Melahirkan telentang bukan posisi alami bagi wanita kembali menjadi sorotan setelah beragam penelitian dan tulisan ilmiah membahasnya. Saat ini banyak wanita menjalani persalinan dalam posisi telentang di rumah sakit.
Selama ribuan tahun, rata-rata wanita di seluruh bumi lebih sering melahirkan dengan posisi tegak seperti jongkok, duduk di bangku persalinan, alias berlutut.
Menurut Janet Balaskas, pendiri Active Birth Centre di Inggris sekaligus pelopor konsep active birth, wanita secara alami condong memilih posisi yang membantu proses persalinan. Terutama posisi tegak yang memanfaatkan gravitasi.
Balaskas menjelaskan bahwa posisi jongkok dapat memperbesar diameter panggul sekitar 2,5 cm (1 inci), sehingga membantu bayi lebih mudah melewati jalan lahir dengan memanfaatkan gravitasi.
"Apa pun ras alias budayanya… posisi tegak yang sama tetap dominan," ujarnya.
Dalam artikelnya yang dimuat BBC Future, Balaskas menyebut praktik melahirkan sembari telentang merupakan kejadian yang relatif baru dalam sejarah persalinan.
"Ada ketidaktahuan umum di kalangan para ahli dan wanita mengandung tentang fisiologi persalinan," kata Balaskas, yang juga sebagai penulis sejumlah kitab dilansir dari BBC.
Sejarah kenapa wanita melahirkan telentang
Sejarawan mencatat bahwa perubahan ini mulai terjadi sekitar abad ke-17. Salah satu tokoh yang kerap dikaitkan adalah master kandungan asal Prancis, François Mauriceau, yang dalam bukunya The Diseases of Women with Child (1668) menganjurkan persalinan dilakukan di atas tempat tidur dengan posisi telentang. Alasannya, posisi tersebut dinilai lebih nyaman untuk pemeriksaan dan tindakan medis.
Mauriceau memandang kehamilan sebagai penyakit. "Yang terbaik dan paling pasti adalah melahirkan di tempat tidur mereka, untuk menghindari ketidaknyamanan dan kesulitan dibawa ke sana setelahnya," ujarnya.
Namun, beberapa mahir beranggapan bahwa perubahan posisi melahirkan sebenarnya mungkin disebabkan orang Prancis lain yang hidup pada masa yang sama dengan Mauriceau, ialah Raja Louis XIV.
"Karena Louis XIV dilaporkan senang menyaksikan wanita melahirkan, dia merasa frustrasi dengan pandangan yang terhalang saat melahirkan di atas bangku bersalin, dan mempromosikan posisi berebahan yang baru," tulis Lauren Dundes, seorang guru besar sosiologi di McDaniel College di Maryland, AS, dalam makalahnya tahun 1987 tentang perkembangan posisi melahirkan.
Meski belum dapat dipastikan sebagai penyebab utama, perubahan budaya dan berkembangnya praktik obstetri modern membikin posisi telentang semakin banyak digunakan di rumah sakit.
Alasan utama kenapa wanita melahirkan dalam posisi tegak selama ribuan tahun sangat sederhana, ialah gravitasi. Bayi kudu bergerak ke bawah melalui saluran persalinan, dan gravitasi berfaedah untuk proses tersebut.
Ketika ibu diberi kebebasan bergerak selama persalinan, mereka condong memilih posisi condong ke depan, seperti jongkok, bertumpu pada tangan dan lutut, alias bersandar pada penyangga.
Sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa posisi tegak saat persalinan mempunyai beragam manfaat. Terutama untuk wanita yang tidak menggunakan anestesi epidural.
Tinjauan sistematis Cochrane Database of Systematic Reviews yang melibatkan lebih dari 5.000 wanita menemukan bahwa ibu yang bergerak bebas dan menggunakan posisi tegak selama persalinan condong mengalami lama persalinan yang lebih singkat, berisiko lebih rendah menjalani operasi caesar, dan lebih jarang menggunakan epidural sebagai pereda nyeri.
Profesor kebidanan dari Western Sydney University, Hannah Dahlen, juga menjelaskan bahwa posisi tegak membantu kontraksi bekerja lebih efektif lantaran memanfaatkan gravitasi. Selain itu, posisi tersebut dapat mengurangi tekanan rahim pada pembuluh darah besar sehingga aliran darah dan oksigen menuju janin tetap optimal.
Meski demikian, penelitian juga menunjukkan bahwa setiap posisi mempunyai kelebihan dan keterbatasan. Misalnya pada kondisi tertentu, jika ibu menggunakan epidural, mengalami komplikasi, alias diperlukan pemantauan janin secara intensif, tenaga kesehatan dapat menyarankan posisi yang berbeda.
Mengapa posisi telentang tetap sering digunakan?
Sebagian besar wanita di banyak negara maju tetap melahirkan di rumah sakit dalam posisi berbaring. Padahal menurut Balaskas, praktik tersebut dinilai kurang sesuai dengan fisiologi persalinan normal.
"Membuat persalinan menjadi rumit dan mahal tanpa perlu, mengubah proses alami menjadi peristiwa medis dan wanita yang sedang melahirkan menjadi pasien pasif," kata Balaskas.
Para mahir lain juga setuju. Dahlen, dalam sebuah opini di The Conversation pada tahun 2013, menuliskan bahwa melahirkan terlentang adalah "fenomena yang relatif modern. Bahkan, posisi telentang tetap banyak dijumpai di akomodasi kesehatan.
Salah satu alasannya adalah kemudahan tenaga medis dalam memantau kondisi ibu dan janin, melakukan pemeriksaan, hingga melakukan tindakan jika terjadi kegawatdaruratan.
Selain itu, penggunaan monitor janin, infus, maupun anestesi epidural juga dapat membatasi mobilitas ibu sehingga posisi telentang alias separuh telentang menjadi lebih sering digunakan.
Meski beragam penelitian menunjukkan posisi tegak dapat memberikan sejumlah faedah selama persalinan, bukan berfaedah posisi telentang selalu keliru. Pilihan posisi melahirkan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi ibu, janin, serta pertimbangan tenaga kesehatan.
Yang terpenting, Bunda cukup mendapatkan info sehingga dapat berbincang dengan master alias perawat mengenai posisi persalinan yang paling kondusif dan nyaman.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·