Jakarta -
Menjalani kehamilan tentu menjadi pengalaman yang penuh cerita. Namun, bagi Bunda yang mengalami kehamilan berisiko, perjalanan ini mungkin terasa sedikit berbeda. Ada lebih banyak pemeriksaan, lebih banyak perihal yang perlu diperhatikan, dan mungkin muncul kekhawatiran tentang kondisi Bunda maupun Si Kecil.
Rasa resah alias takut dalam kondisi seperti ini sebenarnya wajar. Apalagi jika Bunda kudu lebih sering kontrol ke master alias menjalani pemeriksaan tertentu.
Meski begitu, stres yang terus-menerus tentu bisa membikin Bunda merasa semakin capek secara bentuk maupun emosional. Karena itu, krusial untuk mencari langkah agar pikiran tetap tenang selama menjalani kehamilan.
Apa itu kehamilan berisiko?
Kehamilan berisiko adalah kehamilan yang mempunyai kemungkinan lebih tinggi mengalami komplikasi dibandingkan kehamilan pada umumnya. Kondisinya bisa berangkaian dengan kesehatan Bunda, kondisi janin, usia kehamilan, maupun riwayat kehamilan sebelumnya.
Beberapa kondisi yang dapat membikin kehamilan memerlukan pemantauan lebih ketat antara lain kehamilan pada usia tertentu, tekanan darah tinggi, glukosuria selama kehamilan, kehamilan kembar, riwayat keguguran, alias adanya masalah kesehatan tertentu.
Kehamilan berisiko bukan berfaedah pasti bakal mengalami komplikasi, ya, Bunda. Justru dengan pemantauan yang tepat dan mengikuti rekomendasi tenaga kesehatan, banyak Bunda dengan kehamilan berisiko yang dapat menjalani kehamilan dan persalinan dengan baik.
Kenapa kehamilan berisiko bisa membikin Bunda lebih stres?
Rasa stres selama kehamilan bisa muncul lantaran banyak hal. Misalnya, Bunda cemas dengan hasil pemeriksaan, takut terjadi sesuatu pada janin, memikirkan proses persalinan, alias merasa terbebani lantaran kudu lebih sering ke rumah sakit. Belum lagi jika Bunda mendapatkan banyak info dari internet alias mendengar pengalaman orang lain yang justru membikin pikiran semakin ke mana-mana.
Bunda yang menjalani kehamilan berisiko tidak hanya perlu memperhatikan kesehatan fisik, tetapi juga kondisi emosional. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) merekomendasikan agar ibu mengandung mendapatkan skrining depresi dan kekhawatiran selama kehamilan. Artinya, rasa resah yang dirasakan Bunda bukan sesuatu yang kudu dipendam sendiri. Jika mulai mengganggu kegiatan sehari-hari, sebaiknya dibicarakan dengan master alias tenaga kesehatan.
Yang krusial adalah mengenali ketika stres mulai terasa berlebihan dan mencari support yang tepat.
Tips meminimalkan stres saat menjalani kehamilan berisiko
Berikut beberapa tipsnya:
1. Fokus pada perihal yang bisa Bunda kendalikan
Ketika master mengatakan kehamilan Bunda memerlukan pemantauan lebih ketat, mungkin muncul banyak pertanyaan di kepala.
"Bagaimana kondisi bayiku?"
"Apakah kelak bisa lahir dengan sehat?"
"Bagaimana proses persalinannya?"
Daripada terus memikirkan kemungkinan jelek yang belum tentu terjadi, coba arahkan perhatian pada hal-hal yang memang bisa Bunda lakukan saat ini.
Misalnya, datang kontrol sesuai jadwal, mengonsumsi obat alias suplemen sesuai rekomendasi dokter, menjaga pola makan, cukup tidur, dan mengikuti rekomendasi kegiatan dari tenaga kesehatan.
Satu per satu saja, Bunda. Tidak perlu memikirkan seluruh perjalanan kehamilan sekaligus.
2. Batasi mencari info secara berlebihan
Internet memang bisa menjadi tempat mencari informasi. Namun, terlalu sering mencari info mengenai komplikasi kehamilan justru bisa membikin Bunda semakin cemas. Apalagi ketika Bunda membaca pengalaman orang lain yang kondisinya sebenarnya berbeda.
Bukan berfaedah Bunda tidak boleh mencari informasi. Sebaiknya pilih sumber yang terpercaya dan gunakan info tersebut sebagai bahan obrolan dengan dokter. Kalau sudah mulai merasa setiap indikasi mini membikin Bunda panik lantaran membaca beragam kemungkinan di internet, mungkin sudah waktunya berakhir scrolling sejenak.
3. Jangan ragu bertanya kepada dokter
Salah satu penyebab kekhawatiran adalah ketidakpastian. Bunda mungkin merasa takut lantaran belum memahami kondisi yang sedang dialami. Karena itu, jangan sungkan bertanya kepada master saat pemeriksaan.
Bunda bisa mencatat pertanyaan sebelum agenda kontrol agar tidak ada yang terlupakan.
Misalnya:
Apa kondisi yang sedang saya alami?Apa yang perlu saya perhatikan di rumah?
Pemeriksaan apa saja yang perlu dilakukan?
Kapan saya perlu segera datang ke rumah sakit?
Aktivitas apa yang tetap boleh saya lakukan?
Mendapatkan penjelasan dari tenaga kesehatan yang menangani Bunda secara langsung biasanya jauh lebih membantu dibandingkan membikin konklusi sendiri dari internet.
4. Ceritakan kekhawatiran kepada orang terdekat
Bunda tidak kudu menghadapi semuanya sendirian.
Cobalah ceritakan apa yang sedang dirasakan kepada suami, keluarga, alias kawan yang dipercaya. Kadang-kadang, mengeluarkan isi pikiran saja sudah membikin emosi sedikit lebih lega.
Bunda juga bisa meminta pasangan untuk menemani saat kontrol jika memungkinkan. Kehadiran orang terdekat dapat memberikan rasa aman, terutama ketika Bunda sedang menghadapi pemeriksaan alias keputusan medis tertentu.
5. Lakukan teknik relaksasi sederhana
Tidak kudu melakukan meditasi dalam waktu lama. Bunda bisa mencoba kegiatan sederhana yang membikin tubuh lebih rileks.
Misalnya, mengambil napas secara perlahan, melakukan latihan relaksasi, mendengarkan musik yang menenangkan, membaca buku, alias melakukan kegiatan ringan yang memang diperbolehkan oleh dokter.
Latihan pernapasan juga bisa menjadi pilihan ketika Bunda mulai merasa cemas. Tarik napas perlahan melalui hidung, tahan sebentar, kemudian keluarkan secara perlahan. Ulangi beberapa kali sembari mencoba memusatkan perhatian pada napas.
6. Tetap bergerak jika master mengizinkan
Aktivitas bentuk selama kehamilan dapat memberikan faedah bagi kesehatan bentuk maupun mental. Namun, pada kehamilan berisiko, jenis dan intensitas kegiatan tentu perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing Bunda.
Jadi, jangan langsung mengikuti olahraga yang dilakukan ibu mengandung lain. Tanyakan kepada master apakah Bunda diperbolehkan melangkah santai, melakukan peregangan, alias kegiatan bentuk tertentu.
Jika master meminta Bunda membatasi kegiatan alias banyak beristirahat, ikuti rekomendasi tersebut.
7. Prioritaskan tidur dan istirahat
Kurang tidur dapat membikin tubuh terasa lebih capek dan emosi lebih susah dikendalikan. Karena itu, usahakan Bunda mendapatkan waktu rehat yang cukup.
Buat rutinitas sebelum tidur yang sederhana, seperti mengurangi penggunaan gawai, membikin bilik lebih nyaman, alias melakukan kegiatan yang menenangkan.
Kalau Bunda susah tidur lantaran terus memikirkan kondisi kehamilan, jangan dipendam sendiri. Ceritakan kepada master saat kontrol, terutama jika gangguan tidur berjalan terus-menerus.
8. Kurangi beban yang tidak perlu
Kehamilan bukan waktunya Bunda memaksakan diri untuk melakukan semuanya sendirian.
Kalau ada pekerjaan rumah yang bisa dibantu suami alias keluarga, tidak ada salahnya meminta bantuan. Bunda juga tidak kudu memenuhi semua ekspektasi orang lain selama kehamilan. Prioritaskan kesehatan Bunda dan Si Kecil.
Kalau hari ini hanya bisa melakukan beberapa perihal penting, itu sudah cukup.
9. Buat catatan perjalanan kehamilan
Untuk sebagian Bunda, mencatat kondisi kehamilan justru bisa membantu mengurangi kecemasan.
Bunda dapat mencatat agenda kontrol, pertanyaan untuk dokter, hasil pemeriksaan yang perlu diketahui, obat alias vitamin yang sedang dikonsumsi, serta hal-hal yang dirasakan. Dengan begitu, Bunda tidak perlu mengingat semuanya sendiri.
Namun, hindari menjadikan catatan tersebut sebagai sumber kekhawatiran baru. Tidak perlu terus-menerus memeriksa alias membandingkan kondisi Bunda dengan ibu mengandung lainnya.
10. Jangan takut meminta support profesional
Ada kalanya stres dan kekhawatiran terasa terlalu berat untuk ditangani sendiri.
Bunda sebaiknya membicarakannya dengan master alias tenaga kesehatan jika terus-menerus merasa cemas, susah tidur, kehilangan minat melakukan aktivitas, susah berkonsentrasi, alias merasa kekhawatiran mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Dokter dapat membantu menentukan apakah Bunda memerlukan support psikologis alias jasa kesehatan mental selama kehamilan.
Mencari support bukan berfaedah Bunda lemah. Justru, meminta pertolongan ketika membutuhkannya merupakan bagian dari menjaga kesehatan Bunda dan Si Kecil.
Kapan Bunda perlu segera mencari bantuan?
Rasa cemas sesekali selama kehamilan merupakan perihal yang manusiawi. Namun, Bunda perlu lebih memperhatikan kondisi ketika stres alias kekhawatiran terasa terus-menerus dan mulai mengganggu kegiatan sehari-hari.
Terlebih jika Bunda merasa sangat takut, mengalami gangguan tidur yang berat, susah menjalankan kegiatan sehari-hari, alias merasa tidak bisa menghadapi kehamilan. Jangan menunggu sampai merasa betul-betul kewalahan. Sampaikan kondisi tersebut kepada master alias perawat yang menangani Bunda.
Kehamilan berisiko memang memerlukan perhatian lebih. Namun, kehamilan berisiko bukan berfaedah Bunda kudu menjalani setiap harinya dengan rasa takut.
Ikuti pemeriksaan dan rekomendasi dokter, cari info dari sumber yang terpercaya, cukup beristirahat, dan jangan ragu meminta support dari orang-orang terdekat.
Yang paling penting, Bunda tidak perlu memikirkan seluruh perjalanan kehamilan dalam satu waktu. Jalani satu hari demi satu hari.
Kalau hari ini Bunda sudah makan dengan baik, beristirahat, mengikuti rekomendasi dokter, dan melakukan yang terbaik untuk diri sendiri serta Si Kecil, itu sudah merupakan corak perjuangan yang luar biasa.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(pri/pri)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·