Jakarta -
Seiring bertambahnya usia, banyak orang mulai lebih peka terhadap langkah orang lain berbincang kepada mereka. Bukan hanya soal kata-katanya, tapi juga maksud yang tersembunyi di kembali sebuah ucapan.
Pengalaman hidup membikin seseorang lebih mudah mengenali kalimat yang terdengar biasa, tetapi sebenarnya bisa menimbulkan rasa tidak nyaman, Bunda.
Orang dengan kepintaran emosional tinggi biasanya lebih berhati-hati dalam memilih lingkungan dan percakapan yang mereka ikuti. Mereka mengerti bahwa komunikasi sehat semestinya dibangun dengan rasa hormat dan tanggung jawab, bukan dari kata-kata manis.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maka dari itu, ada sejumlah ucapan yang tidak lagi dimaklumi oleh orang dengan kepintaran tinggi. Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
9 ucapan yang berakhir dimaklumi orang dengan kepintaran emosional tinggi
Dilansir dari laman Your Tango, ada sembilan ungkapan yang umumnya tidak lagi ditoleransi oleh orang-orang dengan kepintaran emosional tinggi ketika mereka semakin dewasa.
1. "Kamu tidak bisa memprediksi kehidupan"
Memang tidak ada yang bisa mengetahui pasti apa yang bakal terjadi di masa depan. Namun, bukan berfaedah seseorang tidak bisa mempertimbangkan beragam kemungkinan berasas pengalaman yang sudah dimiliki.
Orang dengan kepintaran emosional tinggi memahami bahwa hidup penuh dengan perubahan dan hal-hal yang tidak terduga. Oleh lantaran itu, mereka tidak sibuk menebak semua yang bakal terjadi, melainkan konsentrasi menyiapkan diri sebaik mungkin untuk menghadapi setiap kemungkinan.
2. "Belajarlah dari orang yang lebih tua"
Saat tetap kecil, banyak orang menganggap sosok yang lebih tua sebagai seseorang yang mempunyai semua jawaban. Namun seiring bertambahnya usia, kita menyadari bahwa orang yang dulu kita kagumi juga bisa membikin kesalahan.
Sejak kecil, kita sering diajarkan untuk selalu mendengarkan nasihat dari orang yang lebih tua lantaran dianggap lebih berpengalaman. Meski begitu, tidak semua nasihat bakal cocok dengan kondisi alias kebutuhan setiap orang.
3. "Saya baik-baik saja"
Orang dengan kepintaran emosional tinggi cukup peka dalam membaca emosi orang lain, apalagi ketika emosi tersebut tidak diungkapkan secara langsung. Mereka tahu bahwa ucapan "saya baik-baik saja" tidak selalu berfaedah seseorang betul-betul dalam keadaan baik.
Sering kali, kalimat tersebut digunakan untuk menghindari pembicaraan alias menutupi emosi yang sedang dirasakan. Banyak orang memilih jawaban itu agar percakapan tetap melangkah tanpa kudu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
4. "Maaf, tapi..."
Ketika seseorang memulai kalimat dengan "maaf, tapi...", sering kali orang lain langsung merasa ada kritik alias komentar yang kurang menyenangkan yang bakal disampaikan.
Orang dengan kepintaran emosional tinggi biasanya mengerti isyarat tersebut dan lebih peka terhadap akibat dari kata-kata semacam itu. Tidak jarang juga seseorang sudah menyadari bahwa ucapannya berpotensi menyinggung, sehingga merasa perlu memberikan pengantar terlebih dahulu.
5. "Tenang saja"
Bagi banyak orang, ucapan "tenang saja" justru tidak selalu membantu ketika mereka sedang merasa jengkel alias frustrasi. Kalimat tersebut tak jarang malah membikin emosi semakin meningkat.
Orang dengan kepintaran emosional tinggi menyadari, emosi tidak bisa begitu saja diatur melalui perintah seperti itu. Sama seperti menyuruh seseorang untuk langsung bahagia, meminta orang lain untuk santuy saat sedang emosi sering kali tidak memberikan hasil yang diharapkan.
6. "Seharusnya kamu..."
Memberikan saran kepada orang lain memang biasanya dilakukan dengan niat baik. Namun, penggunaan kalimat seperti "seharusnya kamu..." dapat terdengar menggurui, sehingga membikin musuh bicara merasa kurang nyaman.
Meski bermaksud membantu, nasihat yang disampaikan dengan langkah seperti ini bisa memicu kesalahpahaman, Bunda. Beberapa orang mungkin merasa kehidupannya terlalu dicampuri alias merasa keputusan yang telah mereka ambil tidak dihargai.
7. "Segala sesuatu terjadi lantaran suatu alasan"
Saat seseorang sedang menghadapi masa sulit, tidak jarang orang lain mencoba menghiburnya dengan mengatakan bahwa segala sesuatu terjadi lantaran suatu alasan.
Ucapan ini dimaksudkan untuk memberi angan bahwa ada hikmah alias tujuan yang lebih baik di kembali setiap kejadian. Namun, tidak semua orang merasa terhibur dengan kalimat tersebut, Bunda.
8. "Aku tidak peduli"
Empati merupakan salah satu bagian krusial dari kepintaran emosional. Maka itu, orang dengan kepintaran emosional tinggi tidak menyukai ucapan "aku tidak peduli", terutama saat seseorang sedang berbagi cerita alias perasaannya.
Ketika seseorang berupaya terbuka tentang masalah yang sedang dihadapi, respons seperti ini dapat terasa menyakitkan. Ucapan tersebut bisa membikin musuh bicara merasa bahwa emosi alias kesulitannya tidak dianggap penting.
9. "Saya terlalu sibuk"
Dalam keseharian, banyak orang mengatakan bahwa mereka terlalu sibuk untuk melakukan sesuatu. Ini cukup wajar, terlebih ketika seseorang sedang berupaya membangun karier, menyelesaikan pekerjaan, alias mengejar beragam sasaran dalam hidupnya.
Namun, saat terlalu konsentrasi pada pekerjaan, ada kalanya hubungan dengan orang-orang terdekat mulai terabaikan. Tanpa disadari, waktu untuk berkumpul alias sekadar mengobrol tergantikan oleh beragam kesibukan sehari-hari.
Demikian ulasan mengenai beberapa ucapan yang tidak lagi dimaklumi oleh orang dengan kepintaran emosional tinggi seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ndf/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·