Jakarta -
Emotional quotient (EQ) berkedudukan krusial dalam membangun hubungan yang sehat, termasuk saat mendengarkan kawan yang sedang curhat. Orang dengan EQ rendah terkadang tanpa sadar mengucapkan kalimat yang justru menyinggung temannya yang sedang curhat.
Kalimat mereka membikin emosi temannya menjadi tidak tervalidasi. Ucapan seperti ini bisa membikin seseorang enggan terbuka dan menciptakan jarak dalam pertemanan.
Oleh lantaran itu, krusial mengenali kalimat-kalimat yang sebaiknya dihindari saat kawan sedang berbagi cerita.
7 Kalimat yang sering diucapkan orang EQ rendah saat kawan curhat
Dilansir Parade, orang yang menunjukkan ciri-iri kepintaran rendah, seperti kurangnya empati, sering kesulitan menemukan kata-kata yang ‘tepat’ untuk diucapkan di saat-saat sulit.
Berikut beberapa kalimat yang mungkin disampaikan orang dengan EQ rendah saat temannya curhat:
1. “Bukan masalah besar”
Seorang terapis berlisensi dan kepala petugas psikologis di recovered.org, Dr. Deborah Vinall, Psy.D., LMFT, mengatakan “bukan masalah besar” adalah salah satu kata yang dihindari oleh orang-orang pandai secara emosional.
Meskipun sering dimaksudkan untuk meredakan situasi alias menghibur, kalimat ini justru menyebabkan penolakan emosional dan meremehkan lantaran menyiratkan bahwa kawan tersebut “salah” lantaran merasa kesal.
2. “Bukan itu yang terjadi”
Ingatan orang berbeda-beda, tetapi Vinall tidak menyarankan menggunakan kalimat ini dengan seorang teman, terutama saat mereka curhat.
“Terburu-buru menyangkal dan membantah pengalaman kawan Anda daripada mendengarkan inti persoalan di kembali keluhan tersebut adalah tindakan yang meremehkan dan kandas mengarah pada pemahaman alias perbaikan,” ujar Vinall.
3. “Itu masalahmu”
Teman itu seperti rekan satu tim dan, seperti kata pepatah, “Kerja sama tim mewujudkan impian”.
Jadi, tidak heran jika ungkapan ini bisa menjadi mimpi jelek bagi persahabatan.Vinall mengatakan ungkapan itu kurang empati dan tidak menunjukkan kemauan untuk mencoba memahami keluhan kawan tersebut.
4. “Kamu membuatku sangat marah”
Ungkapan yang menunjuk jari ini juga tidak membantu, dan tidak akurat. Vinall menjelaskan bahwa ungkapan ini mengalihkan tanggung jawab atas emosi pembicara.
5. “Saya turut menyesal Anda merasa seperti itu”
Orang yang pandai secara emosional bakal meminta maaf. Namun, Vinall menyatakan bahwa ungkapan ini bukanlah permintaan maaf yang sebenarnya. Ungkapan itu hanya kedok di kembali bahasa seorang yang tidak tulus.
“Tidak ada pertanggungjawaban alias tanggung jawab yang diambil untuk melakukan perubahan. Kedengarannya mirip dengan empati, tetapi tidak sepenuhnya sampai pada kepedulian,” tuturnya.
6. “Aku hanya bercanda. Kamu terlalu serius menanggapi semuanya”
Itu bukan lelucon selain semua orang tertawa. Vinall mengatakan ungkapan-ungkapan orang dengan EQ rendah seperti ini meremehkan orang lain dan berlindung di kembali argumen (yang jarang benar) yang susah dibantah.
“Meskipun lelucon yang tulus itu malah menyakitkan, tanggung jawab tetap berada pada orang yang membikin lelucon untuk menilai kesesuaian dan kepekaannya, serta bertanggung jawab jika perihal itu mengakibatkan rasa sakit,” ujarnya.
7. “Kamu selalu membesar-besarkan segala sesuatu”
Vinall juga menjelaskan bahwa kalimat ini membikin pergeseran lain (yang berkarakter meremehkan), kali ini dengan konsentrasi dari mendengarkan kekhawatiran yang sah menjadi menyerang orang yang terluka. Motivasinya adalah untuk memihak diri, bukan kepedulian alias komunikasi.
Nah, itulah beberapa kalimat yang sering disampaikan orang dengan EQ rendah saat temannya curhat dan perlu dihindari. Semoga bermanfaat, ya, Bunda.
Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join organisasi Kincai Media Squad. Daftar dan klik di SINI. Gratis!
(asa/som)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·