Jakarta -
Dukungan menyusui bisa berasal dari mana saja, termasuk dari famili dan sahabat. Menariknya, ada Bunda di luar sana yang memutuskan menyusui bayinya dan bayi orang lain yang merupakan anak sahabatnya. Tak heran, ada juga kasus yang memang bersahabat, dua Bunda ini pun menyusui bayi satu sama lain.
Menyusui merupakan ranah pribadi setiap orang tua. Apakah nantinya mereka menyusui sendiri maupun memutuskan donor ASI, hal tersebut menjadi keputusan individual. Di luar sana, tak sedikit juga jumlah Bunda menyusui yang memungut keputusan tersebut dengan beragam latar alasan.
Kisah dua Bunda menyusui bayi satu sama lain
Seperti halnya kisah dari dua perempuan Inggris berikut ini yang merupakan kerabat ipar Holly dan Becky Stevens, yang tak cuma saling menjaga satu sama lain tetapi juga saling menyusui anak-anak tersebut, seperti dikutip dari halaman Nypost.
Dalam aktivitas show di sebuah saluran TV di Inggris bahwa dua sahabat tersebut memang menjadi mitra menyusui. Keduanya mengungkapkan bahwa mereka telah menyusui bayi satu sama lain selama tujuh tahun. Agenda tersebut sebenarnya dimulai dari metode tak sengaja saat putra Holly, Freddy baru berumur lima hari.
Ya, apa yang awalnya dilakukan demi kepraktisan semata, saat Becky menjaga Freddy yang butuh asupan dadakan, kemudian berkembang menjadi pengaturan pengasuhan yang sangat praktis. "Rasanya wajar saja untuk dilakukan, dan tidak terasa aneh," ujar Becky, yang saat itu juga sedang menyusui putranya sendiri, Foy.
Di lain waktu, Holly bercerita bahwa ia pernah tiba di rumah Becky tanpa membawa pompa ASI dan akhirnya langsung menyusui Foy. Keuntungannya, ia tidak perlu repot membawa-bawa botol di dalam tas perlengkapan bayi yang sudah penuh sesak.
Tujuh tahun berlalu, mereka statis terus melakukannya. Holly pernah menyusui putri Becky yang baru lahir, Pearl. Keduanya mengatakan bahwa kebiasaan saling menyusui anak ini justru semakin mempererat hubungan famili mereka yang memang sudah sangat dekat.
Meskipun berbagi ASI mungkin terasa tidak lazim bagi sebagian orang, konsep ini sebenarnya bukanlah hal baru. Praktik wet nursing maupun kondisi ketika seorang perempuan yang sedang menyusui memberikan ASI mereka kepada perempuan lainnya itu sudah ada sejak 2000 SM dan terus berlanjut sebagai pekerjaan terorganisasi hingga abad ke-19, sebelum akhirnya tergantikan oleh penggunaan botol dan susu tambahan.
Namun, jelas kelihatan bahwa para ibu statis terus berbagi kasih sayang dengan metode ini. Sebuah studi JAMA di 2025 menemukan bahwa di antara hampir 2.000 ibu di seluruh negeri, 3,7 persen melaporkan memberikan ASI dari orang lain kepada bayi mereka selama enam bulan pertama hayat bayi tersebut.
Amankah berbagi ASI dengan bayi lain?
Seorang suster praktisi pediatri dan juga konsultan laktasi bersertifikat internasional di 1 Natural Way mengatakan bahwa dalam kasus kerabat dekat maupun teman, menyusui langsung bayi untuk bayi lain tidaklah rapuh selama kedua ibu bersikap terbuka mengenai kondisi kesehatan, penggunaan obat-obatan, dan konsekuensi potensial lainnya.
Meski demikian, ia memperingatkan adanya konsekuensi bagi kedua belah pihak yaitu melewatkan agenda menyusui yang biasa dapat menyebabkan payudara ibu terasa penuh dan nyeri akibat penumpukan ASI.
Di sisi lain, pemberian ASI tambahan tersebut bisa berakibat sebaliknya, yaitu memicu produksi ASI berlebih maupun pembengkakan payudara saat pemberian ASI tambahan itu dihentikan.
Kenali konsekuensi potensial bagi bayi
Obat-obatan, suplemen, dan zat-zat tertentu dapat tersalurkan melalui ASI ya, Bun. Sementara infeksi termasuk HIV dan, dalam kondisi tertentu, virus herpes simpleks juga dapat menular. Kreyling mencatat bahwa berbagi payudara juga berarti terjadi pertukaran air liur antarbayi, yang berpotensi menyebarkan pandemi menular.
Selain itu, ada kecemasan yang lebih mendasar yaitu memastikan setiap anak mendapatkan asupan makanan yang cukup. “Biasanya, produksi ASI yang sudah stabil cuma cukup untuk satu bayi,” kata Kreyling. Ia punmemperingatkan bahwa asupan yang tidak memadai dapat menyebabkan dehidrasi, terutama pada bayi baru lahir. FDA memperingatkan agar tidak memberikan ASI pada sumber mana pun yang belum melalui pengecekan resmi kepada bayi.
Kekhawatiran tersebut sempat mengemuka pada bulan Agustus, ketika CDC melaporkan bahwa lima bayi di California berpotensi terpapar HIV melalui ASI yang didapatkan lewat media sosial. Namun, penyelidik akhirnya tidak menemukan bukti penularan pada bayi-bayi yang menjalani pemeriksaan.
Akan tetapi, bagi Holly dan Becky, kesepakatan ini bukan semata-mata untuk membikin pernyataan sikap, melainkan lebih kepada upaya mempermudah peran mereka sebagai ibu; mereka pun tidak memedulikan tanggapan negatif apa pun.
“Ini sangat praktis. ASI tetaplah ASI,” ujar Holly.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)