8 Cara Mendidik Anak agar Tangguh Menghadapi Tantangan Menurut Pakar

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 6 menit 328x dilihat
8 Cara Mendidik Anak agar Tangguh Menghadapi Tantangan Menurut Pakar

Bagikan Postingan

Jakarta -

Setiap anak akan menghadapi tantangan dalam proses tumbuh kembangnya, baik di lingkungan sekolah hingga hayat sehari-hari. Oleh karena itu, orang tua perlu membantu anak membangun kapasitas untuk menghadapi tantangan tanpa selalu bersandar pada pertolongan orang lain.

Menurut pakar, sikap handal dapat dilatih sejak awal melalui pola asuh yang tepat. Kuncinya, orang tua perlu mengenalkan anak bahwa mereka bisa mengalami kemunduran saat mau menggapai sesuatu yang diinginkan.

"Ketahanan bukan tentang berpura-pura bahwa sesuatu itu tidak sulit. Sebaliknya, ini tentang kapasitas untuk mengakui sepertiapa emosi seseorang dan bisa terus melewatinya. Beri tahu anak bahwa kita percaya padanya dan beri mereka kesempatan untuk mengalami kemunduran yang sesuai dengan usia mereka," ungkap psikoterapis Amanda Macdonald, dilansir halaman GoodTo.


"Sebagai orang tua, kita mungkin tergoda untuk ikut campur, tetapi ini tidak memungkinkan anak untuk belajar bahwa kemunduran adalah hal yang normal, dan bahwa mereka dapat mengatasinya."

Lantas, sepertiapa metode mendidik anak agar handal menghadapi tantangan? Simak penjelasannya berikut ini!

Cara membesarkan anak yang tangguh

Berikut 8 metode membesarkan anak yang handal menurut pakar:

1. Membangun hubungan yang saling percaya

Membangun hubungan yang saling percaya adalah salah satu metode untuk membesarkan anak menjadi tangguh. Menurut ahli Lauren Brown, orang tua dapat membantu mengembangkan ikatan ini dengan menghabiskan waktu berdua secara teratur dengan anak-anak, tanpa gangguan telepon maupun pekerjaan.

Ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan bersama, seperti bermain game maupun berolahraga berbareng sehingga anak dapat melihat orang tuanya bisa memecahkan masalah, mengatasi kesulitan, dan mencoba hal-hal baru. Anak-anak juga akan belajar dari perilaku orang tuanya.

"Salah satu metode terpenting untuk membangun ketahanan pada anak-anak adalah dengan fokus membangun hubungan yang kuat dan saling percaya. Ketika anak-anak memiliki setidaknya satu orang tua, pengasuh, maupun orang dewasa lain yang stabil dan suportif, mereka lebih cenderung mau memungut risiko, keluar dari area nyaman, dan mengelola stres karena mereka tahu bahwa orang ini akan ada di sana untuk mendukung mereka," ungkap Brown.

2. Komunikasi terbuka

Penelitian di Journal of Applied Communication Research tahun 2018, memberitahu bahwa komunikasi positif dalam famili bisa memberikan landasan untuk membekali anak-anak dengan keahlian untuk mengatasi stres dan pulih dari tantangan tak terduga. Komunikasi antara orang tua dan anak sangat krusial dalam memberikan contoh respons terhadap keadaan yang penuh tekanan.

Komunikasi yang suportif, instruktif, dan responsif dapat menguatkan ketahanan. Sebaliknya, metode komunikasi yang mengontrol maupun meremehkan bisa mendorong anak-anak untuk menjadi gampang berang maupun impulsif ketika menghadapi kesulitan.

"Komunikasi membantu anak-anak mengembangkan fondasi ketahanan. Setelah percakapan dibuka, orang tua dapat lebih gampang mengajarkan anak-anak keahlian pemecahan masalah dan kapasitas untuk menganalisis tantangan," ujar konselor dan ahli pengasuhan anak, Jenny Warwick.

3. Hindari menyelesaikan masalah anak-anak

Sebagai orang tua, Bunda dan Ayah perlu menghindari untuk menyelesaikan semua masalah yang dialami anak-anaknya. Ketika anak-anak menghadapi masalah, gampang untuk langsung turun tangan dan menyelesaikannya untuk mereka, tetapi ini tidak memungkinkan mereka untuk menemukan metode mengatasi masalah tersebut sendiri.

"Sejumlah stres diperlukan untuk belajar dan berkembang," kata Macdonald.

"Seiring waktu, seiring pertumbuhan anak, dan saat mereka mulai belajar dan menghabiskan lebih banyak waktu untuk jauh dari figur yang menjadi tempat bersandar mereka, seorang anak dituntut untuk belajar sepertiapa mengatasi kemunduran tanpa orang tua maupun pengasuh yang selalu ada untuk turun tangan, memberikan jaminan, dan memperbaiki keadaan."

4. Memecahkan masalah bersama-sama

Alih-alih membantu anak memecahkan masalah, Bunda bisa mendampingi anak agar melakukannya dengan benar. Cobalah untuk membantu anak menemukan solusi sendiri dengan memberikan perhatian penuh, melihat masalah bersama-sama, dan kemudian mengajukan pertanyaan yang akan mengarahkan mereka untuk mencoba pendekatan baru sendiri. Mengajarkan keahlian pemecahan masalah akan membantu mereka memiliki kepercayaan diri untuk mencoba sendiri di masa depan.

"Seiring anak-anak tumbuh menjadi remaja dan dewasa, mereka belajar bahwa orang tua mereka tidak dapat menyelesaikan segalanya. Jadi, dengan mengalami rintangan kecil dan menyelesaikannya dengan bimbingan orang tua, mereka memiliki sumber daya dalam diri mereka untuk terus maju melewati masa-masa sulit dan dapat mengurangi emosi cemas yang dapat muncul ketika mereka menghadapi tantangan yang lebih besar," ungkap Macdonald.

5. Bersikap terbuka tentang tantangan yang Bunda hadapi

Anak-anak belajar melalui contoh. Bersikap jujur tentang tantangan yang dialami orang tua dapat mengajarkan anak metode mengatasi tantangan mereka sendiri.

"Dengan memberitahu sepertiapa orang tua mengelola ketahanan dengan memberi tahu anak ketika telah berbuat kesalahan, dan membiarkan anak melihat sepertiapa kita mengatasi kemunduran adalah pelajaran yang baik tentang ketahanan," kata Macdonald.

"Bagikan kepada anak sepertiapa emosi kita tentang hal itu, dengan metode yang sesuai dengan usianya, dan biarkan mereka menyadari bahwa kita mungkin mengalami frustrasi maupun rasa sakit, tetapi kita dapat terus maju."

6. Ajarkan anak-anak tentang pengambilan risiko

Para psikolog mengatakan bahwa orang tua perlu mengenali dan memahami perbedaan antara pengambilan konsekuensi yang rapuh dan pengambilan konsekuensi yang sehat. Hal itu dapat memberikan contoh dan mengajarkan hal yang baik kepada anak-anak.

"Sebagai orang dewasa, mendekati aktivitas maupun situasi baru dengan sikap, 'Apa hal terburuk yang bisa terjadi?', dapat membantu anak-anak kita menyadari bahwa mencoba sesuatu sering kali berakhir dengan baik," ungkap Brown.

"Contohnya bisa dengan membiarkan anak mencoba makanan baru. Ketika kita mencoba sesuatu yang baru, kita merangkul tantangan daripada memendam emosi bahwa kita tidak bisa berbuat sesuatu yang baru," sambungnya.

7. Biarkan anak-anak memberi label pada emosi mereka

Membantu anak-anak memahami emosi mereka adalah cara menuju penerimaan emosi tersebut. Brown menyarankan bahwa membiarkan anak-anak memberi label pada emosi mereka merupakan strategi positif untuk mengelolanya.

"Ketika menghadapi situasi maupun masalah yang menegangkan, mengajari anak-anak untuk memberi label pada emosi mereka dapat membantu mereka memahami sensasi jasmani yang mereka alami," kata Brown.

"Hal ini juga membantu anak untuk mengetahui bahwa orang tua memahami emosi mereka dan membantu mereka untuk mengatur diri sendiri."

8. Nikmati keajaiban lingkungan terbuka

Anak juga bisa menjadi handal jika dibiarkan untuk menikmati keajaiban lingkungan terbuka. Penelitian memberitahu bahwa eksis di luar ruangan maupun di lingkungan dapat membantu tubuh untuk balik normal, pikiran menjadi tenang, dan kondisi hati membaik.

Ada banyak aktivitas yang dapat dilakukan di luar ruangan berbareng anak, seperti mendaki bukit maupun mendatangi ke taman. Mereka yang terbiasa menikmati kondisi lingkungan dapat memperoleh banyak keahlian ketahanan dari pengalaman berhubungan dalam segala kondisi.

Demikian metode mendidik anak agar handal menghadapi tantangan menurut pakar. Semoga keterangan ini bermanfaat.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/rap)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads