PAFS menjadi salah satu unsur kimia rawan yang tersembunyi di beragam produk. Terbaru, bikin khawatir, PFAS ditemukan di semua sampel ASI di negara ini.
PFAS adalah sekelompok bahan kimia buatan manusia yang meliputi PFOA, PFOS, GenX, dan banyak lainnya. Senyawa-senyawa ini telah dibuat dan digunakan di beragam industri di seluruh bumi sejak tahun 1940-an.
Diperkirakan ada sekira 9.000-12.000 jenis bahan kimia ini, yang dapat ditemukan di lebih dari 4.700 produk, termasuk alat-alat penyelamat jiwa untuk petugas pertolongan pertama, instrumen medis, dan beragam peralatan rumah tangga dan konsumen, seperti dikutip dari laman Truthnscience.
Menyusui dan PFAS
Menyusui semestinya menjadi nutrisi terbaik untuk bayi. Namun, kemunculan unsur kimia rawan seperti PFAS yang tanpa disadari terserap di ASI membikin kekhawatiran tersendiri bakal keselamatan dan kesehatan bayi ke depannya.
Ketika menyusui, memang ada perihal yang perlu dipertimbangkan. Salah satunya, adanya akibat paparan bayi terhadap bahan kimia lingkungan seperti PFAS yang dapat masuk ke ASI.
Kondisinya, PFAS banyak tersebar luas di lingkungan. Sebagian besar orang di AS dan negara-negara industri lainnya mempunyai jumlah PFAS yang terukur dalam darah mereka. Studi penelitian menunjukkan bahwa PFAS dapat ditemukan dalam ASI manusia dan dikeluarkan melalui laktasi seperti dikutip dari laman CDC.
PFAS ditemukan dalam sampel ASI
Menurut sebuah penelitian terbaru, seperlima bayi yang disusui di Belanda menerima jumlah bahan kimia PFAS yang berlebihan dalam ASI ibu mereka.
PFAS ditemukan di semua 1.629 sampel ASI yang diuji oleh para intelektual RIVM, dengan 18 persen mengandung jumlah di atas tingkat aman. Peneliti utama Joke Herremans menyebut hasil tersebut mengejutkan.
PFAS adalah istilah kolektif untuk sekelompok 29 bahan kimia yang digunakan dalam produk seperti sampo, bungkusan makanan, kosmetik, dan cat, yang dikenal sebagai 'bahan kimia abadi' lantaran memerlukan waktu yang sangat lama untuk terurai.
Keberadaannya di lingkungan banyak dikaitkan dengan kanker dan gangguan hormon. Sementara itu, pada pemakaian dalam jumlah yang tinggi dapat merusak sistem kekebalan tubuh bayi dan membikin mereka lebih rentan terhadap penyakit dan mengurangi pengaruh vaksin.
RIVM menyatakan bahwa dua jenis PFAS, yang dikenal sebagai PFOS dan PFOA, terdapat di nyaris setiap sampel dan empat jenis lainnya terdapat di 93 persen sampel, tetapi 21 jenis lainnya nyaris tidak tercatat sama sekali.
RIVM juga menyatakan bahwa kadar tersebut lebih rendah daripada yang ditemukan dalam sampel skala mini enam tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa langkah-langkah yang diambil pemerintah untuk mengurangi penggunaan komersial PFAS telah berhasil. Bahan kimia PFOS telah dilarang sejak tahun 2008, sedangkan PFOA dilarang pada tahun 2020.
“Ini sangat mengkhawatirkan,” kata Herremans.
Terkait perihal tersebut, RIVM menyarankan para ibu baru untuk menyusui bayi mereka jika memungkinkan, terutama lantaran susu serbuk juga mengandung PFAS dalam jumlah tinggi.
“ASI tidak hanya mengandung nutrisi penting, tetapi juga unsur yang melindungi dari penyakit,” kata Herremans seperti dikutip dari laman Dutchnews.
Ia juga menyarankan agar para wanita tidak menggunakan tes komersial untuk mengukur kadar PFAS dalam ASI mereka. "Tidak ada yang bisa Anda lakukan dengan hasilnya. Hasil tersebut memberi tahu Anda berapa banyak PFAS yang terkandung di dalamnya, tetapi saat ini kami belum menetapkan tingkat di mana kami menyarankan orang untuk berakhir menyusui," imbuhnya.
Haruskah tetap Bunda melanjutkan menyusui?
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kadar PFAS dapat bervariasi tergantung pada waktu pengumpulan ASI selama satu kali menyusui alias sepanjang masa laktasi. Selain itu, hingga saat ini belum ada studi biomonitoring skala besar untuk PFAS dalam ASI untuk menetapkan nilai referensi untuk komparasi yang mewakili populasi wanita menyusui khususnya di AS.
Nilai referensi memungkinkan master dan intelektual untuk menentukan apakah seseorang alias golongan mempunyai paparan yang luar biasa tinggi. Lebih lanjut, tidak ada tingkat PFAS yang ditetapkan untuk ASI yang diperkirakan menimbulkan akibat kesehatan bagi bayi alias ibu.
Hal terpenting, dengan beragam faedah kesehatan yang terlindungi, ASI tetap menjadi nutrisi ideal bagi bayi. Dan dalam nyaris setiap keadaan, the American Academy of Pediatrics merekomendasikan agar ibu menyusui terus menyusui bayi mereka meskipun ada potensi adanya kontaminan lingkungan.
Ada beberapa situasi di mana bayi mungkin tidak dapat menyusui. Dalam kasus ini, jika menggunakan susu formula serbuk alias cair pekat, susu tersebut kudu dicampur dengan air dari sumber yang aman.
Selain itu, krusial bagi semua orang termasuk ibu menyusui dan wanita usia produktif untuk mengambil langkah-langkah dalam mengurangi alias menghilangkan sumber paparan PFAS, misalnya dari makanan alias bungkusan makanan tertentu, air minum yang terkontaminasi dan bahan anti noda dan anti air.
Seiring perkembangannya, pengetahuan pengetahuan tentang akibat kesehatan akibat paparan PFAS terus berkembang. Namun, berasas pemahaman ilmiah saat ini, faedah menyusui lebih besar daripada potensi akibat paparan PFAS melalui ASI.
Karenanya, selain perawatan prenatal rutin, ibu menyusui kudu terus menerima perawatan pascanatal rutin yang direkomendasikan dan secara rutin berkonsultasi dengan master ketika muncul pertanyaan alias kekhawatiran. Selain itu, bayi dan anak-anak juga kudu menerima pemeriksaan kesehatan rutin, vaksinasi yang direkomendasikan, dan tes skrining kesehatan yang sesuai dengan usia.
Semoga informasinya membantu ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·