Abu vulkanik gunung anak Krakatau tengah menjadi pembicaraan hangat di beragam daerah di Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia merasakan akibat dari erupsi Anak Krakatau, termasuk Jabodetabek. Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau ini tidak hanya terasa pengaruh abunya yang memenuhi laman rumah, tetapi juga mulai berakibat ke kesehatan.
Bahkan, abu vulkanik Anak Krakatau ini membikin Bandara Soekarno Hatta ditutup sementara. Selain itu, abu vulkanik yang menyebar ke Jakarta dan sekitarnya juga mulai berpengaruh pada sekolah. Sebagian sekolah mulai memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai akibat dari abu vulkanik ini.
Agar Si Kecil terhindar dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, ada beberapa langkah menurut master yang dapat dilakukan untuk melindungi kesehatan SI Kecil. Yuk, Bunda, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
Mengenal abu vulkanik
Abu vulkanik gunung erupsi muncul lantaran pada saat gunung berapi meletus, letusannya dapat melepaskan lava, bebatuan, gas panas, dan abu vulkanik dalam jumlah sangat besar.
Sementara itu, abu vulkanik terbentuk dari bebatuan yang hancur dan partikel kaca berdiameter lebih mini dari dua milimeter. Ketika terhempas ke udara, abu ini dapat menyebar hingga ratusan apalagi mungkin ribuan kilometer sebelum akhirnya jatuh ke Bumi.
Dikutip dari detikom, ada dua jenis abu vulkanik ialah abu lembut dan abu kasar. Abu lembut merupakan partikel berukuran lebih mini dari 0,063 mm. Sementara abu kasar adalah partikel berukuran di bawah 2 mm. Untuk jenis abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau adalah jenis abu halus.
Dampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Bunda, krusial untuk mengetahui akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, terutama untuk kesehatan. Abu vulkanik menimbulkan beragam akibat bagi kesehatan manusia.
Orang yang terpapar hujan abu dapat berisiko terpapar gangguan kesehatan seperti batuk, iritasi hidung dan tenggorokan, penyakit menyerupai bronkitis, serta rasa tidak nyaman saat bernapas.
Selain itu, abu vulkanik juga berakibat bagi hewan ternak. Ia juga bisa mengalami gangguan pada mata dan saluran pernapasan. Hewan yang mencari makan dengan merumput bisa kesulitan memperoleh makanan andaikan sumber pakannya tertutup abu.
Selain itu, partikel abu vulkanik yang kecil, bersistem banyak rongga kecil, serta kepadatannya relatif rendah sebagai material batuan, memungkinkan abu terangkat tinggi ke atmosfer saat letusan.
Kemudian terbawa angin hingga sangat jauh. Itulah yang menyebabkan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau hasil erupsi terasa dampaknya hingga ke provinsi lain yang jauh dari gunung yang meletus.
Jangkauan sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Apabila Bunda penasaran sudah sampai mana abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang erupsi menyebar, Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM, Lana Saria, melalui konvensi pers daring menyampaikan info ini.
Masih dikutip dari detikcom, Lana Saria mengatakan bahwa abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau menyebar ke lima provinsi. Lima provinsi tersebut adalah Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu.
"Dan berasas campuran info erupsi dan VONA (Volcano Observatory Notice for Aviation) dari PVMBG melalui Magma Indonesia, info VAAC (Volcanic Ash Advisory Centre) Darwin serta analisa gambaran satelit Himawari-9 oleh BMKG, bahwa abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terpantau menyebar di atmosfer ke arah Banten, sebagian Jawa Barat, dan juga DKI Jakarta, serta Lampung dan Bengkulu," ungkapnya.
Selain itu, abu vulkanik dari erupsi gunung Krakatau juga dapat menyebar ke daerah lain tergantung arah mata angin dan kecepatan hujan abu. Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan ada kemungkinan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berkemungkinan menyebar hingga daerah timur Pulau Jawa.
“Untuk kemungkinan abu vulkanik mencapai Jawa Tengah dan Jawa Timur, secara meteorologis perihal tersebut berjuntai pada perubahan arah angin di beragam lapisan atmosfer,” kata Andri, dilansir dari detiknews.
Cara cek sebaran abu vulkanik terdekat dari letak dengan HP
Jika Bunda mau mengetahui titik-titik daerah yang terdampak abu vulanik, ada langkah cek sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau melalui HP.
Caranya adalah dengan mengakses situs abu.cikoytew.my.id. Ini merupakan situs buatan Tri Purnomo Aji yang disebarkan melalui akun Threads @triprnmaji. Untuk mengakses situs cek sebaran abu vulkanik ini tidak memerlukan instalasi aplikasi. Bunda cukup ikuti langkah-langkah berikut:
- Buka abu.cikoytew.my.id menggunakan browser seperti Chrome, Safari, alias browser lain. Situs ini dapat diakses melalui HP, tablet, alias desktop.
- Kemudian, pilih gunung api yang mau dipantau.
- Masukkan nama kota tempat tinggal alias gunakan fitur letak jika tersedia.
- Situs bakal menampilkan info apakah letak tersebut berpotensi terkena sebaran abu.
- Periksa pula arah pergerakan abu dan jarak letak dari daerah yang diperkirakan terdampak.
Selain menggunakan situs tersebut, krusial juga untuk tetap memantau info resmi dari pemerintah, melalui situs resmi seperti PVMBG/Badan Geologi, BMKG, BNPB maupun pemerintah daerah.
Karena, arah sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer, terutama arah dan kecepatan angin. Prediksi yang terlihat saat ini belum tentu jeli untuk beberapa jam kemudian.
5 Cara melindungi anak dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Pada masa sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau ini, kesehatan krusial sekali diperhatikan, termasuk kesehatan Si Kecil. Berikut ini langkah yang bisa dilakukan untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.
1. Anak tetap di dalam rumah
Apabila daerah rumah Bunda terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, sebaiknya mengurangi kegiatan di luar rumah dan memastikan Si Kecil tetap di dalam rumah. Imbauan ini disampaikan oleh Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin melalui laman resmi Kemenkes.
Menkes Budi menyampaikan bahwa intensitas abu vulkanik yang tinggi berisiko memicu gangguan kesehatan akut, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan pada kulit.
Selain itu, golongan anak-anak, lanjut usia, serta penderita penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis menjadi golongan yang paling rentan terhadap akibat paparan abu vulkanik.
Dalam masa sebaran abu vulkanik ini, Bunda bisa tunda kegiatan bermain di luar rumah. Kemudian, memindahkan kegiatan bermain di dalam rumah seperti menggambar, membaca buku, alias memainkan permainan.
2. Pilih masker sesuai usia
Cara melindungi anak dari paparan abu vulkanik berikutnya adalah dengan memilih masker sesuai usia Si kecil. Dilansir dari IG resmi IDAI @idai_ig, ada beberapa jenis masker yang bisa dipilih sesuai dengan usia anak.
Untuk anak yang sudah lebih besar, dapat menggunakan masker N95, KN95, alias masker yang menutup rapat saat keluar rumah. Sedangkan untuk bayi dan balita mini sebaiknya jangan dipakaikan masker jenis N95. Ini berisiko membikin bayi sesak napas. Ruangan tertutup menjadi perlindungan yang terbaik bagi Si Kecil.
Selain itu, anak dengan asma sebaiknya selalu menyiapkan obat pelega napas di tangan. Penting juga untuk mengikuti pengarahan dari dokternya.
Apabila tidak ada masker N95, masker bedah berlapis alias kain lembap bisa digunakan daripada tidak menggunakan masker tidak sama sekali.
3. Lindungi mata dan kulit dari paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Langkah perlindungan bagi anak saat masa paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau adalah melindungi mata dan kulit. Dokter paru dari RSUP Persahabatan, Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), menyampaikan bahwa debu vulkanis terdiri dari partikel lembut yang berkarakter iritatif, sehingga bisa berakibat bagi kesehatan.
"Di kulit bisa menyebabkan gatal, bisa mengenai mukosa mata sehingga menyebabkan mata merah," kata Prof Agus.
"Kalau terhirup masuk ke saluran napas, dapat menyebabkan iritasi di saluran napas atas, tengah, sampai ke bawah sehingga bisa menyebabkan keluhan seperti hidung gatal, berair, sakit tenggorokan, kemudian berdahak, kemudian meningkatkan akibat terjadinya jangkitan saluran napas akut alias ISPA," sambung Prof Agus.
Untuk mengatasi persoalan mata dan kulit akibat abu vulkanik, ada beberapa langkah yang dilakukan. Apabila mata perih, sebaiknya jangan dikucek dan segera bilas dengan air bersih mengalir.
Kemudian, pengguna lensa kontak sebaiknya melepas lensa lantaran dapat terkena paparan abu vulkanik. Apabila terpaksa keluar rumah, ada baiknya menggunakan kacamata renang alias goggle.
Untuk melindungi kulit dari paparan abu vulkanik, gunakan baju dan celana yang menutupi tubuh. Selain itu, krusial untuk segera mandi dan tukar baju setiap kembali dari luar rumah.
4. Komunikasikan ke anak dengan langkah yang tepat bukan menakuti
Meskipun Gunung Anak Krakatau erupsi menjadi buletin yang kurang menyenangkan dan menuntut kewaspadaan, namun krusial untuk mengkomunikasikan tentang erupsi Gunung Anak Krakatau dengan langkah yang tepat, alih-alih menakuti.
Komunikasi tentang abu vulkanik Gunung Anak Krakatau dapat disesuaikan dengan usianya. Untuk anak usia 3 - 5 tahun, bisa gunakan bahasa yang sederhana untuk menjelaskan erupsi yang terjadi. Misalnya, “Gunungnya sedang batuk. Kita main di dalam agar aman.”
Untuk anak usia 6-10 tahun, Bunda bisa jelaskan abu dan argumen kenapa kudu menutup jendela. Komunikasi untuk remaja tentang erupsi Gunung Anak Krakatau bisa dilakukan dengan melibatkan anak dalam menyiapkan tas siaga keluarga.
Selain melakukan komunikasi yang tepat, memvalidasi emosi takut anak juga bisa dilakukan, serta membatasi konten-konten di media sosial.
5. Kenali tanda ancaman akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau
Dampak abu vulkanik bisa terasa bagi kesehatan manusia, mulai dari pernapasan hingga kesehatan kulit. Untuk itu, krusial untuk mengenali tanda ancaman akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau, serta segera ke Puskesmas alias rumah sakit jika ini terjadi. Tanda ancaman yang kudu diwaspadai di antaranya adalah:
- Sesak alias napas cepat, bibir alias ujung jari kebiruan
- Batuk terus menerus, terutama pada anak yang menderita asma
- Mata memerah dan nyeri tidak membaik setelah dibilas air
- Bayi malas menyusu alias lemas
Tutup pintu, jendela, & ventilasi rumah agar terhindar dari paparan abu
Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau bisa dirasakan dampaknya di rumah. Abu vulkanik dapat menempel ke beragam barang di rumah seperti lantai, pintu, dan jendela. Selain itu, ventilasi udara juga rentan masuk abu vulkanik yang halus.
Untuk mengatasi perihal ini ada beberapa perihal yang bisa dilakukan. Pertama, menutup ventilasi, lubang angin, dan celah menggunakan kertas. Kemudian, tutup pintu dan jendela agar abu vulkanik tak masuk rumah.
Bunda juga bisa meletakkan handuk lembap di bawah periode pintu dan sumber angin lainnya, mempelkan selotip pada celah jendela yang berangin, menutup permukaan peralatan elektronik yang sensitif. Sebaiknya jangan dibuka hingga lingkungan sudah betul-betul bebas abu.
Siapkan ruang unik untuk membersihkan diri sebelum orang-orang memasuki rumah, sediakan penyedot debu dan sikat agar orang dapat membersihkan abu dari pakaian. Kalau perlu, melepaskan busana sebelum pindah ke area rumah lain.
Penting juga untuk menyiapkan wadah berisi air untuk membersihkan abu yang menempel pada kaki dan sepatu sebelum masuk ke dalam rumah. Selain itu, jangan lupa untuk melindungi sumber air. Jika menggunakan sistem pengumpulan air hujan untuk pasokan air, lepaskan tangki sebelum hujan abu.
Cara penggunaan AC dan kipas angin di tengah paparan abu vulkanik
Apabila Bunda terbiasa menggunakan AC dan kipas angin sehari-hari, pada masa paparan abu vulkanik ini ada perihal yang perlu diperhatikan. Ini merupakan upaya mengurangi akibat paparan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada kesehatan pernapasan.
"Untuk pencegahan primer, penggunaan air conditioner diperbolehkan, termasuk di dalam mobil, tapi kudu menggunakan mode recirculate,” ujar Prof Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K), Dokter paru dari RSUP Persahabatan dikutip dari detikcom.
Prof Agus juga memberi saran mengenai penggunaan AC dan kipas angin. Penggunaan kipas angin dan AC diperbolehkan selama berada di dalam ruangan dan kualitas udara di dalam rumah itu baik.
"Kipas angin selama dia indoor dan kualitas udara di dalam rumah itu baik, debu dari luar tidak masuk, itu boleh," tutur Prof Agus.
Prof Agus juga menyampaikan bahwa "Tetapi jika kondisi udara luar tidak bisa disaring masuk lantaran misalnya ruangannya terbuka, maka disarankan tidak pakai kipas angin lantaran bakal membikin debu beterbangan dan mudah terhirup," sambungnya.
Itu dia langkah untuk melindungi anak dari paparan abu vulkanik akibat Gunung Anak Krakatau erupsi. Peristiwa Gunung Anak Krakatau erupsi ini memang perlu diwaspadai, apalagi mengingat Gunung Anak krakatau erupsi terjadi secara tiba-tiba dan susah diprediksi kapan berakhirnya.
Karena anak termasuk dalam golongan yang rentan terpapar abu vulkanik, krusial untuk memastikan kesehatannya terjaga selama paparan abu vulkanik terjadi.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)