Abu Bakar Dan Ujian Menahan Amarah

Jan 13, 2026 07:59 PM - 5 bulan yang lalu 169971

Kincai Media , JAKARTA -- Pada suatu hari, Nabi Muhammad SAW berjamu ke rumah Abu Bakar ash-Shidiq. Ketika sedang bercengkerama dengan Rasulullah, tiba-tiba datang seorang Arab badui menemui Abu Bakar.

Tanpa basa-basi, laki-laki badui itu langsung mencela Abu Bakar. Makian, kata- kata kotor keluar keluar dari mulut orang itu. Namun, sahabat yang juga mertua Nabi SAW itu tidak menghiraukannya.

Ia melanjutkan perbincangan dengan Rasulullah. Melihat tindakan sahabatnya ini, Nabi SAW tersenyum.

Namun kemudian, orang Arab badui itu kembali memaki-maki Abu Bakar. Kali ini, cercaan, makian dan hinaannya lebih kasar lagi.

Namun, dengan keagamaan yang kokoh serta kesabarannya, Abu Bakar tetap membiarkan orang tersebut. Rasulullah SAW kembali memberikan senyum. Semakin marahlah orang Arab badui ini.

Untuk ketiga kalinya si badui mencerca Abu Bakar dengan makian yang jauh lebih menyakitkan. Kali ini---selaku manusia biasa yang mempunyai hawa nafsu---Abu Bakar tidak dapat menahan amarahnya. Dibalasnya makian orang Arab badui itu dengan makian pula.

Terjadilah perang mulut. Seketika itu, Rasulullah SAW beranjak dari tempat duduknya. Beliau meninggalkan Abu Bakar sesudah mengucapkan salam dengan lirih.

Melihat perihal ini, selaku tuan rumah Abu Bakar pun menjadi tersadar dan sekalgus bingung. Dikejarnya Rasulullah SAW yang sudah sampai di seberang jalan.

Kemudian, dengan bunyi tergesa-gesa Abu Bakar memanggil beliau. "Wahai Rasulullah, janganlah Anda biarkan saya dalam kebingungan yang sangat. Jika saya melakukan kesalahan, jelaskan kesalahanku," pintanya.

Rasulullah SAW menjawab, "Sewaktu ada seorang Arab badui datang lampau mencelamu, dan engkau tidak menanggapinya, saya tersenyum lantaran banyak Malaikat di sekelilingmu yang bakal membelamu di hadapan Allah. Begitu pun, yang kedua kali ketika dia mencelamu dan engkau tetap membiarkannya, maka para Malaikat semakin bertambah banyak jumlahnya. Oleh karena itu, saya tersenyum.

Namun, ketika kali yang ketiga dia mencelamu dan engkau menanggapinya, dan engkau membalasnya, maka seluruh Malaikat pergi meninggalkanmu. Hadirlah Iblis di sisimu. Oleh lantaran itu, saya tidak mau berdekatan dengannya, dan saya tidak memberikan salam kepadanya."

Demikian Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk bersabar menahan amarah, dengan tidak membalas keburukan dengan hal-hal yang jelek pula.

Dalam sebuah hadis, Ibnu Mas’ud berbicara bahwa Rasulullah SAW pernah bertanya kepada para sahabat, "Apa yang kalian pikirkan tentang tarung?"

Mereka menjawab, "Orang yang tidak terkalahkan meski dikeroyok beberapa orang."

"Bukan itu. Petarung sejati adalah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah," jelas Rasulullah SAW (HR Muslim).

Selengkapnya