Perbincangan tentang kapan terjadinya lailatul qadar selalu menjadi bahan obrolan panas di setiap Ramadan. Ada sebagian yang melakukan penelitian tertentu dengan memandang tanda alam, ada yang menghitung tanggal berasas riwayat salaf, alias apalagi mengaku memandang malaikat Jibril turun kepadanya memberitahukan malam itu lailatul qadar. Ini semua adalah kejadian yang terjadi di masyarakat. Hal ini tidak sekadar meramaikan suasana Ramadan, tetapi bisa berkonsekuensi kepada iktikad seorang muslim.
Oleh lantaran itu, penentuan lailatul qadar menjadi krusial bagi kaum muslimin. Bukan hanya sekadar motivasi untuk meningkatkan amal, tetapi tentang gimana seorang muslim hendaknya berinteraksi dengan perkara gaib. Selain itu, terdapat faidah etika berinteraksi dengan ayat dan riwayat.
Mulai mencari lailatul qadar pada paruh kedua Ramadan
Terdapat banyak pendapat dari kalangan ustadz salaf mengenai kapan terjadinya lailatul qadar. Dalam Lathaiful Maarif, Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beragam riwayat bahwasanya para ustadz terdahulu mulai mencari lailatul qadar dari paruh kedua bulan Ramadan. Artinya, dari malam ke-15 sudah ada dari kalangan para sahabat yang memfokuskan diri meningkatkan ibadah malam Ramadannya. Di antaranya adalah Ubay bin Kaab mendasari perbuatannya melakukan qunut di witir pada paruh kedua Ramadan lantaran berambisi datangnya lailatul qadar. Ibnu Rajab rahimahullah menilai ini didasarkan pada hadis,
رأيتُها ونسِيتُها ، فتحَرَّها في النِّصْف الأواخر
“Aku mengetahuinya, lampau melupakan kapannya, jadi carilah dia di separuh terakhir Ramadan.” (HR. Thabrani, sebagian nukilan matan-nya didapatkan pula pada riwayat Muslim)
Namun, setelah perintah ini, Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk mencari di malam ke-23.
Salah satu pendapat kuat di luar 10 malam terakhir adalah malam ke-17 Ramadan, lantaran banyak dikaitkan dengan peristiwa besar di sejarah Islam. Kejadian besar yang terjadi di malam ke-17 adalah peristiwa perang Badr yang menjadi momentum kemenangan kaum muslimin atas kaum kuffar Quraisy.
Juga terdapat atsar dari Ibnu Mas’ud yang dinilai marfu’ oleh Ibnu Rajab, tetapi dilemahkan sebagian ulama,
اطْلُبُوها ليلةَ سبْعَ عشْرَةَ مِن رَمَضانَ، وليلةَ إحدَى وعشرين، وليلَةَ ثلاثٍ وعشرين
“Aku mencarinya pada malam ke-17 Ramadan, malam ke-21, dan malam ke-23.” (HR. Abu Dawud no. 1384, dinilai hasan. Al-Mundziri memberikan komentar pada perawinya, ialah Hakim bin Saif, sebagai tokoh yang diperbincangkan)
Namun, semua riwayat ini lemah. Akan tetapi, ada sebagian riwayat yang menyebut para salaf melakukannya. Apakah ini bertentangan? Jawabannya tidak. Lantas gimana langkah menyikapinya?
Baca juga: Kapan Malam Lailatul Qadar Tahun Ini?
Bagaimana menyikapi riwayat lemah berangkaian lailatul qadar?
Simaklah keterangan Ibnu Rajab rahimahullah berikut,
وأيضًا فكُلُّ زمانٍ فاضلٍ من ليلٍ أو نهارٍ، فإنّ آخِرَه أفضَلُ من أوَّلِه، كيومِ عَرَفَةَ، ويوم الجُمُعة. وكذلك اللَّيلُ والنَّهار عمومًا؛ آخِرُهُ أفضَلُ من أوَّلهِ. ولذلكَ كانت الصلاةُ الوسطى صلاةَ العَصْر، كما دلَّت الأحاديثُ الصَّحيحةُ عليه، وآثارُ السَّلفِ الكثيرة تدُلُّ عليه. وكذلك عشْرُ ذي الحجة والمحرم؛ آخِرُهُما أفضَلُ من أوَّلهما
“Alasan lainnya adalah setiap waktu itu utama, baik siang alias malam. Sedang bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya, misalnya hari Arafah dan hari Jumat. Begitu pula di seluruh waktu malam maupun siang secara umum, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya. Oleh lantaran itu, salat pertengahan alias salat wushtha itu adalah salat Asar berasas hadis-hadis sahih yang ada dan atsar-atsar dari para salaf. Begitu juga sepuluh hari pertama bulan Zulhijah dan Muharam, bagian akhirnya selalu lebih utama daripada bagian awalnya.” (Lathaiful Maarif, hal. 176)
Artinya, perbuatan para ustadz terdahulu ini dalam konteks semakin mendekati akhir, mereka semakin meningkatkan tarikan gas amal. Inilah pesan yang mau kami sampaikan. Bukan menekankan kepada ibadah berbasis sabda lemah, tetapi gimana kultur yang terbentuk di kalangan salaf terdahulu dalam mencari lailatul qadar.
Nabi ﷺ pun melakukan iktikaf dan mengejar malam semenjak paruh kedua Ramadan. Namun, dalam riwayat yang sahih, dijelaskan Nabi ﷺ memerintahkan untuk mencari di 10 malam terakhir. Ibnu Rajab rahimahullah menjelaskan bahwa riwayat ini semua menunjukkan bahwasanya Nabi ﷺ belum mendapatkan isyarat bahwa lailatul qadar datang di 10 malam terakhir. Ketika sudah mendapatkan wahyu tersebut, maka Nabi ﷺ pun memerintahkan untuk meningkatkan kebaikan di 10 malam terakhir.
Dan beragam riwayat yang menyebut Nabi ﷺ tidak tidur di 10 malam terakhir pun tak lepas dari kritik sanad. Sehingga yang mau kita tekankan adalah gimana suasana mengejar malam kemuliaan itu dibangun. Kritik yang mengenai riwayat-riwayat ini tidak melemahkan pesannya untuk meningkatkan kualitas dan jumlah kebaikan di paruh akhir.
Sebab, yang terefleksikan dari perbuatan masyarakat Madinah misalnya, mereka mengencangkan semangat beramalnya sejak 17 Ramadan, sebagaimana dinukilkan oleh Imam Ahmad rahimahullah. Begitupula ada sebagian yang mengkhususkan mencari di malam tersebut, di antara masyarakat Mekah dan Madinah. Begitupula pendapat Qadhi Abu Yusuf dan Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani yang menilai bahwa lailatul qadar dicari di paruh kedua Ramadan tanpa ditentukan pastinya di hari ke berapa.
Semuanya menyimpulkan bahwa pesan kuncinya adalah antusias mengejar lailatul qadar sedini mungkin.
Namun, jika tulisan ini hanya berakhir sampai sini, maka ini bakal mengecewakan para pembaca yang menuntut jawaban dari pertanyaan pada titel tersebut. Oleh lantaran itu, kita bakal membahas gimana para salaf terdahulu merekam tanda-tanda lailatul qadar.
Tanda malam lailatul qadar
Terdapat beberapa qarinah (indikasi) yang menunjukkan terjadinya lailatul qadar pada malam yang mempunyai ciri-ciri alias rumus-rumus ini. Tujuannya bukan memastikan, tetapi menghimpun ciri-ciri yang dilihat oleh para salaf terdahulu pada lailatul qadar. Perbuatan ini mengejawantahkan karakter yang Allah ﷻ sebutkan di dalam Al-Quran.
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Keselamatan terjadi sampai akhir terbitnya fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)
Tanda-tanda tersebut berupa riwayat yang sahih datang dari Nabi ﷺ berangkaian waktu, dan juga suasana yang terjadi. Terdapat pula riwayat pengalaman dan pengamatan para salaf setelah era Nabi ﷺ.
1) Udara terasa sejuk, tenang, dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah ﷺ bersabda,
ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء
“[Malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya sinar sinar mataharinya melemah kemerah-merahan.” (HR. At-Thayalisy no. 349, Ibnu Khuzaimah 3: 231, Bazzar 1: 486, dan dihasankan oleh Syekh Ali Hasan Al-Halabi)
2) Matahari pada pagi harinya bening dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,
صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع
“Pagi hari malam lailatul qadar, mentari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bajan hingga meninggi.” (HR. Muslim no. 762)
3) Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beragama lantaran Jibril ‘alaihissalam dan para malaikat turun pada malam tersebut. Allah ﷻ berfirman,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
“Pada malam itu, turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril.” (QS. Al Qadar: 4).
Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang bakal turun pada lailatul qadar lantaran banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat.”
Dari semua tanda di atas, kita tidak mengetahui dengan pasti kapan malam lailatul qadar terjadi. Semuanya hanyalah tanda yang tidak bisa kita pastikan. Inilah jawaban akhirnya: tidak ada langkah menentukan malam lailatul qadar secara pasti.
Namun, tentunya ada hikmah dari perbuatan Allah ﷻ menjadikan lailatul qadar sebagai rahasia bagi hamba-Nya.
Apa hikmah dirahasiakannya malam lailatul qadar?
Hikmahnya adalah agar kita sapu bersih setiap malam di bulan Ramadan. Hanya saja isyarat-isyarat ini bakal mendorong kita untuk menentukan momentum menekan gas kebaikan kita mulai kapan. Praktik Nabi ﷺ dan para sahabat yang mulia adalah demikian, mereka tidak membeda-bedakan secara ekstrem hari-hari mulia di bulan Ramadan. Sebagaimana prinsip yang dikemas oleh Ibnu Rajab rahimahullah,
“Hari-hari di Ramadan sama mulianya dengan malam Ramadan. Dan semakin mendekati ujung suatu momentum, maka semakin istimewa.”
Jadilah kita hamba Allah ﷻ yang menyembah-Nya kapan saja dan lantaran argumen Dialah Zat yang berkuasa disembah. Bukan lantaran sekadar hari istimewa. Hari-hari spesial adalah kemurahan Allah ﷻ untuk memotivasi kita lebih semangat beramal. Dan tentu, sangat mudah bagi logika kita menerima kebenaran bahwa: pelari yang berlatih 30 hari bakal lebih berkuasa meraih podium juara dibandingkan orang biasa yang baru berlari di momen perlombaan tersebut.
Pilihan ada di tangan Anda: menjadi pelari yang terlatih alias menjadi orang biasa yang baru mencoba berlari di hari perlombaan?
Baca juga: Untung Besar di Malam Lailatul Qadar
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Kincai Media
Catatan kaki:
Seluruh catatan ini merujuk kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian sabda ini berasas catatan muhaqqiq.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·