Ada sesuatu yang menarik ketika Charli XCX akhirnya mengalami salah satu momen terbesar dalam kariernya lewat “Brat” pada 2024. Ia bukan pendatang baru, bukan pula artis yang tiba-tiba muncul setelah satu lagu viral. Ketika album tersebut dirilis pada Juni 2024, Charli telah menjalani lebih dari satu dasawarsa di industri musik, pernah berada di kembali “I Love It” milik Icona Pop, menyanyikan salah satu hook pop paling terkenal pada “Fancy” berbareng Iggy Azalea, mempunyai hit solo “Boom Clap”, dan apalagi sudah meraih album nomor satu di Inggris melalui “Crash” pada 2022.
Namun “Brat” terasa seperti terobosan yang berbeda dari semua pencapaian sebelumnya. Charli tidak mendapatkannya dengan memperhalus musik agar lebih mudah diterima publik. Ia justru semakin masuk ke daerah yang selama bertahun-tahun membentuk identitasnya: club music, produksi elektronik yang agresif, lawakinternet, estetika DIY, serta lirik yang tidak takut memperlihatkan kecemburuan, ego, insecurity, ambisi, kesedihan, dan pertentangan personal.
Paradoksnya, semakin jauh Charli bergerak dari gambaran konvensional tentang seorang pop star, semakin besar pula pengaruhnya terhadap budaya pop mainstream.
“Brat” masuk Billboard 200 di posisi ketiga dengan 82.000 equivalent album units pada pekan pertamanya, yang pada saat itu menjadi debut tertinggi dalam pekerjaan Charli di Amerika Serikat. Album tersebut kemudian berkembang menjadi kejadian “Brat Summer”, memenangkan tiga Grammy pada 2025, melahirkan beragam remix besar, dan menembus percakapan budaya jauh melampaui musik.
Namun pencapaian terpenting dari era “Brat” mungkin bukan terletak pada nomor penjualan, chart, maupun penghargaan. Karier Charli memperlihatkan gimana arti mengenai seorang pop star berubah. Menjadi bintang pop sekarang tidak selalu berfaedah menjadi figur yang paling aman, paling universal, alias paling mudah disukai. Dalam ekosistem budaya digital, seseorang justru dapat menjadi semakin besar dengan mempertahankan identitas yang sangat spesifik.

Pop Star yang Tidak Pernah Sepenuhnya Mainstream
Sejarah pop modern mempunyai pola yang cukup familiar. Seorang artis ditemukan, dikembangkan label, mendapatkan lagu hit, membangun gambaran yang mudah dipasarkan, kemudian memperbesar audiens melalui radio, televisi, tur, media massa, dan belakangan media sosial. Dalam model tersebut, keberhasilan biasanya diukur melalui keahlian seorang artis bergerak dari subkultur menuju pusat budaya mainstream.
Charli XCX datang dari jalur yang lebih berantakan.
Charlotte Aitchison mulai mengunggah musik ke MySpace ketika tetap remaja. Dari sana, dia mendapat kesempatan tampil di pesta dan rave London sebelum akhirnya memasuki industri rekaman profesional. Latar tersebut krusial lantaran kultur rave bukan sekadar catatan biografis dari masa mudanya. Energi club, musik elektronik, eksperimen, dan semangat DIY terus menjadi bagian dari langkah Charli memandang pop apalagi setelah dia masuk major label.
Ironisnya, Charli juga membuktikan sejak awal bahwa dia bisa memainkan permainan pop konvensional dengan sangat baik. Ia ikut menulis “I Love It” yang kemudian menjadi hit besar Icona Pop. Kolaborasinya dengan Iggy Azalea melalui “Fancy” menjadi salah satu single terbesar 2014. “Boom Clap” juga menempatkannya di daerah yang jauh lebih mainstream.
Dalam logika industri, fase tersebut semestinya menjadi awal dari transformasi menuju pop superstar yang lebih konvensional. Charli sebenarnya mempunyai semua komponen yang dibutuhkan untuk menempuh jalur tersebut. Namun setelah mencicipi keberhasilan mainstream, dia justru mulai menarik musiknya ke arah yang semakin eksperimental.
Kolaborasinya dengan SOPHIE dan A. G. Cook menjadi titik penting. EP “Vroom Vroom” pada 2016 terdengar jauh lebih keras, metalik, ekstrem, dan futuristik dibandingkan pop yang sebelumnya melekat pada namanya. Setelah itu muncul mixtape “Number 1 Angel” dan “Pop 2” pada 2017, album “Charli” pada 2019, serta “How I’m Feeling Now” pada 2020.
Melalui fase ini, Charli ikut mendorong pendapat bahwa pop tidak kudu menjadi produk yang dipoles sampai seluruh sisi kasarnya menghilang. Pop bisa terdengar sintetis, abrasif, berlebihan, apalagi sengaja tidak nyaman. Dalam beberapa tahun berikutnya, sejumlah karakter tersebut kemudian semakin dikenal publik melalui istilah hyperpop, meskipun skena dan istilah tersebut tentunya jauh lebih besar daripada Charli sendiri.
Hal yang dulu terasa seperti pinggiran pop perlahan bergerak semakin dekat ke pusatnya.
Hidup di Antara Underground dan Mainstream
Posisi Charli selama bertahun-tahun cukup susah dikategorikan. Ia terlalu terkenal untuk disebut artis underground, tetapi untuk waktu yang lama juga tidak mempunyai posisi komersial sebesar Taylor Swift, Beyoncé, Ariana Grande, alias Dua Lipa. Ia bisa menulis lagu pop yang sangat mudah diterima publik, tetapi karya pribadinya sering kali justru bergerak ke daerah yang lebih eksperimental.
Dalam wawancara menjelang “Brat”, Charli pernah menggambarkan dirinya berada dalam kondisi semacam terkenal tetapi tidak sepenuhnya menjadi superstar. Posisi tersebut menarik lantaran sesuatu yang pada era sebelumnya mungkin terlihat sebagai kegagalan strategi justru menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam kariernya.
Ia tetap mempunyai akses terhadap prasarana industri besar, tetapi tidak kehilangan kredibilitas dari organisasi club dan musik alternatif. Ia bisa bekerja-sama dengan nama-nama pop besar, sementara pada saat berbarengan tetap bekerja dengan produser yang berada di garis depan musik elektronik eksperimental.
Selama beberapa dekade, industri musik sering memperlakukan mainstream dan underground sebagai dua kutub yang berlawanan. Seorang artis biasanya dianggap kudu memilih. Jika mau menjadi besar, dia perlu menyesuaikan bunyi dengan pasar yang lebih luas. Jika mempertahankan eksperimen, dia mungkin mendapatkan kredibilitas tetapi tidak skala komersial.
Charli menunjukkan bahwa pemisah tersebut semakin tidak relevan.
Dalam ekonomi musik yang digerakkan streaming, niche communities, algoritma, fandom online, dan budaya internet, seorang artis tidak kudu menjadi terkenal bagi semua orang untuk mempunyai pengaruh besar. Ia hanya perlu menjadi sangat berfaedah bagi organisasi yang cukup aktif, kemudian membangun bumi budaya yang bisa menyebar keluar dari organisasi tersebut.
“Brat” adalah titik ketika strategi itu mencapai skalanya yang paling besar.

“Brat” dan Penolakan terhadap Kesempurnaan Pop
Sampul “Brat” menjadi contoh paling sederhana untuk memahami pergeseran ini. Alih-alih menampilkan foto glamor, produksi visual mahal, alias pose superstar yang dirancang untuk menjadi poster ikonik, album tersebut hanya menggunakan bagian hijau terang dengan tulisan “brat” beresolusi rendah di tengahnya. Secara visual, desainnya nyaris terasa seperti anti-album-cover: sederhana, kasar, sedikit buruk, dan apalagi bisa terlihat seperti file sementara yang belum selesai.
Kesederhanaan itu justru menjadi kekuatannya. Pada saat budaya visual digital semakin dipenuhi foto ultra-HD, kampanye brand yang dikurasi berlebihan, serta gambaran selebritas yang tampak terlalu sempurna, “Brat” terlihat seperti penolakan terhadap seluruh logika tersebut. Desainnya tidak meminta audiens untuk mengagumi sebuah gambar yang tak terjangkau, tetapi memberi mereka template yang mudah ditiru.
Dalam waktu singkat, internet melakukan sisanya. Brand mengubah identitas visual mereka menjadi hijau. Pengguna media sosial membikin meme menggunakan tipografi yang sama. Kalimat apa pun bisa ditempatkan di atas latar hijau dan segera dipahami sebagai referensi kepada Charli. Warna tertentu apalagi tidak lagi sekadar menjadi warna; dia berubah menjadi simbol sebuah musim budaya.
Vogue Business mencatat bahwa hanya sekitar sebulan setelah album dirilis, kejadian “Brat” telah menghasilkan sekitar US$22,5 juta dalam Media Impact Value menurut Launchmetrics. Lebih menarik lagi, kreasi yang sengaja terlihat murah dan tidak sempurna tersebut kemudian memenangkan Grammy Award untuk Best Recording Package pada 2025.
Kontradiksi itu menjelaskan sebagian daya tarik Charli. Ia bisa mengambil komponen yang secara tradisional dianggap tidak cukup premium untuk sebuah proyek pop besar, kemudian justru mengubahnya menjadi identitas visual yang lebih kuat daripada banyak kampanye dengan anggaran jauh lebih besar.
Ketika Pop Star Menjadi Pencipta Bahasa Budaya
Kesuksesan “Brat” juga memperlihatkan bahwa dalam budaya pop kontemporer, single hit bukan lagi satu-satunya ukuran dominasi.
Pada era radio, lagu adalah pusat gravitasi sebuah era musik. Pada masa kejayaan MTV, video musik mempunyai kegunaan yang nyaris sama pentingnya. Streaming kemudian mengubah konsumsi musik menjadi lebih tersebar, sehingga sebuah album alias artis tidak selalu memerlukan satu single raksasa untuk mendominasi percakapan.
“Brat” menjadi contoh ekstrem dari perubahan tersebut.
Variety mencatat bahwa album ini sudah menjadi kejadian budaya besar meskipun pada fase awalnya tidak mempunyai satu breakout single yang sepenuhnya menjelaskan skalanya. Yang menyebar bukan hanya lagu, melainkan keseluruhan bumi di sekeliling album: meme, fashion, pesta, tipografi, dance, remix, slang, dan sikap yang kemudian diasosiasikan dengan kata “brat”.
Pada titik tertentu, “brat” berakhir menjadi sekadar titel album. Ia menjadi adjective.
Seseorang, style berpakaian, pesta, apalagi kandidat politik sempat diberi label tersebut. Fenomenanya menunjukkan bahwa pop star modern tidak selalu kudu menciptakan satu produk yang dikonsumsi massal. Ia bisa menciptakan sebuah bahasa budaya yang kemudian digunakan publik untuk berkomunikasi satu sama lain.
Penelitian akademik mengenai kampanye album ini apalagi memandang “Brat” melalui konsep transmedia narrative dan participatory culture. Identitas album tidak berakhir pada musik, tetapi berkembang melalui partisipasi audiens di beragam platform.
Di sinilah arti fandom berubah. Audiens bukan hanya membeli produk alias mendengarkan lagu. Mereka ikut memperluas bumi yang dibangun artis.

Lea Garn / Courtesy of Boiler Room
Boiler Room dan Club Culture sebagai Pusat Pop
Beberapa bulan sebelum perilisan “Brat”, Charli sudah memberi petunjuk mengenai arah era barunya melalui kegiatan PARTYGIRL di Boiler Room, Brooklyn, pada Februari 2024.
Menurut laporan GQ, sekitar 25.000 orang melakukan RSVP untuk kegiatan dengan kapabilitas hanya sekitar 400 orang. Secara ekonomi, nomor tersebut tampak absurd. Jika tujuan utamanya hanya menjual tiket sebanyak mungkin, sebuah konser arena tentu jauh lebih efektif. Namun kegunaan kegiatan itu bukan sekadar konser. Ia adalah pernyataan positioning.
Charli memperkenalkan daya era barunya bukan melalui konvensi pers, penampilan televisi, alias kampanye pop konvensional, tetapi lewat sebuah ruang yang secara historis diasosiasikan dengan club culture dan electronic music. Ia menempatkan dirinya bukan sebagai superstar yang berdiri jauh di atas penonton, tetapi sebagai bagian dari lingkungan pesta yang lebih cair antara DJ, performer, kolaborator, dan audiens.
Pendekatan tersebut juga menutup lingkaran perjalanan kariernya. Charli memulai dari rave London, kemudian memasuki industri pop besar, tetapi ketika akhirnya mencapai salah satu puncak terbesar dalam karier, dia justru membawa logika rave kembali ke pusat pop.
Ini bukan sekadar nostalgia terhadap masa mudanya. Club culture menawarkan model relasi yang berbeda antara artis dan audiens. Stadium pop condong membangun jarak dan spektakel, sementara club culture menawarkan kedekatan, partisipasi, dan rasa menjadi bagian dari organisasi tertentu.
Pada era ketika banyak fans mencari sense of belonging, model tersebut menjadi semakin penting.
Fans sebagai Bagian dari Proses Kreatif
Hubungan Charli dengan organisasi penggemarnya sebenarnya telah berkembang jauh sebelum “Brat”. Salah satu contoh paling jelas terlihat pada “How I’m Feeling Now”, album yang dibuat selama fase awal pandemi COVID-19 pada 2020.
Charli menyelesaikan proyek tersebut dalam waktu sekitar enam minggu sembari membuka sebagian besar proses kreatifnya kepada publik. Ia membagikan ide, perkembangan lagu, visual, dan proses pembuatan kepada fans melalui media sosial.
Pendekatan ini mengubah relasi tradisional antara artis dan audiens. Fans tidak hanya menunggu produk akhir yang sudah selesai dan disempurnakan. Mereka memandang proses penciptaannya, ikut merespons, dan merasa mempunyai kedekatan yang lebih besar terhadap hasil akhirnya.
Dalam ekonomi pop kontemporer, perbedaan antara mempunyai fanbase dan mempunyai community menjadi semakin penting. Fanbase pada dasarnya mengonsumsi. Community berpartisipasi.
Mereka membikin meme, remix, playlist, dance, fan art, teori, video pendek, fashion, dan bahasa internal sendiri. Pada level tertentu, mereka apalagi menjadi perpanjangan dari departemen marketing tanpa merasa sedang melakukan pekerjaan marketing.
Fenomena “Brat” bekerja lantaran Charli sudah bertahun-tahun membangun jenis hubungan semacam ini. Ketika album akhirnya meledak, organisasi tersebut sudah memahami kode visual, humor, referensi, dan sensibilitasnya. Audiens mainstream kemudian masuk ke sebuah budaya yang sebelumnya telah mempunyai bahasa sendiri.

Charli XCX and Troye Sivan. Cr. Henry Redcliffe
Remix Bukan Bonus, tetapi Bagian dari Narasi
Strategi remix “Brat” juga memperlihatkan perubahan dalam langkah karya pop diperlakukan setelah dirilis.
Dalam model industri lama, remix sering digunakan sebagai bingkisan alias perangkat untuk memperpanjang umur sebuah single. Biasanya struktur lagu tetap sama, kemudian seorang artis tamu masuk dengan verse tambahan. Charli memperlakukan remix sebagai langkah untuk melanjutkan cerita.
“Girl, so confusing” mendapatkan dimensi baru ketika Lorde datang dalam jenis remix dan keduanya menggunakan lagu tersebut untuk membicarakan ketegangan, insecurity, dan persepsi mengenai rivalitas di antara mereka. “Guess” berubah menjadi peristiwa pop baru ketika Billie Eilish ikut masuk. Album remix “Brat and it’s completely different but also still brat” kemudian memperluas pendekatan tersebut melalui kerjasama dengan Ariana Grande, Bon Iver, The 1975, Caroline Polachek, Julian Casablancas, dan sejumlah nama lainnya.
Sebagian remix apalagi terasa seperti lagu baru lantaran produksi, struktur, lirik, alias perspektifnya berubah secara signifikan.
Billboard menilai strategi kerjasama tersebut sebagai salah satu argumen era “Brat” bisa terus menghasilkan momentum sepanjang 2024. Alih-alih mencapai puncak pada hari perilisan lampau perlahan menurun, album itu terus mendapatkan bab baru.
Pendekatan tersebut terasa sangat sesuai dengan kultur internet, tempat sebuah karya tidak betul-betul selesai setelah dipublikasikan. Meme terus dimodifikasi. Video mendapatkan remix. Potongan bunyi mendapatkan konteks baru. Konten lama bisa kembali hidup beberapa bulan kemudian. Charli membawa logika tersebut ke dalam struktur album pop.
Kerentanan Tanpa Harus Menjual Citra “Relatable”
Ada aspek lain yang membikin Charli menarik sebagai model pop star modern: dia tidak selalu berupaya terlihat menyenangkan.
Dalam wawancaranya dengan The Guardian menjelang “Brat”, Charli mengkritik kecenderungan industri yang mengharuskan artis terlihat likable. Selebritas kontemporer sering didorong untuk terlihat autentik, tetapi corak autentisitas yang dijual justru sering sangat dikurasi: cukup terbuka untuk terasa manusiawi, tetapi tidak sampai membikin publik betul-betul tidak nyaman.
“Brat” mengambil jalur yang berbeda. Charli membiarkan beberapa emosi yang biasanya disembunyikan pop star berada di permukaan. Ia bisa kompetitif, cemburu, narsistik, insecure, takut kehilangan relevansi, berduka, menikmati pesta, sekaligus mempertanyakan masa depannya.
“Sympathy is a knife” memperlihatkan gimana rasa percaya diri dan inferioritas dapat muncul dalam ruang yang sama. “Girl, so confusing” membicarakan ketegangan dan kejuaraan antarsesama perempuan. “So I” menghadapi rasa kehilangan dan penyesalan setelah kematian SOPHIE.
Pitchfork memandang pertentangan tersebut sebagai salah satu kekuatan album: musik club yang sangat garang justru digunakan untuk membicarakan kecemasan, persahabatan, ego, kehilangan, dan rasa tidak aman.
Charli tidak mencoba menjadi relatable dengan mengatakan bahwa dia sama seperti semua orang. Ia menjadi relatable lantaran membiarkan sisi dirinya yang kurang ideal tetap terlihat.
Dalam industri yang sangat doyan menggunakan kata authenticity, perihal ini penting. Autentisitas tidak kudu berfaedah membagikan seluruh kehidupan pribadi. Ia juga bisa berfaedah tidak menyederhanakan persona publik menjadi karakter yang selalu mudah disukai.
Dari Cult Figure menuju Pengakuan Institusi
Transformasi tersebut mencapai simbol krusial di Grammy Awards 2025. Setelah bertahun-tahun mempunyai pengaruh besar di kalangan produser, songwriter, organisasi elektronik, serta fans pop alternatif, Charli akhirnya mendapatkan pengakuan institusional dalam skala besar.
“Brat” memenangkan Best Dance/Electronic Album, “Von dutch” meraih Best Dance Pop Recording, sementara bungkusan album memenangkan Best Recording Package. Charli juga masuk nominasi di kategori besar seperti Album of the Year dan Record of the Year.
Menariknya, dia tidak mencapai titik tersebut dengan kembali ke formula “Boom Clap”. Musik yang sebelumnya menempatkannya di sisi eksperimental pop justru menjadi kendaraan yang membawa pengakuan mainstream terbesar dalam kariernya. Mainstream akhirnya bergerak mendekatinya, bukan sebaliknya.
Fenomena tersebut tidak berfaedah bahwa Charli sendirian mengubah industri. Ia merupakan bagian dari jaringan budaya yang jauh lebih besar: rave, blog era, MySpace, PC Music, SOPHIE, A. G. Cook, queer club culture, hyperpop, SoundCloud, streaming, meme culture, dan beragam generasi produser yang selama bertahun-tahun meruntuhkan pemisah antara musik pengganti dan komersial.
Namun Charli menjadi salah satu contoh paling jelas tentang gimana seluruh perubahan itu dapat diwujudkan dalam satu karier.
Apakah Charli XCX Benar-benar Mengubah Pop?
Mengatakan bahwa Charli seorang diri mengubah pop tentu terlalu sederhana. Pop selalu dibentuk oleh jaringan artis, produser, teknologi, subkultur, industri, dan audiens yang saling memengaruhi. Namun dia membantu memperjelas arah perubahan tersebut.
Selama bertahun-tahun, salah satu pertanyaan yang sering mengiringi pekerjaan Charli adalah kenapa artis yang begitu berpengaruh terhadap sound pop modern tidak mempunyai status superstar sebesar sejumlah musisi lain.
“Brat” membikin pertanyaan itu terlihat semakin tidak relevan. Mungkin yang berubah bukan posisi Charli, tetapi ukuran yang kita gunakan untuk mendefinisikan superstar.
Pada era media massa, superstar kudu mempunyai tingkat pengenalan nyaris universal. Semua orang mendengar lagu yang sama di radio, memandang video yang sama di MTV, alias membaca selebritas yang sama di majalah. Internet menghancurkan sebagian besar homogenitas tersebut. Budaya menjadi lebih terfragmentasi, tetapi sebuah organisasi niche sekarang juga dapat menghasilkan pengaruh yang sangat besar.
Dalam situasi seperti itu, specificity justru bisa menjadi keunggulan. Charli tidak perlu menjadi segalanya bagi semua orang. Ia hanya perlu membangun sesuatu yang cukup unik sehingga orang yang masuk ke dunianya merasa tidak bisa mendapatkannya dari artis lain.
Pop Star Modern Tidak Harus Menjadi Segalanya bagi Semua Orang
Model superstar lama sebagian besar dibangun melalui skala. Semakin banyak orang menyukai seorang artis, semakin besar pula bintangnya. Karena itu pop condong bergerak menuju titik yang dapat diterima sebanyak mungkin orang.
Model yang diperlihatkan Charli XCX sedikit berbeda. Bangun identitas yang sangat jelas, temukan organisasi yang betul-betul memahami identitas tersebut, biarkan organisasi ikut mengembangkan budaya di sekeliling karya, lampau perluas skalanya tanpa membuang karakter yang membuatnya menarik sejak awal.
Di sini pemisah antara mainstream dan pengganti tidak lagi kudu menjadi pilihan biner.
Seorang artis dapat mempunyai perjanjian major label tetapi mempertahankan mentalitas underground. Ia dapat memenangkan Grammy sembari membawa DNA rave. Ia dapat bekerja-sama dengan superstar tetapi tetap bekerja dengan produser eksperimental. Ia dapat menjadi sangat terkenal tanpa membangun persona yang kudu disukai semua orang.
Bahkan sebuah album dengan warna hijau mencolok, font buram, dan estetika yang sengaja terlihat murah dapat menghasilkan identitas budaya yang lebih kuat daripada kampanye pop dengan produksi visual jauh lebih mahal.
Itulah yang membikin perjalanan Charli XCX krusial untuk dibaca lebih jauh daripada sekadar keberhasilan “Brat”. Ia tidak mengubah makna pop star dengan meninggalkan pop. Ia melakukannya dengan memperluas hal-hal yang mungkin dilakukan di dalam pop.
Pada era sebelumnya, menjadi superstar berfaedah sukses masuk ke pusat budaya. Charli XCX menawarkan kemungkinan yang berbeda: membangun pusat budaya sendiri, kemudian membikin mainstream datang ke sana.
Sumber: Official Charts Company; Recording Academy/GRAMMY.com; Billboard; Pitchfork; The Guardian; Variety; Vogue Business; GQ; MIDiA Research; Música Hodie/Universidade Federal de Goiás.