Metode Nabawiyah Dalam Pendidikan Anak (Bag. 1): Keutamaan Memiliki Anak Yang Saleh

Artikel Islami Muslimah.or.id Aug 21, 2026 11:00 AM 35

​Menilik pesan-pesan berbobot tentang teladan Islam dan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam mendidik anak-anak, kita menyadari bahwasanya mempunyai anak yang saleh merupakan angan setiap muslim. Bahkan, anak saleh bukan hanya kemauan kita sebagai orang tua awam, melainkan angan para Nabi dan Rasul Allah.

Keutamaan mempunyai anak yang saleh

​Impian para Nabi dan Rasul

​Para Nabi ‘alaihimus salam diabadikan dalam Al-Qur’an senantiasa memanjatkan angan agar dianugerahi keturunan yang saleh. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam berdoa,

​رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS. As-Saffat: 100)

​Demikian pula angan Nabi Zakariya ‘alaihis salam,

Donasi Kincai Media

​رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Ya Tuhanku, berilah saya dari sisi-Mu seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (QS. Ali ‘Imran: 38)

Kebahagiaan bumi (qurratu a’yun) dan surga yang disegerakan

​Memiliki anak yang taat, berbakti, membaca Al-Qur’an tanpa perlu dipaksa, serta senantiasa alim pada pengarahan orang tua adalah perhiasan bumi dan kebahagiaan terbesar, seakan-akan surga yang disegerakan di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

​الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan bumi …” (QS. Al-Kahfi: 46)

​Anak juga dinamakan sebagai tsamaratul fuad (buah hati). Ketika malaikat maut mencabut nyawa anak seorang hamba, Allah bertanya kepada para malaikat,

​قَبَضْتُمْ ثَمَرَةَ فُؤَادِهِ؟ فَيَقُولُونَ: نَعَمْ

“Apakah kalian telah mencabut nyawa buah hatinya?” Para malaikat menjawab, “Ya.” (HR. Tirmidzi no. 1021)

​Aset kekal dan pahala yang terus mengalir di akhirat

​Peran orang tua dalam mengarahkan, memasukkan anak ke lembaga pendidikan Islam, memanggilkan pembimbing agama, alias memberikan nasihat kebaikan bakal membuahkan pahala jariah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

​مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Barang siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengamalkannya.” (HR. Muslim no. 1893)

​Jika seorang anak hidup lima puluh tahun setelah orang tuanya wafat dan terus beramal saleh, maka pahala tersebut mengalir kepada orang tuanya. Jika seseorang mempunyai lima anak yang saleh, seolah-olah dia mempunyai tambahan umur kebaikan sebanyak 250 tahun di dalam kuburnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan,

​إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya selain tiga perkara: infak jariah, pengetahuan yang dimanfaatkan, alias anak saleh yang mendoakannya.” (HR. Muslim no. 1631)

​Meninggikan derajat orang tua di surga

​Di alambaka kelak, seorang hamba dapat terkejut ketika derajatnya ditinggikan di surga melampaui perkiraan kebaikan perbuatannya sendiri. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

​إِنَّ اللهَ لَيَرْفَعُ الدَّرَجَةَ لِلْعَبْدِ الصَّالِحِ فِي الْجَنَّةِ، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ، أَنَّى لِي هَذِهِ؟ فَيَقُولُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ

“Sesungguhnya Allah betul-betul mengangkat derajat seorang hamba yang saleh di surga. Hamba itu bertanya, ‘Wahai Rabbku, dari mana saya mendapatkan derajat ini?’ Allah menjawab, ‘Disebabkan permohonan pembebasan anakmu untukmu.’” (HR. Ahmad no. 10610, Ibnu Majah no. 3660)

​Oleh lantaran itu, krusial bagi setiap orang tua untuk mengajarkan anak-anak angan hormat kepada orang tua,

​رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Ya Rabbku, ampunilah saya dan kedua orang tuaku, dan kasihilah keduanya sebagaimana mereka merawatku di waktu kecil.” (QS. Nuh: 28 dan QS. Al-Isra’: 24)

​Mempersatukan family pada tingkat surga tertinggi

​Berdasarkan penafsiran para ulama, andaikan derajat anak lebih tinggi daripada orang tuanya di surga (atau sebaliknya), Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat derajat pihak yang lebih rendah agar berkumpul berbareng tanpa mengurangi pahala pihak yang berderajat lebih tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

​وَالَّذِينَ آمَنُوا وَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِإِيمَانٍ أَلْحَقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَا أَلَتْنَاهُمْ مِنْ عَمَلِهِمْ مِنْ شَيْءٍ

“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala kebaikan perbuatan mereka…” (QS. At-Tur: 21)

​Sebagian ustadz menjelaskan bahwa kata zurriyyah dalam Al-Qur’an terkadang merujuk pada nenek moyang/orang tua, sebagaimana firman Allah,

​وَآيَةٌ لَهُمْ أَنَّا حَمَلْنَا ذُرِّيَّتَهُمْ فِي الْفُلْكِ الْمَشْحُونِ

“Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bahwa Kami mengangkut nenek moyang mereka dalam kapal yang sarat muatan.” (QS. Yasin: 41)

Baca juga: Pentingnya Memiliki Keturunan yang Saleh dan Upaya untuk Mendapatkannya

[Bersambung]

LANJUT KE BAGIAN 2

***

Penulis: Nurur Rohmah Azzahra

Artikel Kincai Media

Catatan kaki:

Disarikan dari kegunaan kajian Ustadz Dr. Firanda Andirja, Lc., MA. hafidzahullah dengan beberapa tambahan penjelasan dari penulis.

Selengkapnya