Lirik Syair Maulid Nabi Serta KeutamaannyaKincai Media- Berikut ini adalah lirik syair Maulid Nabi serta keutamaanya. Nabi Muhammad Saw lahir sebagai nabi dengan segala kesempurnaan yang meliputinya. Tak heran banyak gubahan syair yang menggambarkan kisah hidup beliau dari lahir sampai menutup mata. Syair yang begitu bagus dan masyhur serta sudah mendarah daging bagi masyarakat Indonesia.
Momen kelahiran beliau menjadi momen yang sempurna buat dirayakan. Kelahiran nabi agung penerang semesta. Bahkan api kepercayaan majusi yang rumornya “abadi” menjadi padam lantaran sinar kelahiran beliau.
Tradisi maulid sendiri banyak dilakukan oleh kalangan masyarakat Ahlussunnah Wal Jamaah Indonesia. begitu banyak syair yang dikarang untuk mengambarkan kehidupan sang nabi, namun bagi kebanyakan masyarakat Indonesia sendiri sering melantunkan beberapa syair maulid berikut.
Beberapa lirik syair qasidah yang masyhur dibaca di Indonesia saat seremoni maulid nabi serta faidah dan keutamaannya:
Pertama, Maulid Ad-Dibai. dikarang oleh Syekh Abu Muhammad Abdurrahman Ad-Diba’iy. Beliau lahir pada bulan Muharram tahun 866 H. Syekh Abu Muhammad Abdurrahman Ad-Diba’iy meninggal pada hari jumat 12 Rajab pada tahun 944 H.
Maulid inipun banyak mempunyai keistimewaan jika membacanya. Salah satunya adalah yang disampaikan di dalam kitab Al-Jauharul Maknûnah Wal Asrârul Makhzûnah, laman 16
المَوْلِدُ فِيْهِ سِرٌّ عَظِيْمٌ حَتَّى يَتَجَدَّدُ بِقِرَائَتِهِ مَفَاهِيْمُ جَدِيْدَةٌ
Artinya, “Maulid (ini), di dalamnya terdapat rahasia yang agung, (dengan membacanya) bakal mendapatkan pemahaman-pemahaman baru (tentang Rasulullah Saw).”
Kedua, Maulid Al-Barzanji. Dikarang oleh Sayyid Zainal ‘Abidin Ja’far bin Hasan bin ‘Abdul Karim al-Husaini asy-Syahzuri al-Barzanji. Beliau kelahiran Madinah Al-Munawwarah pada Kamis awal Dzulhijah 1128 H/1716 M. Sayyid Ja’far al-Barzanji wafat pada Selasa setelah shalat Ahsar 4 Sya’ban 1177 H/1763 M, dan dimakamkan berbareng dengan kakeknya di Baqi’ menjadi satu dengan keturunan Rasulullah Saw yang lain.
Syekh Muhammad Nawawi Al-bantani, dalam kitab Madârijus Shu’ûd Syarah Maulid Al-Barzanji mengatakan, Maulid Barzanji laksana media yang bisa menjadi karena datangnya beragam kebaikan (sihrul halâl) dan orang yang membacanya bakal mendapatkan keridhaan dari Allah Swt. (lihat: Madarijus Shu’ud laman 3)
Ketiga, Maulid Simtuth Dhurar. Dikarang oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husain al-Habsyi. Sang penulis lahir pada hari Jumat, 24 Syawal 1259 H (17 November 1843 M) di kota Qasam, sebuah kota di negeri Hadramaut, Yaman, dan wafat di kota Seiwun, Hadhramaut, pada hari Ahad 20 Rabi’ul Akhir 1333 H (6 Maret 1915 M).
Sayyid Ahmad bin Ali bin Alawi al-Habsyi menulis di dalam kitabnya Syarah Simthud Durar Fi Akhbar Maulidi Khairil Basyar Wama Lahu Min Akhlaqi Wa Aushaf Wa Siyar, laman 391
وَلَمَّا قُرِئَ الْمَوْلِدُ بِبَيْتِهِ سَنَةَ ألف وثلاثمئة وثلاثون هــ. قَالَ رَضِي الله عَنْهُ: المَوْلِدُ كَأَنْ عَادَ نَحْنُ الا سَمِعْنَاهُ، عَلَيْهِ نُوْرٌ عَظِيْمٌ، وَكُلُّ عِبَارَةٍ صِفَةٌ مَلَانَةٌ بِتَعْظِيْمِهِ ﷺ
Artinya, “Setelah maulid (Simthud Durar) dibaca di rumahnya, tahun 1330 H, Habib Ali al-Mantsur berkata: Maulid (Simthud Durar) seperti mengembalikan kita semua (pada era Rasulullah), maka dengarkanlah, di dalamnya terdapat sinar yang mulia, dalam setiap ungkapan terdapat sifat yang sangat condong mengagungkan Rasulullah Saw.”
Keempat, Qasidah Burdah. Dikarang oleh Imam al-Bushiri. Bernama komplit Muhammad bin Sa’id bin Himad bin Abdullah ash-Shanhaji al-Bushiri al-Mishri. Beliau lahir di desa Dalas, salah satu desa Bani Yusuf di dataran tinggi Mesir pada 609 H.
Al-Bushiri mini kemudian tumbuh di Bushir, desa asal ayahnya. Nisbat alias julukan al-Bushiri menunjuk pada desa tersebut. Al-Bushiri wafat pada tahun 696 H, ketika berumur 87 tahun dan dimakamkan di dekat makam Syaikh Abil ‘Abbas al-Mursi di kota Iskandaria, Mesir.
Syekh Ali Al-Qari mengatakan bahwa Qasidah Burdah ini bisa menjadi tameng dan pemenuh rencana jika dawam dilakukan.
وَهِيَ مُجَرَّبَةٌ عِنْدَ طَلَبِ الْحَاجَاتِ وَنُزُوْلِ الْمُهِمَّاتِ
Artinya, “Qasidah Burdah sangat mujarab (dijadikan media) untuk memohon pemenuhan beragam rencana dan suksesnya beragam kepentingan.”
Masih banyak syair dan gubahan yang dikarang untuk menggambarkan kisah hidup sang nabi. Namun yang terkenal bagi masyarakat kita adalah empat qosidah tersebut. Semoga dengan membaca dan mendawamkan maulid-maulid tersebut dapat menjadikan orang yang mendapat naungan dari sang nabi di alambaka kelak.
Demikian lirik Syair Maulid Nabi Serta Keutamaannya. Semoga bermanfaat. Allahumma Shalli Ala Saidina Muhammad. (Baca juga:Dua Syair Berbahasa Arab tentang Kemerdekaan Indonesia )