Khutbah Jumat Maulid Nabi: Meneladani Tiga Akhlak Utama Rasulullah SAWKincai Media– Saat ini kita berada di bulan Rabiul Awal, bulan yang setiap tahunnya menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Di Indonesia, peringatan Maulid Nabi telah menjadi tradisi keagamaan yang hidup di tengah Masyarakat. Khutbah Jumat Maulid Nabi: Meneladani Tiga Akhlak Utama Rasulullah SAW
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ، الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْإِسْلَامَ طَرِيقًا سَوِيًّا، وَوَعَدَ الْمُتَمَسِّكِينَ بِهِ وَالنَّاهِينَ عَنِ الْفَسَادِ مَقَامًا عَلِيًّا. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الْمُتَّصِفُ بِمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ كَبِيرًا وَصَغِيرًا. اللَّهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، الصَّادِقِ الْوَعْدِ، الَّذِي كَانَ رَسُولًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِينَ أَحْسَنُوا إِسْلَامَهُمْ، وَصَدَقُوا فِي إِيمَانِهِمْ، وَلَمْ يَفْعَلُوا إِلَّا خَيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ اللَّهُ، أُوصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. (آلِ عِمْرَانَ: ١٠٢)
Jamaah Khutbah Jumat maulid Nabi yang dimuliakan Allah
Setiap tahun, umat Islam memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Masjid dan majelis pengetahuan dipenuhi lantunan shalawat. Kisah kehidupan Rasulullah SAW kembali dibacakan. Nama beliau disebut dengan penuh cinta dan penghormatan.
Namun, ada satu pertanyaan yang perlu kita renungkan: Apa yang berubah dalam diri kita setelah memperingati Maulid Nabi? Apakah kita menjadi lebih jujur? Lebih sabar? Lebih penyayang?
Pertanyaan ini penting. Sebab mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan menyebut nama beliau dan memperbanyak shalawat. Cinta kepada Rasulullah kudu terlihat dalam perilaku.
Maulid Nabi semestinya menjadi momentum untuk belajar kembali kepada adab Rasulullah. Di antara begitu banyak keteladanan Rasulullah SAW, ada tiga adab yang sangat krusial untuk kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari: jujur dan amanah, sabar dan pemaaf, serta kasih sayang dan persaudaraan.
Jamaah Khutbah Jumat maulid Nabi yang dimuliakan Allah
Pertama: Jujur dan Amanah
Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang jujur jauh sebelum diangkat menjadi Nabi. Masyarakat Makkah memberikan beliau gelar Al-Amin, orang yang dapat dipercaya.
Gelar itu bukan pemberian lantaran beliau seorang Nabi. Gelar itu lahir dari pengalaman masyarakat yang memandang langsung gimana Rasulullah hidup, berbicara, dan memperlakukan orang lain.
Kejujuran adalah fondasi kehidupan. Tanpa kejujuran, tidak ada kepercayaan. Tanpa kepercayaan, family mudah retak, persahabatan rusak, perdagangan penuh kecurangan, dan kepemimpinan kehilangan wibawa.
Karena itu, kejujuran dalam Islam bukan hanya persoalan berbicara benar. Kejujuran juga berfaedah tidak menipu, tidak menyembunyikan kebenaran, tidak memutarbalikkan fakta, dan tidak menggunakan amanah untuk kepentingan pribadi.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ
Artinya; “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Anda berbareng orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119)
Perintah untuk menjadi orang yang betul menunjukkan sungguh pentingnya kejujuran dalam kehidupan seorang Muslim.
Hari ini, kejujuran menghadapi tantangan yang semakin besar. Di media sosial, orang dapat membikin info yang tidak betul terlihat seolah-olah benar. Judul dibuat sensasional. Berita dipotong. Pernyataan disebarkan tanpa konteks.
Kadang kita ikut menyebarkannya hanya lantaran sesuai dengan pandangan kita. Padahal, meneladani Rasulullah berfaedah belajar berakhir sejenak sebelum berbincang dan sebelum menyebarkan sesuatu.
Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini bakal menyakiti orang lain?
Kejujuran juga kudu datang dalam amanah. Ketika menjadi orang tua, kita mempunyai amanah. Ketika menjadi guru, kita mempunyai amanah. Ketika menjadi pegawai, pengusaha, pemimpin, alias pejabat, kita mempunyai amanah. Bahkan ketika mempunyai pengaruh di media sosial, kita juga mempunyai amanah.
Jamaah Khutbah Jumat maulid Nabi yang dimuliakan Allah
Kedua: Sabar dan Memaafkan
Akhlak kedua yang sangat krusial adalah kesabaran. Kehidupan Rasulullah SAW penuh dengan ujian. Dakwah di Makkah mendapat penolakan. Beliau dihina, diancam, apalagi disakiti. Para sahabatnya juga mengalami penderitaan.
Beliau kemudian kehilangan Abu Thalib dan Khadijah RA, dua sosok yang sangat berfaedah dalam perjuangan dakwahnya. Masa itu dikenal sebagai ‘Am al-Huzn, tahun kesedihan. Namun, Rasulullah tidak berhenti. Beliau tidak membalas keburukan dengan keburukan. Beliau tetap berceramah dan bersandar kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ
Artinya; “Maka bersabarlah, sesungguhnya janji Allah itu benar.” (QS. Ghafir: 55)
Kesabaran bukan berfaedah menyerah. Sabar berfaedah tetap berada di jalan yang betul meskipun keadaan tidak mudah. Dalam kehidupan sehari-hari, kesabaran juga sering diuji.
Kita diuji oleh perkataan orang lain. Diuji oleh persoalan keluarga. Diuji oleh pekerjaan. Diuji oleh keadaan ekonomi. Bahkan kadang kita diuji oleh orang yang justru kita percaya.
Di sinilah keteladanan Rasulullah menjadi penting. Beliau mengajarkan bahwa tidak setiap keburukan kudu dibalas. Ada saatnya kita kudu membalas dengan kebaikan. Ada saatnya kita kudu memilih diam. Ada saatnya kita kudu memaafkan.
Memaafkan bukan berfaedah membenarkan kesalahan. Memaafkan berfaedah tidak membiarkan keburukan orang lain menguasai hati kita.
Allah SWT berfirman:
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mengampuni kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang-orang yang melakukan kebaikan.”
(QS. Ali Imran: 134)
Jamaah Khutbah Jumat maulid Nabi yang dimuliakan Allah
Ketiga: Kasih Sayang dan Persaudaraan
Akhlak ketiga adalah kasih sayang. Rasulullah SAW datang bukan untuk menambah permusuhan, tetapi membawa rahmat. Allah SWT berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya; “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Kasih sayang Rasulullah tidak hanya ditunjukkan kepada family dan para sahabat. Beliau juga menunjukkan kasih sayang kepada masyarakat, apalagi kepada orang-orang yang berbeda dengan beliau.
Ketika berhijrah ke Madinah, Rasulullah tidak hanya membangun masjid. Beliau membangun persaudaraan. Kaum Muhajirin dan Ansar dipersaudarakan. Hubungan sosial ditata. Masyarakat yang sebelumnya terpecah diarahkan untuk hidup dalam kebersamaan.
Dari sini kita belajar bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan pribadi. Islam juga mengajarkan gimana membangun kehidupan bersama.
Hari ini, persaudaraan kita sering diuji oleh perbedaan. Berbeda pilihan politik. Berbeda organisasi. Berbeda pendapat. Berbeda langkah memahami persoalan.
Perbedaan sebenarnya bukan masalah. Yang menjadi masalah adalah ketika perbedaan membikin kita kehilangan kasih sayang.
Kita boleh berbeda pendapat tanpa saling menghina. Kita boleh berbeda pilihan tanpa memutus persaudaraan. Kita boleh mengkritik tanpa merendahkan. Dan kita boleh tidak setuju tanpa membenci.
Inilah salah satu adab Rasulullah yang kudu kita hidupkan kembali. Allah SWT menggambarkan kemuliaan Rasulullah SAW dengan firman-Nya:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau betul-betul beradab pekerti yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Ayat ini semestinya menjadi bahan renungan ketika kita memperingati Maulid Nabi. Rasulullah SAW mempunyai adab yang agung. Maka ukuran kecintaan kita kepada beliau bukan hanya seberapa sering kita menyebut namanya, tetapi sejauh mana adab beliau datang dalam kehidupan kita.
Jamaah Khutbah Jumat maulid Nabi yang dimuliakan Allah
Tiga adab ini bisa kita mulai dari tempat yang paling dekat: keluarga. Jujur kepada pasangan dan anak-anak. Sabar menghadapi kekurangan personil keluarga. Memaafkan kesalahan. Menyayangi tetangga. Menolong orang yang membutuhkan. Dan menjaga ucapan, termasuk di media sosial.
Jangan sampai kita giat membaca shalawat, tetapi tetap mudah menyakiti orang lain. Jangan sampai kita memuji adab Rasulullah, tetapi lisan kita dipenuhi celaan. Jangan sampai kita merayakan Maulid setiap tahun, tetapi tidak ada perubahan dalam perilaku kita.
Sebab keberhasilan Maulid bukan diukur dari seberapa meriah acaranya. Bukan pula dari seberapa banyak orang yang hadir. Ukuran yang lebih krusial adalah seberapa besar Maulid mengubah adab kita.
Jika setelah Maulid kita menjadi lebih jujur, lebih sabar, lebih mudah memaafkan, dan lebih peduli kepada sesama, maka Maulid telah menemukan maknanya.
Semoga Allah SWT menjadikan kita umat yang tidak hanya pandai mencintai Rasulullah SAW dengan lisan, tetapi juga bisa meneladani akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ، لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah II
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر. إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ
عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ