Bacaan Dzikir Malam JumatKincai Media – Malam Jumat adalah malam mulia. Seyogianya pun diisi dengan referensi dzikir malam Jumat. Pasalnya, siapa yang melazimi referensi dzikir di malam Jumat maka bakal diberikan pahala dan manfaat yang besar.
Kegiatan yang paling rutin dilaksanakan muslim adalah bersholawat (membaca dzikir) dan membaca qur’an, rerata waktu luangnya diisi dengan dua kegiatan tersebut. Selain untuk menghindari maksiat dan melakukan dosa, 2 kegiatan tadi sangat besar faedahnya. Sebutlah semisal membaca Al-Qur’an bahwa bakal diganjar berlipat-lipat, Rasulullah saw bersabda;
عَنْ عَبْد اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ رضى الله عنه يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم حرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ ».
“Abdullah bin Mas’ud Ra berkata: “Rasulullah Saw bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan referensi tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan saya tidak mengatakan alif lam mim satu huruf, bakal tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi, No. 2910)
Adapun kegunaan membaca sholawat, di antara faedahnya adalah sebagaimana yang diriwayatkan dalam redaksi berikut;
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً، صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحَطَّ عَنْهُ عَشْرَ خَطِيئَاتٍ “.
Barang siapa di antara umatmu yang bershalawat kepadamu sekali, maka Allah menuliskan baginya sepuluh kebaikan, dan menghapuskan dari dirinya sepuluh keburukan.” (HR. Imam Ahmad No. 11998)
Sebenarnya tetap banyak lagi dari kegunaan keduanya, keutamaannya berceceran di karya para ulama’. Lalu mana yang lebih utama, antara membaca Al-Quran alias sholawat? Mungkin yang terlintas dalam akal adalah Al-Quran, karena kalam-Nya Allah swt.
Namun rupanya ada pengecualian tertentu, persoalan ini dibahas oleh seorang elit kepercayaan dari kalangan Hanafiyyah, Ibnu Nujaim mengutip pendapat dari penganggit kitab Bughyah dengan mengatakan;
وَفِي الْبُغْيَةِ الصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فِي الْأَوْقَاتِ الَّتِي تُكْرَهُ فِيهَا الصَّلَاةُ وَالدُّعَاءُ وَالتَّسْبِيحُ أَفْضَلُ مِنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ. اهـ.
Dalam kitab al-Bughyah disebutkan bahwa membaca selawat pada Nabi saw. pada waktu-waktu yang dimakruhkan sholat, doa, dan membaca tasbih itu lebih utama daripada membaca Al-Qur’an. (Al-Bahr al-Raiq Syarh Kanz al-Daqaiq wa Minhat al-Khaliq, Juz 1 H. 264)
Jawaban senada juga diutarakan oleh elit kepercayaan dari kalangan Hanabilah, Al-Karmi mengatakan;
وَيَجِبُ حِفْظُ مَا يَجِبُ في صَلَاةٍ كَفَاتِحَةٍ، وَهُوَ أَفْضَلُ مِنْ سَائِرِ الذكْرِ، وَأَفْضَلُ مِنْ تَوْرَاةٍ وَإِنْجِيلٍ، وَبَعْضُهُ أَفْضَلُ مِنْ بَعْضٍ. وَيَتَّجِهُ: مَا وَرَدَ فِيهِ ذِكْرٌ خَاصٌّ أَفْضلُ مِنْ قِرَاءَةٍ.
“Wajib menghafal surat (al-quran) yang diwajibkan dalam sholat semisal surat al-fatihah, dan al-quran ini lebih utama dari pada dzikir (wirid). Juga lebih utama daripada kitab Taurat (kitab suci Nabi Musa As), Injil (kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Isa As).
Hanya saja terkadang ada dzikir yang lebih utama dari membaca al-quran, ialah dzikir yang warid alias khas, ialah dianjurkan oleh syariat. (Ghayat al-Muntaha fi Jam’ al-Iqna’ wa al-Muntaha, Juz 1 H. 209)
Keterangan ini dianotasi oleh Al-Rahibani, beliau mengatakan;
(وَهُوَ) ، أَيْ: الْقُرْآنُ (أَفْضَلُ مِنْ سَائِرِ الذِّكْرِ) ، لِقَوْلِهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ -: «يَقُولُ الرَّبُّ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى: مَنْ شَغَلَهُ الْقُرْآنُ وَذِكْرِي عَنْ مَسْأَلَتِي؛ أَعْطَيْته أَفْضَلَ مَا أُعْطِي السَّائِلِينَ. وَفَضْلُ كَلَامِ اللَّهِ تَعَالَى عَلَى سَائِرِ الْكَلَامِ كَفَضْلِ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ» رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ: حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ. لَكِنَّ الِاشْتِغَالَ بِالْمَأْثُورِ مِنْ الذِّكْرِ فِي مَحَلِّهِ، كَأَدْبَارِ الصَّلَوَاتِ؛ أَفْضَلُ مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فِي ذَلِكَ الْمَحَلِّ… إلى أن قال… (وَيَتَّجِهُ) أَنَّ صَرْفَ الزَّمَانِ فِي (مَا وَرَدَ) أَنْ يُتْلَى (فِيهِ) مِنْ الْأَوْقَاتِ (ذِكْرٌ خَاصٌّ) ، كَإِجَابَةِ الْمُؤَذِّنِ، وَالْمُقِيمِ، وَمَا يُقَالُ أَدْبَارَ الصَّلَوَاتِ، وَفِي الصَّبَاحِ وَالْمَسَاءِ، وَالصَّلَاةُ عَلَى النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – يَوْمَ الْجُمُعَةِ (أَفْضَلُ مِنْ) صَرْفِهِ فِي (قِرَاءَةِ) الْقُرْآنِ تَأَدُّبًا أَنْ يُفَضَّلَ شَيْءٌ عَلَيْهِ، وَهُوَ اتِّجَاهٌ حَسَنٌ، بَلْ مُصَرَّحٌ بِهِ فِي مَوَاضِعَ مِنْ كَلَامِهِمْ.
“Al-Quran lebih utama daripada dzikir, lantaran Rasulullah saw bersabda, bahwa Allah berfirman dalam sabda Qudsi-Nya ” Sesiapa yang menyibukkan dirinya dengan al-quran, niscaya saya bakal memberinya suatu perihal yang paling utama.
Dan keutamaannya al-Quran ini seperti halnya status Allah swt yang dibandingkan dengan makhluknya, ialah tidak sebanding. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi dan menurut beliau sabda ini berstatus Hasan Sahih.
Hanya saja menyibukkan diri dengan membaca dzikir yang diajarkan Rasulullah SAW dalam waktunya, seperti halnya dzikir ma’tsur pasca sholat, maka membacanya lebih utama daripada membaca Al-Quran dalam konteks tersebut.
Seyogyanya untuk membaca dzikir-dzikir tertentu dalam suatu waktu yang sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW, semisal menjawab adzan, iqomat, dzikir pasca sholat, dzikir pagi alias petang, dan membaca sholawat di hari jumat, maka yang demikian lebih utama dilakukan daripada membaca Al-Quran” (Al-Rahibani, Mathalib Ulinnuha fi Syarh Ghayat al-Muntaha, Juz 1 H. 603)
Dari beberapa keterangan di atas bisa ditarik konklusi bahwa membaca sholawat di malam jumat dan membaca dzikir di waktu-waktu tertentu lebih utama dari pada membaca Al-Quran, maka perhatikanlah perihal ini. Agar agar mendapatkan afdhaliyah, namun meski demikian jangan sampai menomorduakan Al-Quran, ialah keduanya kudu saling beriringan.
Selamat malam jumat, mari perbanyak referensi sholawat dan dzikir di malam Jumat. Allahumma sholli wa sallim ala sayyidina Muhammad wa alih. (Baca juga: Dzikir Setelah Shalat Hajat dari Imam Nawawi).
English (US) ·
Indonesian (ID) ·