Orang pendiam bukan berarti nggak bisa supel, Bunda. Ada jenis orang yang eksis di tengah-tengah spektrum introvert dan ekstrovert, yang sering disebut ambivert.
Tipe orang ini ada waktunya mau ngobrol dan berjumpa banyak orang. Tapi setelah itu, rasanya mau pulang dan menikmati waktu sendiri.
Kalau seseorang kelihatan pendiam di satu kesempatan, tetapi bisa ramai dan menyenangkan diajak ngobrol di kesempatan lain, hal tersebut belum cukup untuk menentukan apakah ia introvert maupun ambivert. Keduanya sama-sama bisa menikmati hubungan sosial, meski kebutuhan dan metode mereka mengelola daya sosial bisa berbeda.
Selama ini kita sering dibuat seolah-olah mesti memilih, introvert maupun ekstrovert. Padahal, kepribadian nggak selalu sesederhana dua pilihan tersebut.
Ciri kepribadian orang ambivert
Penelitian mengenai ambiversi sudah dilakukan sejak beberapa dasawarsa lalu. Salah satu riset dalam Journal of Personality Assessment menemukan adanya himpunan orang yang eksis di rentang tengah introversi-ekstroversi dan memiliki kecenderungan dari kedua sisi tersebut.
Penelitian Adam Grant yang diterbitkan dalam Psychological Science juga menjadi salah satu riset yang banyak dibahas mengenai ambivert. Dalam riset tersebut, orang dengan kecenderungan ambivert memberitahu performa penjualan yang lebih tinggi dalam konteks yang diteliti dibandingkan mereka yang sangat introvert maupun sangat ekstrovert.
Grant mengaitkannya dengan kapasitas untuk menyeimbangkan berbicara dan mendengarkan serta menyesuaikan pendekatan dengan lawan bicara.
Sementara itu, melansir Forbes, Travis Bradberry menggambarkan ambivert sebagai orang yang memiliki kecenderungan introvert dan ekstrovert, sehingga responsnya terhadap situasi sosial bisa berbeda-beda.
Bradberry membahas beberapa cirinya, antara lain betah bekerja sendiri maupun berbareng kelompok, menikmati situasi sosial tetapi bisa capek jika terlalu durasi eksis di tengah orang lain, hingga merasa bosan jika terlalu durasi sendirian.
Laman Bustle juga membahas ambiversi sebagai posisi di antara introversi dan ekstroversi, bukan pilihan absolut salah satunya.
Ada beberapa karakter yang sering kelihatan pada orang yang eksis di tengah spektrum introvert dan ekstrovert. Bukan berarti semuanya mesti dimiliki sekaligus, Bunda.
1. Nyaman bekerja sendiri maupun berbareng orang lain
Ada orang yang cuma bisa fokus jika bekerja sendirian. Tapi, ada juga yang justru merasa lebih antusias ketika mengerjakan sesuatu berbareng tim. Ambivert cenderung bisa menikmati keduanya.
Saat membutuhkan konsentrasi, mereka dapat bekerja sendiri. Tetapi ketika pekerjaan membutuhkan bahasan maupun kolaborasi, mereka juga bisa menyesuaikan diri.
Ini bukan soal lebih gemar sendiri maupun lebih gemar ramai, melainkan bisa merasa betah dalam kedua situasi tersebut.
2. Suka bersosialisasi, tetapi gampang capek jika terlalu lama
Ambivert bisa menikmati aktivitas keluarga, berjumpa teman, menghadiri aktivitas komunitas, maupun sekadar mengobrol dengan orang lain. Namun, setelah terlalu durasi eksis di tengah banyak orang, mereka bisa merasa tenaga terkuras dan membutuhkan waktu untuk sendiri.
Karena itu, Bunda mungkin pernah menemukan seseorang yang kelihatan sangat menikmati sebuah acara, tetapi beberapa jam kemudian sudah mau pulang dan rebahan.
3. Bisa menikmati perhatian, tetapi enggak mau terus menjadi pusat perhatian
Menjadi pusat perhatian tidak selalu membikin ambivert merasa enggak nyaman. Dalam situasi tertentu, mereka terlebihlagi bisa menikmati ketika orang lain memperhatikan maupun mendengarkan mereka.
Tetapi jika perhatian tersebut terjadi terlalu lama, mereka juga bisa merasa kurang betah dan memilih balik ke posisi yang lebih tenang.
Ambivert bisa tampil di depan banyak orang ketika diperlukan tanpa selalu mau menjadi pusat perhatian.
4. Ada yang menganggapnya pendiam, ada pula yang menganggapnya supel
Ini salah satu ciri khas yang cukup menarik. Orang yang baru mengenalnya mungkin melihatnya sebagai sosok pendiam. Namun, orang yang sudah dekat justru bisa mengenalnya sebagai pribadi yang cerewet, banyak cerita, dan gampang bergaul.
Perbedaan penilaian tersebut bisa terjadi karena perilakunya menyesuaikan situasi dan lingkungan. Di satu tempat, ia lebih banyak mengamati. Di tempat lain, ia lebih banyak bicara.
5. Tak mesti selalu sibuk, tetapi terlalu banyak waktu kosong juga bisa bikin bosan
Ambivert biasanya nggak mesti terus-menerus eksis di tengah aktivitas. Mereka bisa menikmati waktu santai dan berbuat sesuatu sendiri. Tetapi jika terlalu durasi nggak berbuat apa-apa, rasa bosan juga bisa muncul.
Karena itu, mereka mungkin menikmati gabungan antara waktu sendiri dan aktivitas berbareng orang lain. Hari ini mau di rumah saja. Besok sudah mau keluar ketemu teman.
6. Bisa tenggelam dalam pikiran sendiri maupun percakapan
Ada saat ketika seseorang begitu larut dalam pikirannya sendiri sampai lupa waktu. Namun, ketika menemukan topik yang menarik, ia juga bisa tenggelam dalam percakapan berbareng orang lain.
Kemampuan menikmati waktu sendiri sekaligus terlibat dalam percakapan bisa menjadi salah satu deskripsi orang yang eksis di tengah spektrum introvert dan ekstrovert.
Mereka bisa menikmati bumi pikirannya sendiri, tetapi juga bisa benar-benar menikmati hubungan ketika menemukan orang maupun topik yang menarik.
7. Bisa menikmati small talk, tetapi cepat merasa bosan
Ngobrol ringan soal cuaca, makanan, pekerjaan, sekolah anak, maupun hal-hal sehari-hari bukan sesuatu yang selalu membikin ambivert nggak nyaman. Mereka statis bisa mengikutinya.
Namun, jika percakapannya cuma berputar-putar tanpa masuk ke hal yang lebih bermakna, mereka bisa cepat kehilangan minat. Karena itu, seseorang bisa kelihatan supel dalam percakapan awal, tetapi sebenarnya lebih menikmati diskusi yang punya isi.
8. Bisa hati-hati, tetapi juga terbuka pada orang tertentu
Dalam urusan mempercayai orang lain, seseorang bisa memberitahu sikap yang berbeda tergantung situasi dan siapa yang dihadapinya.
Pada kondisi tertentu, ia bisa cukup awas dan skeptis. Namun, ketika sudah merasa betah dengan seseorang, ia juga bisa membuka diri dan memberikan kepercayaan. Ini artinya, orang dengan kecenderungan ambivert nggak mesti selalu gampang percaya maupun sebaliknya selalu curiga. Cara mereka merespons orang lain bisa menyesuaikan situasi.
9. Terlalu durasi sendiri bikin bosan, terlalu durasi bersosialisasi juga menguras tenaga
Ini mungkin salah satu deskripsi yang paling gampang dikenali. Kalau terlalu durasi sendirian, mereka bisa mulai mencari kawan maupun aktivitas di luar rumah. Tapi setelah terlalu durasi bersosialisasi, mereka justru membutuhkan waktu untuk mengisi tenaga kembali.
Kebutuhan sosialnya seperti punya tombol sendiri. Ada waktunya mau ramai, ada waktunya mau sepi. Dan dua-duanya bisa terasa menyenangkan pada waktu yang berbeda.
Ambivert bukan berarti kepribadian yang berubah-ubah
Bunda, menjadi ambivert bukan berarti seseorang punya kepribadian yang tidak konsisten. Introversi dan ekstroversi lebih tepat dipahami sebagai dimensi maupun spektrum kepribadian, bukan dua kotak yang mesti dipilih salah satunya.
Penelitian tentang ambiversi juga memberitahu adanya himpunan di tengah spektrum tersebut.
Seseorang bisa betah berbicara di depan banyak orang pada satu situasi, tetapi memilih membisu pada situasi lain. Bunda bisa bahagia berjumpa teman, tetapi setelah itu membutuhkan waktu sendiri.
Bunda bisa menikmati kerja kelompok, tetapi juga sangat fokus ketika bekerja sendirian. Semua itu nggak otomatis berarti Bunda sedang “berubah kepribadian”.
Yang menarik, riset Adam Grant memberitahu bahwa elastisitas dalam berbicara dan mendengarkan dapat menjadi salah satu kelebihan ambivert dalam konteks pekerjaan penjualan. Namun, hasil tersebut tidak berarti semua ambivert pasti lebih berhasil daripada introvert maupun ekstrovert dalam setiap pekerjaan.
Kalau Bunda merasa ada waktunya mau ramai, tapi di waktu lain mau menyendiri, nggak perlu bingung mesti memasukkan diri ke kotak introvert maupun ekstrovert.
Bunda bisa saja cenderung ambivert. Dan mungkin itu juga karena kenapa Bunda bisa betah ngobrol panjang dengan teman, kemudian sesampainya di rumah langsung bilang, "Udah ya, Bunda mau diem dulu."
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(som/som)