Anak Menyalahkan Diri Sendiri karena Perceraian Orang Tua? Ini yang Harus Dilakukan

Insight Bunda Masa Kini oleh Waktu baca 8 menit 505x dilihat
Anak Menyalahkan Diri Sendiri karena Perceraian Orang Tua? Ini yang Harus Dilakukan

Bagikan Postingan

Anak menyalahkan diri sendiri karena perceraian orang tua? Kenali penyebabnya dan cara membantu anak memahami bahwa perceraian bukan kesalahannya.

Perceraian bukan cuma fluktuasi besar bagi Mommies dan Daddies. Bagi anak, keputusan orang tua untuk bercerai juga bisa menghadirkan banyak pertanyaan yang belum tentu gampang mereka ungkapkan.

“Apakah Mama dan Papa beramuk-amukan karena aku?”

“Kalau waktu itu aku lebih menurut, apa Mama dan Papa tidak jadi bercerai?”

“Jangan-jangan aku yang bikin Papa pergi?”

Kalau pernah mendengar kalimat seperti ini dari anak, jangan buru-buru menganggapnya sebagai pemikiran yang tidak masuk akal. Anak menyalahkan diri sendiri karena orang tua bercerai bisa terjadi, terutama pada anak yang statis kecil. Mereka belum selalu bisa memahami permasalahan orang dewasa secara utuh dan menghubungkan beragam insiden dengan diri mereka sendiri.

American Academy of Pediatrics (AAP) juga mencatat bahwa self-blame alias menyalahkan diri sendiri dapat muncul pada anak dalam situasi perceraian. Pada anak usia prasekolah, misalnya, mereka dapat berpikir bahwa mereka menyebabkan perpisahan orang tua.

Lalu, apa yang bisa dilakukan Mommies dan Daddies?

BACA JUGA: 10 Cara Menjelaskan Perceraian kepada Anak: Pertanyaan dan Jawabannya

Kenapa Anak Merasa Bersalah karena Perceraian Orang Tua?

Anak Menyalahkan Diri Sendiri karena Perceraian Orang Tua? Ini yang Harus Dilakukan

Foto: Gustavo Fring/Pexels

Bagi orang dewasa, penyebab perceraian mungkin terasa jelas: bentrokan yang sudah berlangsung lama, perbedaan prinsip, masalah komunikasi, alias beragam permasalahan rumah tangga lainnya.

Namun, anak belum tentu memiliki kemampuan untuk melihat situasi sekompleks itu.

Anak, terutama yang statis kecil, cenderung memahami dunia dari pengalaman yang dekat dengan dirinya. Karena itu, ketika melihat orang tua sering beramuk-amukan setelah dia berbuat sesuatu, alias mendengar percakapan yang tidak sengaja berangkaian dengan dirinya, anak bisa menarik kesimpulan bahwa dirinya adalah penyebab masalah.

Misalnya, anak bisa berpikir:

  • “Mama berang setelah aku dapat harga jelek.”
  • “Papa dan Mama beramuk-amukan karena aku nakal.”
  • “Kalau aku lebih baik, mungkin mereka tidak akan bercerai.”
  • “Aku harus membikin Mama dan Papa akur lagi.”

Padahal, perceraian adalah keputusan dan permasalahan orang dewasa, bukan tanggung jawab anak.

AAP merekomendasikan agar anak diberi klarifikasi yang sesuai dengan usianya dan diyakinkan bahwa dia tidak menyebabkan perceraian serta tidak memiliki tanggung jawab untuk “memperbaiki” afiliasi orang tuanya.

BACA JUGA: Anak Bertanya Soal Perceraian? Ini Cara Menjawab yang Dianjurkan Psikolog

Apa Dampak Perceraian Orang Tua pada Anak?

Perlu diingat, tidak semua anak akan memberitahu respons yang sama.

Ada anak yang menjadi lebih pendiam. Ada yang gampang marah, sulit tidur, lebih clingy, mengalami fluktuasi perilaku, alias justru kelihatan baik-baik saja.

Menurut Child Mind Institute, respons anak terhadap perceraian dapat berupa kecemasan, menarik diri, fluktuasi perilaku, regresi, hingga kesulitan berkonsentrasi. Anak juga dapat mengalami rasa bersalah dan berpikir bahwa dirinya ikut menyebabkan perceraian.

AAP juga mengklarifikasi bahwa fluktuasi perilaku dapat muncul pada tahun pertama setelah perpisahan. Pada anak usia sekolah, misalnya, self-blame, keinginan agar orang tua balik bersama, kemarahan, menarik diri, hingga penurunan performa di sekolah dapat terjadi.

Namun, ini bukan berarti setiap anak yang mengalami perceraian akan mengalami masalah kejiwaan jangka panjang. Anak memiliki kemampuan beradaptasi yang berbeda-beda, dan dukungan dari orang tua maupun lingkungan dapat membantu proses adaptasi mereka.

Foto: Boris Pavlikovsky/Pexels

Apa yang Harus Dilakukan Saat Anak Menyalahkan Dirinya?

1. Katakan dengan Jelas: “Ini Bukan Salah Kamu”

Jangan cuma menganggap anak akan memahami hal tersebut dengan sendirinya.

Ketika anak berkata, “Aku penyebab Mama dan Papa cerai, ya?”, jawab dengan kalimat yang sederhana dan tegas.

Mommies bisa mengatakan:

Tidak, Sayang. Perceraian Mama dan Papa bukan karena kamu. Kamu tidak berbuat sesuatu yang membikin Mama dan Papa bercerai.

Kalimat seperti ini mungkin perlu diulang berkali-kali.

Bukan karena anak tidak mendengar, tetapi karena dia sedang berupaya memahami fluktuasi besar dalam hidupnya. Child Mind Institute juga menyarankan orang tua untuk secara definitif meyakinkan anak bahwa perceraian bukan kesalahan mereka.

2. Dengarkan Dulu, Jangan Buru-Buru Membantah

Ketika anak berkata, “Aku sedih karena Papa pergi gara-gara aku,” respons pertama yang mungkin muncul adalah, “Enggak dong! Jangan mikir begitu!”

Wajar. Mommies pasti ingin segera menghilangkan rasa bersalahnya.

Tapi sebelum meyakinkan, coba beri ruang untuk anak bercerita.

“Kenapa Anda merasa begitu?”

“Apa yang membikin Anda berpikir Mama dan Papa bercerai karena kamu?”

Dengan begitu, Mommies bisa mengetahui apa yang sebenarnya ada di direktur anak.

Menurut American Psychological Association (APA), membangun komunikasi terbuka dan membikin anak merasa aman untuk beriwayat merupakan bagian krusial ketika anak sedang menghadapi kesulitan emosional.

BACA JUGA: Walkaway Wife Syndrome: Kenapa Suami Sering Kaget saat Istri Minta Cerai?

3. Jangan Memberikan Detail Konflik Orang Dewasa kepada Anak

Jujur kepada anak bukan berarti semua detail perceraian harus diceritakan.

Anak tidak perlu menjadi tempat curhat tentang perselingkuhan, masalah keuangan, bentrokan hukum, alias kesalahan mantan pasangan.

Mommies boleh mengklarifikasi bahwa Mama dan Papa memiliki masalah sebagai orang dewasa yang tidak bisa diselesaikan dengan statis tinggal bersama, tetapi hindari membikin anak merasa harus memilih pihak.

AAP menekankan pentingnya tidak menempatkan anak di tengah bentrokan orang tua. Ketika anak merasa harus memilih salah satu orang tua, mereka dapat mengalami rasa bersalah, sedih, dan marah.

4. Jangan Meminta Anak Menjadi “Penengah”

Ini termasuk ketika tanpa sadar kita berkata:

“Coba Anda bilang ke Papa agar jangan marah.”

“Atau Anda ingin Mama dan Papa balikan?”

“Kamu lebih pilih tinggal sama siapa?”

Anak tidak seharusnya diberi tanggung jawab untuk memperbaiki afiliasi kedua orang tuanya.

Kalaupun Mommies dan Daddies sudah tidak menjadi pasangan, anak statis membutuhkan kesempatan untuk menjadi anak, bermain, belajar, berteman, dan menjalani kesehariannya tanpa harus memikirkan bagaimana membikin orang tuanya balik bersama.

5. Jaga Rutinitas Anak Sebisa Mungkin

Setelah perceraian, banyak hal mungkin berubah: rumah, agenda berjumpa orang tua, sekolah, apalagi lingkungan tempat tinggal.

Karena itu, hal-hal yang statis bisa dibuat konsisten akan membantu anak merasa lebih aman.

Misalnya:

  • Jadwal sekolah tetap.
  • Jam tidur relatif konsisten.
  • Tetap berbuat aktivitas favorit anak.
  • Memberi tahu anak sebelumnya jika ada fluktuasi jadwal.
  • Memastikan anak tahu kapan akan berjumpa masing-masing orang tuanya.

Rutinitas yang terstruktur dapat membantu mengurangi kecemasan dan membikin anak lebih gampang memahami apa yang akan terjadi selanjutnya. Child Mind Institute juga menyarankan orang tua untuk mempertahankan rutinitas yang konsisten dan membikin fluktuasi yang terjadi terasa lebih dapat diprediksi bagi anak.

6. Pastikan Anak Tahu bahwa Kasih Sayang Orang Tua Tidak Ikut “Bercerai”

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi anak, kepastian seperti ini penting.

Mommies bisa mengatakan:

“Mama dan Papa tidak lagi menjadi suami istri, tapi kami statis Mama dan Papa kamu. Kami statis sayang Anda dan akan statis mengurus kamu.”

Anak mungkin akan menanyakan hal yang sama berkali-kali. Tidak apa-apa.

Bagi mereka, pengulangan bisa menjadi cara untuk mencari rasa aman di tengah situasi yang berubah. Anak juga membutuhkan kepastian bahwa mereka statis aman, dicintai, dan tidak berkewajiban atas keputusan orang tuanya.

BACA JUGA: Selain Selingkuh, Ternyata Ini 10 Penyebab Utama Perceraian!

Kapan Anak Perlu Dibantu Psikolog?

Rasa sedih, marah, bingung, alias merasa bersalah setelah perceraian bisa menjadi bagian dari proses penyesuaian. Namun, Mommies dan Daddies perlu lebih waspada jika fluktuasi emosi alias perilaku anak terasa semakin berat, menetap, alias mulai mengganggu kesehariannya.

Misalnya, anak:

  • Terus-menerus mengatakan dirinya penyebab perceraian.
  • Sangat menarik diri dari family alias teman.
  • Mengalami gangguan tidur alias makan yang menetap.
  • Mengalami penurunan signifikan di sekolah.
  • Menunjukkan kecemasan alias kesedihan yang berat.
  • Terus-menerus merasa berkewajiban untuk menyatukan orang tuanya.
  • Mengatakan dirinya tidak bermutu alias tidak ingin hidup.

Dalam kondisi seperti ini, jangan ragu berkonsultasi dengan psikolog anak, psikiater anak, alias master anak. AAP juga menyarankan orang tua untuk mencari bantuan ahli jika anak mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri alias ketika dukungan tambahan dibutuhkan.

Yang juga penting, jangan menunggu sampai anak “sudah tidak kuat” untuk mencari bantuan. Konsultasi bisa menjadi ruang bagi anak maupun orang tua untuk memahami apa yang sedang terjadi dan mencari cara menghadapi fluktuasi tersebut dengan lebih sehat.

Foto: Gustavo Fring/Pexels

Mommies, Anak Tidak Perlu Ikut Memikul Masalah Orang Dewasa

Saat orang tua bercerai, wajar jika Mommies dan Daddies sendiri sedang mengalami banyak emosi: sedih, marah, kecewa, bingung, alias apalagi lega.

Namun, di tengah semua itu, ada satu pesan yang perlu terus didengar anak:

“Ini bukan salah kamu. Kamu tidak perlu memperbaiki afiliasi Mama dan Papa. Dan Anda statis dicintai.”

Mungkin kalimat itu perlu disampaikan bukan sekali, tetapi berkali-kali.

Bagi anak, proses menerima perceraian bukan cuma tentang memahami bahwa Mama dan Papa tidak lagi tinggal bersama. Mereka juga perlu berguru bahwa fluktuasi dalam family tidak berarti kehilangan cinta, keamanan, alias tempat mereka sebagai anak.

Dan dalam proses tersebut, kedatangan orang tua yang ingin mendengarkan tanpa menghakimi bisa menjadi salah satu bentuk dukungan yang paling berarti.

Cover: cottonbro studio/Pexels
Artikel Lainnya Insight Bunda Masa Kini
↑
Close Right Ads
Close Left Ads