahan membatasi ruang mobilitas kita
Dan merebut kebahagiaan dengan orang-orang terkasih
Hari ini kita merdeka!
Bentengi diri dengan nyala semangat yang tak kenal lelah
Tunjukkan kepada para pejuang bangsa, kita layak merdeka
Karena aku, kau dan kita semua adalah Indonesia
Merdeka, merdeka, merdeka!
11. Merdeka, Kini dan Nanti - Ahmad Suryadi
Mereka ini adalah upaya yang tak kenal lelah
Usaha yang tak pernah menyerah
Mereka ini adalah cucuran keringat dan dara
Yang setia mencucur hingga melimpah ruah
Mereka ini adalah lelah
Lelah yang dirasakan oleh setiap raga
Merdeka ini tak mudah digapai
Karena berjuta ton darah raib serta tergadai
Merdeka didapat dengan taruhan nyawa
Demi merdeka jutaan nyawa dan jiwa melayang
Demi merdeka untuk senyum besok yang lebih
Demi merdeka untuk senyum bangsa Indonesia
Demi merdeka ibu pertiwi, sekarang dan nanti
12. Riwayatmu Kini - Aldi Mubarok
Pertiwi di usia renta genap tujuh puluh enam tahun
Masih menjadi budak nafsu bagi mereka si hidung belang
Gunung menyembul, ranum nan rimbun
Sebelum diremas tangan-tangan binal
Bibir sensual, mengalir sungai
Dilumat hingga kering kerontang
Meringis tatkala beton menancap pada tubuh
Derai air mata tak bisa dibendung
Meluap membasahi pori-pori tiap kota
Berontak dari dekapan galak
Berjalan lunglai separuh sadar
Sambil bergumam:
"aku mau kebebasan; kesejahteraan"
13. Merah Putih untuk Pertiwi - Alfin Nihayatul Islamiyah
Guratan tinta emas dalam kertas bekas
Memori masa kelam terlintas
Dalam bebatan darah yang tetap menggenang
Melaju melewati masa menjadi kenangan
Maksud terbuai dalam hati yang luluh
Kisa puluhan tahun yang beradu dalam peluh
Kelu; rasanya hati berdayuh-dayuh
Kertas jejak waktu menjadi rapuh
Merdeka! Diiringi Indonesia raya yang menggema
Air mata yang siap meluncur kapan saja
Penantian di penghujung usia
14. Mentari Indonesia - Bunda Azki
Derap langkah para penjaga paksa
Letupan senjata tanpa aksama
Ribuan nyawa lenyap tanpa dosa
Hanya derai air mata yang berkuasa
Ketika angan dan air mata bersama
Penjuru bumi langit berkuasa
Sebilah bambu runcing mencakar angkasa
Kekuatan besar mencabar bumi seisinya
Merdeka, merdeka, merdeka
Peluh dan lara berganti indahnya nirwana
Luka tikam menganga berganti senyuman sukma
Ribuan dera tergantikan secercah sinar khatulistiwa
Kisah romansa bakal bagus pada waktunya
Bukan lantaran Anda dan saya saja
Namun hubungan keduanya
Karena kita sama, kita adalah Indonesia
15. Indonesia - Chatya Fawziyah
Tujuh puluh enam tahun Indonesia merdeka
Meninggalkan segala cerita lama yang penuh duka
Ratusan tahun dijajah dengan kejamnya
Hingga tak sedikit yang gugur karenanya
Indonesia
Sejarah perjuangan tak mungkin dilupa
17 Agustus 1945
Proklamasi atas nama bangsa Indonesia bergema ke penjuru dunia
Indonesia usiamu tak lagi muda
Namun semangatmu kudu tetap membara
Demi segala cita-cita para pejuang bangsa
Majulah Indonesia
Jayalah bangsa dengan beragam suku dan budaya
Kepakkan sayapmu setinggi angkasa
Tunjukkan gagahmu di mata dunia
16. Hargai Para Pahlawan - Deni Tri Risawati
Mengenang 76 tahun silam atas jasa para pahlawan
Kemerdekaan bisa diproklamasikan, Indonesia bisa dipersatukan
Banyak darah yang ditumpahkan
Banyak nyawa yang dikorbankan
Semua demi mencari keadilan dan menghapus penjajahan
Kini, telah tiba bulan spesial bagi rakyat Indonesia
Merah putih berkibar di sepanjang jalan
Sebagai tanda peringatan kemerdekaan
Mari kawan kita jaga persatuan jangan ada perpecahan
Hargai pengorbanan para pahlawan
Kebebasan jangan disalahgunakan
Boleh berdebat adu pendapat tapi untuk meraih mufakat
Bukan untuk tipu muslihat lantaran kita adalah generasi hebat
Demi Indonesia yang kuat
17. Sebuah Mimpi - Dewi Ramadhanti
Apa itu merdeka?
Kata bebas yang diimpikan
Indonesia berjuang
Ikhtiar Tawakal tak terhenti
Tangis darah air mata
350 tahun lamanya
Buih bagus itu datang
Tangis haru bahagia
Berkah kesabaran nan perjuangan
Kini waktu berlalu
Definisi bebas penuh makna
Perjuangan kita berbeda
Nafkah, rezeki, sehat
Tetaplah melangkah menuju harap
Merdeka 'kan kita dapat
18. Bara - Ellyana Dwi Jayanti
Merdeka!
Satu kata yang diucapkan oleh seorang pahlawan
satu kata yang penuh makna
satu kata yang membikin kami bergetar
Satu kaya yang membikin kami menangis
Tapi apakah kita sudah betul-betul merdeka!
Wahai pahlawan bukalah matamu
Ada noda yang tak bisa kau lihat secara langsung
Ada noda yang kau anggap itu sebuah hiasan
Ada noda yang sebenarnya mau kau hapus
Namun kenapa engkau mendiamkannya
Merah darahku putih tulangku
Meski kami kudu merasakan sakit
Kami mau kau kembali
Seperti makna merdeka yang sesungguhnya
Saat kau memerdekakan negeriku Indonesia
19. Merah Putih Cerbebas Jerat - Fadilla Dewi Brilliantsya
Kala itu manusia-manusia picik mengangkat pertiwi
Saksana keibuan bergaya mengayomi
Menebar lakon, merecap janji-janji
Merenggut, meraup segala jati diri
Tiada belas, tiada layak dikata manusiawi
Hingga tumpah ruah darah juang negeri
Demi melepas jerat, membebaskan NKRI
Gelora jiwa terbakar di tengah terik matahari
Raga mengacu, meluruh bagai di atas bara api
Menyibak, menerjang diantara semak duri
Tapi tak gentar meski minim senjata api
Demi perwujudan secarik naskah yang kau sebut
PROKLAMASI
20. Bela Negara - Dilla Hardina Agustiani
Kobar semangat terus membara
Menyulut asa tuk bela negara
Berkorban jiwa serta raga
Usir kolonialis dari tanah air kita
Ratusan nyawa pahlawan telah melayang
Mereka dengan gagah berani berperang
Menebas ketidakadilan meski penuh rintang
Agar tak ada lagi rakyat yang terkekang
17 Agustus kita telah merdeka
Perjuangan para pahlawan tak sia-sia
Terluka parah apalagi lenyap nyawa pun rela
Demi memandang generasinya hidup tenteram sentosa
21. Merah Darah Putih Tulang - Fransiskus Dika Sidabutar
Merdeka telah diperjuangkan
Eulogi kami panjatkan bagi para pahlawan
Rela tinggalkan keluarga
Air mata dan darah pun diikhlaskan
Hanya untuk kemerdekaan
Perjuangan takkan ku henti
Untuk memperjuangkan tanah air
Tekad bakal ku jahit
Intuisi bakal terus berlari
Hanya tuk mengharumkan negeri
22. Untuk Indonesia - Khoirul Hasanah
Tujuh puluh enam tahun lampau Negara kita merdeka
tidak lagi ada peperangan dengan serdadu Belanda
Serta pertumpahan darah yang merajalela
Kemerdekaan ini adalah nyawa
Dari para pejuang, untuk Indonesia
Tak peduli seberapa banyak peluru menghunjam dada
Meski melawan tanpa senjata,
Tak sedikitpun goyah demi bangsa
Tujuh puluh enam tahun lampau bangsa yang besar telah
lahir
Beribu kisah para pahlawan terus mengalir
Jasanya semerbak kudu di sela-sela tanah air
Aku mencintai bangsa ini sampai akhir
23. Untukmu - M. Said As'ad
Untukmu terima kasih ku ucapkan
Dirimu yang setia
Setia menemani jiwa
Jiwa 270 juta nyawa
Tetap setia, tanpa mengusir mereka
Walaupun sekarang kau sedang tidak baik-baik saja
Banyak virus yang menerpa menakut-nakuti nyawa
Terakhir...kata maaf ku ucapkan
Karena diriku tak ikut serta mengangkatmu dari
keterpurukan
Sekarang, di saat dirimu mulai tergoncang
Izinkan saya belajar memahami dirimu yang sekarang
Hingga bisa menggandengmu jauh dari virus hitam
Semoga lekas membaik negriku di hari jadimu.
Dirgahayu Indonesiaku..
24. Bulan Agustus - Nani Setyawati
Pagi yang cerah penuh warna
Paginya Indonesia merdeka merah putih
Gelak tawa dan senyum sepanjang Agustus
Persahabatan menyatu melawan kesibukan
Kemakmuran menghadirkan anak-anak polos berlarian
Indahnya negeriku bulan ini
Merah putih berkibar
Tanda senyum senang nyata
Tuhanku, saya terlena lantaran bulan Agustus
Terlena bakal limpahan keberkahan dari-Mu
Agustus hanya satu bulan lamanya
Aku sadar sesaatnya suatu kebahagiaan
Bukan senang ingkar yang ku mau
Namun, senang selamanya seperti bulan Agustus
25. Satu Kata - Rosida Puti Sahara
Untuk siapa kemerdekaan ini?
Bila pekik kemerdekaan itu terdengar dari perut anak bangsa
yang kelaparan
Saat teriakan "merdeka" terucap
Naiknya merah putih membawa peluh serta rintih
Satu bangsa yang tersakiti terseok maupun terbantai
Bambu Runcing, golok pun belati mulai bangkit meski tertatih
Hidup dan meninggal demi satu kata, Diulangi, demi satu kata
Merdeka
25 Puisi kemerdekaan dan pahlawan nasional menyentuh hati berisi 4-8 bait
Di bawah ini 25 puisi kemerdekaan panjang tentang pahlawan nasional yang menyentuh hati.
1. Pahlawanku - Yamin
Darah mengalir terus dikenang
Sengsara kehausan serta kelaparan
Langkah sedikit lengah
Terpeleset lembah yang mendalam
Karena jasamu Indonesia bisa bernapas lega
Menghirup udara kebebasan
Aman dari sergapan senjata
Jauh dari serangan kolonialis tak terduga
Tanpamu kami tidak tau keadaan sekarang
Keberanianmu larut dalam darah juang
Kekuatanmu sekeras baja
Keyakinanmu kuat dalam hati sanubari
Pahlawanku ...
Kau berikan kebahagiaan anak cucu bangsa
Kau tinggalkan kenangan sejarah tuk pijakannya
2. Pak Tua - Siti Isnatun M
Pak Tua ...
mendorong gerobaknya menuju jalanan kota
membersihkan kota dengan ayunan sapunya
menghias kota dengan senyum ramahnya
Pak Tua ...
saat lelah, hanya semilir angin yang menemaninya
saat lemah, hanya pemandangan kota sebagai penghiburnya
Pak Tua ...
bersih kotaku karna tekunmu
segar kotaku karna sabarmu
dan bagus kota ku karna ikhlasmu
Sejatinya,
kaulah pahlawan kotaku
meski tak disebut
meski tak dikenal dan tak dicatat
betapa tanpamu...
kotaku, sungguh kehilangan maknanya
3. Wanita Perkasa - Yosua Sebastian
Seperti hari kemarin terlepas penjajahan
Seperti hari ini meninggalkan peperangan
Ingatkah kalian satu lagi masa kepahitan?
Masa di mana kewenangan takkan bertindak atas wanita
Seorang bijak merasa iba terhadap itu
Dia sangat berkeinginan menegakkan keadilan
Dikenal dengan nama Raden Ajeng Kartini
Dia terlahir untuk jadi inspirasi tanah air
Apakah kita sadar atas jerih payahnya?
Akankah kita akui tiap tetes air matanya?
Semua aksinya buat wanita seperti sekarang
Dipandang setara berbareng laki-laki pada bentuk setara
Ibu kita Kartini
Karenamu Indonesia jadi bisa seperti ini
Terima kasih atas seluruh pengorbananmu
Semoga para wanita terbentuk sesuai harapanmu.
4. Dewi Sartika - Sri Widayati
Dewi Sartika
Perintis pendidikan bagi kaum wanita
Kota Kembang Bandung itu kelahirannya
Empat Desember delapan belas delapan empat
Putri Raden Ayu Permas dan Raden Somanegara
Sejak remaja kau berjuang untuk kaummu
Kau ajarkan baca, tulis, masak dan jahit baju
Kau dirikan Sekola Istri awal mulamu
Kau tukar namanya menjadi sekola Kautaman Istri
Berganti lagi menjadi Sekola Raden Dewi
Dari bumi Pasundan menyebar ke luar Jawa
Cita-citamu sungguh mulia
Kau kerja keras mendidik anak-anak wanita
Agar menjadi orang yang berguna
Cerdas terampil ulet berdikari berwibawa
Dewi Sartika
Kau dapatkan bintang jasa
Dari pemerintah Hindia belanda
Berkat perjuanganmu pendidik para wanita
Suami tercinta pendukung sepenuhnya
Raden Kanduruan Agah Suriawinata namanya
Dewi Sartika
Kau hembuskan nafas terakhirmu di Tasikmalaya
Sebelas September dua tahun Indonesia merdeka
Jasa-jasamu kan dikenang sepanjang masa
5. Elegi 10 November - Siti Isnatun M
Hari ini kami memandang
wajah-wajah pada bingkai yang terpajang
Menunduk membisikkan doa
dalam semat kenangan bakal jasa
Separuh asa kami melayang
dalam bayang-bayang
akan masa yang tlah silam
Darah yang tlah mengalir
Keringat yang tlah bergulir
bagai sebutir safir
dalam ruang yang temaram
Bukan lagi tangis yang semestinya kami berikan
Bukan!
Meski air mata membayangi kenangan
akan pengorbanan yang tlah dipersembahkan
10 November ini
Bersama duka ini
Kami sematkan setangkup doa
Bersama tekad dan asa
Bahwa kami adalah tonggak penerus
untuk jiwa kepahlawananmu yang tulus
6. 17 Agustus - Suyono
17 Agustus yang penuh semarak
Pekik "Merdeka" kata itu menggema di setiap daerah
Melalui perjuangan pahlawan yang telah gugur
Perjuangan yang bisa membawa Indonesia
Menuju kemerdekaan
17 Agustus nomor bersejarah
Kemajuan dan prestasi dipamerkan
Untuk mengisi kemerdekaan
Bendera Indonesia berkibar dengan gagah
Meliuk berbareng hembusan angin
Lagu kebangsaan dinyanyikan
Negara Indonesia semakin bergaung di seluruh dunia
17 Agustus menjadi saksi
Kemerdekaan Indonesia tak sebatas mimpi
Kemerdekaan kita diraih dengan tetes darah dan air mata
Indonesia bisa menikmati udara kemenangan
17 Agustus semua berlomba
Menuju lapangan, menatap dan menghormati sang saka
Merah putih telah berkibar
Bersama semangat kemerdekaan
Indonesia sekarang telah merdeka
7. Sepotong Sunyi di Taman Makam Pahlawan - Siti Isnatun M
Di sebuah makam
jauh dari kehidupan
yang tersimpan hanyalah kenangan
akan keabadian yang temaram
Sepotong sunyi menepi
di antara nisan-nisan berjejer rapi
seolah jadi kawan yang peduli
menyanyikan sunyi tanpa henti
Berkalang tanah engkau para kebanggaan
tenggelam berbareng keteladanan
betapa tamanmu sekarang sunyi dan sepi
seakan duniamu tlah ikut mati
Taman makammu makin tak terjamah
Perjuanganmu makin terlupa sejarah
Sungguh ironis dan menggugah
Semua terjadi saat jasamu terasa indah
Nisanmu yang dulu megah
kini tampak mulai layu dan jengah
bagai kembang kamboja berguguran ke tanah
tak terusik oleh deretan kisah
Sepotong sunyi terus menggelanyuti
taman makammu... wahai pahlawan negeri
Hati berbisik dengan sepi
akankah kami bisa berbagi
meski hanya kisah yang tak selesai
dari perjalananmu yang telah usai
8. Ki Hajar Dewantara - Mutasaroh
Engkau pendiri Taman Siswa
Sebagai pengabdian bagi Negara
Engkau bapak pendidikan nasional
Pemberi inspirasi pada bangsa Indonesia
Wahai pahlawan pendidikan
Engkau kerahkan tenagamu
Engkau curahkan pikiranmu
Enagkau korbankan waktumu
Untuk mendidik putra-putri bangsa
Wahai pahlawan pendidikan
Kini kau telah tiada...
Kini tinggal kenangan...
Semangatmu tak pernah ku lupakan
Jasamu sangat besar pada Negara
Wahai pahlawan pendidikan
Namamu kan wangi semerbak wangi
Di setiap langkah generasi Indonesia
Semoga Allah membalas semua kebaikanmu
Terima kasih pahlawanku...
9. Kepergian Pahlawanku - Siti Isnatun M
Senja yang pilu,
membuat hari kian membiru
Langit tampak Keruh,
Mengantar kepergianmu... pahlawanku
Gerimis jatuh membasahi pucuk sunyi,
melagukan nada-nada lara hati
Saat doa-doa ikut tertanam,
bersama bayangmu yang kian tenggelam
Kaulah, pahlawan hidupku
meninggalkan berjuta jejak
dalam rentang waktuku
mengukir berjuta cinta
dalam lembar hidupku
Kepergianmu ini,
membuatku bagai kota mati
Namun, saya mengerti
bahwa engkau, Ibu
takkan pernah layu dalam kalbuku
dalam setiap kenangan, ku lantunkan doaku
tenang dan bahagiamu
kembali kepada-Nya
10. Kita Adalah Pemilih Sah Republik Ini - Taufiq Ismail
Tidak ada pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Karena berakhir alias mundur
Berarti hancur
Apakah bakal kita jual kepercayaan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
"Duli Tuanku?"
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras bunyi yang sunyi suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita harus
Berjalan terus
11. Kemerdekaan Bangun Peradaban - Yamin
Jiwa mudamu tentukan nasib bangsamu
Semangat mengobar lindungi manusia
Melenyapkan musuh yang menghadangmu
Jangan biarkan Indonesia bercerai-berai
Lumpuhkan serangan tentara perang
Taruhkan hidupmu di ujung pedang
Mari kita bangun peradaban
Berani bersaing dengan negara lain
Pegang teguh panutan bangsa
Luluh lantahkan manusia yang mengusik keutuhan
Merdeka adalah nilai mati
Tidak dapat dibeli hanya mau di hargai
Kesatuan adalah rumpun kerukunan
Mengamankan karakter kebudayaan dan budaya istiadat yang dipunya
Jasa pahlawan yang gugur
Terlukis di prasasti
Tanda peristiwa bersejarah
Genggam dan kuasalah demi berdirinya kebebasan
12. Siluet Kemerdekaan - Nina Kardina
Mentari pagi baru saja terbangun dari tidurnya
Dan semburat jingga di ufuk timur pun tlah merekah
Perlahan tapi pasti atmosfer pagi kian terlihat warnanya
Memperlihatkan wajah bangsaku yang gembira
Kita merasakannya...
Gempita dan haru kian menyeruak
Dada rasa penuh dengan keharuan bercampur suka
Ini adalah waktunya memaknai sekaligus merayakan
Kemenangan ini bukan dari dan untuk segelintir orang
Dia adalah hidayah terindah dari Illahi Rabbi
Dan pengorbanan besar dari para kesuma bangsa
Kemenangan ini milik kita semua
Milik Bangsa ini... Bangsa Indonesia
Dirgahayu Negeriku...
Tetapkan digdaya dalam kesederhanaanmu
Jayalah selalu bangsaku...
13. Siapa Merdeka - Farihah Amien
Siapa bertanya siapa
Mereka bilang Indonesia Merdekaa
Tapi keadilan sosial tetap memandang kasta
Mereka bilang Indonesia merdeka sejak 45
Namun norma tetap tumpul bagi yang mampan
Dan ah sangat tajam bagi yang papa
Siapa bertanya siapa
Anak yang mereka elu elukan menangis
Beringsut dalam histeris
Lapar yang mengikis perut terasa teriris
Lantas siapa Merdeka?
Siapa bertanya siapa
Mereka berteriak-teriak merdeka
Kami berteriak lapar mendera
Siapa merdeka?
Kemerdekaan adalah kewenangan segala bangsa
Merdekalah Negriku
Merdekalah Rakyatku
14. Hari Itu, Bangsaku Bahagia - Asty Kusumadewi
Indonesia adalah negara kaya
Negara penuh budaya
Negara yang selalu jaya
Di setiap generasinya
Namun, ada kisah nyata di kembali itu semua
Penjajahan di mana-mana
Perjuangan melawan kolonialis durjana
Dengan semangat juang 45
Pertumpahan darah di tanah air
Saksi bisu perjuangan bangsa
Dengan satu keinginannya
Tekad kuat untuk merdeka!
Merdeka, merdeka, merdeka!
Hari itu bangsaku bahagia
17 Agustus 1945
Indonesia merdeka dari segala sengsara dan lara
15. Gugur - W S Rendra
Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya
Tiada kuasa lagi menegak
Telah dia lepaskan dengan gemilang pelor terakhir dari bedilnya
Ke dada musuh yang merebut kotanya
Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya
Ia sudah tua luka-luka di badannya
Bagai harimau tua susah payah maut menjeratnya
Matanya bagai saga menatap musuh pergi dari kotanya
Sesudah pertempuran yang gemilang itu lima pemuda mengangkatnya di antaranya anaknya
Ia menolak dan tetap merangkak menuju kota kesayangannya
Ia merangkak di atas bumi yang dicintainya
Belum lagi selusin tindak maut pun menghadangnya
Ketika anaknya memegang tangannya, dia berkata:
Yang berasal dari tanah
kembali rebah pada tanah.
Dan saya pun berasal dari tanah tanah Ambarawa yang kucinta
Kita bukanlah anak jadah Kerna kita punya bumi kecintaan.
Bumi yang menyusui kita dengan mata airnya.
Bumi kita adalah tempat pautan yang sah.
Bumi kita adalah kehormatan.
Bumi kita adalah juwa dari jiwa.
Ia adalah bumi nenek moyang.
Ia adalah bumi waris yang sekarang.
Ia adalah bumi waris yang bakal datang.
Hari pun berangkat malam
Bumi berpeluh dan terbakar
Kerna api menyala di kota Ambarawa
Orang tua itu kembali berkata:
Lihatlah, hari telah fajar!
Wahai bumi yang indah,
kita bakal berpelukan buat selama-lamanya!
Nanti sekali waktu seorang cucuku bakal menancapkan bajak di bumi tempatku berkubur kemudian bakal ditanamnya bibit dan tumbuh dengan subur
Maka dia pun berkata:
"Alangkah gemburnya tanah di sini!"
Hari pun komplit malam
ketika menutup matanya"
16. Kita Adalah Pemilik Sah Negeri Ini - Taufik Ismail
Tidak ada pilihan lain
Kita kudu melangkah terus
Karena berakhir alias mundur
Berarti hancur
Apakah bakal kita jual kepercayaan kita
Dalam pengabdian tanpa harga
Akan maukah kita duduk satu meja
Dengan para pembunuh tahun yang lalu
Dalam setiap kalimat yang berakhiran
"Duli Tuanku ?"
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita kudu melangkah terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang di tepi jalan
Mengacungkan tangan untuk oplet dan bus yang penuh
Kita adalah berpuluh juta yang bertahun hidup sengsara
Dipukul banjir, gunung api, kutuk dan hama
Dan bertanya-tanya, inikah yang namanya merdeka
Kita yang tidak punya kepentingan dengan seribu slogan
Dan seribu pengeras bunyi yang sunyi suara
Tidak ada lagi pilihan lain
Kita kudu melangkah terus
17. Menatap Merah Putih - Sapardi Djoko Darmono
Menatap merah putih
Melambai dan menari-nari di angkasa
Kibarannya telah banyak menelan korban nyawa dan kekayaan benda
Berkibarnya merah putih
Yang menjulang tinggi di angkasa
Selalu teriring senandung lagu Indonesia Raya
Dan tetesan air mata
Dulu, ketika masa perjuangan pergerakan kemerdekaan
Untuk mengibarkan merah putih kudu diawali dengan pertumpahan darah
Pejuang yang tak pernah merasa capek untuk berteriak : Merdeka!
Menatap merah putih
Adalah perlawanan melawan angkara murka
Membinasakan penindas dari negeri tercinta Indonesia
Menatap merah putih
Adalah bergolaknya darah demi memihak kebenaran dan azasi manusia
Menumpas segala kolonialisme di atas bumi pertiwi
Menatap merah putih
Adalah kebebasan yang musti dijaga dan dibela
Kibarannya di angkasa raya
Berkibarlah terus merah putihku dalam kemenangan dan kedamaian
18. Tanah Tumpah Darahku
Aku tak mau memandang bangsaku
Kalah tersungungkur oleh waktu
Aktu tak mau memandang bangsaku
Jatuh tenggelam ke dalam kehancuran
Dengan tekad setinggi langit
Untuk tanah ini saya rela berkorban
Disaat percaya diriku menyusut
Disaat itulah semangatku semakin berkobar
Selama mentari tetap menyinari dunia
Aku takkan berakhir sedetik pun
Menyelamatkan melindungi dan mempertahankan
Walaupun hingga saya menyatu dengan tanah negeriku
Bersatulah wahai penerus bangsa
Bulatkan tekadmu dan tegarlah bagai batu karang
Keraskan segala usahamu serta keraskan pula suaramu
Karena setiap upaya yang keras takkan mengkhianati
Harapanku bakal selalu mengiringi
Untuk tanah negeri ini setiap hari
Aku tidak mau lagi
Melihat ibu pertiwi tersiksa hati
19. Hari Kemenangan Indonesia - Ade Yulfani
Bukan begini negeriku dulu
Semua penuh darah, asap dan debu
Senapan mengeluarkan peluru
Dengan bunyi yang bergemuruh
Kini negara kondusif terjaga dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika
Berdiri dengan kokoh berdasarkan Pancasila
Terangkai dalam Undang-Undang Dasar Negara tahun 1945
Bebas tanpa terikat dengan Hak Asasi Manusia
Pada 17 Agustus 1945 benderaku tersenyum bagus di cakrawala
Lewat perjuangan para pahlawan yang mengorbankan kata semangat juang penuh perkasa
Kini saya bangga menjadi anak Indonesia
Di hari ini adalah hari ulang tahun Indonesia merdeka
Kucoba mengingat ulang pelajaran tentang HUT RI yang tercinta
Karena cita-cita kudu dilanjutkan oleh generasi muda bangsa
Bendera merah putih berkibar di bumi pertiwi yang merdeka
Tiada kata bagus selain angan syukur atas nikmat dari yang Maha Esa
Kemenangan sejati sekarang semua rasakan indahnya
20. Kemerdekaan - Suyono
Di hari kemerdekaan
Hari yang begitu ditunggu setiap tahun
Telah berulang tahun yang ke-79
Hasil perjuangan para pahlawan
Bangsa Indonesia, bangsa telah merdeka
Bendera merah putih telah berkibar dengan gagahnya
Pada tanggal tujuh belas Agustus 2024
Kibarannya seirama dengan hembusan sang bayu
Mengenang para pahlawan
Wajib kita lakukan
Bagi anak-anak kudu tetap semangat
Untuk mengisi kemerdekaan
Merdeka untuk bangsaku
Merdeka untuk negeriku
Semangat untuk semuanya
21. Cut Nyak Dhien - Sri Widayati
Cut Nya Dhien
Seorang wanita keturunan raja
Lampadang Aceh itu asalnya
Teuku Cek Ibrahim nama suaminya
Gugur bertempur di medan laga
Kau berjanji tuk lanjutkan perjuangannya
Gagah berani melawan Belanda
Karena Masjid Raya Baiturrahman dikuasainya
Mempertaruhkan seluruh jiwa raga
Cut Nya Dhien-lah pemimpinnya
Teuku Umar telah meminangnya
Mempunyai putra Cut Gambang namanya
Belanda sukses mengasingkannya
Daerah Sumedang itu tempatnya
Cut Nya Dhien
Kau dijuluki “Ibu Perbu”
Keahlianmu dalam pengetahuan kepercayaan Islam
Kau pengaruhi kawan di pengasingan
Mereka temukan makna kehidupan
Sampai akhirnya Kau tutup usia
Enam November seribu sembilan ratus delapan
22. Perjuangan Para Pahlawan untuk Indonesia - Suyono
Untukmu pahlawanku
Tanpamu kami tak bisa seperti sekarang
Keberanianmu menerjang penjajah
Dalam darahmu mengalir semangat juang
Keberanian menjadi kekuatan untuk menerobos Gerbang penjajah
Genangan darah sebagai bukti kesetiaanmu
Tulang-tulang yang remuk terhampar bak mutiara
Sebagai tanda kesucianmu
Karena jasa dalam darahmu Indonesia bisa merdeka
Kucuran deras keringat membasahi seluruh tubuh
Kadang, jiwa ini terpuruk dalam kesedihan
Mengenang semua penderitaan dan perjuanganmu
Semua demi Indonesia, kau taruhkan nyawamu
Pahlawan kau genggam bambu runcing di tanganmu
Luka di tubuh, kau anggap hanya biasa
Di tengah teriknya sang mentari kau bertempur demi negeri ini
Namun, di kembali peperangan jasa dan semangatmu selalu ada
23. Jejak Pahlawan Bangsa - Almas Noor Huda
Jejak-jejak para pahlawan bangsa
Semerbak wangi dalam untaian syair pujangga
Bercerita haru bakal kisah perjuangan
Bertaruh nyawa di medan peperangan
Kapten Pattimura dengan pedangnya
Jendral Soedirman dengan tandunya
Pangeran Diponegoro dengan gerilyanya
Memperjuangkan Indonesia merdeka
Tujuh belas Agustus 1945
Soekarno memproklamirkan kemerdekaan
Riuh tangis haru dikumandangkan
Jatuhnya Jepang dan merdekanya negara Indonesia
Jejak-jejak para pahlawan bangsa
Menapak jelas menembus zaman
Kini beliau pun menyaksikan dari surga
Bangsamu berasosiasi padu dalam semangat membela
24. Atas Kemerdekaan - Sapardi Djoko Damono
Kita berkata: jadilah
dan kemerdekaan pun jadilah bagai laut
di atasnya: langit dan angin besar tak henti-henti
di tepinya cakrawala
Terjerat juga akhirnya
kita, kemudian adalah sibuk
mengusut rahasia angka-angka
sebelum Hari yang ketujuh tiba
Sebelum kita ciptakan pula Firdaus
dari segenap mimpi kita
sementara seekor ular melilit pohon itu:
inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah.
25. Musium Perjuangan - Kuntowijoyo
Susunan batu yang bulat bentuknya
berdiri kukuh menjaga senapan tua
peluru menggeletak di atas meja
menanti putusan pengunjungnya.
Aku tahu sudah, di dalamnya
tersimpan darah dan air mata kekasih
Aku tahu sudah, di bawahnya
terkubur kenangan dan impian
Aku tahu sudah, suatu kali
ibu-ibu direnggut cintanya
dan tak pernah kembali
Bukalah tutupnya
senapan bakal kembali berbunyi
meneriakkan semboyan
Merdeka alias Mati.
Ingatlah, sesudah sebuah perang
selalu pertempuran yang baru
melawan dirimu.
5 Puisi Bertema Kemerdekaan karya Chairil Anwar
Puisi kemerdekaan karya Chairil Anwar dikenal mempunyai makna mendalam tentang perjuangan, kebebasan, dan semangat mencintai tanah air.
Berikut lima puisi karya Chairil Anwar yang dapat menjadi inspirasi untuk menyemarakkan peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.
1. Krawang-Bekasi
Kami yang sekarang terbaring antara Karawang-Bekasi
tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan mendegap hati?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa sunyi dan jam tembok yang berdetak
Kami meninggal muda. Yang tinggal tulang diliputi debu.
Kenang, kenanglah kami.
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan makna 4-5 ribu nyawa
Kami hanya tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa,
Kami tidak tahu, kami tidak lagi bisa berkata
Kaulah sekarang yang berkata
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa sunyi dan jam tembok yang berdetak
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Sjahrir
Kami sekarang mayat
Berikan kami arti
Berjagalah terus di garis pemisah pernyataan dan impian
Kenang, kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi
2. Prajurit Jaga Malam
Waktu jalan...
Aku tidak tahu apa nasib waktu
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua tua keras, bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya kepastian
Ada di sisiku selama menjaga daerah meninggal ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu
Waktu jalan...
Aku tidak tahu apa nasib waktu!
3. Persetujuan dengan Bung Karno
Ayo Bung Karno kasih tangan,
Mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu,
dipanggang di atas apimu, digarami oleh lautmu
Dari mulai tanggal 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api saya sekarang laut
Bung Karno, Kau dan saya satu unsur satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak dan berlabuh.
4. Aku
Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang 'kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini hewan jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga lenyap perih peri
Dan bakal akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
5. Diponegoro
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api
Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.
MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.
Sekali berarti
Sudah itu mati.
MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.
Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup kudu merasai
Maju...
Serbu...
Serang...
Terjang...
Itulah 55 puisi kemerdekaan Indonesia yang bisa Bunda jadikan referensi untuk memeriahkan momen 17 Agustus. Semoga puisi-puisi ini dapat menginspirasi dan menambah semangat cinta Tanah Air.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·