Tidur dengan satu kaki di luar selimut menjadi kebiasaan unik yang dilakukan sebagian anak. Meski terlihat kocak dan seolah mempunyai maksud tertentu, kebiasaan ini sebenarnya belum bisa dijadikan patokan untuk menilai karakter kepribadian anak.
Ada beberapa argumen sederhana yang dapat menjelaskan kebiasaan tersebut, seperti mencari posisi nyaman, mengatur suhu tubuh, alias mengikuti rutinitas sebelum tidur. Lantas, apakah anak yang sering tidur dengan satu kaki di luar selimut betul-betul lebih mandiri?
Namun, kebiasaan tidur seperti ini tidak secara langsung menunjukkan karakter tertentu. Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini!
Ciri kepribadian anak yang suka tidur dengan satu kaki di luar selimut
Mengutip dari laman Times of India, kebiasaan anak saat tidur dapat mempunyai penjelasan yang lebih sederhana daripada sekadar menunjukkan kepribadian. Berikut beberapa kecenderungan yang mungkin terlihat pada anak dengan kebiasaan tidur unik tersebut.
1. Menyukai kenyamanan dengan caranya sendiri
Setiap anak dapat mempunyai langkah tersendiri untuk membikin dirinya nyaman sebelum tidur. Ada yang memerlukan suasana gelap, lampu tidur, alias bantal tertentu. Membiarkan satu kaki berada di luar selimut juga bisa menjadi langkah anak menemukan posisi yang menurutnya nyaman.
Psikolog perkembangan menjelaskan bahwa anak sering membentuk ritual sebelum tidur lantaran rutinitas yang dapat diprediksi membikin mereka merasa aman. Setelah menemukan kebiasaan yang membantu mereka tidur, anak condong mengulanginya setiap malam.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Pediatrics pada 2002 berjudul Treatment of Child and Adolescent Obesity menemukan bahwa rutinitas tidur yang konsisten pada anak berangkaian dengan kualitas tidur dan keahlian mengatur emosi yang lebih baik.
2. Bisa menunjukkan kemauan untuk mandiri
Sebagian anak senang menentukan sendiri gimana mereka mau tidur. Misalnya, meminta selimut dilipat dengan langkah tertentu, mengatur posisi bantal, alias tetap membiarkan satu kaki tidak tertutup meskipun sudah beberapa kali dirapikan oleh orang tua.
Psikolog sering mengaitkan pilihan-pilihan mini seperti ini dengan kemauan anak untuk mempunyai kendali atas rutinitasnya sendiri. Hal tersebut merupakan bagian dari perkembangan kemandirian yang wajar selama masa kanak-kanak.
3. Lebih peka terhadap sensasi fisik
Salah satu argumen paling sederhana anak mengeluarkan kaki dari selimut adalah lantaran merasa kepanasan. Suhu tubuh secara alami menurun sebelum dan selama tidur. Membiarkan kaki alias sebagian tungkai berada di luar selimut dapat membantu melepaskan panas.
Kaki juga mempunyai pembuluh darah unik yang membantu proses pengaturan suhu tubuh. Anak yang lebih menyadari rasa panas alias dingin mungkin lebih sering menyesuaikan selimutnya.
Hal ini lebih mencerminkan kepekaan terhadap kenyamanan bentuk daripada menunjukkan karakter kepribadian tertentu.
4. Menyukai rutinitas yang familiar
Anak sering mengulangi kebiasaan yang membikin mereka merasa tenang. Jika tidur dengan satu kaki di luar selimut sudah menjadi bagian dari rutinitas malam, mereka mungkin terus melakukannya lantaran kebiasaan tersebut menjadi tanda bahwa waktunya tidur.
Psikolog menyebut kebiasaan semacam ini sebagai sleep associations, ialah tindakan alias kondisi yang secara konsisten dikaitkan dengan proses mulai tidur. Banyak anak mengandalkan tanda-tanda yang familiar tersebut sampai akhirnya mereka tidak lagi membutuhkannya.
5. Bisa Menyesuaikan Diri
Anak yang sering mengubah posisi alias menyesuaikan selimut pada malam hari mungkin sedang merespons perubahan suhu tubuh tanpa betul-betul terbangun. Mereka tidak selalu tidur dalam satu posisi sepanjang malam, tetapi menyesuaikannya dengan kebutuhan tubuh.
6. Mungkin mempunyai sisi yang suka bermain
Bagi orang tua, kaki yang terus muncul dari kembali selimut setelah anak beberapa kali dirapikan memang bisa menjadi perihal yang menggemaskan. Anak dengan kepribadian yang senang bermain alias berimajinasi mungkin mempunyai kebiasaan unik sebelum tidur.
Misalnya, tidur dengan posisi menyamping, memeluk beberapa boneka, alias membiarkan satu kaki keluar dari selimut. Kebiasaan tersebut lebih mungkin menjadi ritual yang membikin anak nyaman.
Para mahir juga mengingatkan agar orang tua tidak terlalu banyak menafsirkan kebiasaan tidur sederhana lantaran perilaku unik seperti ini sering kali lenyap seiring bertambahnya usia.
7. Sedang belajar mengatur kebutuhan diri
Menyesuaikan selimut, mengubah posisi tidur, alias mengeluarkan kaki ketika merasa tidak nyaman dapat menjadi bagian dari proses anak belajar merespons kebutuhan fisiknya sendiri. Perilaku mini tersebut termasuk corak self-regulation, ialah keahlian mengenali rasa tidak nyaman dan melakukan penyesuaian sederhana tanpa support orang lain.
Psikolog perkembangan menganggap self-regulation sebagai keahlian krusial yang berkembang secara berjenjang sepanjang masa kanak-kanak.
Namun, tidur dengan satu kaki di luar selimut tidak berfaedah anak mempunyai kematangan emosional yang lebih tinggi. Kebiasaan tersebut bisa saja hanya menjadi langkah yang menurut anak paling nyaman untuk tidur.
Benarkah tidur dengan satu kaki di luar selimut karakter anak lebih mandiri?
Tidak ada bukti ilmiah bahwa tidur dengan satu kaki di luar selimut dapat memprediksi kepribadian anak, termasuk apakah dia lebih percaya diri, cerdas, mandiri, alias kreatif. Kebiasaan tersebut lebih mungkin berangkaian dengan pengaturan suhu tubuh, kenyamanan fisik, kebiasaan, dan rutinitas sebelum tidur.
Kepribadian anak terbentuk melalui beragam faktor, seperti genetika, hubungan dengan orang lain, pengalaman, dan lingkungan. Jadi, jika Bunda memandang satu kaki Si Kecil selalu keluar dari selimut saat tidur, tidak perlu menganggapnya sebagai tanda kepribadian tertentu.
Bisa jadi, Si Kecil hanya menemukan posisi yang terasa paling nyaman untuk beristirahat, ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(rap/rap)