Metode Nabawiyah dalam Pendidikan Anak (Bag. 3)

Artikel Islami Muslimah.or.id Aug 22, 2026 11:00 PM 20
  1. Meluangkan waktu untuk memberi nasihat

Jangan enggan menasihati anak. Carilah momen-momen emas (golden moments) yang tepat, seperti saat dalam perjalanan alias ketika santai.

  • Nasihat saat perjalanan, sebagaimana kisah Ibnu Abbasradhiyallahu ‘anhuma. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ibnu Abbas yang dibonceng di belakang beliau,

يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ: احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ…

“Wahai anak muda, sesungguhnya saya mau mengajarkan kepadamu beberapa kalimat, Jagalah Allah, niscaya Allah bakal menjagamu...” (HR. Tirmidzi no. 2516)

  • Nasihat saat makan, seperti kisah Umar bin Abi Salamahradhiyallahu ‘anhu. Ketika memandang tangan anak mini mengacak-acak makanan di piring, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegurnya dengan lembut,

يَا غُلَامُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ

“Wahai anak muda, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah makanan yang ada di dekatmu.” (HR. Bukhari no. 5376 dan Muslim no. 2022)

Donasi Kincai Media

  • Nasihat saat sakit.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjenguk seorang anak Yahudi yang sedang sakit keras lampau mengajaknya masuk Islam hingga anak tersebut bersyahadat,

عنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ: كَانَ غُلاَمٌ يَهُودِيٌّ يَخْدُمُ النَّبِيَّ ﷺ فَمَرِضَ، فَأَتَاهُ النَّبِيُّ ﷺ يَعُودُهُ، فَقَعَدَ عِنْدَ رَأْسِهِ، فَقَالَ لَهُ ” أَسْلِمْ “. فَنَظَرَ إِلَى أَبِيهِ وَهْو عنْدَهُ فَقَالَ لَهُ أَطِعْ أَبَا الْقَاسِمِ ﷺ. فَأَسْلَمَ، فَخَرَجَ النَّبِيُّ ﷺ وَهْوَ يَقُولُ

” الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ “

“Dari Anas radhiyallahu ‘anhu ia berkata, ‘Ada seorang pemuda Yahudi yang melayani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lampau dia sakit. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang menjenguknya. Nabi duduk di dekat kepalanya dan berbicara kepadanya, ‘Masuklah Islam.’ Pemuda itu memandang kepada ayahnya yang berada di sampingnya, lampau ayahnya berkata, ‘Taatlah kepada Abul-Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Maka dia pun masuk Islam. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar sembari berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.’  (HR. Bukhari no. 1356)


  1. Bersikap setara kepada semua anak

Ketidakadilan orang tua terhadap anak-anaknya dapat memicu rasa iri hati, perpecahan, dan kedurhakaan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menolak menjadi saksi atas pemberian hibah Basyir kepada salah satu anaknya yaitu Nu’man bin Basyir tanpa memberikan perihal serupa kepada anak-anaknya yang lain. Beliau bersabda,

فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

Bertakwalah kalian kepada Allah dan melakukan adillah di antara anak-anak kalian!” (HR. Bukhari no. 2587 dan Muslim no. 1623)

6. Memperhatikan dan menghargai kewenangan anak

​Anak-anak mempunyai kewenangan yang patut dihormati. Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam disuguhi minuman. Di sebelah kanan beliau, duduk Ibnu Abbas (masih kecil), sedangkan di sebelah kiri, duduk para sahabat senior. Berdasarkan adab, orang yang berkuasa menerima sisa minuman adalah orang yang berada di sebelah kanan. Beliau meminta izin kepada Ibnu Abbas,

أتَأذَنُ لي أن أُعطيَ هؤلاء؟ فقال الغُلامُ: لا واللهِ، لا أوثِرُ بنَصيبي مِنكَ أحَدًا. فتَلَّه في يَدِه.

​“‘Apakah engkau mengizinkanku memberikan sisa minuman ini kepada mereka (orang-orang tua)?’ Anak itu menjawab, ‘Demi Allah wahai Rasulullah, saya tidak bakal memberikan bagianku darimu kepada seorang pun.’ Maka Rasulullah menyerahkan minuman itu ke tangan anak tersebut.” (HR. Bukhari no. 2605 dan Muslim no. 2030)

Demikian pula jika anak-anak sudah memenuhi syarat salat di saf depan masjid, mereka mempunyai kewenangan atas tempatnya dan tidak boleh digeser paksa oleh orang dewasa.


  1. Berkomunikasi sesuai tingkat logika anak

​Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata,

​حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ، أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ؟

​“Bicaralah kepada manusia sesuai dengan tingkat pemahaman mereka. Apakah kalian suka Allah dan Rasul-Nya didustakan?” (HR. Bukhari no. 127)

​Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbual dan menghibur adik tiri Anas bin Malik yang berjulukan Abu Umair. Ketika burung peliharaannya mati, Rasulullah berkata,

​يَا أَبَا عُمَيْرٍ، مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ؟

“Wahai Abu Umair, apa yang dilakukan oleh si Nughair (burung kecilmu)?” (HR. Bukhari no. 6129 dan Muslim no. 2150)

8. Menjauhi mencela, mencerca, dan berbicara kasar

​Kelembutan dalam rumah tangga adalah sumber kebaikan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala,

​إِنَّ اللهَ إِذَا أَرَادَ بِأَهْلِ بَيْتٍ خَيْرًا أَدْخَلَ عَلَيْهِمُ الرِّفْقَ

“Sesungguhnya andaikan Allah menghendaki kebaikan bagi sebuah rumah tangga, Allah bakal memasukkan rasa kelembutan pada mereka.” (HR. Ahmad no. 24427)

Bentakan, cacian, dan kata-kata kotor hanya bakal mewariskan kebiasaan jelek (dosa jariyah) pada keturunan.

9. Menerapkan metode targhib (motivasi) dan tarhib (hukuman edukatif)

  • ​Metode targhib

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memuji Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma untuk memotivasi ibadahnya, ​

​نِعْمَ الرَّجُلُ عَبْدُ اللَّهِ، لَوْ كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ

“Sebaik-baik laki-laki adalah Abdullah, seandainya dia giat melakukan salat malam.” (HR. Bukhari no. 1122 dan Muslim no. 2479)

​Memberikan apresiasi atas perbuatan baik anak—baik dalam corak pujian, doa, maupun materi/hadiah—sangat dianjurkan dalam Islam.

  • Metode tarhib

Jika anak melakukan pelanggaran setelah diberi pengajaran, balasan edukatif diperbolehkan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ​

​مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ

“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk salat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka lantaran meninggalkannya ketika berumur sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka.” (HR. Abu Dawud no. 495)

Prinsip hukuman: Sebelum menghukum, jelaskan terlebih dulu letak kesalahannya agar anak mengerti bahwa balasan tersebut berasal dari kasih sayang dan tekad perbaikan, bukan atas dasar kebencian.

Penutup

Usaha mendidik anak agar menjadi pribadi yang saleh dan salehah memerlukan kesabaran, keikhlasan, dan angan yang konsisten. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan kelembutan, petunjuk, serta keteguhan bagi kita selaku orang tua, dan mempertemukan kita kembali berbareng seluruh personil family di surga-Nya kelak. Aamiiin Ya Rabbal ‘Alamiin.

[SELESAI]

***

Penulis: Nurur Rohmah Azzahra

Artikel Kincai Media

Sumber:

Disarikan dari kegunaan kajian Ustaz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. hafidzahullah dengan beberapa tambahan penjelasan dari penulis

Selengkapnya
Metode Nabawiyah dalam Pendidikan Anak (Bag. 3)
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting