6 Aktivitas Anti Brain Rot, Biar Otak Mudah Fokus Lagi!

Portal Media Gen Z oleh Waktu baca 7 menit 528x dilihat
6 Aktivitas Anti Brain Rot, Biar Otak Mudah Fokus Lagi!

Bagikan Postingan

Aktivitas anti brain rot bisa menjadi salah satu langkah untuk membantu Anda yang belakangan merasa susah fokus, sigap bosan, alias seperti punya banyak “tab” terbuka di kepala. 

Setelah terlalu lama scrolling, menonton video pendek, alias beranjak dari satu konten ke konten lain, otak memang bisa terasa capek dan susah berkonsentrasi. Lalu, kegiatan apa yang bisa membantu otak kembali fokus? Yuk, baca penjelasannya di bawah ini.

Baca juga: ‘Brain Rot’ Jadi ‘Word Of The Year’, Ungkap Medsos Perusak Mental & Intelektual 

Apa Itu Brain Rot?

Apa Itu Brain Rot?Sumber foto: Pexels

Istilah brain rot semakin sering digunakan di media sosial untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa pikirannya “penuh”, susah fokus, mudah terdistraksi, alias kehilangan motivasi setelah terlalu banyak mengonsumsi konten digital.

Oxford University Press apalagi memilih brain rot sebagai Word of the Year 2024. Istilah ini merujuk pada penurunan kondisi mental alias intelektual seseorang yang dikaitkan dengan konsumsi berlebihan terhadap konten yang dianggap dangkal alias tidak menantang, terutama konten online.

Namun, perlu dipahami bahwa brain rot bukan pemeriksaan medis. Menurut tulisan yang dilansir dari Psychology Today, istilah ini lebih menggambarkan pengalaman banyak orang di era digital ketika perhatian terus-menerus ditarik oleh media sosial dan beragam info online.

Kondisi tersebut bisa membikin Anda merasa seperti terus memerlukan stimulasi baru. Baru beberapa menit mengerjakan sesuatu, sudah mau membuka aplikasi lain. Baru membaca beberapa halaman, perhatian sudah beranjak ke notifikasi yang masuk.

Kenapa Terlalu Banyak Konten Bisa Membuat Otak Sulit Fokus?

Kenapa Terlalu Banyak Konten Bisa Membuat Otak Sulit Fokus?Sumber foto: Pexels

Penasaran enggak sih kenapa semakin banyak Anda konsumsi konten, Anda makin susah untuk fokus?

1. Otak terus menerima stimulasi baru

Dilansir dari Contemporary Psychology, paparan info yang datang dengan cepat, seperti video pendek, notifikasi, dan feed media sosial yang terus bergerak, dapat membikin sistem perhatian bekerja tanpa banyak kesempatan untuk beristirahat.

Dalam kondisi ini, bagian otak yang berkedudukan dalam perencanaan, fokus, dan pengendalian diri dapat mengalami kelelahan. Akibatnya, ketika Anda kudu mengerjakan tugas yang memerlukan konsentrasi lebih lama, Anda justru merasa lebih susah untuk memulai alias mempertahankan fokus.

2. Terbiasa dengan kepuasan yang instan

Konten digital menawarkan sesuatu yang baru nyaris setiap detik. Ada video baru, info baru, komentar baru, hingga tren baru yang membikin otak terus tertarik untuk memandang “satu konten lagi”.

Studi tahun 2025 juga menjelaskan bahwa kegiatan digital, terutama yang melibatkan pengesahan sosial seperti likes dan komentar, dapat berangkaian dengan pola penghargaan dan pelepasan dopamin. Sementara itu, pola penghargaan yang berubah-ubah di media sosial dapat memperkuat kemauan untuk terus mengecek konten berikutnya.

Karena terbiasa mendapatkan stimulasi cepat, kegiatan yang hasilnya tidak langsung terasa, seperti membaca kitab alias belajar, bisa terasa membosankan.

Aktivitas Anti Brain Rot yang Bisa Kamu Coba

Aktivitas Anti Brain Rot yang Bisa Kamu CobaSumber foto: Pexels

Kabar baiknya, Anda tidak kudu langsung berakhir menggunakan teknologi sepenuhnya. Dilansir dari Contemporary Psychology, yang lebih krusial adalah memberi ruang bagi otak untuk melakukan kegiatan yang memerlukan perhatian, gerakan, kreativitas, dan hubungan di bumi nyata.

1. Jalan kaki tanpa sembari scrolling

Jalan kaki termasuk kegiatan sederhana yang bisa memberi otak jarak dari banjir informasi. Kamu tidak perlu selalu membuatnya menjadi olahraga berat. Coba melangkah di sekitar rumah, taman, alias area terbuka tanpa terus memandang layar.

National Geographic juga menyoroti kegiatan seperti melangkah sebagai salah satu langkah untuk mengganti pencarian kepuasan instan dengan kegiatan yang memberikan hasil secara lebih bertahap.

Kalau memungkinkan, coba simpan ponsel selama berjalan. Perhatikan lingkungan sekitar, dengarkan bunyi di sekitarmu, dan biarkan pikiran tidak terus menerima konten baru.

2. Membaca kitab untuk melatih perhatian

Membaca kitab menjadi salah satu kegiatan yang memerlukan perhatian lebih panjang dibandingkan memandang video berdurasi beberapa detik.

Dilansir dari National Geographic, kegiatan offline seperti membaca dapat membantu mendukung elastisitas kognitif. Membaca juga membikin Anda memperkuat dengan satu topik dalam waktu tertentu, berbeda dengan media sosial yang mendorong perhatian beranjak dengan cepat.

Tidak perlu langsung membaca kitab tebal. Kamu bisa memulai dari sasaran yang realistis, misalnya 10 laman per hari alias membaca selama 15 menit.

3. Menulis jurnal alias menuangkan pikiran

Kalau kepala terasa penuh setelah seharian menerima banyak informasi, coba tuliskan apa yang sedang Anda pikirkan.

Menurut Contemporary Psychology, kegiatan seperti journaling dapat menjadi salah satu kegiatan yang membantu otak beranjak dari konsumsi pasif ke kegiatan yang lebih aktif dan terarah.

Kamu tidak kudu menulis jurnal dengan format yang rumit. Cukup tuliskan apa yang terjadi hari ini, perihal yang sedang Anda pikirkan, alias tiga perihal yang mau Anda lakukan besok.

Aktivitas ini bisa menjadi salah satu aktivitas anti brain rot lantaran Anda tidak hanya menerima informasi, tetapi juga memproses dan menyusunnya kembali dengan pikiranmu sendiri.

4. Mencoba meditasi beberapa menit

Dilansir dari Psychology Today, meditasi dapat membantu melatih keahlian untuk kembali fokus. Berbeda dengan doomscrolling yang membikin perhatian terus berpindah, meditasi membujuk Anda untuk kembali pada satu titik fokus, misalnya napas.

Kamu juga tidak perlu memulainya dalam waktu lama. Coba sisihkan beberapa menit untuk duduk tanpa membuka media sosial dan memperhatikan napas.

Ketika pikiran mulai melayang, Anda cukup menyadarinya lampau kembali fokus. Latihan sederhana ini dapat membantu membangun perhatian yang lebih disengaja dan tidak terus berada dalam mode otomatis.

5. Melakukan kegemaran yang menghasilkan sesuatu

Menggambar, memasak, merajut, berkebun, alias belajar memainkan perangkat musik bisa menjadi pilihan menarik.

Aktivitas seperti ini membikin Anda terlibat secara aktif dan biasanya memerlukan proses. Tidak ada hasil instan seperti ketika Anda menggeser layar ke video berikutnya.

Dilansir dari Contemporary Psychology, otak berkarakter adaptif dan belajar dari kegiatan yang sering dilakukan. Semakin sering Anda meluangkan waktu untuk kegiatan yang memerlukan fokus, kreativitas, alias keterlibatan langsung, semakin banyak kesempatan bagi otak untuk melatih keahlian tersebut.

6. Bertemu dan berinteraksi langsung dengan orang lain

Menghabiskan waktu berbareng kawan alias family juga bisa menjadi langkah untuk memberi ragam pada kegiatan sehari-hari.

National Geographic mengutip pandangan mahir bahwa keterlibatan sosial menjadi salah satu perihal krusial untuk menjaga kesehatan otak. Percakapan langsung membikin Anda datang dalam interaksi, mendengarkan respons orang lain, dan memberikan perhatian secara lebih utuh.

Coba sesekali membikin waktu kumpul tanpa sibuk membuka ponsel. Kamu bisa makan bersama, bermain permainan papan, alias sekadar mengobrol.

Baca juga: 5 Aplikasi Pembatas Screen Time Terbaik Agar Tidak Kecanduan HP 

Jangan Lupakan Tidur dan Gerak Tubuh

Jangan Lupakan Tidur dan Gerak TubuhSumber foto: Pexels

Brain rot bukan hanya soal apa yang Anda lakukan di layar. Kebiasaan tidur dan kegiatan bentuk juga berpengaruh terhadap keahlian otak untuk berfaedah dengan baik.

Dilansir dari Contemporary Psychology, tidur membantu proses pemulihan otak, sementara kegiatan bentuk mendukung aliran darah dan beragam proses yang berangkaian dengan pembelajaran serta suasana hati.

Paparan layar sebelum tidur juga disebut dalam beragam penelitian yang dibahas dalam bahan studi tahun 2025 sebagai salah satu aspek yang berangkaian dengan kualitas tidur yang lebih jelek dan performa kognitif keesokan harinya.

Karena itu, Anda bisa mulai dari kebiasaan sederhana, seperti memberi jarak dari layar sebelum tidur, bergerak lebih banyak di siang hari, dan mendapatkan paparan sinar pagi.

Intinya, Otak Butuh Waktu untuk Enggak Terus Menerima Informasi

Intinya, Otak Butuh Waktu untuk Enggak Terus Menerima InformasiSumber foto: Magnific

Kamu tidak kudu menghapus semua aplikasi alias berakhir menggunakan teknologi untuk mengatasi kebiasaan scrolling. Teknologi bukan musuh, tetapi otak tetap memerlukan waktu untuk beristirahat dari stimulasi yang datang tanpa henti.

Mulailah mengganti sebagian waktu konsumsi pasif dengan kegiatan yang membikin Anda bergerak, berpikir, menciptakan sesuatu, alias terhubung langsung dengan orang lain. Jalan kaki, membaca, menulis jurnal, meditasi, melakukan hobi, dan bersosialisasi bisa menjadi pilihan sederhana untuk dicoba.

Jadi, jika belakangan Anda merasa mudah bosan, susah konsentrasi, dan selalu mau mencari stimulasi baru, mungkin sudah waktunya mencoba aktivitas anti brain rot dan memberi otak kesempatan untuk konsentrasi serta beristirahat dengan lebih seimbang.

Baca juga: Sering Lupa dan Bingung? Kenali 9 Tanda Brain Fog yang Sering Tak Disadari 

Gabung organisasi Girls Beyond Circle dan dapatkan insight menarik lainnya!

Cover: Magnific

Artikel Lainnya Portal Media Gen Z
↑
Close Right Ads
Close Left Ads