Kisah Pemimpin Muslim Di India Jadi Teladan Toleransi

May 13, 2026 08:45 PM - 1 jam yang lalu 58

Kincai Media , JAKARTA -- Peradaban Islam menampilkan contoh toleransi antarumat beragama. Sebagai contoh, kebijakan yang diambil Imperium Mughal. Pada masa jayanya, dinasti Muslim ini menguasai nyaris seluruh Anak Benua India.

Salah seorang pemimpinnya yang terkemuka adalah Abul Fatah Jalaluddin Muhammad. Penguasa yang masyhur bakal sikap tolerannya ini lebih dikenal dengan julukan Sultan Akbar. Ia memerintah sejak medio abad ke-16 hingga wafatnya pada 27 Oktober 1605.

Sultan Akbar mengerti betul karakter masyarakat India yang majemuk. Untuk menjamin ketenteraman rakyat dan stabilitas negara, dia merangkul kelompok-kelompok rajput Hindu. Pada 1579, dihapusnya patokan pajak atas golongan non-Muslim dzimmi, yang di dalamnya termasuk orang-orang Hindu.

Sultan Akbar juga menjalankan sistem birokrasi yang lebih menghargai meritokrasi, alih-alih kesamaan identitas suku dan agama. Maka dari itu, banyak penasihat kerajaan yang berasal dari kalangan Hindu serta non-Muslim lainnya.

Kebijakannya di tengah rakyat pun sarat nilai toleransi. Misalnya, orang-orang yang berperkara bakal diadili sesuai dengan kitab suci kepercayaan mereka masing-masing.

Dalam masa kekuasaannya, luas daerah Kesultanan Mughal bertambah tiga kali lipat dari semula. Semasa hidupnya, Sultan Akbar juga membangun banyak prasarana publik yang terbuka, tanpa memandang identitas agama. Ribuan sekolah dibangun untuk anak-anak Muslim maupun non-Muslim.

Pusat-pusat kerajaan berdiri di Agra, Fatehpur Sikri, dan Delhi. Semuanya menjadi mercusuar peradaban dunia. Para sarjana dari lintas kepercayaan dan mancanegara banyak yang hijrah ke Kesultanan Mughal untuk ikut mengembangkan pengetahuan pengetahuan.

Sultan Akbar meletakkan perhatian yang besar terhadap perkembangan sains. Ia memerintahkan pembangunan banyak perpustakaan di kota-kota seluruh daerah kekuasaannya.

Di Fatehpur Sikri, misalnya, sebuah perpustakaan besar dibangun unik bagi perempuan. Adapun perpustakaan pribadinya menyimpan lebih dari 24 ribu kitab yang multi-lingual, seperti bahasa Urdu, Sanskerta, Persia, Yunani, Latin, dan Arab.

Dengan digaji negara, para sarjana setempat aktif menerjemahkan banyak teks dari Sanskerta, Portugis, dan lain-lain ke dalam Persia--bahasa resmi Kesultanan Mughal. Di antara teks besar yang sukses dialihbahasakan adalah epos Mahabharata dan Ramayana. Bahkan, Sultan Akbar sendiri terlibat dalam kegiatan translator itu.

Selengkapnya