Kincai Media, JAKARTA— M manusia mendambakan hati yang tenang dan dada yang lapang. Namun tidak sedikit yang mencarinya di tempat yang keliru.
Ada yang mengira kebahagiaan lahir dari banyaknya harta, tingginya jabatan, alias berlimpahnya akomodasi hidup. Padahal Islam mengajarkan bahwa salah satu kunci kelapangan dada justru terletak pada kepedulian terhadap sesama.
Semakin seseorang doyan melakukan baik, membantu orang lain, dan menebar manfaat, semakin lapang pula hatinya.
Sebaliknya, semakin dia tenggelam dalam sifat egois, bakhil, dan hanya memikirkan dirinya sendiri, semakin sempit pula dadanya.
Sebab itulah, maka memenjaga hati agar terbebas dari dendam, kedengkian, dan kebencian. Rasulullah SAW adalah manusia yang paling menjaga kebersihan dan kesucian hatinya. Dalam doanya ketika sholat, beliau memohon:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ والْعَزِيمَةَ عَلَى الرُّشْدِ وأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ وحُسْنَ عِبَادَتِكَ وأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا ولِسَانًا صَادِقًا، وأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ
“Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan ini dan tekad yang kuat untuk menempuh jalan yang benar. Aku memohon kepada-Mu agar dapat mensyukuri nikmat-Mu dan memperbaiki ibadah kepada-Mu. Aku memohon kepada-Mu hati yang bersih dan lisan yang jujur. Aku memohon kepada-Mu segala kebaikan yang Engkau ketahui, dan saya berlindung kepada-Mu dari segala keburukan yang Engkau ketahui. Aku memohon maaf kepada-Mu atas segala dosa yang Engkau ketahui.” (HR an-Nasa’i no. 1287, dari Syaddad bin Aus).
Membersihkan hati dari kebencian juga merupakan salah satu karena datangnya kemenangan atas musuh. Allah Ta’ala berfirman:
هُوَ الَّذِي أَيَّدَكَ بِنَصْرِهِ وَبِالْمُؤْمِنِينَ * وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ
“Dialah yang menguatkanmu dengan pertolongan-Nya dan dengan orang-orang mukmin, dan Dia mempersatukan hati mereka.” (QS al-Anfal: 62–63).