Jakarta -
Tanpa disadari, ada beberapa kalimat dari orang tua yang bisa terbawa oleh anak hingga dewasa. Ucapan ini juga bisa memengaruhi langkah anak merespons emosinya.
Biasanya kalimat ini mempunyai makna yang membikin anak sedih alias mungkin terasa menyakitkan, sehingga luka batinnya tersimpan dalam waktu lama.
Anak yang terlalu sering dikritik saat mini rentan tumbuh menjadi sosok yang sering cemas dianggap 'berlebihan', alias enggan mengekspresikan diri lantaran saat mini sering dikritik.
Kata-kata dan ucapan sangat mudah diingat, terutama jika bersuara menyakitkan alias kasar. Hal ini bisa terus terulang di dalam pikiran anak.
Kalimat yang rentan membikin anak terus merasa bersalah saat dewasa
Saat anak terus menerima kritik yang tidak membangun, mereka biasanya mudah merekam kalimat ini dan jadi menahan diri untuk mengungkapkan emosi yang sebenarnya.
Orang tua perlu berhati-hati untuk memilih kalimat saat berbicara, terutama jika anak mempunyai emosi yang 'besar' alias agak sensitif.
Berikut beberapa contoh kalimat yang rentan didengar pada masa kanak-kanak dan terbawa hingga dewasa:
1. "Jangan berlebihan"
Ketika anak menangis, sedih, alias mengekspresikan emosinya, orang dewasa mungkin merespons dengan kalimat yang menyakitkan seperti 'jangan drama' alias 'jangan berlebihan' tanpa menyadari dampaknya.
"Hal ini mengirimkan pesan kepada anak bahwa mengekspresikan emosi adalah sesuatu yang berbahaya, kebutuhan mereka tidak penting, dan perihal itu bisa membikin orang yang mereka sayangi menjauh. Kondisi ini berpotensi membentuk hubungan yang tidak sehat di masa depan," kata psikolog di Amerika Serikat, Victoria Latifses, PhD, dikutip dari Parade.
2. "Bunda yang melahirkanmu, jadi berkuasa mengaturmu"
Menurut Latifses, kalimat ini adalah salah satu ucapan paling toxic yang sering diwariskan oleh orang tua, terutama di generasi lama.
Ia menilai bahwa kalimat tersebut sepenuhnya menghilangkan otonomi, jati diri, dan kewenangan anak atas kehidupannya sendiri.
"Kalimat ini biasanya digunakan untuk membikin remaja yang dianggap membangkang kembali alim dan menghormati orang yang lebih tua," jelas Latifses.
3. "Tidak perlu dibesar-besarkan seperti itu"
Perlu dipahami, anak bisa merasa dirinya 'terlalu berlebihan' bukan hanya ketika mengungkapkan perasaannya sendiri, tetapi juga saat menunjukkan kepedulian terhadap emosi orang lain.
Ketika mereka mendengar kalimat seperti ini, anak belajar bahwa tidak semua orang mempunyai empati alias emosi yang mendalam.
"Anak yang sensitif akhirnya memahami bahwa kepedulian terhadap orang lain dan bumi sekitar tidak selalu dipandang positif oleh sebagian orang," ujar Latifses.
4. "Diam saja, jangan bikin ribut"
Saat mendengar kalimat seperti ini, banyak makna yang bisa diterima oleh anak. Termasuk bahwa mengungkapkan pendapat adalah salah.
"Mungkin juga anak menangkap pesan bahwa dirinya lemah alias kandas jika tidak bersikap seperti yang diharapkan," ungkapnya.
Padahal, anak hanya sedang merasakan emosi dan menunjukkan sisi kemanusiaannya, meskipun orang dewasa di sekitarnya tidak menyadari perihal tersebut.
5. "Kamu terlalu sensitif"
Terakhir, orang tua juga sering mengucapkan kalimat ini ketika anak menunjukkan emosi yang kuat. Penting dipahami bahwa perihal ini bukanlah gambaran dari diri anak.
"Alih-alih anak yang terlalu sensitif, bisa jadi orang tua yang sebenarnya belum mempunyai keahlian emosional yang cukup untuk membantu, sehingga memberikan respons yang 'meremehkan' seperti ini," pesan Latifses.
Meski kalimat-kalimat di atas merupakan contoh penting, itu bukan satu-satunya yang perlu diperhatikan orang tua.
Pesan bahwa anak 'terlalu berlebihan' juga bisa disampaikan tanpa kata-kata dan dirasakan oleh anak secara tersirat, misalnya melalui memutar mata, menghela napas dengan kesal, alias ekspresi serupa.
Cara merespons sisi emosional anak
Ilustrasi/Foto: Getty Images/iStockphoto/szefei
Saat anak menunjukkan sisi emosional dan kerentanannya, orang tua perlu datang secara urut dalam situasi ini. Berikan support yang langkah yang lebih hangat dan positif.
Dibandingkan kalimat-kalimat di atas, beberapa contoh kalimat pengganti yang bisa digunakan saat berbincang dengan anak, termasuk anak yang sudah dewasa misalnya:
- 'Bunda memahami perasaanmu, dan Bunda sedih melihatmu terluka'
- 'Apakah Anda sedang merasa sedih?'
- 'Bunda bangga lantaran Anda bisa memberi tahu temanmu argumen Anda marah, bukan dengan langsung memukul'
- 'Rasa marah seperti apa yang Anda rasakan? Apakah marah yang membuatmu mau berteriak, alias marah yang membuatmu mau bersembunyi? Yuk cerita ke Bunda'
Selain itu, pastikan Bunda juga berbincang dengan sopan dan tenang, dengarkan dengan penuh perhatian, dan terapkan budaya saling menghormati di rumah.
Latifses menyebut bahwa orang tua alias kakek-nenek adalah 'benteng keamanan' emosional bagi seorang anak.
"Mereka semestinya menjadi tempat yang selalu tenang dan aman, tempat anak kembali untuk mendapatkan perlindungan, perhatian, kasih sayang, dan dukungan," sambungnya.
Jenis-jenis emosi anak yang perlu dipahami orang tua
Dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam National Library of Medicine, anak-anak sudah dapat mengalami gejolak emosi yang begitu besar, apalagi sejak usia kurang dari 1 tahun.
Itulah kenapa krusial bagi orang tua untuk mengetahui langkah membicarakan emosi dengan anak sejak dini.
Selain membantu anak memahami beragam emosi yang ada di dalam diri mereka, tapi juga belajar mengungkapkan emosi dengan baik. Berikut emosi dasar yang dimiliki oleh anak, Bunda:
1. Marah
Marah adalah emosi kesal, tidak senang, apalagi rasa permusuhan yang kuat. Namun faktanya, marah tidak selalu merupakan emosi yang buruk.
Pada anak, kemarahan sering muncul ketika sesuatu tidak melangkah sesuai keinginannya, misalnya saat mainannya diambil teman.
Respons melawan alias mengelak (fight or flight) bakal aktif, dan lantaran anak belum bisa mengatur emosinya dengan baik, mereka mungkin memukul, berteriak, alias mengalami tantrum.
2. Sedih
Perasaan kehilangan, kecewa, alias merasa tersakiti merupakan emosi besar bagi anak.
Kesedihan dapat muncul ketika anak merasa takut, merindukan seseorang, merasa dikucilkan, alias menghadapi situasi yang membikin stres, seperti mendengar orang tua bertengkar.
Kesedihan sering kali berasal dari rasa kecewa. Ketika anak kesulitan mengelola kekecewaan, mereka dapat merasakan kesedihan yang mendalam.
3. Takut
Perasaan takut berkembang dari kekhawatiran dan kekhawatiran. Pada anak kecil, rasa takut berangkaian dengan persepsi bahwa ada sesuatu yang berbahaya.
Takut juga bisa menjadi bagian normal dari perkembangan, seperti takut pada orang asing, takut gelap, alias takut berpisah dengan orang tua.
4. Cemburu
Dikutip dari Parents, psikolog Francyne Zeltser, PsyD menyebut bahwa emosi berprasangka dapat muncul sejak bayi berumur sekitar 3 bulan.
Emosi ini mudah dirasakan dan ditunjukkan, misalnya ketika ibu menggendong bayi lain alias memandang kerabat mendapat bingkisan ulang tahun. Namun, konsep berprasangka memang cukup susah dijelaskan kepada anak.
Cemburu sering digambarkan sebagai emosi tidak aman, takut, alias cemas lantaran merasa mempunyai sesuatu yang lebih sedikit alias kurang kondusif dibanding orang lain.
Itulah penjelasan tentang kalimat dari orang tua yang bisa membikin anak merasa dirinya selalu salah, serta beragam macam jenis emosi anak yang perlu dipahami.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·