Ponette Review: Memahami Kematian dari Mata Seorang Anak

Kematian adalah konsep yang apalagi susah diterima oleh orang dewasa. Bagi seorang anak berumur empat tahun, kematian bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih membingungkan: jika seseorang pergi, kenapa dia tidak bisa kembali? Jika orang meninggal berada berbareng Tuhan, kenapa kita tidak bisa menemui mereka? Jika kebangkitan memang mungkin, kenapa tidak menunggu saja sampai orang yang kita cintai hidup kembali?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tetapi esensial tersebut menjadi jantung “Ponette” (1996), drama Prancis karya Jacques Doillon yang memandang proses bersungkawa nyaris sepenuhnya dari perspektif seorang anak. Film ini dibangun dari premis yang sangat sederhana. Ponette, seorang anak wanita berumur empat tahun, kehilangan ibunya dalam kecelakaan mobil yang juga membikin lengannya terluka. Ayahnya tetap ada, begitu pula kerabat dan anak-anak lain di sekelilingnya, tetapi semua penjelasan yang diberikan kepadanya mengenai kematian justru membikin bumi semakin membingungkan.

Doillon, yang menulis sekaligus menyutradarai movie ini, tidak memperlakukan Ponette sebagai anak mini yang sekadar belum memahami sesuatu yang sudah dipahami orang dewasa. Sebaliknya, “Ponette” mempertanyakan apakah bahasa yang digunakan orang dewasa untuk menjelaskan kematian memang masuk logika dari perspektif seorang anak. Inilah yang membikin filmnya jauh lebih menarik daripada melodrama tentang kehilangan. “Ponette” pada dasarnya adalah studi tentang gimana manusia pertama kali berhadapan dengan pendapat bahwa seseorang dapat lenyap untuk selamanya.

Setelah kematian ibunya, Ponette ditinggalkan sementara oleh ayahnya berbareng bibinya dan dua sepupunya di pedesaan. Sang tante berupaya menjelaskan kematian melalui agama. Ponette mendengar tentang Yesus, doa, kebangkitan, dan kehidupan setelah kematian. Namun seperti anak mini pada umumnya, dia tidak menerima konsep tersebut sebagai metafora alias sistem teologi. Ia memahaminya secara literal.

Jika Yesus bisa kembali setelah meninggal, bukankah ibunya juga bisa kembali?

Dari titik tersebut, screenplay “Ponette” membangun drama bukan melalui rangkaian peristiwa besar, tetapi melalui perkembangan langkah berpikir seorang anak. Ponette menunggu. Ia berdoa. Ia berbincang kepada ibunya. Ia mencoba mengikuti beragam ritual yang menurut anak-anak lain dapat membikin keinginannya terkabul. Semakin banyak penjelasan yang diterimanya, semakin keras dia berupaya menemukan langkah untuk berasosiasi kembali dengan sang ibu.

Struktur seperti ini membikin “Ponette” mempunyai ritme yang sangat berbeda dari drama family konvensional. Tidak ada misteri mengenai penyebab kematian dan tidak ada bentrok eksternal besar yang kudu diselesaikan. Konflik seluruhnya berada di dalam pikiran seorang anak yang berupaya menyesuaikan realita dengan pemahamannya tentang dunia.

Justru di sinilah script Doillon paling kuat. Percakapan anak-anak tidak ditulis hanya untuk menghasilkan kelucuan alias kepolosan. Mereka membicarakan kematian, Tuhan, neraka, kebangkitan, dan kehilangan menggunakan logika mereka sendiri. Beberapa konklusi terdengar kocak bagi orang dewasa, tetapi movie tidak pernah menertawakan mereka. Bagi anak-anak tersebut, pertanyaan-pertanyaan itu serius.

Ponette Review

Doillon juga cukup tajam dalam memperlihatkan bahwa anak-anak tidak selalu lebih lembut daripada orang dewasa. Lingkungan sosial Ponette mempunyai jenjang dan kekejamannya sendiri. Ada anak yang memberikan penghiburan, tetapi ada pula yang menggunakan ketakutan, agama, dan rasa bersalah untuk mengontrol anak lain. Proses Ponette memahami kematian lantaran itu tidak berjalan dalam ruang steril. Ia kudu menyaring beragam penjelasan yang sering bertentangan.

Screenplay tersebut bekerja lantaran Doillon memahami perbedaan mendasar antara pengetahuan dan penerimaan. Ponette secara perlahan dapat memahami bahwa ibunya telah meninggal. Tetapi mengetahui kebenaran tersebut tidak berfaedah dia bisa menerimanya. Film terus bergerak di ruang antara dua kondisi tersebut.

Secara sinematik, “Ponette” memilih pendekatan yang relatif sederhana. Caroline Champetier, yang menangani sinematografi, tidak mencoba mengubah kesedihan Ponette menjadi rangkaian gambar yang terlalu indah. Kamera lebih sering berada dekat dengan anak-anak, memperhatikan wajah, tubuh, dan hubungan mereka. Pendekatan visual tersebut membikin perspektif movie terasa berada pada ketinggian yang sama dengan protagonisnya. Data resmi Venice Film Festival mencatat Champetier sebagai sinematografer, Philippe Sarde sebagai komposer, dan Jacqueline Fano sebagai penyunting film.

Lingkungan pedesaan juga memberikan kontras yang efektif. Dunia di sekitar Ponette sebenarnya tidak berhenti. Matahari tetap bersinar, anak-anak bermain, orang dewasa menjalani aktivitas, dan kehidupan bergerak seperti biasa. Hanya bagi Ponette bumi terasa seperti mengalami perubahan fundamental.

Doillon tidak banyak menggunakan manipulasi visual untuk menunjukkan kesedihan. Sebaliknya, kamera membiarkan ekspresi karakter melakukan pekerjaan tersebut. Pendekatan ini menjadi sangat krusial lantaran nyaris seluruh keberhasilan movie berjuntai pada performa Victoire Thivisol.

Ponette Review

Sulit membicarakan “Ponette” tanpa membicarakan pencapaian akting Thivisol. Ia baru berumur empat tahun ketika memainkan karakter tersebut, tetapi performanya mempunyai intensitas yang apalagi susah ditemukan pada banyak tokoh dewasa. Thivisol tidak terlihat seperti anak yang sedang diminta memainkan kesedihan. Ada kebingungan, harapan, kemarahan, ketakutan, dan kesenyapan yang muncul secara sangat natural dari ekspresi dan langkah bicaranya.

Ia juga memahami sesuatu yang krusial mengenai Ponette: karakter ini tidak terus-menerus menangis.

Duka seorang anak tidak bekerja seperti melodrama. Ponette dapat sedih pada satu saat, kemudian berbincang tentang sesuatu yang lain, bermain, berdebat, alias kembali memikirkan ibunya. Kesedihan muncul dan menghilang lantaran pikirannya tetap mencoba memahami sesuatu yang belum mempunyai bahasa yang memadai untuk dijelaskan.

Performa tersebut membikin Victoire Thivisol memenangkan Volpi Cup untuk Best Actress di Venice Film Festival 1996. Catatan resmi La Biennale mengonfirmasi penghargaan tersebut, menjadikannya salah satu kemenangan akting paling tidak biasa dalam sejarah pagelaran lantaran usia Thivisol yang tetap sangat muda.

Namun pencapaian itu sekaligus membuka salah satu aspek paling problematis dalam menilai “Ponette”. Seberapa jauh sutradara dapat meminta seorang anak memahami dan menampilkan emosi seberat kehilangan orang tua?

Pertanyaan tersebut memang pernah menjadi bagian dari obrolan kritis mengenai film. The Irish Times, misalnya, mempertanyakan tuntutan emosional yang ditempatkan pada Thivisol. Produksi sendiri menggunakan psikolog Marie-Hélène Encrevé, yang memantau anak-anak selama proses syuting dan mempunyai kewenangan menghentikan pengambilan gambar jika dianggap diperlukan.

Konteks tersebut krusial lantaran naturalisme movie sangat berjuntai pada keahlian anak-anak memberikan respons yang terasa autentik. Hasil di layar memang luar biasa, tetapi metode untuk memperoleh performa anak tetap menjadi dimensi etis yang layak dibicarakan, bukan sekadar dianggap sebagai bukti kehebatan penyutradaraan.

Xavier Beauvois sebagai ayah Ponette juga memberikan performa yang efektif meski porsinya lebih terbatas. Karakternya memperlihatkan corak duka yang berbeda. Ia sendiri kehilangan istri, tetapi pada saat berbarengan kudu menjelaskan kehilangan tersebut kepada anak yang apalagi belum sepenuhnya memahami konsep kematian.

Interaksi antara keduanya menarik lantaran sang ayah tidak selalu memberikan respons yang ideal. Ia frustrasi ketika Ponette terus berambisi ibunya kembali. Namun frustrasi tersebut terasa manusiawi. Orang dewasa dalam “Ponette” bukan figur yang mempunyai semua jawaban. Mereka juga sedang berduka, hanya mempunyai bahasa yang lebih matang untuk menyembunyikannya.

Claire Nebout sebagai sang tante menjadi representasi pendekatan berbeda. Ia menggunakan ketaatan untuk memberikan kerangka yang dapat membantu Ponette memahami kematian. Namun penjelasan religius tersebut justru menghasilkan interpretasi literal yang tidak dia antisipasi.

Ponette Review

Film tidak menyerang kepercayaan melalui situasi tersebut. Doillon lebih tertarik menunjukkan masalah bahasa. Konsep seperti surga, kebangkitan, roh, dan kehidupan setelah kematian mempunyai makna metafisik bagi orang dewasa, tetapi dapat terdengar seperti info konkret bagi anak berumur empat tahun.

Di sinilah “Ponette” mencapai sesuatu yang jarang dilakukan movie tentang anak-anak. Ia tidak menggunakan anak sebagai simbol kemurnian moral. Ponette adalah perseorangan yang sedang membangun sistem pemahamannya sendiri. Ia mendengar informasi, mengujinya, mempercayainya, kecewa, kemudian mencoba lagi. Proses bersungkawa menjadi proses intelektual sekaligus emosional.

Musik Philippe Sarde digunakan relatif terkendali sehingga kesedihan tidak terus-menerus dipaksakan melalui scoring. Film lebih mempercayai percakapan, keheningan, dan wajah Thivisol. Keputusan tersebut tepat lantaran cerita seperti ini sangat mudah jatuh menjadi sentimental jika musik terus memberi petunjuk kapan penonton kudu menangis.

Meski demikian, “Ponette” bukan movie tanpa kelemahan. Ritmenya sangat lambat dan repetitif. Karena Doillon mau menunjukkan proses psikologis Ponette secara bertahap, beberapa percakapan dan situasi terasa mengulang pertanyaan yang sama. Time Out juga menilai movie ini menyentuh tetapi tidak selalu sepenuhnya meyakinkan, terutama lantaran pendekatannya yang begitu terkonsentrasi pada perspektif seorang anak.

Bagian akhirnya apalagi lebih berpotensi memecah penonton. Tanpa mengungkap detailnya, Doillon mengambil keputusan yang menggeser movie dari realisme psikologis menuju sesuatu yang lebih ambigu. Adegan tersebut bisa dipahami secara literal, spiritual, alias sebagai langkah Ponette akhirnya menciptakan sistem psikologis untuk menerima kematian ibunya.

Jika dibaca secara literal, ending tersebut dapat terasa terlalu sentimental dan bertentangan dengan realisme yang dibangun sebelumnya. Namun jika dipahami melalui subjektivitas Ponette, keputusan tersebut menjadi lebih menarik. Film tidak sedang mengatakan bahwa norma realitas tiba-tiba berubah. Kita mungkin sedang memandang pengalaman yang dibutuhkan seorang anak untuk akhirnya dapat melepaskan seseorang. Ambiguitas itu membikin ending “Ponette” lebih kaya daripada sekadar twist emosional.

Yang pada akhirnya membikin movie ini memperkuat adalah kesungguhan Doillon dalam memandang bumi anak. Ia tidak menganggap pertanyaan Ponette sebagai sesuatu yang naif hanya lantaran jawabannya tampak jelas bagi orang dewasa. Jika seseorang yang kita cintai ada kemarin tetapi tidak ada hari ini, memang masuk logika bagi seorang anak untuk bertanya ke mana dia pergi.

Orang dewasa hanya berakhir mempertanyakan perihal tersebut lantaran kita sudah belajar menerima jawabannya.

“Ponette” adalah drama duka yang sangat sederhana tetapi mempunyai kedalaman psikologis luar biasa. Screenplay Jacques Doillon sukses memandang kematian dari perspektif yang jarang mendapatkan ruang serius dalam sinema: bukan orang tua yang kehilangan anak, pasangan yang kehilangan kekasih, alias orang dewasa yang menghadapi mortalitasnya sendiri, melainkan seorang anak yang apalagi belum mempunyai konsep komplit tentang apa makna “selamanya”.

Sinematografi Caroline Champetier yang intim, penggunaan musik yang terkendali, percakapan naturalistik, serta terutama performa Victoire Thivisol membikin movie terasa nyaris seperti pengarsipan terhadap proses seorang anak belajar tentang kematian.

Kelemahannya berada pada ritme yang repetitif, kecenderungan beberapa pendapat religius untuk terasa terlalu eksplisit, serta ending yang dapat dianggap terlalu sentimental. Ada pula pertanyaan etis yang tidak sepenuhnya bisa dipisahkan dari performa luar biasa pemeran utamanya.

Namun sebagai karya tentang grief, “Ponette” mempunyai sesuatu yang sangat langka: movie ini tidak mencoba menjelaskan gimana semestinya seseorang berduka. Ia hanya mengawasi seorang anak yang belum tahu caranya.

Pesan Moral

“Ponette” memperlihatkan bahwa proses bersungkawa tidak mempunyai bahasa universal. Orang dewasa dapat menjelaskan kematian melalui agama, logika, alias kebenaran biologis, tetapi semua penjelasan tersebut belum tentu menjawab kebutuhan emosional seseorang yang kehilangan.

Bagi Ponette, menerima kematian bukan berfaedah akhirnya memahami arti kematian. Ia kudu menemukan sendiri langkah untuk mengubah hubungan dengan ibunya dari sesuatu yang berkarakter bentuk menjadi sesuatu yang hidup dalam ingatan.

Film juga mengingatkan pentingnya mendengarkan anak-anak ketika membicarakan kehilangan. Memberikan jawaban tidak selalu sama dengan membantu mereka memahami. Terkadang anak memerlukan ruang untuk bertanya, marah, berharap, dan apalagi mempercayai sesuatu yang tidak masuk logika sebelum akhirnya bisa menerima kenyataan.

Kedewasaan emosional dalam “Ponette” bukan ketika seseorang berakhir merasa sedih. Kedewasaan muncul ketika dia mulai memahami bahwa mencintai seseorang tidak memerlukan kehadiran orang tersebut untuk selamanya.

Dampak Budaya

“Ponette” memperoleh perhatian internasional terutama setelah pemutarannya dalam kejuaraan utama Venice Film Festival 1996. Film tersebut tidak memenangkan Golden Lion, tetapi Victoire Thivisol memenangkan Volpi Cup untuk Best Actress. Catatan resmi La Biennale juga mencantumkan “Ponette” sebagai movie Prancis berdurasi 107 menit yang berkompetisi pada Venice ke-53.

Kemenangan Thivisol menjadi bagian krusial dari sejarah movie lantaran membuktikan bahwa performa anak dapat dinilai sebagai pencapaian akting serius, bukan sekadar kategori tersendiri untuk pemeran muda. “Ponette” juga memenangkan FIPRESCI Prize bagi Jacques Doillon di Venice, memperkuat penerimaan movie tersebut di kalangan kritikus internasional.

Namun warisan terbesarnya bukan berada pada penghargaan. “Ponette” menjadi salah satu referensi krusial untuk movie tentang childhood grief lantaran menolak menjadikan anak sebagai jenis miniatur dari orang dewasa. Cara Ponette memahami kematian mempunyai logika sendiri, dan Doillon membangun nyaris seluruh movie berasas logika tersebut.

Tiga dasawarsa setelah dirilis, pendapat itu tetap relevan. Banyak movie tentang kematian bertanya gimana manusia menerima kehilangan. “Ponette” mengusulkan pertanyaan yang lebih elementer: gimana kita bisa menerima kehilangan jika kita apalagi belum mengerti apa artinya seseorang tidak bakal pernah kembali?

Di kembali pertanyaan sederhana itulah “Ponette” menemukan kekuatannya. Kematian mungkin merupakan konsep universal, tetapi setiap manusia kudu memahaminya untuk pertama kali.

Selengkapnya
Ponette Review: Memahami Kematian dari Mata Seorang Anak
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting