Mengapa Wong Kar-wai Tetap Relevan Tiga Dekade Kemudian?

Ada banyak sutradara besar yang karya-karyanya memperkuat sebagai klasik. Lebih sedikit lagi yang sukses menciptakan bahasa visual begitu unik sehingga satu frame saja cukup untuk membikin orang mengatakan: “Ini terasa seperti Wong Kar-wai.”

Lampu neon yang membelah malam, lorong sempit, warna merah dan hijau yang pekat, aktivitas yang terlihat patah sekaligus melankolis, musik pop lama, karakter yang berada hanya beberapa sentimeter dari satu sama lain tetapi terasa begitu jauh. Tiga dasawarsa setelah periode paling menentukan dalam kariernya pada 1990-an, elemen-elemen itu tetap terus muncul dalam sinema, fotografi, iklan, video musik, hingga bahasa visual media sosial.

Namun relevansi Wong Kar-wai tidak sesederhana perkara estetika. Di kembali visual yang begitu mudah dikenali, film-filmnya berbincang tentang sesuatu yang justru semakin berkawan bagi kehidupan modern: kesenyapan di kota besar, hubungan yang tidak pernah betul-betul selesai, ingatan yang tidak stabil, waktu yang terus bergerak, dan manusia yang mau terhubung tetapi sering kali tidak mengetahui caranya.

Dari Hong Kong ke Bahasa Sinema Global

Wong Kar-wai memulai debut penyutradaraan lewat “As Tears Go By” pada 1988. Namun periode 1990-an kemudian menjadi fase yang betul-betul membentuk posisinya dalam sinema dunia.

“Days of Being Wild” (1990), “Ashes of Time” (1994), “Chungking Express” (1994), “Fallen Angels” (1995), hingga “Happy Together” (1997) menunjukkan seorang filmmaker yang semakin berani meninggalkan struktur naratif konvensional.

“Chungking Express” menjadi titik penting. Film tersebut merupakan karya Wong yang pertama mendapatkan pengedaran internasional secara luas dan membantu memperkenalkan sensibilitas sinema Hong Kong yang berbeda dari movie laga maupun gangster yang saat itu lebih banyak diasosiasikan dengan industri tersebut.

British Film Institute mencatat bahwa generasi Second Wave Hong Kong yang dipimpin antara lain oleh Wong Kar-wai dan Stanley Kwan melahirkan estetika art movie baru yang sangat stylized, sekaligus menangkap kecemasan, kecepatan, dan ketidakstabilan kehidupan urban modern.

Puncak pengakuan internasional awalnya datang melalui “Happy Together”. Film yang dibintangi Tony Leung Chiu-wai dan Leslie Cheung tersebut membawa Wong meraih Best Director di Festival de Cannes 1997.

Tetapi “In the Mood for Love” pada 2000 yang kemudian menjelma menjadi karya paling monumental dalam filmografinya.

Dalam jajak pendapat Sight and Sound 2022 mengenai movie terbaik sepanjang masa, “In the Mood for Love” menempati posisi kelima—sekaligus menjadi movie abad ke-21 dengan ranking tertinggi dalam daftar tersebut. Dua puluh lima tahun setelah pemutaran perdananya di Cannes, Sight and Sound apalagi menjadikan movie ini pusat jenis unik mereka pada 2025.

Itu bukan sekadar nostalgia terhadap sebuah movie klasik. Posisi tersebut memperlihatkan gimana reputasi Wong justru terus menguat seiring waktu.

Ketika Perasaan Lebih Penting daripada Plot

Salah satu argumen movie Wong Kar-wai terasa berbeda adalah caranya memperlakukan cerita. Dalam banyak movie konvensional, plot bergerak melalui sebab-akibat yang jelas. Tokoh mempunyai tujuan, menghadapi konflik, kemudian cerita membawa mereka menuju resolusi.

Wong lebih tertarik pada ruang di antara peristiwa-peristiwa tersebut. Seseorang menunggu telepon yang tidak datang. Seseorang mengingat mantan kekasihnya. Dua orang makan berbareng tanpa pernah betul-betul mengatakan apa yang mereka rasakan. Karakter melangkah sendirian di tengah keramaian Hong Kong. Bahkan barang meninggal dapat menjadi tempat karakter menumpahkan kesepian.

Dalam “Chungking Express”, Cop 223 berbincang mengenai tanggal kedaluwarsa makanan kaleng setelah hubungannya berakhir. Cop 663 berbincang kepada sabun, handuk, dan benda-benda di apartemennya. Absurd, tetapi sekaligus sangat manusiawi.

Dalam sebuah wawancara lama mengenai movie tersebut, Wong mengatakan bahwa orang modern apalagi sering lebih banyak berbincang kepada dirinya sendiri dibandingkan kepada orang lain. Kalimat itu terasa semakin relevan sekarang.

Di tengah era ketika manusia secara teknis lebih terkoneksi daripada sebelumnya, pengalaman kesepian, hubungan tidak pasti, ghosting, komunikasi melalui layar, dan emosi terisolasi di kota besar justru menjadi bagian yang semakin lazim dari kehidupan kontemporer.

Film Wong dibuat sebelum Instagram, dating apps, alias budaya hyperconnectivity hari ini. Tetapi ilmu jiwa yang dia tangkap sudah berada di sana.

Sinema tentang Waktu

Jika cinta adalah tema yang paling mudah terlihat dalam movie Wong Kar-wai, waktu mungkin menjadi obsesi yang lebih dalam. Jam, tanggal, ulang tahun, masa kedaluwarsa, pertemuan singkat, kenangan, dan kesempatan yang terlewat muncul berulang kali.

Dalam “Chungking Express”, hubungan apalagi dipahami melalui tanggal kedaluwarsa. Dalam “Days of Being Wild”, waktu menjadi sesuatu yang mengikat sebuah kenangan. Sementara dalam “In the Mood for Love”, hubungan Chow Mo-wan dan Su Li-zhen terasa ditentukan bukan hanya oleh apa yang terjadi, tetapi oleh apa yang tidak pernah sempat terjadi.

Kritikus Tony Rayns pernah menggambarkan Wong sebagai seorang “poet of time”—filmmaker yang sangat peka terhadap gimana waktu memengaruhi ingatan, sensasi, dan emosi. Karena itu, film-filmnya sering terasa seperti kenangan dibandingkan sebuah rangkaian kejadian objektif.

Kita tidak selalu percaya apakah sebuah peristiwa sedang berlangsung, sedang dikenang, alias apalagi sedang dibayangkan. Dan justru dalam ketidakpastian itulah Wong menemukan emosinya.

Christopher Doyle dan Sebuah Estetika yang Terus Ditiru

Mustahil membicarakan bahasa visual Wong Kar-wai tanpa membicarakan kolaboratornya. Salah satu yang terpenting adalah cinematographer Christopher Doyle, yang bekerja bersamanya dalam sejumlah movie seperti “Days of Being Wild”, “Ashes of Time”, “Chungking Express”, “Fallen Angels”, “Happy Together”, hingga sebagian besar produksi “In the Mood for Love”.

Kolaborasi mereka menghasilkan beragam teknik yang kemudian menjadi identik dengan Wong. Salah satunya adalah step printing—memotret pada frame rate tertentu kemudian menduplikasi frame sehingga aktivitas menghasilkan kesan patah, kabur, sekaligus melambat.

Adegan malam dalam “Chungking Express” alias “Fallen Angels” tidak sekadar memperlihatkan Hong Kong. Kamera membikin kota tersebut terasa seperti pengalaman psikologis. Lampu neon melebur, manusia bergerak seperti bayangan, sementara karakter utama seperti terpisah dari kerumunan di sekelilingnya.

BFI mencatat gimana kerja Wong dan Doyle mengonsolidasikan style tersebut menjadi salah satu karakter visual paling terkenal dalam sinema modern.

Namun Wong tidak bekerja sendirian dengan Doyle. Editor sekaligus production dan costume designer William Chang Suk-ping merupakan kolaborator esensial lainnya. Mark Lee Ping-bin juga mengambil bagian krusial dalam sinematografi “In the Mood for Love”.

Wong sendiri pernah menggambarkan perbedaan Doyle dan Lee secara musikal: pendekatan Doyle lebih menyerupai jazz—improvisasional dan eksplosif—sementara Mark Lee lebih klasik dan presisi. Hasilnya adalah bahasa visual yang terasa spontan sekaligus sangat terkontrol.

Musik Bukan Dekorasi

Musik juga tidak pernah sekadar menjadi latar dalam bumi Wong Kar-wai. “California Dreamin'” dari The Mamas & the Papas menjadi nyaris tak terpisahkan dari Faye Wong dalam “Chungking Express”. “Yumeji’s Theme” karya Shigeru Umebayashi membentuk ritme pertemuan Chow dan Su dalam “In the Mood for Love”. Lagu-lagu berkata Spanyol Nat King Cole menciptakan rasa keterasingan sekaligus nostalgia yang asing dalam movie yang berlatar Hong Kong 1960-an.

Wong pernah menjelaskan bahwa musik kerap “memimpin” proses visualnya. Dalam “In the Mood for Love”, musik apalagi membantu menentukan gimana kamera bergerak di ruang sempit. Karena itu pula montase dalam filmnya sering terasa mendekati video musik tanpa kehilangan kedalaman dramatik.

Pendekatan tersebut menjadi semakin familiar pada era sekarang ketika film, musik, fashion dan video pendek terus saling memengaruhi.

Jejak Wong Kar-wai pada Generasi Berikutnya

Ukuran lain dari relevansi seorang filmmaker adalah apa yang terjadi pada sinema setelahnya. Pengaruh Wong dapat ditemukan pada filmmaker dengan latar yang sangat berbeda.

Barry Jenkins secara terbuka menempatkan Wong sebagai salah satu pengaruh utamanya. Criterion apalagi membikin sesi unik ketika Jenkins membahas apa yang dia pelajari mengenai longing dari “Chungking Express” dan “In the Mood for Love”. Dalam program Film at Lincoln Center mengenai karya-karya yang memengaruhi “Moonlight”, Jenkins juga memilih “Happy Together”.

Jejaknya terlihat bukan melalui imitasi visual sederhana, tetapi melalui langkah “Moonlight” menggunakan warna, sentuhan, tatapan, musik, dan ruang untuk menyampaikan emosi yang tidak bisa dikatakan karakter secara langsung.

Sofia Coppola juga pernah mengatakan bahwa dia tidak pernah melupakan pengalaman menonton “In the Mood for Love” di bioskop dan pengaruh yang ditinggalkannya. Criterion mencatat jejak Wong pada karya-karya yang sangat beragam, dari “Lost in Translation” hingga “If Beale Street Could Talk” dan “Long Day’s Journey into Night” karya Bi Gan.

Di sinilah pengaruh Wong menjadi lebih besar daripada sekadar palet warna alias lampu neon. Yang diwariskan adalah kepercayaan bahwa atmosfer dapat menjadi narasi. Bahwa tatapan dapat bekerja seperti dialog. Bahwa musik dapat menjelaskan karakter. Dan bahwa sebuah movie tidak kudu menjelaskan seluruh emosi manusia agar penonton dapat merasakannya.

wong kar wai

Courtesy of The Weinstein Company

Ketika Estetika Wong Menjadi Bahasa Internet

Ada ironi menarik dalam warisan Wong Kar-wai hari ini. Gaya yang dulu dianggap eksperimental sekarang menjadi sangat mudah ditemukan dalam budaya visual digital: foto dengan neon merah-hijau, motion blur, framing melalui kaca, timestamp, lampu jalan malam hari, hingga potongan video romantis yang dipasangkan dengan musik sentimental.

Tidak semuanya merupakan pengaruh langsung. Dan tentu tidak setiap foto neon di sebuah gang dapat disebut “Wong Kar-wai-esque”. Tetapi ketenaran bahasa visual semacam itu menunjukkan sungguh corak sinema yang pernah dia bantu populerkan sudah merembes jauh keluar dari ruang arthouse.

Masalahnya, ketika estetika dilepaskan dari konteks, Wong sering direduksi menjadi sekadar moodboard: neon, rokok, hujan, slow motion dan orang elok yang terlihat kesepian. Padahal inti filmnya justru jauh lebih manusiawi.

Keindahan visual tersebut bekerja lantaran ada kesadaran mengenai waktu, kelas, kota, migrasi, perubahan Hong Kong, identitas, dan hubungan manusia di belakangnya.

Hong Kong sebagai Karakter

Kota juga mempunyai peran fundamental. Hong Kong dalam karya Wong bukan postcard. Ia sempit, padat, sigap dan selalu berubah.

Dalam “Chungking Express”, Chungking Mansions dan area Central menjadi bumi tempat manusia dari beragam latar bertabrakan. Dalam “Fallen Angels”, Hong Kong berubah menjadi labirin nokturnal. Sementara “In the Mood for Love” memandang kota melalui ingatan terhadap kehidupan organisasi Shanghai di Hong Kong tahun 1960-an. Pengalaman tersebut mempunyai akar personal.

Wong lahir di Shanghai dan pindah ke Hong Kong berbareng keluarganya ketika tetap kecil. Dalam wawancara untuk peringatan 25 tahun “In the Mood for Love”, dia mengingat gimana keluarga-keluarga hidup berdekatan dalam apartemen berbareng sehingga privasi nyaris tidak ada. Dunia semacam itulah yang kemudian menjadi fondasi ruang sosial movie tersebut.

Karena itu Hong Kong dalam movie Wong sekaligus menjadi tempat nyata dan ruang ingatan. Kota berubah. Manusia pergi. Bangunan menghilang. Tetapi cinema dapat menyimpan fragmennya.

Mengapa Masih Relevan?

Pada peringatan 25 tahun “In the Mood for Love”, Wong Kar-wai menawarkan jawaban yang mungkin paling sederhana.

Menurutnya, movie tersebut memperkuat bukan semata lantaran berbincang tentang Hong Kong era 1960-an, tetapi lantaran menyentuh persoalan yang lebih fundamental: gimana manusia membangun hubungan, mengelola kemauan dan batasan, serta menyusun narasi untuk memahami hidupnya sendiri.

Itulah argumen Wong Kar-wai tetap relevan lebih dari tiga dasawarsa setelah “Chungking Express”, “Fallen Angels”, dan “Happy Together” membentuk reputasinya.

Teknologinya berubah. Kota berubah. Cara manusia berjumpa berubah. Cara kita mendengarkan musik dan menonton movie berubah. Tetapi banyak emosi yang direkam Wong rupanya tidak.

Keinginan untuk dicintai tetapi takut mengatakannya. Hubungan yang berhujung tanpa penutupan. Pertemuan yang datang pada waktu yang salah. Ingatan tentang seseorang yang perlahan berubah. Kesepian di antara jutaan manusia. Dan mungkin itu sebabnya generasi baru terus menemukan filmnya.

Wong Kar-wai tidak sekadar membikin movie tentang cinta. Ia membikin movie tentang jarak antara manusia—dan segala perihal yang kita lakukan untuk mencoba menyeberanginya.

Referensi: British Film Institute/Sight and Sound, Festival de Cannes, The Criterion Collection, Janus Films, Film at Lincoln Center.

Selengkapnya
Mengapa Wong Kar-wai Tetap Relevan Tiga Dekade Kemudian?
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting