Anak Cerdas tapi Sering Menyendiri, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?

Anak Cerdas tapi Sering Menyendiri, Kapan Orang Tua Perlu Khawatir?

Anak pandai biasanya sering memilih bermain alias menghabiskan waktu sendirian. Bagi banyak orang tua, mempunyai anak yang tampak sangat introvert adalah suatu kelegaan.

Namun, kebiasaan anak menyendiri juga sering kali bikin orang tua khawatir, Bunda. Ketidakmampuan anak untuk berbaur bisa jadi lebih dari sekadar rasa tidak nyaman.

Seiring bertambahnya usia, anak-anak yang sensitif ini sering mengembangkan rasa rendah diri sebagai akibat dari isolasi sosial. Bila dibiarkan, perihal itu dapat menimbulkan sejumlah masalah.


"Kurangnya kepercayaan diri menghalang mereka di tempat yang semestinya mereka bisa sukses. Beberapa anak apalagi sampai menolak talenta mereka dan sengaja berprestasi jelek dalam upaya untuk berbaur dengan kawan sebaya," kata master di bagian psikologi, Dr. Tali Shenfield, dikutip dari Advanced Psychology.

"Seperti semua anak yang bergumul dengan emosi ditolak dan tidak berharga, anak-anak berbakat yang terisolasi secara sosial lebih condong melakukan beragam upaya untuk mengesankan kawan sebaya mereka untuk berbaur," lanjutnya.

Pada kondisi yang serius, anak mungkin menjadi lebih rentan terhadap penggunaan narkoba dan perilaku berisiko dalam keputusasaan mereka agar diterima oleh lingkungan. Sebaliknya, beberapa anak yang betul-betul menarik diri dari kawan sebaya bisa jadi bakal tenggelam dalam depresi.

Sebagai orang tua, Bunda sebaiknya bisa membedakan antara anak-anak yang secara alami introvert dan mereka yang mendambakan hubungan sosial tetapi kesulitan berasosiasi dengan orang lain. Secara umum, anak-anak yang secara intrinsik introvert menunjukkan kebutuhan yang kuat untuk menyendiri guna mengisi ulang daya sejak usia muda.

"Jika anak suka duduk sendirian dan tenggelam dalam kegemaran dan kegiatan kreatifnya, kemungkinan besar dia merasa puas sendirian. Jika anak tampaknya lebih suka berbaur hanya dengan satu alias dua kawan yang sepemikiran daripada golongan besar, dia mungkin hanya menunjukkan ciri-ciri unik anak berbakat," ujar Shenfield.

Kapan tanda orang tua perlu khawatir?

Menghabiskan waktu sendirian bisa menjadi bermasalah ketika perihal itu dianggap sangat berlebihan. Misalnya, Si Kecil jarang menghabiskan waktu dengan siapa pun, apalagi personil family dekat.

Selain itu, jika anak cukup ramah di sekolah dasar tetapi tiba-tiba menjadi 'penyendiri' setelah memasuki sekolah menengah, mungkin ada sesuatu yang tidak beres, Bunda. Selain itu, setiap kali penarikan diri dari pergaulan disertai dengan hilangnya minat pada hobi, cuek secara umum, kecemasan, alias tanda-tanda kesulitan lainnya, orang tua perlu menanggapi situasi tersebut dengan serius.

"Bila anak mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan makan, penyalahgunaan zat, depresi, alias kecenderungan merusak diri sendiri, orang tua juga kudu segera mencari support profesional. Jangan pernah berasumsi bahwa perilaku ini hanya bagian dari sebuah 'fase'," ungkap Shenfield.

Faktor akibat lain untuk isolasi sosial yang tidak sehat dapat meliputi kekhawatiran sosial, perundungan, kejadian trauma, alias kondisi yang memperumit, seperti autisme alias perkembangan yang tidak sinkron. Jika Si Kecil menghadapi satu alias lebih masalah tersebut, maka Bunda kudu tetap waspada terhadap tanda-tanda masalah sosial sepanjang perkembangannya.

Terakhir, ingatlah bahwa hubungan daring bukanlah pengganti yang dapat diterima untuk persahabatan di bumi nyata. Jika anak, terutama remaja, terobsesi secara tidak sehat dengan internet, kemungkinan besar dia menggunakan internet untuk memenuhi kebutuhan sosialnya yang belum terpenuhi.

"Budaya internet condong lebih mudah berubah dan tidak kenal situasi jika dibandingkan sosialisasi tatap muka. Ketergantungan tersebut dapat berbalik menjadi bumerang. Oleh lantaran itu, orang tua kudu berupaya membatasi screen time hingga pemisah yang wajar dan mendorong ikatan interpersonal sebagai gantinya," kata Shenfield.

Cara menghadapi anak yang menyendiri

Cara terbaik untuk mulai membantu anak yang terisolasi secara sosial adalah dengan berbincang dengannya. Tanyakan gimana perasaannya tentang kehidupan sosial yang dijalani, dan jika dia mengungkapkan ketidakpuasan dengan kemampuannya untuk berteman. Bunda juga bisa bertanya tentang apa yang menyebabkan kesulitan tersebut.

Bila itu sesuatu yang berkarakter sementara, seperti perselisihan dengan teman-teman, kita mungkin bisa membantu untuk menyelesaikannya. Bila dia mengalami masalah dengan perundungan di kelas, mungkin Bunda mempertimbangkan anak pindah kelas.

Jika langkah-langkah tersebut tidak berhasil, orang tua mungkin perlu meminta support dari luar, misalnya dari konselor sekolah alias terapis. Anak mungkin mempunyai masalah kesehatan mental alias masalah perkembangan yang belum terdiagnosis, sehingga menghambatnya secara sosial.

"Melalui intervensi tepat waktu, isolasi sosial sering kali dapat diatasi sebelum menyebabkan masalah lebih lanjut. Penting bagi anak untuk mengetahui bahwa kehidupan sosial yang sehat bisa digapai. Mengetahui dan mengalami perihal ini bakal membantu anak merangkul dan menerima tidak hanya orang lain, tetapi juga dirinya sendiri," ujar Shenfield.

Itulah penjelasan tentang langkah mengatasi anak pandai yang suka menyendiri. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/fir)

Selengkapnya
Sumber Portal Kesehatan Ibu dan Anak
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting