Soundtrack untuk Negeri yang Baik-Baik Saja

Musik terkenal punya keahlian asing untuk beranjak tempat dan zaman. Sebuah lagu yang ditulis di Inggris pada masa Perang Dingin bisa terdengar relevan ketika membicarakan politik puluhan tahun kemudian. Lagu tentang masyarakat Amerika yang merasa diabaikan dapat menemukan resonansi di negara yang sama sekali berbeda. Bahkan lagu mengenai rutinitas hidup seorang pekerja bisa menjadi soundtrack generasi urban di Jakarta, Surabaya, alias kota-kota lain yang setiap pagi kembali menghadapi kemacetan, pekerjaan, tagihan, dan biaya hidup.

Karena itu, daftar ini bukan upaya mengatakan bahwa musisi-musisi berikut sedang membicarakan Indonesia. Konteks original setiap karya tetap penting. “American Idiot” lahir dari Amerika era George W. Bush; “They Don’t Care About Us” mempunyai sejarah sosial dan rasialnya sendiri; sementara “Everybody Wants to Rule the World” tumbuh dari kekhawatiran politik bumi pada dasawarsa 1980-an.

Namun karya terkenal yang memperkuat lama sering mempunyai satu kualitas penting: gagasannya melampaui konteks pertama yang melahirkannya.

Ketika didengarkan dari Indonesia setelah melewati satu dasawarsa yang dipenuhi polarisasi politik, pandemi, perdebatan soal norma dan kekuasaan, tekanan ekonomi, perubahan iklim, perang informasi, serta kehidupan masyarakat yang semakin terhubung sekaligus terpecah oleh media sosial, sejumlah lagu bumi berikut terasa sedikit terlalu familiar.

Tears for Fears — “Everybody Wants to Rule the World”

Musiknya begitu ringan sehingga mudah melupakan sungguh gelap pendapat di kembali “Everybody Wants to Rule the World”. Dirilis pada 1985, salah satu lagu terbesar Tears for Fears itu berbincang tentang gairah manusia terhadap kekuasaan, kontrol, perang, dan akibat ketika kemauan untuk menguasai sesuatu menjadi terlalu besar.

Curt Smith apalagi pernah menjelaskan bahwa lagu tersebut memang dipengaruhi situasi politik era Reagan dan Thatcher. Di kembali synthesizer yang hangat dan chorus yang nyaris terdengar seperti lagu musim panas, ada kekhawatiran tentang orang-orang yang mau menentukan nasib orang lain.

Itulah yang membikin lagu ini mudah menemukan kehidupan baru di beragam zaman.

Di Indonesia, sepuluh tahun terakhir menghadirkan beberapa pemilu, pergantian pemerintahan, pembentukan koalisi, bentrok kepentingan, persaingan pengaruh, hingga perdebatan mengenai seberapa jauh kekuasaan politik terkonsentrasi pada golongan tertentu.

Tidak perlu mengubah liriknya menjadi komentar spesifik tentang satu tokoh. Gagasan besarnya sudah cukup universal: kekuasaan selalu menggoda, dan nyaris semua orang mau mendapat bagian darinya.

Leonard Cohen — “Everybody Knows”

Kalau “Everybody Wants to Rule the World” terdengar terlalu cerah untuk sebuah lagu tentang kekuasaan, Leonard Cohen tidak repot menyembunyikan sinismenya. “Everybody Knows” adalah musik untuk masyarakat yang sudah kehilangan ilusi.

Dirilis dalam album “I’m Your Man” pada 1988 dan ditulis berbareng Sharon Robinson, lagu ini membangun dunianya dari satu dugaan sederhana: semua orang sebenarnya mengetahui gimana permainan bekerja. Ada ketidakadilan, ada pihak yang selalu memperoleh keuntungan, ada sesuatu yang sudah diatur sejak awal—dan semua orang mengetahuinya.

Cohen sendiri mengatakan bahwa dia mau menulis sebuah “tough song”, dari perspektif seseorang yang merasa sudah memahami permainan dan tidak mudah dikelabui lagi. Di situlah relevansinya terasa menarik.

Dalam masyarakat yang berulang kali menghadapi buletin korupsi, bentrok kepentingan, privilege, ketimpangan ekonomi, alias beragam keputusan politik yang terasa susah dijelaskan kepada publik, sinisme bisa berubah menjadi sistem pertahanan. Bukan lagi kemarahan. Lebih berbahaya: masyarakat mulai terbiasa.

Michael Jackson — “They Don’t Care About Us”

Tidak banyak lagu pop dari superstar sebesar Michael Jackson yang terdengar sekeras “They Don’t Care About Us”.

Dirilis pada 1995, lagu ini berbincang tentang diskriminasi, ketidakadilan, kekerasan, dan emosi tidak mempunyai kekuasaan ketika berhadapan dengan sebuah sistem yang jauh lebih besar daripada individu.

Konteks original lagu tersebut tidak boleh dihapus begitu saja. Ia mempunyai sejarah kontroversi tersendiri dan menggunakan bahasa yang sengaja provokatif untuk menggambarkan diskriminasi. Namun inti emosionalnya mudah dikenali oleh masyarakat di banyak tempat: emosi bahwa penderitaan orang biasa tidak cukup krusial bagi mereka yang mempunyai kuasa.

Dalam konteks Indonesia, resonansi itu bisa muncul setiap kali ada jarak antara gimana sebuah kebijakan dibicarakan dari atas dan gimana konsekuensinya betul-betul dirasakan masyarakat.

Pertanyaannya akhirnya tidak lagi hanya politis. Siapa yang didengar? Siapa yang dilindungi? Dan siapa yang baru diperhatikan ketika kemarahannya sudah terlalu besar untuk diabaikan?

P!nk — “What About Us”

“What About Us” jauh lebih halus. Dirilis pada 2017, lagu P!nk ini berangkat dari situasi politik Amerika dan berbincang dari perspektif pandang orang-orang yang merasa dijanjikan sesuatu tetapi kemudian ditinggalkan. Lagu tersebut kemudian berkembang menjadi anthem bagi mereka yang merasa suaranya tidak didengar oleh penguasa.

Struktur emosinya universal. Politik modern dibangun dari janji. Pertumbuhan ekonomi, pekerjaan, kesejahteraan, pembangunan, pendidikan, kesempatan yang lebih baik—setiap pemilu mempunyai bahasa optimisme masing-masing.

Masalah muncul ketika pengalaman sehari-hari masyarakat tidak terasa seindah bahasa tersebut. Di situlah tiga kata sederhana dalam judulnya menjadi pertanyaan politik yang sangat kuat: Bagaimana dengan kami?

The 1975 — “Love It If We Made It”

Kalau ada sebuah lagu yang terdengar seperti membuka media sosial pada hari yang jelek lampau terus melakukan scroll selama lima menit, mungkin inilah lagunya.

“Love It If We Made It” menyusun beragam potongan realitas akhir 2010-an: politik, kekerasan, internet, budaya selebritas, rasisme, migrasi, perang, media, Donald Trump, sampai beragam tragedi yang dikonsumsi masyarakat sebagai rangkaian headline.

Efeknya sengaja melelahkan. Bukan satu rumor besar, melainkan terlalu banyak rumor sekaligus. Dan mungkin itulah argumen lagu ini terasa sangat kompatibel dengan pengalaman Indonesia satu dasawarsa terakhir.

Kita tidak lagi mengalami peristiwa politik secara terpisah. Sebuah kontroversi muncul di pagi hari, menjadi trending topic siang hari, melahirkan meme pada sore hari, dibantah malam hari, kemudian digantikan kontroversi lain keesokan harinya.

Politik menjadi hiburan. Tragedi menjadi konten. Kemarahan mempunyai siklus engagement. Dan semuanya terjadi melalui layar yang sama.

Green Day — “American Idiot”

Judulnya jelas berbincang tentang Amerika. Tetapi kritik yang dibangun Green Day jauh lebih besar daripada nama negara tersebut.

“American Idiot” lahir pada 2004 ketika Amerika berada dalam atmosfer pasca-9/11 dan perang Irak. Album dengan titel yang sama kemudian berkembang menjadi kritik terhadap politik, media, paranoia nasional, dan masyarakat yang menerima info melalui mesin komunikasi massa yang penuh kepentingan.

Dua dasawarsa kemudian, mekanismenya justru semakin kompleks. Indonesia mempunyai ekosistem digital yang luar biasa aktif. Informasi politik berkompetisi dengan disinformasi, video pendek, potongan pidato tanpa konteks, akun anonim, influencer, partisan, buzzer, dan algoritma yang mengetahui konten seperti apa yang membikin seseorang terus memandang layar.

Kita mempunyai akses terhadap lebih banyak info daripada generasi mana pun sebelumnya. Ironisnya, itu tidak otomatis membikin kita lebih terinformasi.

Radiohead — “No Surprises”

Tidak semua masalah Indonesia perlu dibicarakan melalui demonstrasi alias ruang parlemen. Ada juga politik kehidupan sehari-hari.

“No Surprises” dari Radiohead menangkap sesuatu yang lebih sunyi: rutinitas, keterasingan, pekerjaan, ekspektasi hidup, dan kemauan untuk keluar dari bumi yang terasa semakin mekanis.

Di kota-kota besar Indonesia, gambarnya tidak susah ditemukan. Bangun pagi. Commuting. Bekerja. Membalas pesan. Meeting. Pulang. Membayar tagihan. Mengkhawatirkan nilai rumah. Mengkhawatirkan pekerjaan. Mengkhawatirkan orang tua. Mengkhawatirkan masa depan. Kemudian mengulanginya lagi.

Untuk generasi yang hidup berbareng istilah burnout, quarter-life crisis, generasi sandwich, layoff, hustle culture, dan biaya hidup yang semakin terasa, “No Surprises” mungkin justru menjadi salah satu lagu paling politis dalam daftar ini tanpa pernah terdengar seperti lagu politik.

Sebab sistem ekonomi pada akhirnya tidak hanya datang dalam diagram pertumbuhan. Ia datang dalam tubuh orang yang kelelahan.

The Verve — “Bitter Sweet Symphony”

Ada argumen kenapa “Bitter Sweet Symphony” tetap terdengar begitu efektif ketika digunakan untuk menggambarkan manusia melangkah di tengah kota.

Richard Ashcroft menempatkan perseorangan berhadapan dengan struktur kehidupan yang terasa sudah ditentukan: kebutuhan mencari uang, menjalani rutinitas, mencoba berubah, tetapi tetap terikat oleh beragam tuntutan yang sama.

Ironisnya, sejarah lagu tersebut sendiri kemudian diwarnai sengketa kewenangan cipta yang menyebabkan The Verve kehilangan royalti dan angsuran penulisan selama bertahun-tahun sebelum persoalan itu akhirnya diselesaikan.

Namun tanpa perlu membawa sejarah tersebut ke Indonesia, gambaran besarnya sudah terasa dekat. Sebagian besar manusia tidak sedang mencoba menguasai dunia. Mereka hanya mencoba bayar semuanya tepat waktu. Dan kadang-kadang itulah perjuangan terbesar.

R.E.M. — “It’s the End of the World as We Know It (And I Feel Fine)”

Judul sepanjang itu terasa nyaris seperti lelucon. Tetapi mungkin memang itulah intinya. Ketika krisis datang terlalu sering, manusia mempunyai keahlian luar biasa untuk menormalisasikannya.

Dalam satu dasawarsa terakhir saja Indonesia telah melewati pandemi global, beragam musibah alam, ketidakpastian ekonomi, PHK, polarisasi politik, kabut asap dan kebakaran hutan, banjir, cuaca ekstrem, beragam bentrok geopolitik yang berakibat pada ekonomi domestik, sampai munculnya kekhawatiran baru tentang kepintaran buatan dan masa depan pekerjaan.

Setiap peristiwa terasa besar. Sampai peristiwa besar berikutnya datang. Kemudian sirine bersuara pagi-pagi dan kehidupan kembali melangkah seperti biasa.

Talking Heads — “Road to Nowhere”

David Byrne menulis “Road to Nowhere” dengan pendekatan yang nyaris paradoksal: musiknya terdengar optimistis, apalagi komunal, sementara judulnya justru menyiratkan bahwa perjalanan tersebut tidak mempunyai tujuan yang jelas.

Itu membikin lagu ini menjadi metafora yang menarik untuk membicarakan konsep “kemajuan”.

Indonesia selama satu dasawarsa terakhir terus bergerak. Infrastruktur dibangun. Kota berubah. Teknologi berkembang. Ekonomi digital tumbuh. Target pembangunan dibuat. Narasi menuju negara maju terus muncul.

Semua itu nyata. Namun kemajuan selalu memerlukan pertanyaan kedua: maju menuju apa?

Apakah pertumbuhan otomatis menghasilkan kualitas hidup yang lebih baik? Apakah pembangunan mempertimbangkan lingkungan? Apakah masyarakat yang paling rentan ikut menikmati hasilnya? Apakah kota menjadi lebih layak dihuni alias hanya lebih mahal?

Kadang-kadang masalah bukan lantaran sebuah negara tidak bergerak. Masalahnya adalah memastikan arah geraknya.

Billy Joel — “We Didn’t Start the Fire”

Billy Joel membikin “We Didn’t Start the Fire” setelah berbincang dengan seorang anak muda yang merasa generasinya hidup dalam periode sejarah yang luar biasa buruk.

Joel membalas dengan mengingatkan bahwa generasinya pun tumbuh berbareng Perang Korea, krisis politik, bentrok kewenangan sipil, perang Vietnam, dan beragam gejolak bumi lainnya. Dari percakapan itulah dia kemudian merangkai puluhan nama dan peristiwa dari 1949 hingga 1989 menjadi sebuah lagu.

Gagasannya sederhana tetapi penting: Setiap generasi mewarisi api dari generasi sebelumnya. Indonesia juga demikian.

Banyak persoalan yang kita hadapi hari ini tidak muncul dalam sepuluh tahun terakhir. Ketimpangan, oligarki, korupsi, persoalan agraria, kerusakan lingkungan, bentrok identitas, sentralisasi ekonomi, alias ketidakpercayaan terhadap lembaga mempunyai sejarah yang jauh lebih panjang.

Generasi sekarang mungkin tidak menyalakan seluruh apinya. Tetapi tetap kudu hidup di tengah kobarannya. Dan pada akhirnya, pertanyaan yang lebih produktif bukan lagi siapa yang pertama kali menyalakannya, melainkan siapa yang bersedia memadamkannya.

The Black Eyed Peas — “Where Is the Love?”

Dirilis pada 2003, “Where Is the Love?” muncul ketika bumi tetap sangat dipengaruhi trauma 9/11, perang melawan teror, rasisme, kekerasan, dan ketegangan geopolitik.

Namun dibandingkan dengan lagu protes lain dalam daftar ini, Black Eyed Peas memilih pertanyaan yang jauh lebih mendasar.

Apa yang terjadi ketika manusia kehilangan keahlian untuk berempati terhadap manusia lain? Pertanyaan itu terasa semakin relevan dalam masyarakat digital.

Perbedaan politik bisa menghapus pertemanan. Identitas menjadi bahan serangan. Musibah orang lain menjadi bahan perdebatan. Sebuah tragedi bisa berubah menjadi perang komentar hanya dalam hitungan menit.

Indonesia yang sangat beragam selalu hidup berbareng perbedaan agama, etnis, kelas, budaya, pandangan politik, dan pengalaman hidup. Perbedaan itu sendiri bukan masalah. Masalah muncul ketika kita berakhir memandang orang di sisi lain sebagai manusia.

Mungkin lantaran itu, lebih dari dua puluh tahun setelah dirilis, pertanyaan dalam “Where Is the Love?” belum kehilangan relevansinya.

Pink Floyd — “Money”

Dirilis dalam album “The Dark Side of the Moon” pada 1973, “Money” adalah salah satu kritik paling ikonik terhadap materialisme, keserakahan, dan langkah duit membentuk perilaku manusia.

Roger Waters menulisnya dengan ironi yang sangat jelas. Lagu ini terdengar seperti seremoni kekayaan—lengkap dengan bunyi mesin kasir dan koin di bagian pembuka—tetapi justru sedang menertawakan obsesi terhadap duit dan pertentangan masyarakat yang mengaku tidak materialistis sembari terus mengejarnya. Lima dasawarsa kemudian, temanya tidak terasa tua.

Dalam konteks Indonesia, “Money” mudah menemukan resonansi ketika pembicaraan mengenai politik berjumpa dengan kepentingan bisnis, ketika kekayaan memberi akses yang tidak dimiliki semua orang, alias ketika pertumbuhan ekonomi melangkah berdampingan dengan ketimpangan yang tetap terlihat dalam kehidupan sehari-hari.

Uang tentu bukan masalah dengan sendirinya. Ia menjadi persoalan ketika nyaris semua perihal mulai mempunyai harga: akses, pengaruh, kesempatan, apalagi kedekatan dengan kekuasaan.

Di situ satire Pink Floyd tetap bekerja dengan sangat baik. Masyarakat modern terus mengkritik materialisme sembari membangun sebagian besar hidupnya di sekeliling uang.

Genesis — “Land of Confusion”

“Land of Confusion” dirilis Genesis pada 1986, pada periode ketika bumi hidup di bawah bayang-bayang Perang Dingin, ancaman nuklir, dan kekhawatiran terhadap kepemimpinan politik global.

Ditulis oleh Mike Rutherford, lagu ini menggambarkan bumi yang kacau tetapi dipimpin oleh orang-orang yang seolah tidak bisa memberikan kepastian tentang ke mana semuanya bakal bergerak. Video musiknya yang terkenal apalagi menggunakan boneka satir para pemimpin dunia, termasuk Ronald Reagan, untuk memperkuat kritik politik tersebut.

Namun kekuatan lagunya justru terletak pada titel dan pendapat yang sangat universal.

Sebuah “land of confusion” tidak selalu berfaedah negara yang betul-betul berakhir berfungsi. Ia juga bisa menggambarkan masyarakat yang menerima terlalu banyak narasi sekaligus: pemerintah mengatakan satu hal, oposisi mengatakan perihal lain, media mempunyai framing sendiri, media sosial menambahkan teori baru, sementara masyarakat kudu menentukan sendiri mana yang bisa dipercaya.

Situasi seperti itu terasa semakin relevan di era digital Indonesia. Informasi tersedia tanpa henti, tetapi kepastian justru semakin langka. Sebuah rumor bisa mempunyai puluhan interpretasi dalam beberapa jam. Kebijakan publik menjadi bahan perang narasi. Fakta, opini, propaganda, satire, dan disinformasi bercampur dalam satu timeline.

Di tengah semua kebisingan tersebut, pertanyaan Genesis tetap sederhana: Jika semua orang berbicara, siapa sebenarnya yang memberi arah?

Itulah argumen “Land of Confusion” tetap terdengar lebih aktual daripada semestinya untuk sebuah lagu yang berumur empat dekade.

Lagu Berubah, Masalah Manusia Tidak Banyak Berubah

Tidak ada lagu dalam daftar ini yang dapat menjelaskan Indonesia secara utuh. Bahkan bakal menjadi penyederhanaan jika kita memaksakan seluruh konteksnya ke dalam pengalaman Indonesia.

Tetapi justru di situlah menariknya budaya populer.

Sebuah lagu tidak berakhir hidup setelah meninggalkan studio rekaman. Ia bergerak berbareng pendengarnya, menemukan konteks baru, dan memperoleh lapisan makna yang mungkin tidak pernah dibayangkan penciptanya.

Tears for Fears tidak sedang memikirkan politik Indonesia ketika menulis “Everybody Wants to Rule the World”. Leonard Cohen tidak sedang membicarakan korupsi di Jakarta ketika menulis “Everybody Knows”. Radiohead tidak sedang membayangkan seorang pekerja pulang-pergi menggunakan KRL ketika merekam “No Surprises”.

Namun kita tetap dapat mengenali sesuatu dari pengalaman kita sendiri di dalamnya. Mungkin lantaran teknologi berkembang jauh lebih sigap daripada sifat manusia. Pemerintahan berganti. Platform media sosial datang dan pergi. Sistem ekonomi berubah. Generasi baru mengambil alih ruang publik.

Tetapi perebutan kekuasaan, ketimpangan, propaganda, ketakutan, kelelahan, kebutuhan untuk didengar, dan kecenderungan manusia untuk membelah bumi menjadi “kita” dan “mereka” rupanya terus berulang.

Lagu-lagunya berasal dari tempat yang berbeda. Masalahnya terasa familiar. Dan mungkin sebuah negeri tidak perlu disebut dalam lirik untuk merasa sedang dibicarakan.

Selengkapnya
Soundtrack untuk Negeri yang Baik-Baik Saja
InMotion Shared Hosting
CloudWays Cloud Hosting