Setiap orang tua tentu berambisi anaknya tumbuh menjadi pandai dan bisa menghadapi beragam tantangan di masa depan. Namun, kepintaran anak rupanya bukan hanya dipengaruhi oleh aspek bawaan, Bunda.
Kecerdasan seorang anak bisa juga dipengaruhi oleh lingkungan dan pola pengasuhan orang tuanya. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan sederhana yang dilakukan orang tua setiap hari dapat memberikan akibat besar terhadap perkembangan keahlian berpikir hingga kepintaran emosional anak.
Lantas, kebiasaan apa saja yang dapat menjadi parameter bahwa seorang anak mempunyai kesempatan besar untuk berkembang menjadi pribadi yang cerdas? Simak penjelasannya berikut ini ya!
Kebiasaan orang tua yang bisa memengaruhi kepintaran anak
Melansir dari laman Your Tango, berikut 10 langkah mengenali anak yang berpotensi tumbuh pandai dari kebiasaan orang tuanya
1. Membatasi waktu anak-anak dalam menonton TV
Menurut master bahasa bayi dan salah satu penulis kitab Einstein Never Used Flashcards, Roberta Golinkoff, menonton TV merusak keahlian kognitif anak. Kebiasaan ini juga bisa membuang waktu krusial perkembangan otak yang semestinya digunakan untuk berinteraksi dengan orang lain, Bunda.
"Bahasa sangat krusial untuk pembelajaran anak-anak, dan bahasa yang mereka dapatkan dari televisi tidak disesuaikan dengan kebutuhan individu. Bahasa itu tidak bakal menjawab pertanyaan alias mengikuti pengarahan mereka, padahal itulah langkah kita menciptakan anak-anak yang cerdas," katanya.
2. Menyusui anak dalam jangka waktu yang lebih lama
Menurut studi yang diterbitkan di jurnal JAMA Psychiatry tahun 2008, anak-anak berumur enam tahun yang secara konsisten menyusu saat bayi memperoleh skor lima persen lebih tinggi pada tes IQ, dibandingkan kawan sebaya mereka yang tidak mendapatkan ASI. Hasil studi mengungkap bahwa anak-anak dalam golongan pertama memperoleh nilai lebih tinggi dalam membaca, menulis, dan matematika.
"Hal pertama yang dapat dilakukan seorang wanita untuk membesarkan anak yang pandai adalah menyusui," kata mahir genetika Ricki Lewis.
"ASI mempunyai persentase lemak yang lebih tinggi daripada susu sapi, yang dibutuhkan untuk melindungi sel-sel otak kita yang melimpah."
3. Mendorong anak-anak untuk memainkan perangkat musik
Mengenalkan anak dengan perangkat musik juga bisa menjadi langkah terbaik mengenali potensinya, Bunda. Studi yang diterbitkan di jurnal PLoS ONE tahun 2008 mengungkap bahwa anak-anak yang bermain piano alias perangkat musik gesek memperoleh skor 15 persen lebih tinggi dalam keahlian verbal dibandingkan anak-anak yang tidak memainkan perangkat musik.
Selain studi tersebut, sudah banyak penelitian sebelumnya menunjukkan hubungan antara keahlian musik, keahlian bahasa, dan IQ. "Gagasan bahwa gen mengendalikan nasib kita disebut determinisme genetik. Kami para mahir genetika selalu menentang pendapat ini," kata Lewis.
4. Membacakan kitab untuk anak-anak setiap hari
Penelitian tahun 2017 menemukan, seorang anak yang dibesarkan di rumah yang mempunyai setidaknya 500 kitab kemungkinan 36 persen lebih besar untuk lulus dari sekolah menengah atas dan 19 persen lebih besar untuk lulus dari perguruan tinggi. Temuan tersebut dibandingkan dengan anak yang mempunyai karakter serupa tetapi dibesarkan di rumah yang mempunyai sedikit alias tanpa kitab sama sekali.
"Keberhasilan di sekolah bukan hanya bergantung pada kepintaran bawaan. Itu juga memerlukan etos kerja yang baik," kata psikolog Eileen Kennedy-Moore.
"Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang kita lakukan dan kita katakan. Orang tua yang doyan membaca menunjukkan kepada anak-anak mereka bahwa membaca itu menarik, menyenangkan, dan bermanfaat," sambungnya.
5. Orang tua aktif bergerak
Kebiasaan orang tua yang aktif bergerak bisa bikin anak menyukai kegiatan fisik. Anak yang bergerak aktif condong terhindar dari kelebihan berat badan yang dikaitkan dengan kecerdasannya, Bunda. Studi yang diterbitkan dalam Journal of the American Medical Association mengaitkan massa tubuh yang lebih tinggi dengan prestasi akademik yang lebih rendah.
"Gaya hidup kurang mobilitas bisa meninggalkan dampak jelek yang sangat besar bagi anak-anak," kata Golinkoff.
"Jika mereka menonton TV alias bermain game komputer, mereka tidak berinteraksi, dan banyak perihal yang bisa membikin kita 'pintar' adalah hal-hal yang hanya dipelajari dalam konteks hubungan sosial."
Usia ayah untuk mempunyai momongan rupanya juga bisa memengaruhi kepintaran anaknya di masa depan. Penelitian mengungkap bahwa anak-anak yang lahir dari ayah berumur 20 tahun memperoleh skor tiga hingga enam poin lebih tinggi pada tes IQ dibandingkan anak-anak yang lahir dari ayah yang berumur dua kali lipatnya.
"Usia ayah yang lanjut dikaitkan dengan peningkatan akibat gangguan perkembangan saraf seperti autisme dan skizofrenia, serta disleksia dan penurunan kecerdasan," tulis para peneliti dalam studi di PLoS Medicine tahun 2009.
"Anak-anak dari ayah yang lebih tua menunjukkan gangguan lembut pada tes keahlian neurokognitif."
7. Sering mengajari anak-anak langkah bermain juggling
Belajar juggling dapat meningkatkan volume materi abu-abu (grey matter) di otak anak-anak hingga tiga persen. Melalui permainan ini, anak belajar keahlian motorik yang sulit, namun berharga.
"Mempelajari keahlian perseptual-motorik yang sulit, seperti bermain juggling alias sulap, dapat memicu peningkatan tiga persen pada volume materi abu-abu di area perhatian visual," tulis para intelektual Yale yang laporannya di International Journal of Environmental Research and Public Health tahun 2022.
"Volume materi abu-abu di daerah frontal otak mengenai dengan keahlian kognitif umum," lanjut mereka.
8. Membiasakan anak belajar banyak kosakata
Menurut ahli, semakin banyak kata yang anak dengar, maka semakin besar kosakatanya, dan semakin tinggi prestasi akademiknya. Dalam sebuah studi, peneliti mengungkap bahwa anak-anak dalam family penerima support sosial mendengar sekitar tiga juta kata per tahun, sementara anak-anak dalam family kelas pekerja mendengar enam juta kata, dan anak-anak dalam family kelas ahli mendengar 11 juta kata.
Menurut penelitian tersebut, anak-anak penerima support sosial mengetahui 500 kata pada usia tiga tahun, dibandingkan dengan 750 dan 1.100 kata pada golongan lain.
9. Mendorong anak-anak untuk mempelajari bahasa asing
Keputusan Bunda untuk mendaftarkan anak les bahasa asing bisa memengaruhi kecerdasannya lho. Menurut studi yang dilakukan American Psychological Association, anak-anak yang telah mempelajari bahasa asing selama dua tahun mempunyai skor SAT 14 persen lebih tinggi daripada anak-anak yang tidak pernah mempelajari bahasa asing.
Selain itu, satu tahun belajar bahasa asing juga dikaitkan dengan skor SAT yang sedikit lebih tinggi, tetapi jika belajar dua tahun menghasilkan peningkatan sebesar 14 dan 13 persen pada bagian verbal dan matematika. Menurut studi, setiap tahun tambahan belajar bahasa asing pada dasarnya dapat menghasilkan peningkatan lebih lanjut.
"Nilai verbal siswa yang telah mengambil bahasa asing selama empat alias lima tahun lebih tinggi daripada nilai verbal siswa yang telah mengambil mata pelajaran lain selama empat alias lima tahun," demikian isi studi.
10. Menghindari paparan pestisida
Bunda dan Ayah sebaiknya membangun kebiasaan sehat dengan membatasi paparan pestisida dalam kehidupan sehari-hari ya. Pasalnya, anak-anak dari ibu yang terpapar pestisida selama kehamilan mempunyai IQ 1,4 persen lebih rendah per peningkatan paparan dibandingkan anak-anak yang ibunya tidak terpapar pestisida.
Studi yang dilakukan oleh ilmuwan dari Columbia University tersebut mempelajari anak-anak berumur tujuh tahun dan ibu mereka. Studi menemukan hubungan langsung antara paparan prenatal terhadap pestisida dan IQ yang lebih rendah.
Dampak negatif paparan pestisida apalagi lebih besar pada memori kerja, salah satu komponen dari keahlian krusial yang secara kolektif disebut sebagai kegunaan eksekutif.
Demikian 10 kebiasaan orang tua yang dapat memengaruhi kecerdasan anaknya. Semoga info ini berfaedah ya.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·