9 Kalimat Yang Dulu Dianggap Normal Ini Ternyata Bisa Berdampak Buruk Untuk Anak

May 12, 2026 06:50 PM - 2 jam yang lalu 99

Jakarta -

Cara mendidik anak dari dulu hingga sekarang mengalami banyak perubahan, Bunda. Salah satunya terlihat dari gimana orang tua menyampaikan kata-kata kepada anak.

Beberapa kalimat yang dulu diucapkan dianggap sebagai perihal yang biasa dalam mendidik anak. Namun kini, kita perlu mengerti bahwa setiap ucapan bisa punya makna yang berbeda saat diterima oleh anak.

Di banyak keluarga, pola komunikasi lama tetap digunakan lantaran sudah jadi kebiasaan yang turun-temurun. Namun, mulai ada kesadaran untuk mengubah langkah berbincang agar sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembang anak saat ini.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Karena itu, orang tua sekarang diajak untuk berhati-hati dalam menggunakan kata-kata kepada anak, agar pesan yang disampaikan bisa diterima dengan baik.

Kalimat yang dulu dianggap normal tetapi rupanya berakibat jelek bagi anak

Menilik pada laman Yahoo Life, terdapat beberapa ungkapan yang dulu dianggap normal, tetapi rupanya dapat berakibat kurang baik bagi anak. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. "Bunda hanya mengkhawatirkanmu"

Di banyak keluarga, kalimat ini tetap suka diucapkan sebagai corak perhatian dan kasih sayang. Niatnya tentu baik, ialah lantaran Bunda peduli dan mau anaknya baik-baik saja dalam menjalani hidupnya.

Namun, bagi sebagian anak, kalimat ini terasa seperti tanda bahwa ada sesuatu yang "salah" dari dirinya alias pilihannya. Padahal, tidak selalu ada masalah dalam situasi yang sedang mereka jalani.

Penelitian yang diterbitkan di PLOS ONE oleh Michelle Jin Yee Neoh dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa pola pengasuhan yang terlalu protektif dapat membikin anak lebih sensitif terhadap kritik.

Mereka jadi mudah merasa dinilai, meskipun sebenarnya tidak ada maksud negatif dari orang tuanya.

2. "Di era Bunda, Bunda langsung saja mengerjakannya"

Kalimat seperti ini kerap diucapkan sebagai corak dorongan agar anak lebih kuat menghadapi masalah. Maksudnya, Bunda mau menyampaikan bahwa tantangan hidup bisa dilewati seperti yang sebelumnya pernah Bunda alami.

Namun, bagi anak, kalimat ini seperti komparasi antara masa lampau dan keadaan mereka sekarang. Seolah-olah masalah yang mereka hadapi dianggap tidak sebesar alias tidak sesulit yang pernah terjadi dahulu.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Social and Personal Relationships oleh Erica Szkody dan Cliff McKinney menunjukkan bahwa komunikasi seperti ini dapat memengaruhi hubungan orang tua dan anak yang sudah beranjak dewasa.

Terlebih, ketika ada tuntutan agar anak mengikuti langkah berpikir yang sama persis dengan orang tua.

3. "Bunda dan Ayah hanya menginginkan lebih banyak untukmu"

Ungkapan seperti ini biasanya disampaikan dengan niat yang tulus. Bunda dan Ayah mau anak punya kehidupan yang lebih baik dari yang pernah dijalani.

Namun, kata "lebih baik" di sini terdengar seperti perbandingan, Bunda. Anak bisa merasa bahwa apa yang mereka miliki saat ini belum cukup memenuhi angan orang tuanya.

4. "Kamu selalu bisa melewati semuanya dengan baik"

Kalimat ini biasa terucap oleh Bunda dan Ayah sebagai corak kepercayaan pada keahlian anak. Maksudnya, orang tua mau menunjukkan bahwa anak sudah pernah sukses melewati beragam kesulitan sebelumnya.

Jadi, mereka percaya anak juga bakal bisa menghadapi tantangan yang sedang terjadi saat ini. Namun, kalimat ini terasa seperti mereka kudu menghadapi semuanya sendiri.

Seolah-olah lantaran sebelumnya anak berhasil, sekarang pun dianggap tidak perlu banyak bantuan. Padahal, di kembali itu, setiap proses yang dijalani anak tetap butuh dipahami oleh Bunda.

Perlu diketahui bahwa tidak semua perjuangan terasa sama dan setiap situasi tetap layak untuk didengar dan diperhatikan.

5. "Semuanya bakal baik-baik saja"

Berikutnya, ungkapan ini tetap sering orang tua ucapkan dengan angan anak bisa lebih tenang menghadapi masalahnya. Biasanya, ini sebagai corak support bahwa keadaan bakal segera membaik.

Namun, saat anak sedang berada di tengah situasi yang sulit, ucapan ini seperti menyederhanakan masalah anak. Apa yang sedang mereka rasakan sepertinya tidak terlalu berat untuk dipikirkan, Bunda.

6. "Kamu persis seperti ayahmu"

Kalimat yang satu ini mungkin terdengar sebagai pujian, terlebih jika disampaikan dengan nada yang lembut. Biasanya, ini terucap saat Bunda memandang sifat baik anak yang mengingatkan pada ayahnya.

Namun, dalam situasi tertentu, kalimat ini juga bisa terasa berbeda, apalagi jika disampaikan ketika terjadi masalah. Anak bisa merasa dirinya dibandingkan alias seolah ditempatkan dalam gambaran sosok ayahnya.

7. "Bunda membesarkanmu agar Anda bisa menghadapi apa pun"

Kalimat ini kerap orang tua ucapkan dengan rasa bangga memandang anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Namun, di sisi lain, kalimat ini juga bisa membawa angan yang berat jika sedang disampaikan di momen yang sulit.

Bagi anak yang sudah dewasa dan sedang berjuang, kalimat ini seperti tuntutan untuk selalu kuat. Mereka bisa merasa tidak punya ruang untuk mengakui bahwa saat ini mereka sedang kewalahan.

8. "Bunda merasa jarang berjumpa denganmu"

Ucapan ini biasanya orang tua ucapkan dengan rasa rindu, bukan untuk menyalahkan anak. Bunda hanya merasakan bahwa waktu berbareng jadi lebih sedikit lantaran kesibukan dan kehidupan anak yang sudah berbeda.

Perubahan ini biasa terjadi seiring anak beranjak dewasa dan punya kesibukannya masing-masing. Namun, anak bisa merasa bahwa mereka kurang datang alias memperhatikan orang tuanya.

Padahal, mereka juga sedang berupaya menyeimbangkan banyak tanggung jawab dalam hidupnya, Bunda. Situasi ini pun kerap bikin mereka serba salah, lantaran susah untuk menanggapi tanpa menyinggung emosi Bunda.

9. "Bunda hanya mau Anda bahagia"

Hingga kini, orang tua tetap menggunakan kata-kata ini sebagai corak kasih sayang dan perhatian. Bunda pun mengucapkannya lantaran mau memastikan anak baik-baik saja dalam menjalani hidup.

Namun bagi anak, ungkapan ini bisa terdengar seolah kebahagiaan mereka sedang dipertanyakan. Padahal, maksud Bunda sebenarnya adalah corak cinta dan kepedulian sebagai orang tua.

Itulah beberapa kalimat yang dulu dianggap normal, namun rupanya bisa berakibat kurang baik bagi anak. Semoga penjelasannya dapat membantu, ya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ndf/fir)

Selengkapnya