9 Perangkat Elektronik yang Bikin Tagihan Listrik Membengkak

Aug 11, 2026 11:05 AM - 1 jam yang lalu 8

Tagihan listrik di rumah tiba-tiba terasa lebih besar padahal pemakaian sehari-hari tidak banyak berubah, Bunda? Bisa jadi penyebabnya bukan hanya perangkat elektronik berkekuatan besar seperti kulkas, AC, alias mesin cuci.

Sejumlah perangkat yang terlihat sepele rupanya tetap menggunakan listrik meski sedang tidak digunakan. Kondisi ini semakin mudah terjadi di rumah yang sudah menggunakan banyak perangkat pintar.

Televisi, smart speaker, konsol gim, hingga charger ponsel bisa tetap menarik listrik ketika berada dalam mode siaga alias standby. Konsumsi setiap perangkat memang relatif kecil, namun jika jumlahnya banyak dan terus terhubung sepanjang hari, pemakaiannya dapat terakumulasi.


Ben Thomas, CEO sekaligus pendiri Gatby, menjelaskan smart device pada dasarnya memerlukan aliran listrik meski tidak sedang digunakan secara aktif. Hal tersebut diperlukan agar perangkat tetap terhubung ke jaringan dan dapat merespon perintah dengan cepat.

"Smart device sering kali tetap aktif untuk mendengarkan perintah alias mempertahankan hubungan jaringan. Kondisi ini menyebabkan konsumsi listrik tersembunyi alias yang sering disebut phantom power," ujar Thomas dilansir dari The Spruce.

Vincent Ambrose, Chief Commercial Officer FranklinWH, menambahkan bahwa kondisi tersebut juga dapat terjadi pada lampu pintar, modul colokan, dan speaker. Perangkat-perangkat itu memerlukan sedikit aliran listrik secara terus-menerus agar tetap terhubung dengan Wi-Fi, menunggu perintah, dan dapat menyala dengan cepat.

Perangkat elektronik yang bikin tagihan listrik membengkak

Berikut deretan perangkat elektronik yang sebaiknya Bunda perhatikan di rumah agar tagihan listrik tidak semakin membengkak.

1. Televisi

Televisi menjadi salah satu perangkat yang sering dibiarkan dalam kondisi standby. Sekilas, TV yang sudah dimatikan melalui remote memang tampak tidak bekerja. Namun selama tetap terhubung dengan sumber listrik, sebagian perangkat tetap mengonsumsi energi.

Data Utilita menunjukkan televisi yang dibiarkan dalam mode standby dapat menggunakan listrik sekitar £16,24 alias setara Rp391 ribu per tahun berasas tarif dalam riset tersebut. Sementara itu, menonton televisi selama lima jam tercatat menggunakan sekitar 3,7 pence alias setara Rp89 ribu.

Smart TV juga dapat memerlukan daya lebih besar dalam kondisi standby dibandingkan televisi biasa lantaran tetap menjalankan kegunaan jaringan tertentu. Thomas apalagi menyebut konsumsi beberapa smart TV dalam keadaan standby bisa mencapai acapkali lipat dibandingkan TV konvensional.

Untuk itu, jika televisi tidak bakal digunakan dalam waktu lama, terutama saat bepergian, Bunda bisa mempertimbangkan untuk mematikan sumber listriknya. Penggunaan stopkontak pandai alias smart power juga dapat membantu memutus aliran listrik dengan lebih praktis.

2. Konsol gim

Bunda punya anak yang doyan bermain PlayStation alias Xbox? Jangan hanya memperhatikan berapa lama konsol digunakan untuk bermain. Perangkat yang dibiarkan dalam mode standby juga tetap memerlukan listrik.

Berdasarkan penelitian Utilita, konsol gim seperti Xbox dan PlayStation menggunakan sekitar 10 watt ketika berada dalam kondisi standby. Dalam kalkulasi riset tersebut, konsumsi ini setara sekitar 4,45 pence alias setara Rp107 ribu per hari alias £16,24 alias setara Rp391 ribu per tahun.

Agar konsumsi tidak terus melangkah setelah sesi bermain selesai, pastikan konsol betul-betul dimatikan jika memang tidak bakal digunakan lagi dalam waktu dekat. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu mengurangi penggunaan listrik yang tidak perlu.

3. Laptop

Laptop yang sering menemani Bunda bekerja dari rumah rupanya juga bisa menjadi sumber konsumsi listrik meski sedang tidak aktif digunakan. Perangkat yang masuk ke mode idle tetap dapat menarik daya dalam jumlah tertentu.

Menurut informasi Utilita, penggunaan laptop selama lima jam memerlukan biaya listrik sekitar 6,96 pence alias setara Rp166 ribu. Sementara ketika berada dalam kondisi idle, perangkat dapat menggunakan sekitar 3 watt yang dalam kalkulasi tersebut setara sekitar 1,33 pence alias setara Rp32 ribu per hari alias £4,87 alias setara Rp117 ribu per tahun.

Jika laptop hanya ditinggalkan sebentar, mode sleep mungkin cukup praktis. Namun jika tidak digunakan dalam waktu lama, sebaiknya perangkat dimatikan sepenuhnya dan adaptor dilepas dari stopkontak.

Selain mengurangi konsumsi listrik, mematikan laptop secara berkala juga dapat membantu menjaga perangkat tetap bekerja secara optimal. Jadi, jangan biasakan membiarkannya menyala sepanjang malam hanya lantaran bakal digunakan kembali keesokan harinya.

4. Charger

Charger ponsel sering dianggap tidak memerlukan listrik ketika tidak sedang mengisi daya. Padahal adaptor yang tetap tertancap di setopkontak dapat menggunakan sedikit daya meski ponsel sudah dilepas.

Menurut informasi yang dikutip dari Utilita, charger yang dibiarkan terhubung ketika tidak digunakan dapat menambah sekitar 32 pence alias setara Rp770 ribu pada tagihan listrik dalam setahun. Jumlah tersebut memang tidak besar jika hanya ada satu charger.

Coba hitung berapa banyak charger yang ada di rumah, mulai dari charger ponsel, tablet, smartwatch hingga perangkat elektronik lainnya? Jika semuanya dibiarkan tertancap sepanjang waktu, konsumsi listrik mini tersebut dapat terakumulasi.

Adam Cain, master daya dari ElectricityRates, menyarankan penggunaan smart power strip yang dapat dimatikan dengan mudah. Cara paling sederhana tentu dengan mencabut charger setelah selesai digunakan, terutama jika perangkat tidak bakal dipakai dalam waktu lama.

5. Smart speaker

Speaker pandai memang memudahkan kegiatan di rumah. Bunda dapat memutar musik, mengatur alarm, alias memberikan perintah hanya dengan suara. Namun fitur tersebut membikin perangkat perlu tetap terhubung dan siap menerima perintah.

Speaker pandai diperkirakan memerlukan sekitar 2 watt ketika berada dalam kondisi standby. Berdasarkan kalkulasi Utilita, konsumsi tersebut dapat menambah sekitar £3,45 alias setara Rp83 ribu per tahun untuk setiap speaker.

Satu perangkat mungkin tidak terasa dampaknya. Namun gimana jika di rumah terdapat beberapa speaker pandai yang aktif sepanjang hari? Ditambah dengan smart televisi, lampu pintar, dan perangkat lain yang juga selalu terhubung, konsumsi listrik standby dapat semakin besar.

6. Kulkas lama

Kulkas memang kudu menyala sepanjang waktu untuk menjaga makanan tetap dingin. Namun jika perangkat yang digunakan sudah berumur sangat tua, konsumsi listriknya bisa menjadi pertimbangan tersendiri.

Nick Barber, salah satu pendiri Utilities Now, mengatakan lemari es yang berumur lebih dari 15 tahun mungkin perlu dievaluasi kembali. Menurutnya, lemari es lama dapat mengonsumsi hingga 1.000 unit listrik per tahun dengan biaya sekitar US$150 berasas tarif yang digunakan dalam perhitungannya.

"Selain konsumsi listrik yang tinggi, lemari es lama juga mungkin tidak bekerja secara optimal akibat masalah pada insulasi alias kompresor yang sudah tua," ujar Barber dilansir dari Real Simple.

Kondisi ini sering ditemukan pada lemari es kedua yang ditempatkan di kandang mobil alias ruang penyimpanan. Sebelum mengganti perangkat, Bunda dapat menghitung kembali biaya listrik tahunan dibandingkan nilai dan efisiensi lemari es baru. Salah satu pilihan yang dapat dipertimbangkan adalah lemari es dengan sertifikasi irit energi.

7. Printer

Printer di rumah biasanya tidak digunakan sepanjang hari. Namun perangkat ini sering dibiarkan menyala dan terhubung dengan listrik agar siap digunakan kapan saja.

Menurut informasi Utilita, printer yang tidak digunakan tapi tetap terhubung dengan listrik dapat mengonsumsi sekitar 4 watt. Dalam kalkulasi tersebut, penggunaan ini setara sekitar 1,78 pence per hari alias Rp42 ribu.

Nominalnya memang relatif kecil. Akan tetapi, jika printer hanya digunakan sesekali, tidak ada salahnya mematikannya setelah selesai mencetak dan mencabut sumber listriknya.

Kebiasaan tersebut juga dapat diterapkan pada beragam perangkat lain yang jarang digunakan. Prinsipnya sederhana, semakin sedikit perangkat yang terus berada dalam kondisi standby, semakin mini pula potensi konsumsi listrik tersembunyi di rumah.

8. Water heater

Mandi air hangat memang nyaman, terutama ketika cuaca sedang dingin. Suhu water heater yang terlalu tinggi dapat membikin perangkat bekerja lebih keras dan mengonsumsi daya lebih banyak.

Kate Colarulli, Chief Strategy Officer di CleanChoice Energy, menyarankan agar suhu pemanas air diperiksa dan tidak diatur terlalu tinggi. Ia merekomendasikan pengaturan sekitar 120 derajat Fahrenheit alias sekitar 49 derajat Celsius.

"Menurunkan suhu water heater hingga 120 derajat Fahrenheit dapat membantu menghemat daya sekaligus mengurangi akibat terkena air yang terlalu panas," kata Colarulli.

Pada water heater dengan tangki, air dipanaskan dan disimpan pada suhu tertentu secara terus-menerus. Artinya, semakin tinggi suhu yang ditetapkan, semakin besar pula pekerjaan yang kudu dilakukan sistem untuk mempertahankannya.

Dengan mengatur suhu secara bijak, bisa menjadi salah satu langkah sederhana mengurangi penggunaan daya tanpa kudu menghilangkan kebiasaan mandi dengan air hangat.

9. Perangkat dengan mode standby

Selain perangkat di atas, beragam elektronik rumah tangga yang mempunyai remote control, layar LED, alias adaptor juga patut diperhatikan. Televisi, cable box, perangkat streaming, microwave, coffee maker, hair dryer, hingga perangkat styling rambut dapat tetap menggunakan sejumlah mini listrik ketika tidak betul-betul diputus dari sumber listrik.

Barber menjelaskan, salah satu tanda perangkat tetap mengonsumsi daya meski terlihat meninggal adalah adanya remote control, layar LED, alias adaptor. Perangkat seperti ini dapat terus menggunakan listrik dalam jumlah mini ketika tidak sedang digunakan.

Konsumsi tersebut sering disebut phantom energy, vampire energy, alias standby energy. Adam Cain menyarankan penggunaan smart power strip alias mematikan perangkat secara manual ketika sudah tidak diperlukan. Dengan begitu, aliran listrik ke perangkat yang sedang menganggur dapat diputus secara otomatis alias langsung.

Cara mengurangi listrik yang terbuang percuma

Selain memperhatikan perangkat elektronik, Bunda juga dapat melakukan beberapa kebiasaan sederhana di rumah. Misalnya saja, mencabut charger setelah digunakan, mematikan konsol gim dan televisi sepenuhnya, serta menggunakan stopkontak pandai untuk perangkat yang sering berada dalam mode standby.

Jangan lupa memeriksa peralatan HVAC secara berkala. Dan Simpson, pemilik Air Treatment Heating and Cooling, mengatakan filter udara HVAC yang kotor dapat menjadi salah satu penyebab tersembunyi meningkatnya tagihan listrik.

"Ketika filter udara dipenuhi debu dan kotoran, sistem kudu bekerja lebih keras untuk mengalirkan udara. Akibatnya, konsumsi daya meningkat," ucap Simpson.

Menurutnya, filter udara yang kotor dapat meningkatkan biaya daya sekitar 10 persen hingga 20 persen tanpa disadari pemilik rumah. Ia menyarankan agar filter diperiksa setiap bulan dan diganti setiap satu hingga tiga bulan, tergantung jenis filter, tingkat debu, serta jumlah hewan piaraan di rumah.

Pada akhirnya, tidak semua smart device otomatis membikin tagihan listrik melonjak. Beberapa teknologi justru dapat membantu menghemat daya jika digunakan dengan tepat. Kuncinya, mengetahui perangkat mana yang betul-betul dibutuhkan dan mengurangi konsumsi listrik ketika perangkat sedang tidak digunakan.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(som/som)

Selengkapnya