Benarkah Sakit Parah saat Hamil Pengaruhi Perkembangan Otak Anak? Ini Kata Studi

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 4 menit 505x dilihat
Benarkah Sakit Parah saat Hamil Pengaruhi Perkembangan Otak Anak? Ini Kata Studi

Bagikan Postingan

Kehamilan merupakan masa saat wanita perlu mendapatkan perhatian ekstra. Pasalnya, sakit parah yang terjadi saat mengandung bisa berakibat pada kondisi ibu dan janin, Bunda.

Melansir dari laman Medical Xpress, para intelektual apalagi telah memperhatikan satu pola mengenai keparahan sakit selama hamil. Menurut mereka, penyakit parah selama kehamilan dapat meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada keturunan.

Salah satu studi yang pernah meneliti perihal tersebut baru-baru ini diterbitkan di jurnal Molecular Psychiatry. Para peneliti dari Salk Institute memantau epigenom sel korteks frontal tikus selama perkembangan janin, beberapa dengan induk yang sehat dan induk yang sistem kekebalannya diaktifkan.


Hasil studi menunjukkan, anak yang lahir dari ibu yang sistem kekebalan diaktifkan menunjukkan epigenom yang sangat berbeda pada neuron lapisan dalam dibandingkan dengan anak dari ibu yang sehat. Banyak perbedaan epigenetik ditemukan di dekat gen yang mengenai dengan gangguan spektrum autisme.

Temuan ini juga menunjukkan pengaruh genetik tantangan kekebalan prenatal terhadap perkembangan saraf, yang menciptakan perubahan permanen pada sirkuit otak dan bersambung hingga dewasa.

Dampak penyakit ibu pada perkembangan saraf anak

Salah satu yang diamati peneliti mengenai penyakit ibu adalah paparan flu. Beberapa dasawarsa lalu, para intelektual sudah memperhatikan ibu yang mengalami jangkitan influenza selama trimester kedua alias ketiga kehamilan. Mereka melaporkan adanya gangguan psikologis yang lebih tinggi pada anak-anak yang lahir dari ibu dengan kondisi tersebut.

"Itu sudah lama sekali," kata salah satu penulis utama, Margarita Behrens, Ph.D.

"Tapi, ketika para mahir epidemiologi menganalisis kejadian baru-baru ini menggunakan sampel darah dari ibu, mereka menemukan bahwa perihal itu kemungkinan mengenai dengan respons imun ibu terhadap infeksi."

Lebih spesifik, para peneliti menemukan peningkatan kadar IL-6 dalam aliran darah ibu. IL-6 adalah protein krusial yang membantu memicu peradangan sebagai bagian dari respons imun.

Dari info terbaru ini, para intelektual bisa menciptakan model hewan pengerat dari kejadian di mana jangkitan influenza menyebabkan aktivasi imun dan peningkatan akibat gangguan perkembangan saraf.

"Saat ini, model tersebut telah dikarakterisasi dengan sangat baik," ungkap Behrens.

"Tetapi sebagian besar karakterisasi tersebut berkarakter perilaku alias elektrofisiologis, bukan epigenetik. Kami mau memandang perubahan epigenetik apa yang terjadi sepanjang perkembangan yang berpotensi menyebabkan pengamatan perilaku, psikiatris, dan elektrofisiologis yang telah dilakukan oleh intelektual lain."

Perlu diketahui, perubahan epigenetik adalah penanda kimia dan modifikasi yang dilakukan di atas kode genetik dasar. Perubahan ini menentukan gen mana yang diekspresikan alias tidak, dan memengaruhi kegunaan seluruh sel.

Setelah anak lahir, tim peneliti juga mengumpulkan rekaman elektrofisiologis neuron lapisan dalam untuk memahami apakah neuron tersebut berubah akibat perubahan transkripsional dan epigenetik yang diamati. Analisis mengkonfirmasi bahwa perkembangan neuron lapisan dalam pada anak terganggu.

"Infeksi mengubah kemungkinan apakah perkembangan saraf terpengaruh, tapi tidak semua orang yang sakit selama kehamilan pasti bakal mempunyai anak dengan gangguan perkembangan saraf," kata penulis pendamping Joseph Ecker, Ph.D.

Harapan peneliti tentang hasil studi

Studi ini memberikan wawasan baru mengenai penyebab mendasar dari beberapa gangguan perkembangan saraf. Studi juga menunjukkan akibat jangka panjang dari tantangan imun prenatal terhadap hasil kesehatan keturunan.

Penguraian lebih lanjut mengenai hasil studi ini diharapkan dapat memandu upaya di masa mendatang untuk mengembangkan terapi bagi ibu alias janin yang dapat mencegah alias mengurangi akibat gangguan tersebut.

"Kita sekarang lebih dekat untuk memahami akibat jangkitan pada ibu hamil, tetapi ini baru permulaan dari cerita," kata Ecker.

"Ini baru puncak gunung es. Kami sedang menyaring semua perihal yang telah kami lakukan selama 10 tahun, menganalisis epigenom selama bertahun-tahun untuk sampai pada titik di mana kami dapat mengusulkan pertanyaan-pertanyaan ini. Sekarang kami dapat mendekati pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan lebih detail. Ini bakal sangat menyenangkan ke depannya," tambah Behrens.

Demikian studi terbaru yang menemukan kaitan sakit parah saat mengandung dan perkembangan otak anak setelah lahir. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(ank/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads