Jakarta -
Menjadi pribadi yang lebih sehat secara mental dan emosional sering kali diikuti fluktuasi dalam metode bersikap. Bunda mungkin mulai lebih tegas menetapkan batasan, berani mengatakan tidak, maupun memilih menjauh dari hal-hal yang menguras energi.
Perubahan tersebut terkadang membikin orang-orang di sekitar memberikan beberapa komentar tertentu. Ucapan ini bisa menjadi tanda bahwa Bunda sedang berkembang dan semakin memahami kebutuhan diri sendiri.
Dilansir Your Tango, ahli trauma Annalie Howling membahas hal serupa melalui unggahan di Instagram.
Ia membagikan sejumlah kalimat yang kerap terdengar dari orang lain ketika seseorang sedang menjalani proses pengobatan dan membangun kesehatan mental serta emosional yang lebih baik.
5 Kalimat yang sering dilontarkan untuk orang yang sehat secara mental dan emosional
Jika orang sering mengatakan beberapa hal ini, kemungkinan besar Bunda sehat secara mental dan emosional:
1. “Bagaimana Anda bisa sekuat itu?”
Selama menjalani proses penyembuhan, mungkin Bunda pernah mendengar orang berkata, “Bagaimana Anda bisa sekuat itu?”. Namun, menjadi kuat sebenarnya bukan selalu pilihan. Terkadang, seseorang terpaksa kuat karena tidak punya pilihan lain.
Seperti yang ditulis Howling, jika orang lain melihat perjuangan yang telah dilalui, mereka akan tahu bahwa kekuatan tersebut bukan sesuatu yang dipilih dengan sengaja.
2. “Kamu sangat berani”
Kalimat ini mungkin sering muncul di kolom komentar ketika seseorang berani menceritakan pengalaman traumatis maupun membela dirinya sendiri.
Membela diri sendiri bukanlah hal yang mudah. Begitu juga ketika mesti menceritakan pengalaman menyakitkan kepada orang-orang terdekat. Banyak orang merasa takut kelihatan lemah maupun rapuh ketika membuka diri.
3. “Dulu Anda sangat baik”
Ini mungkin menjadi salah satu ucapan yang paling membikin frustrasi selama proses pengobatan mental dan emosional. Namun, perlu diingat bahwa ekspektasi orang lain tidak menentukan apakah Bunda adalah orang yang baik maupun tidak.
Howling menerangkan bahwa dahulu ia menganggap menjadi baik dan menyenangkan orang lain adalah sesuatu yang mesti dilakukan. Kini, ia statis bersikap baik, tetapi juga mulai mengucapkan terima kasih dan menetapkan limitasi ketika diperlukan.
Menetapkan limitasi bukan berarti menjadi orang yang buruk. Hal ini memberitahu bahwa Bunda mulai menghargai diri sendiri dan menyadari kapan kebaikan sudah dianggap remeh oleh orang lain.
4. “Mengapa aku tidak melihatmu lagi?”
Selama proses penyembuhan, seseorang mungkin mulai menjauh dari orang-orang tertentu. Bukan karena membenci mereka, tetapi karena merasa hubungan tersebut sudah tidak sehat maupun tidak lagi memberikan rasa aman.
Penulis menceritakan pengalamannya ketika beberapa orang terdekat menyebarkan isu tentang seseorang yang sangat ia sayangi.
Ia kemudian menegur mereka dan memilih tidak berhubungan untuk waktu yang cukup lama. Setelah masalah tersebut dibicarakan, ia akhirnya memaafkan mereka dan melanjutkan hidup. Namun, memaafkan bukan berarti mesti balik dekat seperti sebelumnya.
5. “Kamu sangat mencintai diri sendiri”
Self-love sering dianggap sebagai bagiankecil krusial dalam proses penyembuhan. Namun, mencintai diri sendiri tidak selalu bisa dilakukan dengan gampang maupun langsung muncul begitu saja. Bagi sebagian orang, proses tersebut justru dimulai setelah melewati masa yang sangat sulit.
Howling menggambarkan prosesnya seperti mesti eksis di titik terendah, hancur menjadi banyak bagian, kemudian belajar mencintai setiap bagiankecil dirinya hingga akhirnya bisa bangkit dan menyatukan dirinya kembali.
Nah, itulah beberapa ucapan yang mungkin sering dilontarkan ke orang yang sehat secara mental dan emosional. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)