Kalau Anda pernah liburan ke Jepang, coba ingat-ingat satu hal. Berapa kali Anda mampir ke konbini atau minimarket selama perjalanan?
Rasanya nyaris mustahil melewatkan toko ini. Apalagi, jumlah pengunjung asing ke Jepang kembali mencetak rekor pada 2025 menurut Japan National Tourism Organization. Di media sosial, pengalaman berburu makanan dan produk unik di konbini juga sering berseliweran.
Tapi, apa sebenarnya argumen konbini Jepang sangat populer? Ternyata, jawabannya jauh lebih menarik daripada sekadar lantaran tokonya buka 24 jam. Yuk, cari tahu berikut ini, Beauties!
Kenapa Konbini di Jepang Begitu Populer?

Kepopuleran Konbini di Jepang/Foto: Magnific
Berbeda dari convenience store di Amerika Serikat, konbini di Jepang bukan sekadar tempat membeli kebutuhan saat sedang berkendara.
Toko ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang. Bahkan, jumlahnya mencapai 56.749 toko di seluruh Jepang pada Januari 2025, menurut Nippon Software Service.
Di Tokyo pusat, Anda apalagi bisa menemukan konbini hanya dalam beberapa blok. Sekitar 90 persen konbini buka selama 24 jam dan menawarkan lebih dari sekadar makanan ringan.
Ada bento, kue, kebutuhan rumah tangga, perangkat tulis, hingga kemeja untuk bekerja. Satu jaringan konbini apalagi bisa membawa lebih dari 3.000 jenis produk.
Menariknya, sekitar 100 produk baru dapat masuk setiap bulan. Perputaran stoknya juga sangat cepat, sekitar 30 kali setahun alias setiap 1,7 minggu. Sebagai perbandingan, supermarket biasa hanya sekitar 13 kali setahun.
Kenapa kudu secepat itu? Karena konbini juga berfaedah sebagai tempat menguji produk baru. Produk yang diminati konsumen bisa terus dikembangkan. Sebaliknya, produk yang kurang laku dapat segera diganti.
Itulah kenapa konbini bisa dianggap sebagai gambaran mini dari selera konsumen Jepang. Apa yang ada di rak-raknya ikut mencerminkan kebutuhan dan tren masyarakat.
Makanan segar juga dikirim 2–3 kali sehari. Jadi, pengguna punya kesempatan lebih besar mendapatkan makanan yang tetap segar sepanjang hari.
Tak hanya itu saja, konbini juga menyediakan ATM, Wi-Fi, pembayaran tagihan listrik dan pajak, jasa pengiriman, hingga pembelian tiket konser. Bahkan, toilet bersih pun tersedia untuk pelanggan. Lengkap banget, kan?
Bagaimana Konbini Jepang Bisa Berkembang?

Alasan Konbini Populer di Jepang/Foto: Magnific
Konsep convenience store sebenarnya bukan berasal dari Jepang. Toko serupa sudah berkembang di Amerika Serikat sejak 1920-an. Konsep tersebut kemudian masuk ke Jepang pada akhir 1960-an dan mulai berkembang pesat pada awal 1970-an.
Menurut Gavin Whitelaw, executive director Edwin O. Reischauer Institute of Japanese Studies di Harvard University, perkembangan tersebut tidak terjadi begitu saja.
Whitelaw apalagi pernah tinggal dan mengajar di Jepang selama lebih dari satu dekade. Untuk penelitiannya, dia juga pernah bekerja sebagai pegawai konbini pada 1990-an. Ia bekerja di dua toko di Tokyo dan satu toko di Prefektur Yamagata.
Menurut Whitelaw, pemilik toko mini di Jepang saat itu sedang menghadapi beragam kesulitan. Sistem pengedaran yang rumit membikin nilai peralatan tetap tinggi dan distribusinya kurang efisien.
Kemudian muncul sistem franchise antara pemilik toko dan instansi pusat convenience store. Pemilik toko lokal tetap bisa mempertahankan upaya lamanya. Misalnya toko tembakau, minuman keras, alias beras.
Namun, mereka juga bisa menjual beragam produk dari jaringan konbini. Hasilnya, kebutuhan masyarakat sekitar lebih mudah terpenuhi. Hubungan toko dengan organisasi lokal pun ikut semakin kuat.
Ada satu perihal lain yang tidak kalah penting, ialah kaizen. Istilah Jepang ini merujuk pada perbaikan secara terus-menerus. Whitelaw memandang prinsip tersebut sebagai salah satu aspek krusial dalam perkembangan konbini.
Pemiliknya tidak berakhir pada konsep “praktis”. Mereka terus mencari langkah baru agar toko bisa melakukan lebih banyak hal. Inilah yang membikin konbini Jepang berkembang jauh melampaui kegunaan minimarket biasa. Saat ini, tiga jaringan konbini terbesar di Jepang adalah 7-Eleven, FamilyMart, dan Lawson.
Bisakah Konsep Konbini Diterapkan di Negara Lain?

Konsep Konbini di Negara Lain/Foto: Magnific
Melihat kesuksesannya, muncul satu pertanyaan menarik. Kalau konbini sangat sukses di Jepang, apakah konsepnya bisa diterapkan di negara lain?
Jawabannya rupanya tidak sesederhana membuka toko dengan sistem yang sama, Beauties. Pada 2025, sempat muncul berita tentang potensi pengambilalihan 7-Eleven Jepang oleh perusahaan ritel Kanada, Alimentation Couche-Tard. Namun, rencana tersebut akhirnya batal.
Seandainya transaksi itu terjadi, tantangannya bukan hanya soal bisnis. Masyarakat Kanada juga kudu menerima konsep konbini yang sangat unik Jepang.
Pasalnya, konbini sudah menjadi bagian dari prasarana sosial Jepang. Fungsinya jauh melampaui tempat membeli kebutuhan sehari-hari.
Namun, jaringan konbini Jepang sendiri tetap memandang kesempatan untuk berkembang secara global. Mereka mulai merekrut pekerja non-Jepang yang tinggal di Jepang, termasuk dari China dan Vietnam.
Para pekerja tersebut diharapkan bisa menjadi calon pengelola upaya di negara asal mereka. Mereka sudah memahami bahasa sekaligus budaya Jepang. Dengan begitu, konsep konbini bisa diperkenalkan secara lebih natural ke masyarakat lokal.
Jadi, jika selama ini Anda menganggap minimarket Jepang hanya tempat membeli onigiri alias minuman dingin, rupanya ceritanya jauh lebih panjang, ya, Beauties.
***
Mau jadi bagian dari Buzznesia Community di mana Anda bisa ikutan beragam online dan offline event seru yang diadakan oleh Buzznesia/Beautynesia? Komunitas ini terbuka untuk umum, baik wanita dan juga laki-laki, kami juga mempunyai organisasi unik untuk Anda yang tetap berstatus mahasiswa/mahasiswi. Yuk, gabung ke Buzznesia Community. Caranya DAFTAR DI SINI!
(naq/naq)