Khutbah Jumat: 4 Pesan Maulid Nabi dari Sayyid Alawi Al-Maliki yang Perlu Kita RenungkanKincai Media– Berikut ini penjelasan tentang khutbah Jumat: 4 pesan Maulid Nabi dari Sayyid Alawi Al-Maliki yang perlu kita renungkan. Pasalnya, di Indonesia, tradisi Maulid Nabi, sudah menjadi kebiasaan Masyarakat Indonesia, yang biasanya dirayakan di Bulan Rabiul Awal, apalagi ada yang sepanjang tahun.
Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.
Jamaah khutbah Jumat maulid Nabi rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Salah satu bentuk ketakwaan yang krusial dalam kehidupan seorang Muslim adalah mencintai Rasulullah Muhammad SAW.
Sebab, mencintai Rasulullah bukan sekadar bagian dari perasaan, melainkan juga bagian dari keimanan. Kita mengenal kepercayaan ini melalui beliau. Kita mengenal tata langkah shalat melalui beliau. Kita mengetahui gimana beragama kepada Allah melalui beliau. Bahkan Al-Qur’an yang menjadi pedoman hidup kita disampaikan kepada umat manusia melalui Rasulullah SAW.
Karena itu, semakin seorang Muslim mengenal Rasulullah, semestinya semakin tumbuh pula kecintaannya kepada beliau. Kita mengenal beliau bukan hanya sebagai seorang nabi dan rasul, tetapi sebagai manusia yang sepanjang hidupnya memberikan teladan.
Nabi adalah sosok yang penuh kasih sayang kepada keluarga, menghormati tetangga, menyantuni orang miskin, mengampuni orang yang menyakitinya, serta tetap menjaga adab apalagi kepada mereka yang memusuhinya. Kehidupan Rasulullah SAW dengan demikian bukan hanya sejarah yang kita baca, tetapi sumber keteladanan yang kudu kita hadirkan dalam kehidupan.
Jamaah khutbah Jumat maulid Nabi rahimakumullah,
Salah satu momentum yang digunakan umat Islam untuk kembali mengenal dan mencintai Rasulullah SAW adalah peringatan Maulid Nabi. Setiap bulan Rabiul Awal tiba, umat Islam di beragam daerah menghidupkan majelis shalawat, membaca sirah Nabi, bersedekah, berbagi makanan, dan berkumpul untuk mendengarkan kisah kehidupan Rasulullah SAW. Tradisi ini telah menjadi bagian dari kehidupan keagamaan masyarakat Muslim di banyak tempat.
Namun, ada pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama: apa yang sebenarnya kita cari dari Maulid Nabi? Apakah hanya sekadar berkumpul? Apakah hanya membaca shalawat? Ataukah ada sesuatu yang lebih besar yang semestinya kita bawa pulang dari majelis tersebut?
Jamaah khutbah Jumat maulid Nabi rahimakumullah,
Pertanyaan ini krusial lantaran jangan sampai Maulid hanya menjadi kegiatan tahunan yang meriah, tetapi tidak memberikan perubahan kepada diri kita. Kita mendengar kisah Rasulullah, tetapi tidak mengikuti akhlaknya.
Kita memperbanyak shalawat, tetapi tetap mudah menyakiti sesama. Kita mengaku mencintai Nabi, tetapi kehidupan kita justru semakin jauh dari nilai-nilai yang beliau ajarkan.
Salah seorang ustadz besar, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, memberikan penjelasan menarik mengenai perihal ini. Dalam kitab beliau Haula Dzikril Ihtifal bi Maulidin Nabiy, beliau menjelaskan beberapa perihal krusial tentang Maulid Nabi.
Setidaknya ada empat pesan yang dapat kita renungkan agar Maulid tidak berakhir sebagai perayaan, tetapi betul-betul menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan Rasul-Nya.
Jamaah khutbah Jumat maulid Nabi rahimakumullah,
Pertama, kecintaan kepada Rasulullah tidak boleh hanya muncul pada bulan Rabiul Awal.
Rabiul Awal memang mempunyai tempat spesial dalam hati umat Islam lantaran merupakan bulan yang berangkaian dengan kelahiran Rasulullah SAW. Begitu pula hari Senin mempunyai hubungan unik dengan beliau. Ketika Rasulullah ditanya kenapa beliau berpuasa pada hari Senin, beliau menjawab:
فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ
Artinya; “Pada hari itu saya dilahirkan dan pada hari itu pula wahyu diturunkan kepadaku.”(HR Muslim)
Karena itu, memperbanyak shalawat dan majelis yang mengingatkan kita kepada Rasulullah pada bulan Rabiul Awal merupakan momentum yang baik. Tetapi jangan sampai kecintaan kepada Nabi hanya kita rasakan ketika Rabiul Awal tiba. Setelah bulan itu berlalu, nama Rasulullah kembali jauh dari kehidupan kita. Shalawat berkurang, sirah tidak lagi dibaca, dan adab beliau tidak lagi menjadi perhatian.
Cinta kepada Nabi tidak mengenal musim. Rabiul Awal hanyalah momentum untuk memperbarui cinta itu. Setelah Maulid selesai, kecintaan tersebut semestinya justru semakin kuat. Kita semakin giat bershalawat, semakin senang membaca sirah, dan semakin berupaya mengikuti adab beliau dalam kehidupan sehari-hari.
Jamaah khutbah Jumat maulid Nabi rahimakumullah,
Kedua, Maulid adalah momentum menanamkan cinta kepada Rasulullah SAW.
Menurut Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki, perkumpulan Maulid dapat diisi dengan membaca shalawat, mendengarkan sirah Nabi, bersedekah, memuliakan orang fakir dan orang yang membutuhkan, serta beragam corak kebaikan lainnya. Semua itu mempunyai satu tujuan penting: menanamkan kecintaan kepada Rasulullah SAW di dalam hati umat Islam.
Mengapa cinta kepada Nabi begitu penting? Karena cinta bakal melahirkan kemauan untuk mengikuti. Orang yang mencintai seseorang biasanya mau mengetahui kehidupannya, mengikuti kebiasaannya, dan meniru perilakunya. Demikian pula kecintaan kepada Rasulullah. Jika kita betul-betul mencintai beliau, kita bakal terdorong untuk meneladani akhlaknya.
Rasulullah dikenal sebagai orang yang jujur. Maka kecintaan kepada beliau semestinya membikin kita malu untuk berdusta. Rasulullah dikenal sangat peduli kepada orang miskin. Maka kecintaan kepada beliau semestinya membikin kita tidak tega memandang orang lain kesusahan. Rasulullah menjaga lisannya. Maka kecintaan kepada beliau semestinya membikin kita berhati-hati ketika berbicara, termasuk ketika menggunakan media sosial.
Dengan demikian, Maulid semestinya tidak hanya membikin kita semakin banyak mengetahui kisah Nabi, tetapi juga membikin kita semakin dekat dengan adab Nabi.
Jamaah khutbah Jumat maulid Nabi rahimakumullah,
Ketiga, Maulid dapat menjadi momentum untuk memperbanyak kebaikan.
Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki menjelaskan bahwa peringatan Maulid tidak mempunyai tata langkah tertentu sebagaimana ibadah mahdhah yang mempunyai ketentuan khusus. Karena itu, momentum Maulid dapat diisi dengan beragam kebaikan kebaikan. Membaca Al-Qur’an, membaca shalawat, mempelajari sirah, bersedekah, memberi makan, menyantuni fakir miskin, menyambung silaturahmi, dan beragam corak kebaikan lainnya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Pesan ini krusial lantaran yang kudu kita cari dari Maulid bukan sekadar corak acaranya, tetapi kebaikan yang lahir darinya. Jangan sampai kita sibuk memperdebatkan gimana Maulid dilaksanakan, tetapi lupa pada pesan utama yang hendak dicapai.
Jangan sampai kita memperdebatkan bentuknya, tetapi kehilangan kesempatan untuk memperbanyak sedekah, mempererat persaudaraan, dan menghidupkan kembali kecintaan kepada Rasulullah.
Terlebih lagi, kehidupan kita hari ini sering kali dipenuhi kesibukan dan beragam persoalan. Manusia mudah mengingat urusan dunia, tetapi mudah lupa kepada Allah dan Rasul-Nya. Karena itu, majelis Maulid dapat menjadi ruang untuk berakhir sejenak dari kesibukan dunia, lampau kembali mengingat sosok yang semestinya menjadi teladan utama dalam kehidupan kita.
Keempat, Maulid merupakan momentum dakwah untuk membujuk manusia menuju jalan Allah.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Pesan keempat ini tidak kalah penting. Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki memandang perkumpulan Maulid sebagai salah satu wasilah alias sarana untuk membujuk manusia menuju jalan Allah SWT. Artinya, Maulid tidak semestinya berakhir sebagai kegiatan seremonial. Ia kudu menjadi pintu dakwah.
Ketika umat berkumpul untuk memperingati Maulid, di situlah mereka dapat diajak mengenal kembali kehidupan Rasulullah. Bagaimana beliau beribadah. Bagaimana beliau memperlakukan keluarga.
Bagaimana beliau menyayangi anak-anak. Bagaimana beliau memperhatikan orang miskin. Bagaimana beliau menghadapi orang yang berbeda dengan dirinya. Bagaimana beliau mengampuni orang yang menyakitinya. Semua itu adalah pelajaran yang sangat berbobot bagi kehidupan kita.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Karena itu, Maulid semestinya melahirkan perubahan sosial. Orang yang datang dalam majelis Maulid bukan hanya pulang membawa rasa haru, tetapi juga membawa tekad untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Yang kaya semakin peduli kepada yang miskin. Yang kuat semakin melindungi yang lemah. Yang mempunyai kedudukan semakin amanah. Yang mempunyai pengetahuan semakin rendah hati. Dan setiap Muslim semakin menjaga hubungan baik dengan sesamanya.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Dari empat pesan tersebut, kita dapat memahami bahwa Maulid Nabi pada hakikatnya bukan sekadar tentang memperingati kelahiran Rasulullah SAW. Maulid adalah momentum untuk menghidupkan kembali cinta kepada Rasulullah, mengenal kehidupan beliau, dan menjadikan akhlaknya sebagai teladan dalam kehidupan kita.
Karena itu, jangan sampai Maulid hanya mengubah suasana masjid selama satu malam. Biarkan Maulid mengubah diri kita sepanjang tahun. Jangan hanya memperbanyak shalawat ketika berada di majelis Maulid, tetapi teruslah bershalawat dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan hanya menangis ketika mendengar kisah perjuangan Nabi, tetapi belajarlah meneladani kesabaran beliau ketika menghadapi persoalan hidup.
Semoga Maulid Nabi menjadi momentum yang menghidupkan hati kita. Semoga shalawat yang kita baca menjadi jalan tumbuhnya kecintaan kepada Rasulullah SAW. Dan semoga kecintaan itu mendorong kita untuk mengikuti sunnah serta meneladani adab beliau.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah II
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.
رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ
بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Tulisan ini disarikan dari tulisan Ustadz Nouval Maulana yang telah terbit di Bincang Syariah dengan titel 4 Pesan Penting Maulid Nabi dari Sayyid Alawi Al-Maliki