Kincai Media , JAKARTA -- Di lingkungan pesantren, figur ustad begitu sentral, terutama dalam membina adab para santri. Pembinaan itu kadang kala dilakukan dengan penuh disiplin sehingga menjadikan mereka “takut.”
Namun, tidak semua ustad tampil dengan gambaran “angker". KH Ali Maksum adalah contohnya. Tokoh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta ini dipandang penuh sayang dan respek oleh para santrinya yang berjumlah ribuan orang. Baik di dalam maupun luar lingkungan pesantren, sang berilmu tidak pernah membeda-bedakan status sosial siapa pun; mulai dari penarik becak hingga pejabat.
Kiai Ali Maksum selalu ramah dan hangat terhadap orang-orang. Malahan, dia lebih suka dipanggil dengan julukan “Pak”—bukan “Kiai”, “Mbah”, alias julukan lainnya yang menandakan strata tinggi. Hal itu menandakan kecenderungannya yang egalitarian.
Kiai Ali selalu mengutamakan pendekatan perbincangan serta menyampaikan nasihat secara tulus melalui tutur kata yang baik. Tidak pernah sekalipun dia menyinggung emosi musuh bicara. Kepada mereka yang memerlukan pertolongan, ustadz kelahiran Lasem, Jawa Tengah, ini selalu siap membantu.
Mengutip tulisan Munawir Aziz yang dimuat situs Nahdlatul Ulama Cabang Klaten, KH Ahmad Mustofa Bisri adalah seorang yang pernah nyantri pada KH Ali Maksum. Sosok yang berkawan disapa Gus Mus itu mengungkapkan sungguh murah hati gurunya tersebut.
“Hanya di Pesantren Krapyak ini, santri (yang) kehabisan duit malah pinjam (kepada) kiainya. Dulu, di setiap perspektif pesantren dipasangi speaker timbal balik. Ketika Pak Ali ngendikan (bicara), bisa didengar santri dan begitu pun sebaliknya. Jadi, Pak Ali itu tahu semua polah tingkah santri-santri,” katanya.
“Jika ada santri yang canggung pinjam sama Pak Ali, santri itu bicara di dekat speaker. Bilang jika enggak punya uang. Masya Allah, Pak Ali mendengar keluhan santri tersebut (dan) langsung meminjaminya,” demikian kesaksian Gus Mus dalam kesempatan Haul ke-25 KH Ali Maksum di Krapyak, dilansir Nahdlatul Ulama Cabang Klaten.
Cerita lainnya cukup legendaris lantaran menunjukkan sungguh mulia adab sang kiai. Suatu ketika, ada dua orang santri usil yang kedapatan mencuri kelapa milik KH Ali Maksum. Mereka menjalankan tindakan pada malam hari yang sepi. Satu orang naik ke atas pohon, sedangkan seorang lainnya berhati-hati di bawah.
Tanpa disadarinya, Kiai Ali muncul dan kemudian melangkah mendekat. Remaja yang ada di bawah pohon kaget bukan kepalang. Dia pun lari tunggang langgang sebelum didatangi pak kiai. Senter yang dimilikinya terjatuh.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·