Pernah nggak Bunda bayangkan sungguh luasnya bumi yang bisa dijelajahi Si Kecil lewat keahlian membaca dan menulis? Dua keahlian ini adalah fondasi dasar yang bakal dia pakai seumur hidupnya.
Tak bisa dipungkiri, dalam beragam lini kehidupan tentu memerlukan keahlian baca dan menulis, itulah kenapa kedua keahlian tersebut tidak boleh dilewatkan oleh anak-anak. Dengan membaca dan menulis, seseorang dapat menjalani beragam pekerjaan dengan lebih mudah dan lancar.
Sebaliknya, jika keahlian membaca dan menulis rendah, justru dapat merugikan diri sendiri lantaran bakal kehilangan banyak kesempatan.
Salah satunya ketika duduk di bangku sekolah, Bunda. Hampir seluruh kegiatan di sekolah memerlukan keahlian tersebut, mulai dari memahami soal, membaca kitab pelajaran, hingga menuliskan jawaban atas soal-soal yang diberikan.
Melansir dari World Literacy Foundation, ketika anak susah membaca alias menulis, mereka juga bakal susah memahami materi pelajaran, Bunda. Akibatnya, hasil belajar menjadi kurang maksimal dan prestasi akademik pun dapat menurun.
Hal ini tentu menjadi perhatian unik bagi setiap negara, karena keahlian membaca dan menulis yang rendah dapat berakibat luas, baik itu pada family maupun aspek lain, seperti ekonomi. Sehingga dapat dikatakan masalah ini bakal berakibat panjang jika tak segera diatasi.
Permasalahan rendahnya keahlian membaca dan menulis merupakan rumor dunia yang sangat serius. Sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), beragam negara telah berkomitmen untuk mengurangi 165 juta anak dengan buta huruf pada tahun 2030.
Namun, informasi terbaru justru menunjukkan adanya peningkatan sebesar 21 juta anak buta huruf, jauh dari prediksi sebelumnya. Bahkan, World Bank memperkirakan 70 persen anak di negara berpenghasilan rendah tidak bisa membaca dan memahami teks sederhana.
Tidak hanya pada anak-anak, keahlian membaca dan menulis yang rendah juga ditemukan pada golongan dewasa yang memengaruhi aspek politik, Bunda. Mengutip dari laman Universitas Hamburg, pada LEO PIAAC 2023 setidaknya ditemukan informasi sebagai berikut:
- Proporsi masyarakat dengan tingkat literasi rendah di Jerman berada pada nomor 20 persen, setara dengan 10,6 juta orang dewasa berumur 16-65 tahun.
- Terdapat kesenjangan kepercayaan pengaruh politik (efikasi diri politik) di Jerman pada orang dewasa yang tingkat literasinya rendah dan tinggi. 17 persen orang dengan literasi rendah percaya dan 33 persen orang dengan literasi yang lebih tinggi tidak percaya.
- Di Austria, orang dewasa yang literasinya tinggi dan rendah sama-sama merasa tidak didengar dalam perihal politik. Mayoritas warganya juga merasa bunyi mereka tidak dipedulikan oleh pemerintah.
- Sementara di Swiss, orang dewasa dengan literasi tinggi dan rendah sekalipun merasa punya pengaruh yang besar dalam politik. Sebanyak 42 persen merasa bunyi mereka didengar oleh pemerintah.
Tidak hanya berisiko menurunkan prestasi, rendahnya kedua keahlian tersebut dapat menimbulkan beragam akibat negatif bagi masa depan anak, Bunda. Berikut hal-hal yang kudu orang tua ketahui, dikutip dari laman World Literacy Foundation.
1. Terhambatnya kehidupan setelah sekolah
Anak dengan keahlian membaca dan menulis yang rendah mengalami beragam kesulitan di sekolah yang membuatnya sangat tertinggal dibandingkan kawan sebayanya. Selain berakibat pada hasil akademik, akibat putus sekolah juga sangat besar.
Apabila anak putus sekolah, tentunya mereka kandas untuk mendapatkan piagam sekolah. Tanpa piagam sekolah dan keahlian yang terbatas, mereka sangat berisiko menghadapi halangan yang lebih besar saat memasuki bumi kerja yang profesional.
2. Ekonomi
Hal ini tentunya juga bakal berakibat pada ekonomi, Bunda. Seperti yang kita tahu bahwa pendidikan berangkaian erat dengan tingkat kesejahteraan, sehingga keterbatasan dalam membaca dan menulis dapat menjebak seseorang dalam siklus kemiskinan.
Sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak juga disebabkan oleh masalah tersebut. Nantinya bakal berakibat pada rendahnya pendapatan, terbatasnya kesempatan kerja alias jenjang karier, hingga kesempatan untuk meningkatkan kualitas hidup.
3. Konsekuensi sosial dan emosional
Anak-anak yang mempunyai keahlian membaca dan menulis rendah mungkin bakal merasa malu, canggung, alias terisolasi. Emosi ini dapat menyebabkan kurangnya kepercayaan diri dan penilaian diri serta mengganggu mereka untuk terlibat dalam kegiatan sosial.
4. Kesehatan mental
Stress dan frustrasi akibat tidak bisa memahami banyak perihal yang berangkaian dengan tulisan dapat menyebabkan kekhawatiran hingga depresi. Ketidakmampuan untuk berkomunikasi alias mengekspresikan diri melalui referensi dan tulisan membikin mereka merasa kesenyapan dan terasingkan.
5. Keluarga
Kemampuan membaca dan menulis yang rendah dapat memberikan pengaruh domino dalam kehidupan, terutama pada keluarga. Misalnya, orang tua yang mempunyai keterbatasan tersebut kurang bisa mendukung pendidikan anak-anak mereka sehingga sang anak juga mengalami perihal serupa.
Demikian info mengenai gimana keahlian membaca dan menulis yang rendah pada anak usia sekolah bisa memengaruhi masa depannya. Semoga penjelasannya bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·