Kanker endometrium merupakan jenis kanker ginekologi alias kanker yang menyerang organ reproduksi perempuan. Kasus kanker endometrium biasanya ditemukan pada wanita yang sudah memasuki masa menopause, Bunda.
Di Indonesia, kanker endometrium menempati ranking ketiga pada kanker ginekologi setelah kanker serviks dan ovarium. Dalam beberapa tahun terakhir, insidennya apalagi meningkat hingga dua kali lipat.
"Kanker endometrium tumbuh pada lapisan paling dalam rahim, mencakup 90 persen dari seluruh kasus kanker rahim," kata Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, dr. Renny Anggia Julianti, Sp. O.G, Subsp. Onk.
Kanker endometrium memang menjadi salah satu jenis kanker rahim yang sering terjadi pada wanita di masa menopause. Namun, kasus kanker ini juga dapat terjadi pada wanita muda.
"Kanker ini umumnya terjadi lantaran perubahan genetik pada sel-sel di dalam rahim yang tumbuh sangat sigap dan tidak terkendali hingga membentuk kanker," ungkap Renny, dalam kegiatan Media Discussion RS Pondok Indah Group tentang Kanker Endometrium, di Jakarta Pusat, belum lama ini.
Program mengandung untuk wanita dengan kanker endometrium
Bunda dengan kanker endometrium bisa saja memulai program mengandung melalui terapi hormonal yang disebut terapi fertility-sparing. Tapi, tidak semua kondisi kanker endometrium dapat menjalani program mengandung ini ya.
"Terapi hormonal bekerja dengan langkah mengontrol kadar hormon di dalam tubuh guna memperlambat alias menghentikan pertumbuhan sel kanker. Terapi ini dapat diberikan dalam corak obat minum, suntikan, alias IUD yang mengandung hormon sesuai indikasi dokter," kata Renny.
Perlu diketahui, terapi fertility-sparing adalah pendekatan medis untuk mengobati kanker pada tahap awal, tanpa mengangkat organ tertentu. Jenis terapi hormonal ini dapat mempertahankan keahlian wanita untuk merencanakan kehamilan.
"Ada beberapa syarat untuk melakukan terapi ini, ialah pasien berumur di bawah 40 tahun, derajat diferensiasi selnya baik, dan tidak ada penyebaran sel kanker ke otot rahim," ujar Renny.
"Jadi, wanita yang menjalani terapi ini bakal diberikan hormon. Lalu, dievaluasi setelah tiga sampai enam bulan dengan USG. Kalau hasilnya bagus dan dianggap berhasil, maka bisa disegerakan untuk hamil. Tidak ada keharusan untuk mengandung dengan program bayi tabung, tapi langkah ini dianggap lebih sesuai daripada menunggu untuk mengandung secara alami," sambungnya.
Perempuan yang sukses mengandung tidak perlu menjalani tatalaksana khusus. Bunda hanya perlu mengatur pola makan alias menjalani style hidup sehat selama kehamilan untuk mencegah komplikasi, seperti diabetes.
Saat melahirkan, Bunda kemungkinan bakal disarankan untuk menjalani pengangkatan rahim. Keputusan ini dapat dikonsultasikan dulu dengan master ya.
Penyebab dan aspek akibat kanker endometrium
Penyebab dari kanker endometrium belum diketahui secara pasti. Namun, kondisi ini kerap dikaitkan dengan ketidakseimbangan hormon di tubuh perempuan, terutama hormon estrogen yang terlalu tinggi.
"Bagian endometrium itu paling sensitif terhadap hormon. Hormon memang yang diproduksi oleh indung telur alias ovarium, tapi yang terkena efeknya itu bisa endometrium alias rahim," ujar Renny.
Berikut beberapa penyebab dan aspek akibat dari kanker endometrium, termasuk yang mengenai dengan ketidakseimbangan hormon:
- Terbiasa mengonsumsi obat yang mengandung estrogen alias menstimulasi estrogen, seperti pada suntik hormon untuk program hamil.
- Overweight alias mempunyai berat badan berlebih bisa menyebabkan siklus menstruasi tidak teratur dan memengaruhi keseimbangan hormon.
- Gaya hidup, seperti sering mengonsumsi gula alias tepung, yang dapat membikin izin hormon estrogen rusak.
- Sindrom metabolik, seperti glukosuria melitus, hipertensi, hipertrigliseridemia. Diabetes apalagi meningkatkan aspek akibat terjadinya kanker endometrium hingga 4-5 kali lipat.
- Faktor genetik, seperti lynch syndrome alias mutasi gen BRCA.
- Perempuan mengalami infertilitas
Gejala kanker endometrium
Berikut beberapa indikasi utama dari kanker endometrium:
- Perdarahan memek setelah menopause (pasca menopause alias setelah berakhir haid)
- Perubahan pola haid, misalnya darah menstruasi terus keluar dan sangat dahsyat alias keluar flek di luar agenda haid
- Keputihan abnormal alias bercampur darah
- Nyeri pada panggul dan perut bagian bawah
- Sakit saat berasosiasi intim alias saat buang air kecil
- Ukuran rahim membesar, yang dapat ditandai dengan perut bawah terasa begah saat tidur.
Demikian serba-serbi kanker endometrium dan kesempatan mengandung pada wanita yang didiagnosis penyakit ini. Semoga info ini berfaedah ya, Bunda.
(ank/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·