Menjadi berbakat sejak mini rupanya tidak selalu berfaedah sanjungan bagi anak, Bunda. Ada kalanya anak berbakat justru merasa terbebani dengan ekspektasi dari lingkungan sekitar yang banyak meletakkan angan padanya.
“Siswa berbakat sering diberi label ‘anak pintar’ sejak dini. Namun, label ini bisa menjadi tekanan lantaran membikin mereka merasa kudu selalu sukses dan takut melakukan kesalahan,” kata seorang tenaga pendidik siswa berbakat, Wess Carroll, dilansir dari Silicon Canals.
Saat anak berbakat sukses mengerjakan sesuatu, tentunya orang tua bakal merasa bangga dan sangat senang. Namun, saat anak kandas dalam mencapai perihal tersebut, tak jarang orang tua bakal sedikit kecewa.
Hal inilah yang membikin anak berbakat terkadang merasa kudu all out, sempurna, dan tidak mau mengambil akibat terlalu jauh. Maka, tidak heran andaikan anak berbakat condong menghindari beragam tantangan yang berpotensi membuatnya gagal.
Menurut mereka, kegagalan merupakan sebuah penurunan nilai dalam diri. Padahal, kandas merupakan salah satu langkah agar anak tersebut berkembang lebih baik, Bunda. Oleh karenanya, krusial sebagai orang tua untuk memberikan pemahaman tentang perihal tersebut.
Mengapa tantangan dianggap rawan bagi anak berbakat?
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa anak berbakat condong mempunyai sifat perfeksionis, ialah standar tinggi pada diri sendiri dan selalu menuntut kesempurnaan. Sifat ini terbentuk karena image-nya sebagai “anak pintar” yang justru membuatnya lebih menahan diri untuk berkembang, Bunda.
Seperti yang disampaikan sebelumnya, cap “anak pintar” tersebut membikin mereka ragu untuk mencoba perihal baru lantaran takut hasilnya tidak memuaskan. Sangat ironis andaikan anak yang potensial justru menjadi orang dewasa yang suka menghindari tantangan lantaran beban tersebut. Salah satunya mengenai dengan emosional, Bunda.
Anak berbakat mempunyai kepekaan emosional yang berbeda dari anak biasanya
Menurut psikolog pendidikan, David Palmer, Ph.D, anak-anak berbakat mempunyai kekuatan emosional yang berbeda dengan anak lainnya. Mereka juga lebih peka dengan emosi dan keadaan orang lain.
Kepekaan emosional tersebut tidak hanya terjadi saat memikirkan orang lain. Bahkan, pada dirinya sendiri pun mereka juga sering overthinking. Mereka sangat takut, jika mereka tidak menjadi seperti yang orang lain katakan tentang diri mereka, Bunda.
Dalam pikirannya, daripada kandas untuk membikin sesuatu yang sesuai dengan ekspektasi orang lain, lebih baik mereka bergerak di area kondusif saja. Takutnya, ketika mereka gagal, pujian yang awalnya diberikan, justru bakal berbalik menjadi cacian, Bunda.
Dampak dari karakter perfeksionis pada anak berbakat
Berdasarkan sejumlah hasil penelitian, karakter tersebut dapat terbawa hingga anak mulai bekerja alias meniti kariernya. Akibatnya, sifat perfeksionis tersebut tak jarang bakal menghambatnya dalam pekerjaan.
Di samping perihal tersebut, anak berbakat saat dewasa bakal menyadari bahwa untuk mencapai suatu perihal yang memang bukan talenta alami mereka, perlu melakukan upaya dengan keras. Namun, perihal tersebut butuh waktu bertahun-tahun lamanya.
Untuk mewujudkannya secara dini, anak berbakat kudu mulai belajar menerima kritik, umpan balik, mencoba perihal baru yang sederhana, dan tidak terlalu memikirkan orang lain. Dengan begitu, anak bakal lebih memahami bahwa dirinya tetap mempunyai ruang untuk berkembang.
Cara mendukung anak berbakat secara emosional
Mendampingi anak berbakat erat kaitannya dengan memahami kepekaan emosional mereka. Orang tua perlu memberikan support mulai dari perihal tersebut. Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan orang tua dalam mendukung emosional anak berbakat, dikutip dari laman Child Psychologist.
- Mendukung anak untuk bersosialisasi: Bunda dapat mendukung anak untuk bersosialisasi mulai dari perihal sederhana, seperti mendukung anak untuk mencari kawan baru, bermain berbareng teman-teman sebayanya, serta terbuka terhadap pertemanan anak.
- Melatih anak untuk bersosialisasi dengan baik: Sebelum mencari teman, mungkin Bunda dapat melatih anak untuk menyambut, mengobrol, alias membikin kawan merasa nyaman dengan bermain peran sehingga anak dapat mencontoh gimana langkah bersikap.
- Jadilah pendengar yang baik: Saat anak mulai berani untuk bercerita, jadilah pendengar yang baik agar anak merasa didukung, diterima, dan tidak diabaikan. Lakukan kontak mata saat anak berbincang dan tunjukkan minat dan kepedulian atas apa yang disampaikannya.
- Bersikap tulus: Hindari terlalu menyombongkan diri atas pencapaian diri sendiri kepada anak, maupun sebaliknya. Ajari anak untuk tetap rendah hati, jujur, dan percaya diri terhadap keahlian yang dimiliki.
- Ajari anak bangun hubungan sosial yang sehat: Bunda dapat menyarankan anak untuk mengikuti beragam kegiatan kelompok. Dari sana, anak bakal belajar bahwa banyak anak-anak lain yang mempunyai pola pikir dan langkah bertindak yang berbeda dengan mereka.
Demikian penjelasan mengenai apa argumen anak berbakat menghindari tantangan saat dewasa. Semoga info ini bermanfaat, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·