Antara Persalinan Caesar Dan Pervaginam, Mana Yang Sebenarnya Lebih Berisiko?

May 19, 2026 04:30 PM - 2 jam yang lalu 118

Jakarta -

Perdebatan tentang persalinan caesar vs pervaginam tetap sering menjadi pembahasan di kalangan ibu hamil. Sebagian orang menganggap operasi caesar lebih minim risiko, dan persalinan normal lebih sigap pemulihannya. Padahal, keduanya sama-sama mempunyai faedah dan akibat medis yang perlu dipahami.

Di media sosial, topik ini kerap memicu perdebatan. Beberapa orang menganggap caesar lebih kondusif lantaran terasa lebih terkontrol. Sedangkan sebagian menilai persalinan normal dianggap lebih baik.

Dalam bumi medis tak ada metode persalinan yang bebas risiko. Persalinan caesar maupun pervaginam masing-masing mempunyai faedah dan potensi risiko. Semua tergantung kondisi ibu dan bayi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), operasi caesar bisa menyelamatkan nyawa jika dilakukan lantaran indikasi medis tertentu. Tapi, persalinan caesar sebaiknya tidak dilakukan tanpa argumen medis yang jelas.

Lantas,  sebenarnya mana yang lebih berisiko antara persalinan caesar dan pervaginam?

Apa itu persalinan caesar dan pervaginam?

Persalinan melalui operasi caesar (DCS) adalah melahirkan melalui sayatan bedah di perut dan rahim ibu. Sedangkan persalinan pervaginam (VD) adalah proses melahirkan bayi melalui jalan lahir secara alami, melalui kontraksi otot rahim. Persalinan pervaginam mungkin lebih familiar dikenal dengan istilah persalinan alami alias normal.

Persalinan dengan operasi caesar menjadi prosedur yang dapat menyelamatkan nyawa ketika ibu alias bayi berisiko tinggi mengalami hasil yang buruk.

Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), operasi caesar biasanya dilakukan jika terdapat kondisi tertentu, seperti posisi sungsang, darurat janin, persalinan tidak mengalami kemajuan, masalah pada plasenta, kehamilan kembar, serta kondisi medis ibu yang membikin persalinan normal berisiko.

Dalam beberapa tahun terakhir, permintaan operasi caesar semakin umum. Bahkan di seluruh dunia, jumlahnya semakin meningkat.

Risiko persalinan caesar 

Operasi caesar termasuk operasi besar. Ini artinya, operasi caesar juga mempunyai sejumlah akibat medis yang perlu dipertimbangkan. Salah satu akibat persalinan caesar adalah komplikasi. Usia juga dapat meningkat akibat komplikasi pada operasi caesar. 

Pada ibu mengandung yang berumur 35 tahun alias lebih berisiko nyaris tiga kali lipat pada operasi caesar daripada persalinan normal. Dan akibat itu melonjak menjadi lima kali lipat jika menjalani operasi caesar sebelum persalinan dimulai.

ACOG menjelaskan beberapa akibat operasi caesar seperti:

  1. Rahim, organ panggul di dekatnya, alias sayatan kulit dapat terinfeksi.
  2. Kehilangan banyak darah, terkadang cukup banyak sehingga memerlukan transfusi darah. Dalam kasus yang sangat jarang, histerektomi mungkin perlu dilakukan jika perdarahan tidak dapat dikendalikan.
  3. Risiko pembekuan darah di kaki, organ panggul, alias paru-paru.
  4. Usus alias kandung kemih mungkin mengalami cedera.
  5. Mengalami reaksi alergi terhadap obat-obatan alias jenis anestesi yang digunakan.
  6. Persalinan sesar juga meningkatkan akibat untuk kehamilan di masa mendatang. Risiko ini termasuk masalah plasenta, ruptur rahim, dan histerektomi. Beberapa masalah plasenta dapat menyebabkan komplikasi serius.

"Karena risiko-risiko ini, persalinan caesar biasanya hanya dilakukan ketika faedah operasi lebih besar daripada risikonya," tulis ACOG dalam laman resminya.

Meski demikian, bukan berfaedah operasi caesar selalu lebih berbahaya. Dalam kondisi darurat tertentu, justru operasi caesar menjadi pilihan paling kondusif untuk menyelamatkan ibu maupun bayi.

Risiko persalinan pervaginam 

Sama halnya dengan persalinan yang juga berisiko. Terutama jika terjadi komplikasi selama proses melahirkan.

Beberapa akibat persalinan pervaginam antara lain:

  1. Robekan perineum.
  2. Perdarahan setelah melahirkan.
  3. Persalinan lebih lama.
  4. Cedera dasar panggul.
  5. Risiko bayi kekurangan oksigen jika persalinan bermasalah.

Namun, secara umum persalinan normal condong lebih sigap masa pemulihannya dibanding operasi caesar. Menurut ACOG, ibu yang melahirkan normal biasanya mempunyai akibat jangkitan lebih rendah, kehilangan darah lebih sedikit, dan masa rawat inap lebih singkat.

Persalinan caesar dan pervaginam, mana yang lebih aman?

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kedua metode persalinan bakal kondusif jika dilakukan sesuai kondisi medis. Namun, beberapa studi menemukan bayi yang lahir melalui operasi caesar elektif mempunyai akibat gangguan pernapasan lebih tinggi dibanding bayi yang lahir normal. Terutama jika dilakukan sebelum usia kehamilan cukup bulan.

Alasannya, proses persalinan normal diduga membantu mengeluarkan cairan dari paru-paru bayi saat melewati jalan lahir. Meski begitu, dalam kondisi tertentu seperti darurat janin alias plasenta bermasalah, operasi caesar justru dapat menurunkan akibat komplikasi serius pada bayi.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Selengkapnya