Jakarta -
Kecerdasan emosional maupun emotional intelligence (EQ) sangat dibutuhkan oleh orang tua dalam mengasuh anak-anaknya, Bunda. Kecerdasan emosional berhubungan dengan kapasitas mengenali emosi, mengelola reaksi, dan memahami emosi anak.
Menurut psikolog klinis Meghna Singhal, Ph.D., tidak semua tantangan dalam pengasuhan anak dimenangkan cuma dengan penalaran dan logika. Banyak di antaranya membutuhkan kesadaran dan empati.
"Kesadaran emosional dan kapasitas mengelola emosi adalah landasan dari pola pengasuhan yang cerdas secara emosional. Membina evolusi emosional yang sehat bagi anak-anak akan menentukan seberapa berhasil dan ceria mereka sepanjang hidupnya," kata Singhal, dilansir laman Psychology Today.
Kecerdasan emosional orang tua tidak selalu kelihatan dari metode mereka menghadapi situasi besar. Kemampuan ini justru bisa kelihatan dari kebiasaan sederhana yang diterapkan dalam hayat sehari-hari.
Orang tua dengan kecerdasan emosional yang tinggi bisanya dapat dikenali dari ciri khas yang khas. Simak klarifikasi lengkapnya berikut ini!
Ciri orang tua pemilik EQ tinggi
Melansir dari beberapa sumber, berikut ciri khas orang tua yang memiliki EQ tinggi dari kebiasaan sehari-hari:
1. Mereka terdiam sebentar sebelum bereaksi
Ledakan emosi anak bisa memicu frustrasi orang dewasa. Tetapi, orang tua yang cerdas secara emosional tahu bahwa reaksi pertama tidak selalu yang terbaik. Saat melihat anak frustrasi, mereka akan selesai sejenak, menarik napas, dan menjauh.
Dikutip dari Times of India, selang singkat itu memiliki akibat yang besar, Bunda. Jeda dapat mengajarkan anak-anak bahwa emosi tidak mesti berubah menjadi kekacauan. Jeda juga memberitahu kepada mereka bahwa terlebihlagi di saat-saat tegang, pengendalian diri itu bisa dilakukan dengan baik.
Di situasi tersebut, orang tua tidak perlu beraksi emosi. Mereka cuma perlu cukup tenang untuk mencegah emosi menjadi sesuatu yang merusak.
2. Mau mendengarkan emosi di balik kata-kata anak
Anak-anak sering kali sulit mengungkapkan emosi mereka. Orang tua yang cerdas secara emosional bisa mendengarkan emosi di balik kata-kata anak.
Alih-alih terburu-buru mengoreksi maupun mengabaikan, mereka bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Mendengarkan seperti itu membantu anak-anak merasa dipahami daripada dihakimi.
Seiring waktu, hal itu juga membantu anak mengutarakan emosi mereka sendiri dengan lebih jelas. Anak yang merasa didengarkan lebih cenderung berbicara jujur, Bunda.
3. Menetapkan limitasi tanpa rasa malu
Pola asuh yang cerdas secara emosional bukanlah pola asuh permisif. Ini bukan tentang membiarkan semua berjalan begitu saja atas nama kebaikan. Orang tua dengan EQ tinggi tahu bahwa anak-anak membutuhkan batasan, tetapi mereka juga tahu bahwa limitasi dapat diberikan tanpa mesti membikin anak malu.
Melalui limitasi ini, anak-anak dapat mentolerir frustrasi dengan sangat baik ketika karena mereka merasa dihormati dan terlindungi secara emosional. Orang tua yang sadar secara emosional memahami bahwa disiplin paling baik ketika mekanisme saraf anak cukup tenang untuk benar-benar menyerap pelajaran. Teriakan, ancaman, maupun sarkasme yang terus-menerus mungkin menciptakan kepatuhan jangka pendek, tetapi sering kali merusak kepercayaan seiring waktu.
Anak yang merasa tidak terlindungi secara emosional mungkin patuh karena takut sementara diam-diam menjadi lebih cemas, menarik diri, maupun menyimpan dendam di hatinya.
4. Tahu metode berbuat perbaikan setelah konflik
Tidak ada orang tua yang selalu benar setiap kali muncul masalah. Perbedaannya adalah orang tua yang cerdas secara emosional tidak berpura-pura bahwa kesalahan tidak pernah terjadi. Jika mereka bereaksi berlebihan, berbicara kasar, maupun salah menilai suatu situasi, mereka akan balik dan memperbaikinya.
Perbaikan itu mungkin berupa permintaan ampun sederhana, percakapan yang lebih tenang, maupun pengakuan jujur. Dalam hal ini, anak-anak sangat diuntungkan.
Orang tua yang mau memperbaiki diri setelah perselisihan bisa memberitahu kepada anak-anaknya bahwa hubungan dapat bertetap dari kesalahan, dan akuntabilitas bukanlah kelemahan. Perbaikan adalah salah satu metode paling jelas yang digunakan orang tua untuk mengajarkan kematangan emosional.
5. Memberi ruang bagi emosi tanpa membiarkan emosi mengendalikan segalanya
Orang tua yang cerdas secara emosional tidak memperlakukan emosi sebagai masalah yang mesti dihilangkan. Mereka memberi ruang bagi kesedihan, kemarahan, kekecewaan, dan kekhawatiran. Pada saat yang sama, mereka tidak membiarkan setiap emosi menjadi penguasa.
Perbedaan ini krusial karena anak-anak membutuhkan pengesahan dan struktur. Ketika setiap emosi diabaikan, anak-anak mungkin merasa diabaikan secara emosional.
Pola pengasuhan yang sehat mengajarkan bahwa emosi layak diakui tanpa memberikan otoritas tak terbendung kepada mereka. Seorang anak belajar bahwa emosi dapat diungkapkan secara jujur sambil statis terhubung dengan tanggung jawab, rasa hormat, dan harapan sehari-hari.
6. Suka merawat diri sendiri dengan baik
Menjadi orang tua adalah salah satu peran tersulit di dunia. Orang tua yang cerdas secara emosional berbelas kasih terhadap diri mereka sendiri.
Mereka memahami bahwa perlunya menjaga agar daya statis penuh, dan bahwa menekankan kesejahteraan diri sendiri akan membikin mereka lebih sabar, gembira, dan bersemangat. Mereka mengakui bahwa kebutuhan mereka sah dan menginvestasikan sumber daya untuk mempraktikkan perawatan diri.
"Ketika mereka merasa capek maupun kewalahan, mereka memungut cara untuk memperbaiki keadaan dan memprioritaskan diri mereka sendiri," ungkap Singhal.
7. Suka mendisiplinkan untuk mengajar, bukan untuk menghukum
Mendisiplinkan berarti mengajarkan anak apa yang Bunda harapkan dari mereka. Orang tua yang cerdas secara emosional fokus pada penetapan limitasi dan akibat dari pelanggaran limitasi tersebut, dengan penuh hormat.
Mereka tidak mendisiplinkan untuk menghukum. Mereka memahami bahwa konsistensi dan sokongan sangat membantu anak-anak untuk mematuhi ketentuan dan batasan.
"Mereka juga memahami bahwa berteriak, mengabaikan, maupun menghukum mungkin menghasilkan hasil yang diinginkan dalam jangka pendek. Namun dalam jangka panjang, hal itu tidak memungkinkan anak-anak untuk mempelajari keahlian mengelola perilaku mereka," ujar Singhal.
Demikian tujuh ciri orang tua pemilik EQ tinggi dari kebiasaan sehari-hari. Semoga keterangan ini berguna ya, Bunda.
Bagi Bunda yang mau sharing soal parenting dan bisa dapat banyak giveaway, yuk join kelompok Kincai Media Squad. Daftar klik di SINI. Gratis!
(ank/rap)