Brainrot: Kenali Arti, Gejala, Dampak Berbahaya, Dan Cara Mengatasinya

May 13, 2026 09:30 AM - 1 bulan yang lalu 41278

Brainrot menjadi istilah yang belakangan ini makin sering muncul di media sosial, terutama lewat beragam konten viral dan brainrot meme yang ramai dibicarakan. Namun, tak sedikit Bunda yang mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa itu brainrot dan apakah kondisi ini hanya sekadar tren internet biasa?

Yuk, simak info selengkapnya tentang brainrot di bawah ini. Dengan mengenali indikasi serta dampaknya sejak awal, Bunda dapat lebih bijak dalam mendampingi anak maupun mengatur penggunaan media sosial sehari-hari.

Apa itu brainrot? 

Mengutip dari laman WebMD, brainrot atau brain rot adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang, termasuk anak kecil, terlalu sering memandang konten internet yang kurang berfaedah alias hanya sekadar intermezo singkat tanpa adanya jeda.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT


Kebiasaan ini bisa membikin seseorang, khususnya anak mini jadi susah fokus, sigap bosan, mudah capek saat belajar, hingga lebih susah berkonsentrasi setelah terlalu lama bermain gadget atau menonton video di media sosial.

Fenomena brainrot semakin dikenal luas setelah dipilih sebagai Oxford Word of the Year 2024. Oxford University Press mendefinisikan istilah ini sebagai penurunan kondisi mental alias intelektual seseorang akibat terlalu sering memandang konten internet yang kurang berfaedah dan hanya menjadi intermezo sesaat.

Menurut seorang master psikiatri dari Hackensack University Medical Center, Gary Small, MD, brainrot lebih merujuk pada penurunan kegunaan kognitif pada otak yang terasa ketika seseorang terlalu banyak menikmati konten internet yang tidak memberikan stimulasi berfaedah pada otak. Akibatnya, seseorang bisa merasa sigap lelah, susah fokus, pikiran terasa kosong, apalagi tubuh tetap lesu meski sudah cukup lama beristirahat.

“Istilah ini merujuk pada penurunan mental alias kognitif yang tampaknya terjadi ketika seseorang mengonsumsi terlalu banyak konten yang tidak menantang alias sepele secara online,” jelas Gary Small, MD.

Dari penjelasan tersebut, dapat dipahami bahwa brainrot bukan sekadar istilah tren di media sosial, tetapi juga menggambarkan akibat dari kebiasaan mengonsumsi konten digital secara berlebihan tanpa kontrol.

Oleh lantaran itu, krusial bagi Bunda untuk mulai membatasi penggunaan gadget dan memilih tontonan yang lebih berfaedah agar kesehatan mental serta keahlian konsentrasi anak tetap terjaga dengan baik.

Gejala brainrot

Bunda, brainrot bisa dialami oleh siapa saja yang terlalu sering terpapar internet dan media sosial, termasuk anak-anak hingga remaja. Kondisi ini umumnya muncul secara perlahan lewat perubahan kebiasaan sehari-hari yang sering tidak disadari.

Masih dari sumber yang sama, berikut ini indikasi brainrot yang sering muncul dan dialami oleh anak-anak hingga orang dewasa:

  • Lebih konsentrasi bermain handphone dibanding menikmati waktu berbareng orang sekitar.
  • Tidak bisa jauh dari gadget meski sedang belajar.
  • Berkali-kali membuka ponsel hanya untuk mengecek pesan alias notifikasi.
  • Pikiran terasa penuh lantaran terlalu banyak memandang info yang sebenarnya tidak penting.
  • Jam tidur mulai acak-acakan dan lebih susah tidur di malam hari.
  • Mata terasa pegal, sigap lelah, alias kepala terasa pusing setelah terlalu lama menatap layar gadget. 

Bagaimana brainrot bisa terjadi? 

Hingga saat ini, para mahir kesehatan tetap meneliti gimana brainrot bisa terjadi, tetapi salah satu aspek yang diduga berkedudukan adalah hormon dopamin atau hormon yang memunculkan rasa senang. Saat anak terus-menerus bermain gadget, khususnya scrolling media sosial, otak dapat menerima lonjakan dopamin yang membikin suasana hati terasa lebih menyenangkan untuk sementara waktu.

Namun, paparan konten digital tanpa jarak juga bisa membikin otak anak bekerja terlalu keras dan mudah lelah. Kebiasaan menggunakan gadget setiap hari dalam waktu lama, diduga dapat memicu stres berkepanjangan yang akhirnya berangkaian dengan munculnya brainrot.

Cara mencegah brain rot alias brainrot

Dikutip dari laman detikcom, seorang master sekaligus pengajar bagian Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Melly Latifah, membagikan enam langkah yang dapat dilakukan Bunda dan Ayah untuk membantu melindungi Si Kecil dari pengaruh jelek konten asing dan tidak masuk logika seperti kejadian brainrot anomali, yaitu:

1. Perkuat pemahaman digital anak

Bunda dan Ayah sebaiknya membantu Si Kecil untuk lebih memahami bahwa banyak konten di internet dibuat dengan support teknologi AI alias kepintaran buatan. Dengan begitu, anak bisa mengerti bahwa tidak semua perihal yang muncul di media sosial betul-betul nyata.

2. Atur dan batasi penggunaan gadget

Batasi waktu bermain gadget agar anak tidak terlalu lama terpapar konten digital setiap hari. Bunda juga dapat mengaktifkan mode pembatas dan mengurangi penggunaan gadget menjelang waktu tidur.

3. Ajak anak berbincang tentang konten

Saat anak menonton konten asing alias absurd, cobalah membujuk mereka berpikir kritis daripada hanya menonton secara pasif saja. Misalnya, Bunda bisa bertanya bagian mana yang terasa tidak masuk logika dari video tersebut.

4. Cognitive Anchoring

Ketika Bunda memandang anak sedang menonton konten yang dirasa aneh, Bunda bisa bantu mereka untuk memahami realita alias kebenaran yang sebenarnya. Seperti, “Cappucino adalah sebuah minuman, bukan ballerina”. Cara seperti ini dapat membantu anak membedakan antara intermezo dan kebenaran nyata.

5. Jelaskan akibat jelek menonton konten berlebihan

Bunda juga bisa berikan penjelasan bahwa terlalu sering menonton konten tidak jelas dapat memengaruhi fokus, pola pikir, hingga kesehatan mental anak. Pemahaman ini krusial agar anak lebih bijak saat menggunakan media sosial.

6. Digital detox

Jika penggunaan internet pada anak mulai susah dikendalikan, Bunda bisa membujuk anak untuk rehat sementara dari gadget selama beberapa hari. Gantilah waktu tersebut dengan kegiatan fisik, bermain secara langsung, alias melakukan kegiatan seru lainnya berbareng keluarga.

Dampak rawan brain rot alias brainrot

Kebiasaan terlalu lama menonton konten-konten asing di sosial media tanpa kontrol dapat memengaruhi kesehatan mental dan kegunaan otak anak. Dilansir Healthline, berikut ini akibat brainrot yang perlu Bunda waspadai:

  • Otak terasa sangat penuh dan susah fokus
  • Emosi menjadi kurang peka
  • Muncul pikiran negatif terhadap diri sendiri
  • Daya ingat menurun
  • Sulit mengambil keputusan
  • Menarik diri dari lingkungan sosial
  • Risiko resah dan depresi meningkat.

Cara mengatasi brain rot alias brainrot

Jika anak mulai merasa susah konsentrasi alias terlalu berjuntai pada gadget, krusial bagi Bunda untuk segera mencari langkah mengatasi brainrot. Dengan kebiasaan yang tepat, kondisi brainrot pada anak dapat perlahan dikurangi agar pikirannya terasa lebih tenang dan bisa produktif kembali.

Masih berasal dari situs yang sama, berikut beberapa langkah mengatasi brainrot yang bisa dicoba:

1. Batasi penggunaan gadget

Bunda kudu menentukan waktu unik agar anak bisa berakhir bermain media sosial alias menonton konten-konten asing agar otak mereka bisa mendapatkan waktu istirahat.

2. Coba rehat sejenak dari gadget dan teknologi lainnya

Mengurangi penggunaan gadget dan internet untuk sementara waktu juga dapat membantu pikiran anak terasa lebih segar dan tidak mudah lelah.

3. Lakukan kegiatan yang melatih otak

Bunda juga bisa membujuk anak untuk Isi waktu senggang dengan kegiatan bentuk secara langsung, seperti membaca, bermain puzzle, menulis, alias kegiatan lain yang dapat merangsang konsentrasi dan produktivitas Si Kecil. 

Apakah brainrot pada anak bisa sembuh? 

Setelah mengetahui penjelasan mengenai brainrot, pasti banyak dari Bunda yang bertanya-tanya, apakah brainrot bisa sembuh alias tidak. Berikut ini penjelasannya menurut laman WebMD, Bun. 

Brainrot sebenarnya bukan penyakit medis. Jadi, tidak ada obat unik untuk mengatasinya brain rot. Meski begitu, kondisi brainrot ini tetap bisa membaik jika anak mulai mengurangi waktu bermain gadget dan media sosial.

Agar brainrot perlahan berkurang, anak bisa diajak melakukan kegiatan yang lebih positif dan melatih otak. Misalnya seperti membaca buku, mencoba kegemaran baru, bermain permainan yang mengasah otak, alias lebih sering beraktivitas di luar rumah.

Bagaimana brainrot dapat memengaruhi kesehatan anak?

Kebiasaan terlalu sering mengonsumsi konten digital tanpa kontrol dapat memengaruhi keahlian anak dalam belajar dan memahami sesuatu. Dalam Jurnal Pendidikan Guru Sekolah Dasar oleh Firzani, kondisi brainrot disebut dapat membikin keahlian berpikir kritis dan menyelesaikan masalah menjadi menurun.

Selain itu, anak juga bisa menjadi lebih berjuntai pada gadget dan mulai jarang berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. Jika terjadi terus-menerus, brainrot bahkan berisiko menghalang perkembangan kognitif anak sesuai tahap pertumbuhannya, Bun. 

Kapan orang tua kudu mencari support ahli jika anak alami brainrot?

Bunda sebaiknya mulai mencari support dari para mahir dan tenaga ahli jika kebiasaan brainrot pada anak sudah mengganggu kegiatan sehari-hari. Misalnya anak menjadi susah konsentrasi saat belajar, mudah marah, susah lepas dari gadget, hingga mulai menarik diri dari lingkungan sekitar.

Selain itu, support dari mahir juga diperlukan jika kondisi ini membikin pola tidur, emosi, alias prestasi anak berubah cukup drastis dalam waktu lama. Dengan penanganan yang tepat, anak bisa dibantu untuk kembali mempunyai kebiasaan yang lebih sehat dan seimbang.

Konten anomali bikin anak brainrot, begini saran akibat dan saran akademisi

Fenomena brainrot anomali sekarang semakin sering muncul di media sosial dan mudah diingat anak-anak. Kontennya biasanya menampilkan hal-hal absurd seperti karakter manusia berbentuk pentungan kayu (Tung-Tung-Tung sahur), hiu memakai sepatu, hingga campuran cappuccino dan balerina yang disebut balerina cappucina.

Sekilas, konten seperti ini memang terlihat kocak dan menghibur. Namun jika ditonton terus-menerus, konten brainrot dikhawatirkan dapat memengaruhi langkah anak memahami realitas dan lingkungan sekitarnya.

Pakar IPB University sekaligus pengajar bagian Perkembangan Anak, Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, Melly Latifah, juga menjelaskan bahwa anak usia awal tetap berada pada tahap perkembangan praoperasional berasas teori Piaget. Pada fase ini, anak tetap belajar memahami bumi sehingga belum sepenuhnya bisa membedakan khayalan dan kenyataan.

“Visual yang 'hiper-absurd' dapat memicu pelepasan dopamin secara berlebihan, yang berakibat pada konsentrasi dan emosi,” ujar Melly dikutip dari laman IPB University.

Selain itu, beberapa konten brainrot anomali juga memakai narasi yang random dan tidak saling berkaitan. Kondisi ini dinilai bisa memengaruhi keahlian anak dalam memahami susunan bahasa dengan baik.

Tak hanya itu, konten anomali brainrot juga disebut dapat mengurangi rasa empati pada anak dan remaja. Pasalnya, banyak konten ditampilkan tanpa konteks emosional yang jelas sehingga anak menjadi kurang peka terhadap emosi orang lain.

Bunda, itulah penjelasan mengenai pengertian brainrot, gejala, hingga akibat yang ditimbulkan dan bisa berakibat negatif untuk anak. Semoga info di atas sangat membantu ya, Bunda. 

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(rap/rap)

Selengkapnya