Jakarta -
Supaya anak bisa mempunyai kepintaran emosional yang baik, ada beberapa langkah sederhana yang bisa dibentuk orang tua sejak dini. Apa saja?
Pada dasarnya, izin emosi merupakan salah satu keahlian krusial yang perlu dimiliki anak agar bisa menghadapi beragam tantangan dalam kehidupan.
Diyakini bahwa saat anak bisa mengenali, memahami, dan mengelola emosinya dengan baik, maka mereka berpotensi lebih mudah beradaptasi dan menyelesaikan masalah tanpa meluapkan emosi secara berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua sangat besar dalam membantu anak mengembangkan kepintaran emosional lho, Bunda.
Salah satunya seperti disebutkan dalam The American Psychological Association (APA) Family Journal, bahwa sikap responsif orang tua, pendampingan dan contoh positif berangkaian dengan tingkat kepintaran emosional anak yang lebih tinggi.
Apa itu izin diri?
Dikutip dari Child Mind Institute, izin diri alias (self-regulation) adalah keahlian untuk mengelola emosi dan perilaku sesuai dengan tuntutan situasi yang dihadapi.
Kemampuan ini mencakup keahlian menahan reaksi emosional yang sangat kuat terhadap hal-hal yang mengganggu, menenangkan diri saat merasa kesal, menyesuaikan diri terhadap perubahan harapan, serta menghadapi rasa frustrasi tanpa meluapkannya secara berlebihan.
Bagaimana jika anak tidak bisa meregulasi emosinya?
Menurut psikolog klinis, Matthew Rouse, PhD, masalah izin diri dapat muncul dengan langkah yang berbeda pada setiap anak.
"Beberapa anak bereaksi secara spontan, misalnya dengan menunjukkan reaksi yang sangat besar dan kuat tanpa tanda-tanda alias proses yang berjenjang sebelumnya," ujarnya.
Sementara pada anak lainnya, tekanan emosional tampak menumpuk sedikit demi sedikit dan mereka hanya bisa menahannya sampai pemisah tertentu.
Pada akhirnya, kondisi tersebut memicu 'ledakan' perilaku. Mereka mulai mengarah ke situasi yang kurang baik, tetapi tidak tahu gimana langkah menghentikannya.
Kunci bagi kedua jenis anak tersebut adalah membantu mereka belajar mengelola reaksi emosional yang kuat dan menemukan langkah yang lebih efektif. Diharapkan nantinya anak bisa mengekspresikan emosinya tanpa meluapkan secara berlebihan.
Mengapa beberapa anak kesulitan mengatur emosi?
Rouse menjelaskan bahwa masalah dalam mengendalikan emosi merupakan perpaduan antara temperamen bawaan dan perilaku yang dipelajari.
"Kemampuan bawaan seorang anak dalam mengatur diri dipengaruhi oleh temperamen dan kepribadiannya," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa beberapa anak di usia bayi memang kesulitan menenangkan dirinya sendiri dan menjadi sangat rewel saat dimandikan alias dipakaikan baju. Mereka lebih berpotensi mengalami kesulitan dalam mengatur emosi nantinya saat tumbuh lebih besar.
Namun, lingkungan juga berkedudukan penting. Ketika orang tua selalu mengalah terhadap tantrum alias berupaya berlebihan untuk menenangkan anak setiap kali mereka marah dan bertingkah, anak juga bakal kesulitan mengembangkan disiplin diri.
"Dalam situasi seperti itu, pada dasarnya anak berjuntai kepada orang tua sebagai pengatur emosi dari luar dirinya," kata Rouse.
Jika pola tersebut terus terjadi berulang kali dan anak terbiasa 'menyerahkan' izin dirinya kepada orang lain, maka perihal itu dapat berkembang menjadi sebuah kebiasaan yang kurang baik.
Cara orang tua membentuk kepintaran emosional anak
Penelitian dari jurnal Personality and Individual Differences menunjukkan bahwa kepintaran emosional alias EQ (Emotional Quotient) sangat penting.
Hal ini merupakan keahlian seseorang untuk mengenali, memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi diri sendiri, serta mengenali dan memengaruhi emosi orang lain. Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh beragam faktor, termasuk keahlian kognitif, lingkungan sosial, dan nilai keluarga.
Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk membentuk kepintaran emosional anak sejak dini, berikut penjelasannya seperti dilansir beragam sumber:
1. Memberi contoh yang baik
Orang tua tidak dapat mengharapkan anak bisa mengendalikan emosi, jika dirinya sendiri belum bisa melakukan perihal yang sama. Jadi, Bunda perlu berkaca terlebih dulu apakah sudah menjadi sosok dewasa yang mau dicontoh oleh anak.
Semakin baik orang tua menjaga kesehatan mental, emosional, dan fisiknya, semakin baik pula keahlian anak untuk menjaga kesejahteraan dirinya kelak. Dengan kata lain, agar anak mempunyai kepintaran emosional yang baik, orang tua juga perlu mempunyai kepintaran emosional yang baik.
2. Berpikir sebelum bereaksi
Dikutip dari Times of India, orang tua yang mempunyai kepintaran emosional memahami bahwa reaksi pertama tidak selalu menjadi reaksi terbaik.
Sebelum memberi respons dengan 'meledak-ledak', mereka bakal berakhir sejenak, menarik napas, lampau memikirkan respons yang tepat saat itu juga. Cara ini juga menunjukkan bahwa apalagi dalam situasi tegang, pengendalian diri tetap perlu dilakukan.
3. Memberi ruang bagi anak
Orang tua yang mempunyai kepintaran emosional tidak menganggap emosi sebagai masalah yang kudu dihilangkan. Mereka memberi ruang bagi anak untuk merasa sedih, marah, kecewa, dan juga khawatir.
Namun di saat yang sama, mereka juga tidak membiarkan setiap emosi mengendalikan seluruh suasana rumah.
Perbedaan ini krusial lantaran anak memerlukan pengesahan sekaligus batasan. Ketika semua emosi diabaikan, anak mungkin merasa ditinggalkan secara emosional.
4. Kenali anak pada macam-macam emosi
Perasaan dapat diungkapkan hanya dengan satu kata. Sebutkan apa yang sedang dirasakan dan kenalkan anak pada beragam macam emosi.
Orang tua perlu mendorong anak-anaknya untuk menjelaskan sensasi bentuk dari emosi tersebut secara rinci. Semakin komplit penjelasannya, semakin baik.
5. Biarkan anak merasakan emosi tersebut
Saat emosi melanda, ajarkan anak untuk duduk dengan tenang dan biarkan daya tersebut mengalir.
Semakin sering berlatih, semakin mudah pula orang tua menjadi teladan bagi anak. Mulailah membiasakan pembicaraan tentang emosi di dalam family dan bagikan pula emosi yang dirasakan kepada personil keluarga.
Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang mempunyai keterikatan yang kondusif maka lebih bisa mengatur emosinya sendiri.
6. Tidak selalu melindungi anak dari situasi sulit
Selalu melindungi anak dari situasi susah justru menghalangi mereka belajar menghadapi emosi yang sulit. Dalam sebuah penelitian, peneliti menemukan bahwa anak-anak yang terpapar bentrok mempunyai kepintaran emosional lebih baik dibandingkan mereka yang tidak mengalaminya.
Penelitian tersebut juga menemukan bahwa berbincang kepada anak tentang emosi dapat membantu memperkuat kepintaran emosional anak.
7. Tetap bersabar mendampingi anak
Orang tua dapat membantu anak mengatur emosinya dengan membimbing mereka untuk memperlambat respons, berpikir lebih tenang, dan menghadapi situasi dengan tenang daripada bertindak secara impulsif.
Kesabaran dan umpan kembali positif dari orang tua sangat penting. Dengan pengarahan yang konsisten, anak secara berjenjang bakal belajar menghadapi tantangan dan mengatasinya secara mandiri.
Itulah penjelasan tentang cara-cara orang Tua membentuk kepintaran emosional anak. Semoga berfaedah ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(fir/fir)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·