Bunda Ini Bingung Gejala Postpartum Tak Berakhir, Ternyata Alami Kondisi Ini

Portal Kesehatan Ibu dan Anak oleh Waktu baca 5 menit 513x dilihat
Bunda Ini Bingung Gejala Postpartum Tak Berakhir, Ternyata Alami Kondisi Ini

Bagikan Postingan

Jakarta -

Setelah melahirkan, tubuh Bunda memang membutuhkan waktu untuk balik seperti sebelum hamil. Perubahan hormon selama masa postpartum juga dapat menimbulkan beragam keluhan, mulai dari berkeringat di malam hari hingga fluktuasi siklus menstruasi.

Namun, sepertiapa jika keluhan tersebut tak kunjung hilang meski sudah durasi selesai menyusui?

Hal inilah yang dialami Lisa Fasone, seorang ibu asal Amerika Serikat. Setelah melahirkan anak pertamanya pada Februari 2022, Lisa mengalami sejumlah gejala yang awalnya ia kira berhubungan dengan menyusui dan fluktuasi hormon setelah persalinan.


Ia mengalami keringat berlebih pada malam hari dan sakit kepala. Selain itu, menstruasinya tidak kunjung balik dan ia kesulitan mendapatkan kehamilan kedua.

Lisa terlebihlagi statis merasa tidak sehat satu tahun setelah selesai menyusui. Karena keluhan tersebut terus berlangsung, ia akhirnya memeriksakan diri ke tabib kandungan.

Hasil pengecekan memberitahu kadar hormon prolaktinnya statis tinggi. Pemeriksaan lebih lanjut kemudian menemukan adanya tumor jinak berukuran kecil pada kelenjar pituitari yang disebut prolaktinoma.

Gejala postpartum tak kunjung hilang

Lisa awalnya menganggap keluhan yang dialaminya sebagai bagiankecil dari proses setelah melahirkan dan menyusui. Namun, kondisi tersebut terus terjadi terlebihlagi setelah ia selesai menyusui selama sekitar satu tahun.

"Sudah setahun sejak aku selesai menyusui, dan aku statis merasa sangat tidak sehat," kata Lisa dikutip dari CBS News.

Selain keringat malam dan sakit kepala, Lisa juga belum mengalami menstruasi. Ia dan pasangannya kemudian kesulitan untuk mendapatkan anak kedua.

Pemeriksaan tabib memberitahu kadar prolaktinnya statis tinggi. Padahal, kadar hormon tersebut biasanya meningkat selama kehamilan dan berpartisipasi dalam produksi ASI. Setelah masa menyusui berakhir, kadar prolaktin pada umumnya akan mengalami fluktuasi kembali.

Ternyata mengalami prolaktinoma

Pemeriksaan lebih lanjut menemukan adanya prolaktinoma pada kelenjar pituitari Lisa.

Prolaktinoma merupakan tumor jinak pada kelenjar pituitari yang menghasilkan hormon prolaktin secara berlebihan. Kelenjar pituitari sendiri merupakan kelenjar kecil di alas otak yang berpartisipasi mengatur beragam hormon dalam tubuh.

Ketika kadar prolaktin terlalu tinggi, hormon tersebut dapat mengganggu mekanisme reproduksi. Pada perempuan, kondisi ini dapat menyebabkan haid tidak teratur maupun tidak haid sama sekali, keluarnya ASI di luar masa menyusui, hingga gangguan kesuburan.

Dalam kasus Lisa, kadar prolaktin yang tinggi turut membuatnya sulit untuk hamil kembali.

Dikutip dari Pubmed, sebuah tinjauan yang diterbitkan pada 2026 menerangkan bahwa kadar prolaktin yang terlalu tinggi dapat mengganggu gonadal axis, yaitu mekanisme hormon yang mengatur fungsi reproduksi. Pengobatan dengan obat agonis dopamin, terutama cabergoline, umumnya dapat menormalkan kadar prolaktin dan membantu mengembalikan fungsi reproduksi dalam waktu sekitar 6-12 bulan pada sebagian besar pasien. 

Sementara itu, position statement dari Brazilian Federation of Gynecology and Obstetrics Associations (Febrasgo) dan Brazilian Society of Endocrinology and Metabolism mengutarakan bahwa hiperprolaktinemia dapat menyebabkan haid tidak teratur, tidak menstruasi, keluarnya ASI di luar masa menyusui, gangguan hormon reproduksi, hingga infertilitas. Penyebabnya beragam, mulai dari kondisi fisiologis seperti kehamilan dan menyusui, penggunaan obat tertentu, hingga prolaktinoma.

Mengapa prolaktin bisa memengaruhi kesuburan?

Prolaktin memang memiliki fungsi krusial setelah persalinan, terutama dalam membantu produksi ASI.

Saat menyusui, peningkatan prolaktin juga dapat menekan hormon yang berpartisipasi dalam proses ovulasi. Karena itu, menyusui dapat menyebabkan haid belum balik untuk sementara dan menurunkan kemungkinan terjadinya ovulasi.

Namun, kadar prolaktin yang statis tinggi di luar kondisi fisiologis dapat menyebabkan gangguan pada mekanisme reproduksi. Hormon ini dapat menekan pelepasan gonadotropin-releasing hormone (GnRH), yang kemudian memengaruhi hormon luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH). Akibatnya, ovulasi dapat terganggu.

Itulah sebabnya hiperprolaktinemia dapat berhubungan dengan haid yang tidak teratur, tidak menstruasi, hingga infertilitas.

Tidak semua gejala setelah melahirkan bisa dianggap normal

Kisah Lisa menjadi pengingat bahwa keluhan setelah melahirkan memang perlu diperhatikan, terutama jika terjadi jauh lebih durasi dari yang seharusnya.

Gejala seperti tidak haid maupun fluktuasi tubuh memang bisa terjadi selama menyusui. Namun, jika keluhan terus terjadi setelah selesai menyusui maupun disertai gejala lain, sebaiknya Bunda berkonsultasi dengan dokter.

Hiperprolaktinemia sendiri tidak selalu disebabkan oleh prolaktinoma. Kondisi tersebut dapat terjadi karena kehamilan, menyusui, obat-obatan tertentu, gangguan pada kelenjar pituitari, maupun penyebab lainnya. Karena itu, pengecekan diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.

Pada kasus tertentu, tabib dapat berbuat pengecekan kadar prolaktin dan pengecekan lanjutan, termasuk pencitraan kelenjar pituitari jika memang diperlukan.

Lisa balik hamil setelah menjalani pengobatan

Lisa kemudian mendapatkan obat untuk mengatasi prolaktinoma. Namun, setelah sekitar satu tahun, pengecekan memberitahu tumornya justru membesar.

Ia akhirnya menjalani operasi minimal invasif melalui hidung pada April 2025. Sehari setelah operasi, kadar prolaktinnya balik normal. Sekitar 30 hari kemudian, Lisa mendapatkan haid pertamanya setelah hampir empat tahun.

Beberapa minggu kemudian, kadar prolaktinnya balik meningkat. Lisa sempat cemas tumor tersebut balik tumbuh. Namun, pengecekan justru memberikan berita yang membahagiakan.

Ia rupanya sedang hamil anak keduanya. Lisa kemudian melahirkan anak perempuan keduanya pada Februari 2026. Setelah persalinan, kadar prolaktinnya balik normal dan ia dapat menyusui seperti sebelumnya.

Kisah tersebut memberitahu pentingnya tidak mengabaikan keluhan yang menetap setelah melahirkan. Meski beberapa fluktuasi tubuh memang merupakan bagiankecil dari proses postpartum, gejala yang berkepanjangan perlu dievaluasi untuk memastikan tidak ada kondisi medis lain yang mendasarinya.

Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!

(pri/pri)

Artikel Lainnya Portal Kesehatan Ibu dan Anak
↑
Close Right Ads
Close Left Ads